Category: Australia
Membuat Animasi dengan Power Point – Part 1
Banyak yang bertanya bagaimana membuat animasi untuk bahan presentasi saya. Video berikut menjelaskan secara singkat bagaimana membuat animasi dengan power point. Video ini adalah satu dari beberapa video yang akan ditayangkan khusus terkait animasi dengan power point. Selamat menikmati 🙂
Teknologi yang menggelitik
Beberapa waktu lalu saya melewatkan liburan Paskah dengan berkumpul di rumah teman di Wollongong. Saat berkumpul, saya melakukan komunikasi dengan Asti dan Lita di Jogja menggunakan Skype lewat iPad. Anak-anak teman saya adalah teman-temannya Lita juga sehingga mereka bisa ngobrol setelah lama tidak bertemu. Bosan nbobrol lewat Skype, anak-anak teman saya menjauh dari iPad saya dan menghambur main di lantai atas. Tentu saja Lita yang di Jogja tidak bisa melihat dan nbobrol dengan temannya lagi. Dia merasa ditinggal.
Merasa sendiri, Lita bertanya “where are they going Ayah?” dan saya jelaskan. Mengejutkan respon Lita lewat Skype “can I go upstairs with them?” Bayangkan, Lita yang ada di Jogja dan muncul di ruang tamu teman saya lewat iPad ingin ikut ke atas bermain bersama temannya di Australia. Bagi Lita itu bukan lelucon. Itu hal biasa saja, dia memang ingin “ikut ke atas” bermain dengan teman-temannya. Saya terharu mendengar permintaan itu.
Cinta Segitiga
Orang Bali punya pepatah, “bukit johin katon rawit” yang mirip dengan ungkapan Jawa “sawang sinawang”. Ungkapan ini kira-kira bermakna bahwa yang terlihat dari jauh kadang selalu mulus, indah dan halus. Kenyataannya belum tentu demikian. Hal ini sedang saya alami bersama keluarga.
Beberapa saat lalu kami bergembira karena Asti berhasil memenangkan beasiswa ADS yang bergengsi itu, saat ini kami dihadapkan pada situasi yang tidak satu keluargapun mengidam-idamkannya. Malam ini Asti terbang ke Bali untuk mengikuti pelatihan, saya masih berjuang di Wollongong dan Lita ditemani mbahnya sekolah di Jogja. Saat menulis ini saya melihat Asti dan Lita berkemas di Jogja lewat Skype Video Chat. Dalam kelakar saya menyebutnya sebagai “cinta segitiga: Bali, Jogja, Wollongong”. Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak, rasanya tidak perlu saya kisahkan dengan kata-kata betapa tidak mudahnya ini semua. Yang muda dan belum menikahpun saya kira bisa mereka-reka. Semua orang pernah jadi seorang anak, setidaknya.
Di atas langit ada langit
Apapun yang saya lakukan, akan ada dua kemungkinan reaksi dari orang-orang di sekitar saya: suka atau tidak suka. Yang tidak peduli, tentu saja tidak jadi soal. Dalam menulis juga demikian, pasti ada yang tidak suka dan tentu ada juga yang suka. Bagaimana prosentase keduanya? Perlu penelitian yang serius soal ini dan sampai kini saya tidak memiliki data. Yang pasti, akan selalu ada yang suka pada apa yang saya buat dan sebaliknya ada yang tidak. Dalam hal karya, akan ada yang memerlukannya, ada juga yang sama sekali tidak memerlukannya.
25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth
Kemarin saya membaca sebuah cerita mengharukan. Seorang pemuda yang sudah berpisah dengan orangtuanya selama 25 tahun akhirnya berhasil menemukan ibunya setelah berusaha menjelajahi tempat kelahirannya dengan Google Earth. Terjadilan pertemuan yang mengharukan setelah perpisahan seperempat abad itu. Saya membuat sebuah video rekonstruksi, bagaimana orang ini berhasil menggunakan Google Earth untuk menemukan Ibunya. Silakan baca kisah selengkapnya di bawah.
Continue reading “25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth”
Berbekal mimpi, keliling dunia walau tuna netra
Masih segar dalam ingatan saya saat berkenalan dengan Mas Taufiq Effendi beberapa waktu lalu. Mas Taufiq adalah penyandang tuna netra yang akhirnya bisa menunjungi berbagai negara untuk menimba ilmu dengan beasiswa. Mas Taufiq adalah bukti hidup sebuah ucapan “jangan pernah menyerah” atau “impossible is nothing” atau “the harder I work the more luck I seem to have”. Silakan baca kisahnya yang inspiratif di Motivasi Beasiswa. Saya sudah lama tidak menangis membaca sebuah tulisan, kini saya mengalaminya lagi setelah membaca kisah Mas Taufiq.
Jualan tanah lewat peta
Saya menyebut cerita ini sebagai “aspek geospasial dalam komunikasi rumah tangga”. Belakangan ini kami, saya dan Asti, istri saya, mencari-cari lokasi tanah yang dijual. Setelah sekian lama numpang di tempat mertua, mungkin sudah saatnya berpikir kemandirian meskipun titik terang sepertinya masih sangat jauh. Tapi sebagai orang optimis, saya setuju dengan Obama, we will get there. Tapi ini bukan cerita tetang Obama, apalagi tentang Pondok Mertua Indah, sama sekali bukan.
Menjadi Minoritas
Teman saya yang tidak beragama Hindu kadang keliru mengucapkan selamat hari raya keagamaan pada saya. Tentu saja itu tidak jadi soal dan saya tidak perlu kecewa. Saya yakin Tuhan juga tidak kecewa, apalagi marah pada kekeliruan remeh temeh seperti itu. Ucapan itu, salah atau benar, begitu menyentuh karena disampaikan dengan tulus. Itu sudah lebih dari cukup. Saya terharu banyak teman Muslim, Budhis atau Nasrani yang dengan terbata-bata mengatakan ‘rahajeng nyangra Rahiha Nyepi’, misalnya. Saya yakin ini tidak mudah bagi mereka dan munculnya kata-kata itu adalah hasil kesungguhan.
Prosa Sembilan tahun

Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.
