Berbahasa


www.bulanbahasa2008.sg
http://www.bulanbahasa2008.sg

Alangkah luar biasanya bahasa itu. Saya ingat ucapan salah seorang dosen senior di penghujung tahun 90-an ketika mengajar tentang filsafat ilmu pengetahuan. “Bayangkanlah kalau kita harus mengabarkan satu situasi saat ada seekor burung dara putih sedang bernyanyi riang hinggap di dahan kering sebatang pohon turi di pinggir kali yang airnya bening mengalir. Bayangkan pula kalau kita harus mengambarkan paruhnya yang kuning dan kakinya yang bersisik halus kemerahan mengcengkram kuat dahan yang seperti mau mati. Alangkah sulitnya menggambarkan itu kalau kita tidak memiliki bahasa.” Demikian beliau memulai sebuah kuliah tentang makna bahasa. Bahasa yang bisa mendeskripsikan sesuatu memang sangat penting. Bahasa bankan menunjukkan bangsa. 

 

Anehnya, di saat lain, diam justru diakui sebagai seribu bahasa. Diam bisa menyampaikan banyak sekali hal yang tidak terbatas. Dalam suasana penuh cinta, senyum bisa penuh arti, kata para pujangga. Senyum sendiri adalah bahasa.

Bahasa-bahasa di dunia beraneka ragam. Ada yang melengking menyayat-nyayat, ada yang terseret seperti bergumam, ada yang berwibawa, ada yang ‘pecicilan’ ada pula yang datar tak berkarakter. Semua ini tentu saja penilaian subyektif. Ada yang tidak memperhatikan hirarki, ada yang bahkan tingkatannya hingga sembilan. Percayakah Anda jika anda ingin mengatakan “Anjing sudah makan” maka Anda bisa memilih berbagai opsi tergantung kepada siapa Anda berbicara? Ini terjadi dalam Bahasa Bali dan Bahasa Jawa yang sangat memperhatikan hirarki. Sor singgih basa, demikian disebut dalam Bahasa Bali. 

Bulan Oktober ini adalah bulan bahasa. Delapan puluh tahun lalu sejumlah pemuda di negeri ini konon pernah berikrar, salah satunya adalah berketetapan hati untuk berbahasa satu: Bahasa Indonesia. Setelah delapan puluh tahun ikrar itu dikumandangkan, cobalah tengok bahasa Indonesia kita saat ini. Adakah dia sama dengan Bahasa Indonesia di jaman perjuangan dulu? Menyimak pidato Bung Karno atau ujaran para pendahulu sangat menarik dari segi bahasa, terutama ketika dibandingkan dengan gaya berbicara anak muda sekarang ini. Tontonan di televisi yang kata orang pintar kian tak bermutu, menggambarkan betapa sudah jauhnya Bahasa Indonesia berubah. ”Apaan sich!” kata para anak muda ketika sedang saling menggoda dengan temannya. ”Secara gue baru bangun gito lo” kata anak muda lainnya saat beralasan. Orang-orang di kantor sebuah pemerintahan bahkan konon mengolok-olok bosnya dengan gelar ”Master Appaan Sich?” untuk mereka yang lulusan Australia dan bergelar M.App.Sc (Master of Applied Science). Ini dampak Bahasa.

Apakah segala inovasi ini merupakan kesalahan? Banyak sekali orang tua yang setuju bahwa ini adalah kesalahan. Penurunan karakter, degradasi moral berbahasa. Demikian sebagian orang mengatakan. Bapak mertua saya adalah yang paling tegas soal ini. Beliau tidak bisa menerima kalau didengarnya pewawancara TV salah berucap. ”Ngomongin orang kok bilang ’salah satu’, harusnya ’salah seorang’ dong. Ini penyiar TV, berbahasa gimana sih?” kata beliau setengah marah saat menonton TV. Bapak mertua saya yang menggunakan standar lama, seringkali tidak bisa menerima perubahan-perubahan berbahasa anak muda walaupun tanpa disadari beliau juga mengatakan “gimana” 🙂

Dalam hubungan dosen – mahasiswa lain lagi. Kalau jaman dulu mahasiswa (terutama di UGM) jaraknya jauh (di bawah) dari dosennya, kini mungkin berbeda. Dosen yang lulus UGM di tahun ’70 mungkin akan geleng-geleng kepala melihat dosen lulusan tahun 2004 sedang membalas sms mahasiswanya. ”Mahasiswa kok sms-an sama dosennya!” begitu mungkin beliau akan berkomentar. Persepsi tentang bahasa dan cara berkomunikasi memang berbeda dan selalu berubah. Anehnya, tiap generasi cenderung merasa lebih baik dari generasi sesuadahnya. Sering kita dengar ucapan ”Anak muda jaman sekarang memang beda” dengan nada mencibir. Lucunya ucapan ini selalu ada, setidaknya saya sudah dengar sejak awal tahun ’90-an ketika para tetua kecewa dengan generasi saya. Lebih parahnya lagi, orang-orang dari generasi saya, yang dulu sudah dianggap tak becus sebagai anak bangsa, kini melakukan hal yang sama ”Anak muda jaman sekarang memeang beda” kata sebagian orang mengomentari adik-adik kelas secara negatif. Lagi-lagi standar kebenaran cara berkomunikasi menjadi biangnya. Seseorang dengan mudah menjadi terlihat tidak sopan, kasar, tidak tahu tata krama atau sejenisnya, jika perilaku bahasanya diukur dengan standar 30 tahun lalu. Seorang professor tak gaul di UGM mungkin akan marah kalau ada mahasiswanya yang mengirim email dan di akhir emailnya menulis ”reply ASAP.” ”Memangnya saya ini kacungmu apa!??!” begitu kira-kira mereka akan bergumam, setidaknya dalam hati. 

Orang tua saya di Bali sedikit bingung, misalnya, ketika saya mengajak beberapa orang mahasiswa datang ke rumah di desa. ”Mengapa mereka tidak bisa berbasa basi ya?” demikian Bapak saya bertanya. Tentu saja merka tidak bisa bebasa basi karena standar yang baik menurut Bapak saya adalah ketika anak muda bisa bergaul intens dengan para orang tua dan berbicara soal-soal yang dipahami orang tua. Bapak saya, kepada siapa saja yang datang, berharap akan bisa berbicara hal-hal sederhana seputar pertanian, kehidupan di desa, perjalanan hidup sederhana dan sebagainya. Oleh karena itulah beliau selalu menegaskan ”jadilah orang yang ramah.” Bahasa menjadi sangat penting di keluarga kami. Oleh karena itulah, adik saya di usia yang masih muda sudah sangat fasih bertutur kata dan bertegur sapa dengan para orang tua di desa. Ini yang menurut ayah saya, anak muda yang seharusnya. Gunakanlah bahasa dengan baik.

Entahlah mana yang benar. Bahasa adalah refleksi sikap hidup masyarakat dan ciri perkembangan peradaban. Mungkin tidak mudah mengatakan ini salah dan itu benar karena sesungguhnya bahasa berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan suasana kebudayaan di suatu zaman. Sepuluh tahun lagi mungkin akan ada acara di TV yang menampilkan bahasa-bahasa kuno saat orang berucap ”kasihan deh lu” atau bahasa kuno lainnya seperti ”hujyan, bechiek, gak ada ojyek” dan banyak lagi. Yang jelas, kalau bahasa ini berkembang karena kesadaran berinovasi, tentulah ada harapan baik di baliknya. Namun jika perubahan ini terjadi semata-mata karena kemalasan belajar dan ketidakpedulian pada perasaan orang lain, benar barangkali ucapan tetua bahwa bahasa kita telah mengalami keruntuhan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Berbahasa”

  1. orang tua saya di Bali sedikit bingung, misalnya, ketika saya mengajak beberapa orang mahasiswa datang ke rumah di desa. ”Mengapa mereka tidak bisa berbasa basi ya?” demikian Bapak saya bertanya.

    mahasiswa nya siapa ya pak yah??… :mrgreen:

    Seperti yang Pak Andi pernah katakan dulu, bahwa dalam berbahasa dan juga bersikap antara orang tua angkatan 70, angkatan 90, anak muda angkatan 2000 an, memang cenderung berbeda. Ketika ditanyakan mana yang lebih baik dan lebih santun tentu saja memang menyisakan pertanyaan mendasar, ketika zaman berubah, lingkungan tempat berubah, aspek sosial berubah dengan globalisasi di segenap penjuru hidup, salahkah atau anehkah ketika bertutur dan berbahasa juga berubah???

    jawabannya mungkin beragam pak, apalagi kalau bahasa yang digunakan juga berbeda….. 🙂

    ndak di reply ASAP ga papa pak (aduh…bahasanya….maaf pak 🙂 )

  2. Farid,

    Menurutku sih tidak ada yang salah kalau berbahasa berubah. Orang tua yang mengaku sopan dan tahu bahasa juga sering dituduh tidak gaul dan kampungan oleh anak muda jaman sekarang 🙂 -sama2 menyalahkan juga-

    Mungkin kita harus kembali ke filsafat bahasa itu sendiri untuk menyampaikan pesan dan bisa diterima dengan baik oleh pendengar. Jika di dalamnya terjadi kesalahan atau dianggap kurang berkenan, pesan juga tidak akan diterima dengan baik to. Yang tua tidak boleh bersikukuh dengan kebenarannya, yang muda jg mungkin bisa sedikit lebih bijaksana dengan memahami siapa yang diajaknya berbicara. Ya sama-sama belajar lah 🙂 Dalam hidup kan tidak seperti logika Boolean “yes” or “no” tetapi seperti fuzzy yang tidak hanya sekedar mengenal salah atau benar.

    Biarpun berbahasa itu tidak salah, tetapi kalau yang diajak berbicara tidak berkenan, misalnya, ya bisa menjadi masalah. “Salah” dengan “masalah” berbeda lo 🙂 Masalah akan menjadi lebih rumit saat kita memerlukan peran orang yang kita ajak bicara itu. Kalau kita gak perlu sih suruh ke laut aja dia 😀

    re: reply ASAP
    Kalau diterjemahkan ini artinya “jawab cepat!” beda dengan “tolong jawab cepat” he he he… Mungkin menurut para orang tua, intinya bukan ASAP atau tidak ASAPnya, tetapi bagaimana sesuatu itu disampaikan. Tapi itu bagi orang tua yang agak kuno kali… bagi kaum muda yang gaul seperti kita tak ada masalah lah 🙂

    Kalau yang diajak beremail2an tidak berkenan, paling nanti gak dijawab e he ehe.

  3. orang tua saya di Bali sedikit bingung, misalnya, ketika saya mengajak beberapa orang mahasiswa datang ke rumah di desa. ”Mengapa mereka tidak bisa berbasa basi ya?” demikian Bapak saya bertanya.

    PLAAK, tertampar telaj hehe

  4. hai andi.
    aku kakak kelas kamu angkatan 95, ingat kah?
    aku turut senang ketika baca website kampus kita, dah semakin maju perkembangannya. termasuk tentang aktivitas kamu dlm berbagai event internasional mengenai penentuan batas negara. pengin jg beli buku yg kamu tulis itu, mungkin kapan2 ada kesempatan.

    tentang bahasa, bagiku tulisan kamu menarik. bahasa sebagai alat komunikasi tdk lepas dr budaya daerah asal bahasa tsb.
    shg ketika orang2 indonesia berkomunikasi menggunakan bhs. indonesia bila dinilai kesopanannya akan beragam sekali penilaian masing2 orang. mungkin andi yang dari bali dengan jawa tengah ada kesamaan “unggah ungguh” atau etika sopan santun. bagaimana berbicara dg orang tua, dengan tamu dsb.
    tapi apapun asal daerahnya dan generasinya, memang diperlukan skill berbahasa dan bergaul jg, shg bisa “masuk” dlm berkomunikasi antar generasi dan antar budaya.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s