Perubahan itu telah tiba

Pidato Kemenangan Barack Obama
[diterjemahkan dengan improvisasi oleh I Made Andi Arsana]

Selamat malam Chicago!
Seandainya di luar sana masih ada yang meragukan apakah benar Amerika adalah tempat di mana segala kemungkinan bisa terjadi; seadainya masih ada yang mempertanyakan apakah mimpi dan harapan para pendiri bangsa kita masih hidup di masa kini; seandainya masih ada yang meragukan kekuatan demokrasi kita; maka malam ini adalah jawabannya.

Continue reading “Perubahan itu telah tiba”

Berbahasa

www.bulanbahasa2008.sg
http://www.bulanbahasa2008.sg

Alangkah luar biasanya bahasa itu. Saya ingat ucapan salah seorang dosen senior di penghujung tahun 90-an ketika mengajar tentang filsafat ilmu pengetahuan. “Bayangkanlah kalau kita harus mengabarkan satu situasi saat ada seekor burung dara putih sedang bernyanyi riang hinggap di dahan kering sebatang pohon turi di pinggir kali yang airnya bening mengalir. Bayangkan pula kalau kita harus mengambarkan paruhnya yang kuning dan kakinya yang bersisik halus kemerahan mengcengkram kuat dahan yang seperti mau mati. Alangkah sulitnya menggambarkan itu kalau kita tidak memiliki bahasa.” Demikian beliau memulai sebuah kuliah tentang makna bahasa. Bahasa yang bisa mendeskripsikan sesuatu memang sangat penting. Bahasa bankan menunjukkan bangsa. 

 

Continue reading “Berbahasa”

Lentera Jiwa

salafibatam.wordpress.com
salafibatam.wordpress.com

Anda mungkin sudah membaca tulisan Andy F. Noya yang berjudul sama: Lentera Jiwa baik dari Andy’s corner maupun dari milis yang beredar belakangan. Entah apa pasalnya, tulisan itu memang sangat populer. Anda mungkin juga menuduh bahwa saya meniru tulisan Andy dan bahkan tidak kreatif sehingga memilih judul yang sama. Anda tidak salah. Tapi dalam rangka mengurangi rasa malu saya, mari kita gunakan istilah ‘terinspirasi’, dan bukan ‘menjiplak’. Begitulah biasanya para akademisi atau orang pintar menghidar dari tuduhan.

Membaca tulisan Andy seperti menonton sebuah fenomena yang membius. Hal ini sesunguhnya tak baru, seperti juga yang diakuinya. Banyak orang lain telah melakukan langkah tak populer: meninggalkan kenikmatan dan keluar dari zona kenyamanan. Saya sendiri terinspirasi dengan kaliamat terakhir setiap tulisan Gede Prama di media massa ”Bekerja di Jakarta, tinggal di Desa Tajun, Bali Utara.” Seperti juga Andy, Gede Prama adalah satu dari yang istimewa, meninggalkan kenyamanan dan memilih tantangan baru.

Continue reading “Lentera Jiwa”

Duabelas Oktober

http://upload.wikimedia.org
http://upload.wikimedia.org

Saya dikejutkan oleh suara HP di pagi yang masih gelap. Jerit HP itu membangunkan saya dari tidur yang masih lelap di sebuah kamar kos di Kelapa Gading, Jakarta. “Bali kini sudah tidak aman lagi. Bom meledak di Kuta, puluhan orang meninggal” demikian kira-kira bunyi sms itu, datang dari adik sepupu saya, seorang arsitek dari Udayana. Enam tahun peristiwa itu telah berlalu, tak banyak berkurang kenangan buruk yang saya rasakan. Tidak saja karena banyak nyawa yang melayang, tapi kematian citra Bali sebagai tempat yang aman dan keruntuhan ekonomi yang dampaknya tak sehari dua hari. Hingga kini pun, Bali sesungguhnya belum pulih dari sakitnya.

Saya menulis sebuah ungkapan perasaan ketika itu, mengenang kembali kejadian di tahun 1998 ketika negeri ini rusak binasa oleh segala macam kekacauan. Bali dijadikan satu-satunya tempat berlindung oleh banyak dari mereka yang tertindas hidupnya. Bali memberi harapan kepada mereka yang teraniaya. Setelah bom itu, adakah Bali masih menyimpan kenyamanan?

Continue reading “Duabelas Oktober”

Laskar Pelangi – The Movie

Jujur saja, saya mungkin termasuk satu dari sedikit orang yang takut saat mendengar kabar novel Laskar Pelangi akan difilm-kan. Setengah hati saya mengatakan jangan, setengah lainnya berharap-harap seperti apa jadinya jika difilmkan.

Continue reading “Laskar Pelangi – The Movie”

Ranking dan Angka

destiutami.wordpress.com
destiutami.wordpress.com

Untuk pertama kalinya saya merasakan ketegangan adalah saat kenaikan kelas tahun 1985. Waktu itu saya akan naik ke kelas 2. Saya terduduk tegang di deretan bangku depan mendengarkan pembacaan nama-nama siswa yang memperoleh juara 1. Saya berharap amat sangat, nama saya dipanggil, bukan saja sekedar dipanggil tetapi dipanggil pertama kali.

Saya mulai membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya tidak mendapat juara 1. Bapak akan melubangi kepala saya dan mengganti otak saya dengan gelas. Begitulah beliau selalu berucap kalau kami sedang bercakap-cakap di dapur atau di kamar. Saya yang baru berumur 7 tahun tentu saja menganggap serius ucapan itu. Tidak terbayang rasanya kepala saya dibor dan otak diganti dengan gelas. Mungkin beliau tidak ingat peristiwa ini karena sepertinya ini hanya kelakar belaka. Tetapi tidak demikian dengan saya. Saya akan mengingatnya sampai kapanpun.

Continue reading “Ranking dan Angka”

Kesempatan

www.skinbase.org
http://www.skinbase.org

Sudah cukup lama saya percaya bahwa keberuntungan adalah perpaduan antara kesempatan dan kemampuan, seperti pernah diingatkan oleh seorang kawan. Dalam setiap percakapan dengan banyak kawan, saya pun menyampaikan keyakinan ini berulang kali. Entahlah ini benar atau tidak, sampai kini saya masih meyakininya. Posting saya kali ini terkait dengan apa yang saya maksud dengan keberuntungan.

Bekerja paruh waktu adalah hal biasa yang dilakukan mahasiswa Indonesia ketika berlajar di luar negeri. Alasan klasiknya adalah mencari pengalaman dan mengisi waktu, walaupun alasan sesungguhnya adalah mengisi rekening. Mengapa rekening perlu diisi? Karena ketika nanti pulang ke Indonesia, belum tentu pekerjaan yang digeluti bisa membuat hidup terbebas secara finansial. Alasan pragmatis: hidup layak secara ekonomi.

Continue reading “Kesempatan”

Melihat kebaikan

memandang jauh

Saya pernah menulis tentang sebuah buku yang dihadiahkan Asti saat ulang tahun saya yang ke-30. Buku itu berkisah tentang memetik kebaikan dari segala sesuatu. Saya setuju bahwa semua hal memiliki sisi baik dan buruk. Bukanlah seberapa baik sesuatu itu, tetapi seberapa mampu saya mengambil kebaikan dari sesuatu itu yang lebih penting. Kitab sucipun, menurut saya, ada kelemahannya. Meski demikian, itu bukanlah alasan untuk ditinggalkan.

Banyak orang menjadikan anak kecil sebagai contoh atau simbol kebaikan. Seorang kawan vegetarian kerap mencontohkan begini: coba berikan dua pilihan “anak ayam” dan “coklat” kepada anak berumur satu tahun. Pasti dia akan mengambil coklat dan memakannya. Dia tidak akan memakan anak ayam. Artinya, secara naluri, kita bukanlah karnivora. Seorang kawan lain juga menjadikan anak kecil sebagai contoh naluri perdamaian: kumpulkanlah beberapa anak kecil umur 2-5 tahun tahun dari berbeda etnis dan agama. Mereka akan asik bermain, tidak mepersoalkan warna kulit, apalagi agama. Ini pelajaran untuk kita semua tentang perdamaian dan hidup bersama.

Continue reading “Melihat kebaikan”

Tips presentasi

www.german-business-etiquette.com
http://www.german-business-etiquette.com

Saya sering melakukan dan terutama menyaksikan berbagai presentasi, mulai dari kuliah sehari-hari hingga konperensi internasional. Sejak pertama kali presentasi hingga kini, saya terus belajar dan selalu merasa ada saja yang harus diperbaiki. Saya belajar baik dari kesempurnaan maupun dari kesalahan yang saya saksikan dalam presentasi orang lain. Kali ini saya ingin berbagi tips untuk presentasi yang baik, setidaknya menurut saya pribadi. Jika Anda iseng mempertanyakan ‘kelayakan’ saya dalam memberi tips, Anda tidak salah karena saya bukanlah guru atau pelatih presentasi 😦 Setidaknya, kalau memang hal ini perlu dikatakan untuk sekedar menambah keyakinan, saya pernah melakukan presentasi di empat benua (saya memang belum pernah ke Afrika) dan sempat juga beruntung menjadi presenter terbaik di Annual Research Seminar yang diadakan UNSW, Australia tahun 2005. Jadi tulisan ini, walaupun mungkin tidak dikutip dari buku-buku strategi presentasi dari penulis terkemuka, mungkin ada baiknya disimak karena didasarkan pada pengalaman empirik.

Continue reading “Tips presentasi”

Bahasa

Setelah bergaul agak lama dengan banyak kawan dari berbagai negara, akhirnya saya bisa membedakan asal orang dari cara bicaranya. Meskipun tidak mengerti makna ucapannya, cara bicara seseorang memang bisa menunjukkan asal negaranya. Benar kata pepatah lama: Bahasa menunjukkan Bangsa.

Menariknya, meskipun sama-sama berbahasa Inggris, pelan-pelan saya bisa juga membedakan asal negara seseorang yang saya ajak bicara. Masing-masing memiliki cara yang khas dalam berbahasa, meskipun itu Bahasa Inggris. Ciri kenegaraannya biasanya tidak hilang, terutama mereka yang berasal dari negara bukan penutur asli Bahasa Inggris.

Continue reading “Bahasa”