Merawat benih kebaikan

Borobudur - 17 Desember 2013
Borobudur – 17 Desember 2013

Kami sedang ada di kawasan Candi Borobudur, mengantar dua sahabat dari Filipina yang berkunjung ke Indonesia. Dalam perjalanan pulang, kami melewati banyak pedagang asongan yang menjajakan berbagai barang dagangan. Tidak sedikit dari mereka nenek-nenek yang sudah lanjut usia dan mungkin semestinya sudah tidak bekerja lagi. Jika tidak terlalu sering datang ke tempat seperti itu, pemandangan itu kadang membuat terenyuh, meskipun kenyataannya ada saja orang yang dengan sengaja memanfaatkan situasi untuk kepentingan ekonomi.

Continue reading “Merawat benih kebaikan”

Mengingat Wollongong

http://img32.imageshack.us/

Aku ingin datang lagi ke kota kecil itu. Kota yang dijaga sekelompok mercusuar di pantainya yang menawan. Mercusuar yang terlalu berwibawa untuk ditundukkan angin dan terlalu angkuh untuk menyerah pada godaan desah burung camar yang manja. Aku ingin datang ke kota kecil itu lagi, untuk mengenang lagi debar-debar saat menyelesaikan tugas kuliah dari para guru yang bijaksana. Aku ingin mengajakmu, seperti dulu saat kita luluh lantak tertimbun bahan bacaan yang menggunung lalu melarikan diri sesaat mengintip camar yang bermesraan di taman dekat pantai. Aku ingin mengajakmu berteduh di bawah bayangan mercusuar sambil membaca berlembar-lembar pustaka yang seakan tak habis.

Continue reading “Mengingat Wollongong”

Menjadi Mandela

Nelson Madela telah tiada. Dunia melepas kepergian salah satu simbol kepemimpinan luhur yang pernah dimiliki peradaban manusia. Sulit menemukan orang yang memiliki ketertarikan terhadap kepemimpinan dan sejarah peradaban manusia yang tidak mengenal sosok Mandela. Dia luar biasa dan, bagi saya, dia melampaui kata-kata. Bersusah payah menjelaskan Mandela dengan kata-kata, saya khawatir, justru hanya akan mengurangi kemuliaannya.

Continue reading “Menjadi Mandela”

Guru Sederhana

http://guru.or.id/

Subuh-subuh dia sudah harus bangun. Meskipun tidak salat, dia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk kedua anak lelakinya yang masih bocah. Harus disediakannya makan dan minum untuk sarapan mereka. Di rumah mereka hanya ada empat orang. Pekerjaan lelaki itu membuatnya tidak mampu membayar pembantu. Dia dan istrinya harus mengerjakan semuanya sendiri.

Selepas mencuci piring dan gelas yang kotor, dia harus mengangkat kantong sampah dan membawanya ke tempat penampungan di dekat rumahnya yang sepi dan dingin. Sementara itu istrinya menyiapkan bekal untuk makan siangnya nanti. Kedua anak-anak itu akan diantar ke sekolah dan tempat penitipan anak karena istrinyapun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Continue reading “Guru Sederhana”

Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri

Pernahkah Anda mendengar nama “Universitas Katolik Widya Mandira” ? Jika Anda tidak berasal dari NTT dan kurang gaul seperti saya, mungkin jawabannya adalah “tidak”. Terus terang saya belum pernah mendengar nama universitas ini sampai akhirnya saya bertemu Cilla. Nama lengkapnya Priscilla Maria Assis Hornay. Just in case you are wondering, YES, there is an ‘a’ between ‘n’ and ‘y’ in her last name, so shut it and let’s get down to business! 🙂

Pertemuan saya dengan Cilla di Sydney mengingatkan saya pada banyak pertanyaan yang saya terima perihal beasiswa luar negeri, terutama beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Pertanyaan itu adalah “bisakah alumni dari universitas swasta yang tidak terkenal mendapatkan beasiswa untuk S2 atau S3 di luar negeri?” Jawabannya tentu saja “bisa” dan pertemuan saya dengan Cilla menegaskan itu.

Continue reading “Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri”

Bédog

cockfight by Affandi – http://www.artvalue.com/

Lelaki itu bernama Bédog, tentu saja tidak penting apakah dia punya surname atau tidak dan apakah Bédog itu itu nama asli atau bukan. Bédog jelas tidak punya paspor dan sangat mungkin tidak punya KTP. Lelaki sederhana itu tidak sempurna tubuhnya, kulitnya penuh benjolan. Anak-anak kecil yang melihatnya bisa lari karena takut. Kulit hitamnya yang legam, wajahnya yang tidak bersahabat dan benjolan di sekujur tubuhnya menyempurnakan nestapa itu.

Meski buruk rupa, Bédog disukai para bobotoh penyabung ayam di desa kami. Pasalnya, dia bisa diperintah untuk melakukan apa saja tanpa mengeluh dan tanpa pernah menolak. Bédog tidak pernah bernegosiasi soal upah kerja. Para bobotoh di desa kami menjadikan Bédog orang kepercayaan untuk membersihkan ayam pecundang yang binasa dalam sebuah pertempuran. Bédog terampil mencabuti bulu ayam malang itu dan membersihkan isi perutnya. Dalam pagelaran sabung ayam yang ramai, Bédog harus merampungkan pekerjaan untuk lebih dari lima ekor ayam. Karena dikerjakan sendiri, dia nampak sibuk dan kerap kelebihan beban. Meski begitu, tidak ada yang membantunya. Bédog bekerja sendiri.

Continue reading “Bédog”

Kembali ke Le Meridien

Hotel Le Meridien, Suatu ketika tahun 2002,
eu-aseanSaya seperti orang hilang di tengah kerumunan itu. Ada rasa sepi menghinggapi di tengah hiruk pikuk suasana. Setiap orang nampak antusias berkeliling melihat-lihat stand pameran siang itu. Tidak sedikit yang terlibat percakapan dengan penunggu stand pameran, bersemangat bertanya ini dan itu, menunjukkan gairah mereka untuk mengetahui lebih jauh dan lebih dalam. Lelaki dan perempuan usia 30an tahun nampak penuh perhatian memberikan informasi kepada pengunjung yang mendekat ke stand masing-masing. Keramahan dan pengetahuan yang mumpuni nampak berpadu dengan apik pada wajah dan senyum mereka. Sementara itu, saya memandang dari satu sudut yang agak jauh, terkesima melihat geliat orang-orang yang antusias melapangkan jalan menimba ilmu. Siang itu saya sedang menghadiri sebuah pameran pendidikan luar negeri di Hotel Le Meridien Jakarta.

Ada rasa ragu ketika berjalan mendekati beberapa stand pameran dan melihat nama-nama universitas terpandang yang terpampang di setiap stand. Beberapa nama universitas itu sudah pernah saya dengar dan sebagian lain nampak asing. Meski tertarik, tidak mudah untuk memulai percakapan dengan penunggu stand pameran karena ada keraguan. Perihal apa yang paling tepat ditanyakan, saya tidak tahu. Maka saya memilih untuk mengamati saja. Di berbagai titik terlihat anak-anak muda berpenampilan mentereng, kadang ditemani ayah ibunya. Mereka bertanya penuh selidik, melapangkan jalan bersekolah di luar negeri. Sejujurnya, ada perasaan malu kalau harus datang ke sebuah stand dan bertanya “apakah universitas ini menyediakan beasiswa bagi yang tidak punya uang seperti saya?”

Continue reading “Kembali ke Le Meridien”

Ember kosong

http://farm8.staticflickr.com/7386/8987835795_824d2bf147.jpg

Ember hitam kosong di depan saya sedang dikucuri air. Karena ingin agar embernya cepat penuh, saya buka keran air dengan maksimal. Akibatnya, kucuran air dari keran begitu deras menghujam dasar ember plastik yang kosong. Airnya menghambur keluar, sesaat setelah menghujam dasar ember yang kosong. Akibatnya, air itu muncrat mengenai saya. Dari kucuran air keran yang deras itu, sebagian besar air menghambur ke luar ember dan hanya sebagian kecil yang bertahan di dalam ember. Setidaknya ada dua kerugian. Pertama, kebanyakan air terbuang percuma karena justru tumpah di luar ember dan kedua, air itu membasahi pakaian saya yang berdiri tidak jauh dari ember kosong itu.

Setelah agak lama, cipratan air itu mulai berkurang seiring bertambahnya volume air yang mengisi ember yang tadinya kosong. Semakin banyak isi ember itu, semakin sedikit air yang terpercik/muncrat ke luar ember. Rupanya pertambahan air pada ember itu berhasil membuat air yang mengucur dari kran tidak muncrat ke luar karena kucuran air tidak menghantam dasar ember yang kosong seperti tadi.

Saya mengambil satu pelajaran. Jika hendak mengisi ember kosong dengan air, sebaiknya diisi pelan-pelan. Kerannya tidak perlu dibuka penuh sehingga kucuran airnya tidak begitu deras sehingga tidak ada air yang terbuang ke luar ember ketika menghujam dasar ember yang kosong. Mungkin lebih baik jika kerannya dibuka pelan-pelan, mulai dari kecil sehingga kucuran air yang kecil itu benar-benar mengisi dasar ember tanpa ada yang terbuang percuma. Setelah dasar ember terisi air dengan kedalaman tertentu, keran bisa dibuka lebih besar dan kini air bisa mengucur deras tanpa terbuang karena dasar ember kini tidak lagi kosong. Ternyata mengisi ember kosong itu memang tidak mudah. Ambisi untuk mengisi ember kosong dengan cepat justru akan membuat banyak air terbuang percuma. Yang lebih penting, cipratan air itu bisa membahasi pakaian sang pengisi air itu.

Mari Berburu Beasiswa Luar Negeri

Saya diundang oleh Berita Satu TV untuk dialog soal meraih beasiswa luar negeri. Silakan simak siaran ulangnya lewat Youtube berikut ini.

Program Beasiswa Pasca Sarjana AusAID Ditiadakan

Beberapa hari terakhir ini, dunia persilatan para pejuang beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australia Development Scholarship (ADS) dihebohkan oleh satu berita mengejutkan. Seperti yang saya tulis sebagai judul tulisan ini, ada satu berita yang mengatakan bahwa “Program Beasiswa Pasca Sarjana AusAID Ditiadakan“. Kontan berita ini meresahkan para pejuang yang tengah siap-siap berjuang tahun depan. Ternyata, setelah diselidiki, berita itu salah dan kesalahan terjadi pada proses penerjemahan berita dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berita berbahasa Inggris mengatakan “DFAT confirms offers for next year’s AusAID graduate program revoked“. Berita aslinya mengacu pada penghentikan penerimaan sarjana baru sebagai pekerja, bukan penghentian pemberian beasiswa pascasarjana.

Kesalahan penerjamahan ini cukup fatal dan meresahkan, membuat dunia twitter dan facebook jadi sangat ramai. Untunglah, berita itu salah dan faktanya adalah beasiswa AAS atau ADS tetap ada seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini juga disampaikan dalam revisi berita yang mengatakan “AusAID Hentikan Penerimaan Staf Sarjana Baru” Hanya saja, mesti diperhatikan, memang ada pengetatan dana sehingga mungkin akan ada penurunan jumlah. Persaingan mungkin akan sedikit lebih ketat.