Galungan


galungan

Tanggal 27 Maret 2013, umat Hindu merayakan Galungan. Definisi yang saya percaya sejak SD, Galungan adalah peringatan atas kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Galungan diperingati setiap 210 hari sekali setiap Rabu, Kliwon, Dungulan. Demikianlah kalender yang dijadikan pedoman oleh umat Hindu di Indonesia dan akan cukup panjang kalau dijelaskan di sini.

Dalam suasana Galungan begini saya selalu mengenang masa kecil saat ada di Bali. Galungan identik dengan masa bersenang-senang karena saat inilah ada kemungkinan punya baju baru, meskipun tidak selalu. Di saat Galungan pula, kami, anak-anak kecil, dibolehkah bangun subuh-subuhh lalu menonton para orang tua yang menyembelih babi sehari sebelum Galungan. Yang tidak terlupakan adalah saat berebut kantung kemih babi untuk dijadikan bola atau balon untuk bermain di hari-hari berikutnya. Anak-anak kecil tidak dibebani apapun terkait ritual agama, tidak juga ada kewajiban membaca sloka-sloka Bhagavadgita dalam menyambut Galungan. Yang ada hanya satu: kegembiraan tanpa syarat.

Continue reading “Galungan”

Timbul Hari

photoNamanya Timbul Hari, setidaknya begitu saya dengar dalam percakapan singkat yang dilakukan sambil lalu. Saya bertemu Mas Timbul saat berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka di Jogja bersama Lita. Mas Timbul adalah pawang onta yang ditunggangi pengunjung dalam suatu atraksi. Saya dan Lita tidak ketinggalan menunggang seekor onta dalam satu putaran yang tidak lebih dari 5 menit.

Sejak sebelum naik onta, saya sudah memperhatikan Mas Timbul dari kejauhan. Berbaju kaos lengan panjang dan celana pendek serta sepatu boot, dia dengan sabar menuntun onta yang ditunggangi satu atau dua orang pengunjung. Tak satupun kata keluar dari mulutnya dan memang tak satu orangpun mengajaknya bicara. Dari gelagat mereka, sepertinya pengunjung dan penunggang onta itu bahkan tidak menyadari kehadiran Mas Timbul. Perannya memang seakan tidak penting, tidak berinteraksi langsung dengan pengunjung, berbeda dengan petugas lain yang menjual tiket atau membantu penunggang menaiki onta. Setidaknya petugas yang demikian sempat berdialog singkat atau sekedar tersenyum kepada pengunjung. Mas Timbul tidak demikian. Dia tidak ada, kehadirannya tidak diperhatikan. Dia terlupakan.

Continue reading “Timbul Hari”

LDR: Long Distant Relationship

keluarga

Keluarga kecil kami terpencar-pencar anggotanya. Sejak tahun 2007, kami terbiasa berpisah. Waktu itu Asti, isteri saya, bekerja di WHO di Jakarta, saya sendiri harus melakukan tugas di Australia dan Amerika. Lita, anak saya, bersama ibunya. Tahun 2010, perpisahan terjadi lagi setelah sempat bersama tahun 2008 dan 2009. Asti dan Lita kembali ke Indonesia dan saya masih meneruskan perjuangan di Australia. Sebuah drama kehidupan yang sebenarnya tidak menjadi cita-cita. Meski demikian, kami selalu berhasil menemukan alasan perpisahan yang kadang menyedihkan itu.

Continue reading “LDR: Long Distant Relationship”

Murid baru di Sydney

muridbarusydneyPernahkah kisanak rasakan menjadi murid baru di sebuah perguruan? Cobalah menjadi murid baru di Sydney dan datanglah dari kota-kota kecil di Indonesia ke kota megapolitan Sydney. Mereka yang datang dari Jakarta atau kota besar lainnya mungkin akan terpana. Bukan terpana karena kemewahan dan kemegahannya tetapi karena kesepiannya dan hingar bingarnya yang tak sehebat Ibukota kita.

Jika kisanak belum pernah ke negeri seberang, terkejutlah karena tanah rantau tak jauh berbeda dengan ibu pertiwi. Bahwa globalisasi itu niscaya. Tempelan merek barang keseharian di pinggir jalan di Tabanan, tak jauh berbeda dengan semarak umbul-umbul di Kingsford. Tapi cobalah rasakan manusia-manusianya yang berbeda. Mereka menuggu lampu berpijar hijau untuk menyeberang jalan dan sabar menunggu bus di halte yang sudah diharuskan. Mereka berjalan tanpa perlu menoleh ketika melintasi jalanan yang dicat loreng putih. Mereka hidup dalam kepastian. Maka jangan heran jika kecelakaan bisa terjadi dengan hebat dan mengakibatkan celaka 13 jika satu saja dari mereka tidak mengikuti kaidah. Kepastian yang memanjakan itu bisa membuat mereka tidak waspada. Berbeda dengan kita yang senantiasa siaga. Kita tidak melewati lampu hijau dengan santai karena selalu memberi ruang bagi pelanggar dari sisi lainnya. Kita tidak menyeberang jalan di zebra cross dengan tenang karena selalu menoleransi mobil yang tetap melaju dengan kecepatan sama dari dua arah berbeda. Kita hidup di negeri yang mendidik kewaspadaan tinggi.

Continue reading “Murid baru di Sydney”

Kembalinya si iPhone hilang

Sore tadi, saat mengantar Asti, isteri saya, menjelajahi kampus UNSW di Sydney sambil melakukan enrollment, saya kehilangan iPhone. Setelah menyelsaikan segala urusan administrasi, kami ngobrol di taman di depan perpustakaan sambil menunggu teman untuk nantinya menjenguk kawan yang sedang sakit. Karena tergesa akan berangkat, rupanya iPhone saya tertinggal dan akhirnya sadar saat berada di rumah sakit. Sesaat setelah memastikan bahwa iPhone memang ketinggalan, saya berusaha tidak panik. Panik jelas tidak akan membantu meskipun tentu saja amat sangat khawatir. Nilai akuntansi iPhone yang sudah berusia lebih dari 3 tahun itu mungkin sudah tidak ada tetapi nilai non-materialnya tinggi sekali. Bukan, saya tidak sedang berbicara tentang foto dan video yang ada di sana. Sejauh ini aman, koleksi yang penting sudah diamankan di tempat lain.

Continue reading “Kembalinya si iPhone hilang”

Perpisahan yang mengharu biru

keluargaSaya sejatinya tidak mudah galau tetapi hari ini merasakan galau yang teramat sangat. Hari ini Asti, isteri saya, bertolak ke Bali untuk selanjutnya menuju Sydney tanggal 16 Januari nanti. Asti, seperti yang pernah saya ceritakan, berhasil mendapatkan beasiswa ADS dan akan memulai sekolah S2 di UNSW pada akhir bulan ini. Yang membuat galau tentu saja bukan kedatangan Asti ke Sydney yang justru saya syukuri. Yang merisaukan adalah Lita, anak saya, yang tertinggal di Jogja. Mulai hari ini Lita secara resmi terpaksa kami tinggal di Jogja dan kami sementara akan hidup di Negeri Kangguru. Saya tidak menemukan kata-kata yang dramatis untuk menggambarkan kegalauan hati kami.

Continue reading “Perpisahan yang mengharu biru”

Memanjakan diri di spa

javarelaxPembaca yang sudah sering berkunjung ke blog ini mungkin bertanya-tanya mengapa saya menulis sesuatu yang berbeda kali ini. Anda tidak salah lihat, saya memang sedang menulis tentang spa. Spa yang dimaksud di sini adalah seperti yang didefinisikan oleh The International Spa Association “sebuah tempat yang dikhususkan untuk meningkatkan kesehatan holistik melalui beragam layanan yang mendukung penyegaran pikiran, tubuh dan jiwa.” Secara praktis, spa adalah tempat yang memberikan layanan perawatan tubuh seperti pijat, perawatan wajah dll. dalam suatu ruang/lingkungan yang tenang dan nyaman.

Continue reading “Memanjakan diri di spa”

Mengingat 2012

2012

Ada satu kegagalan utama saya di tahun 2012 yaitu belum menyelesaikan sekolah S3 saya, tidak sesuai dengan yang seharusnya saya lakukan. Kata orang bijaksana, kalau ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak ada kemauan biasanya banyak alasan. Maka saya bisa menyampaikan 1001 alasan untuk membenarkan mengapa saya harus menunda penyelesaian studi S3 saya hingga tahun 2013 nanti. Meski demikian, di balik semua itu ada satu kebenaran yang tidak bisa dibantah: semua itu terjadi karena kelemahan saya sendiri. Maka resolusi paling utama saya untuk tahun 2013 adalah menyelesaikan S3. Semoga alam semesta bersekongkol membantu saya mewujudkan resolusi ini.

Dengan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan motivasi, saya ingin mengenang sejenak apa yang terjadi tahun 2012 lalu. Dari berbagai kegagalan, ada juga keberhasilan. Dari sekian banyak hal yang tidak membanggakan, ada hal-hal yang menumbuhkan semangat. Tahun 2012 saya lewati dengan suka dan duka, seperti halnya tahun-tahun lainnya.

Continue reading “Mengingat 2012”

Selamat Hari Ibu

meme
Saya dan ibu (1995)

Dalam sebuah lokakarya kepemimpinan yang diselenggarakan di Kangaroo Valley, New South Wales, Australia setiap peserta diminta mempresentasikan seorang pemimpin yang menginspirasi hidupnya. Lokakarya itu diikuti oleh pemimpin dan calon pemimpin di Asia Pasifik. Kala itu pertengahan 2009, Obama sedang naik daun. Ada pikiran untuk mempresentasikan Obama karena memang menginspirasi hidup saya. Meski begitu saya urungkan karena saya duga akan ada terlalu banyak orang yang menjadikannya idola. Saya berpikir lama dan akhirnya menemukan tokoh yang saya yakin tepat mewakili seorang pemimpin yang menginspirasi hidup saya.

Di depan para peserta dari Asia Pasifik itu saya berdiri. Saya memegang sebuah poster ukuran sedang dengan gambar seorang perempuan berbusana sederhana. Dengan menatap para hadirin saya memulai presentasi itu dalam Bahasa Inggris.

“Pemimpin ini adalah seorang perempuan. Perempuan ini bukanlah siapa-siapa. Dia dilahirkan di sebuah tempat di pelosok dunia yang mungkin tak ketetahui oleh peradaban. Dia bukanlah seorang politikus, bukan pula tokoh masyarakat. Dia juga tidak terkenal. Dia adalah perempuan biasa tetapi dia menjadi batu karang yang menjaga ketegaran keluarganya. Dia adalah perempuan yang perkasa. Dia kuat dalam makna sebenarnya. Di tahun ‘70an dan awal 80an, dia bekerja di sebuah penambangan batu padas tradisional, di sebuah tempat yang mungkin bahkan tidak terlihat pada Google Earth edisi premium.

Continue reading “Selamat Hari Ibu”

15 November di Mandara Giri

Kadang kita lupa, kita pernah jatuh cinta seperti dua remaja tanggung yang hari ini sering kita tertawakan tingkah polahnya. Kadang kita lupa, kita pernah bertingkah begitu rupa yang hari ini kita tuduh memalukan. Begitulah waktu, dialah yang paling kejam memporandakan ingatan kita, bahkan tentang cinta. Mari kita tolak. Kita tolak keangkuhannya yang membuat kita lupa. Mari sejenak membuka catatan kita di masa muda.

Continue reading “15 November di Mandara Giri”