
Saya dikejutkan oleh suara HP di pagi yang masih gelap. Jerit HP itu membangunkan saya dari tidur yang masih lelap di sebuah kamar kos di Kelapa Gading, Jakarta. “Bali kini sudah tidak aman lagi. Bom meledak di Kuta, puluhan orang meninggal” demikian kira-kira bunyi sms itu, datang dari adik sepupu saya, seorang arsitek dari Udayana. Enam tahun peristiwa itu telah berlalu, tak banyak berkurang kenangan buruk yang saya rasakan. Tidak saja karena banyak nyawa yang melayang, tapi kematian citra Bali sebagai tempat yang aman dan keruntuhan ekonomi yang dampaknya tak sehari dua hari. Hingga kini pun, Bali sesungguhnya belum pulih dari sakitnya.
Saya menulis sebuah ungkapan perasaan ketika itu, mengenang kembali kejadian di tahun 1998 ketika negeri ini rusak binasa oleh segala macam kekacauan. Bali dijadikan satu-satunya tempat berlindung oleh banyak dari mereka yang tertindas hidupnya. Bali memberi harapan kepada mereka yang teraniaya. Setelah bom itu, adakah Bali masih menyimpan kenyamanan?







