Saya sedang terkantuk-kantuk di dalam sebuath subway alias kereta bawah tanah yang membawa saya dari Manhattan ke Queens di New York. Sore itu lelah sekali setelah seharian di depan komputer menyelesaikan berbagai tugas. Seorang perempuan muda datang dan duduk di sebelah saya. Saya menyapa, berbasa basi. Dia ramah dan sepertinya tertarik untuk ngobrol. Kami pun berbasa-basi sejenak tentang hari yang panjang, tentang winter yang dingin menusuk.
Keberanian untuk Berubah
Pidato pengukuhan Presiden Barack Obama
[diterjemahkan dengan interpretasi oleh I Made Andi Arsana]
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air:
Saya berdiri di sini saat ini, merasa rendah hati manyambut mandat yang menunggu di depan kita, berterima kasih atas kepercayaan yang Anda amanatkan, dan sadar akan pengorbanan yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita. Saya berterima kasih pada Presiden Bush atas pelayanannya pada bangsa kita, demikian juga atas kemurahan hati dan kerjasama yang ditunjukkannya selama proses transisi ini.
Hingga kini, 44 warga Amerika telah disumpah sebagai presiden. Kalimat-kalimat sumpah ini telah diucapkan saat bangsa kita mengalami kemakmuran berlimpah dan saat kedamaian berkuasa bagaikan air yang tenang. Namun begitu, ada kalanya kalimat sumpah ini diucapkan di tengah-tengah awan yang membawa mendung dan bahkan badai yang ganas. Di saat-saat seperti inilah Amerika tetap bertahan tidak saja karena kecemerlangan dan visi para pemimpinnya tetapi karena kita, bangsa Amerika, tetap yakin pada prinsip dasar pendiri bangsa kita, dan pada kebenaran prasasti kita.
Yang pertama
Jika posting sebelumnya adalah yang terakhir di tahun 2008 maka ini adalah posting yang pertama di tahun 2009. Januari hampir berakhir di tahun ini dan saya belum sempat menulis apa-apa. Pelayaran yang saya lakukan di akhir tahun lalu hingga 15 Januari tahun ini memang tidak memungkinkan saya memperbaharui blog.
Yang terakhir

Ini adalah posting yang ke-104 tahun 2008 dan mungkin akan menjadi yang terakhir tahun ini. Karena terlibat dalam sebuah penelitian di tengah laut selama sebulan, saya akan meninggalkan dunia maya sejak tanggal 20 Desember 2008 dan kembali pertengahan Januari 2008. Belum yakin apakah akan ada akses internet memadai di tengah samudra nanti.
… telah memperbarui nya Blog Friendster

Saya bukan fans berat Friendster ataupun situs jejaring sosial lainnya tetapi memang memiliki akun di Friendster (FS)maupun di Facebook (FB). Dalam rangka tampil lebih gaul dan nyambung dengan anak-anak [berjiwa] muda terutama mahasiswa, memiliki akun di jejaring sosial sangat membantu. Sering saya merasa terbantu dalam hal komunikasi jika mulai dari hal-hal gaul seperti FS dan FB.
Entah sejak kapan, tanpa niat, saya mengubah media bahasa FS saya menjadi Bahasa Indonesia yang tadinya Bahasa Inggris. Sejak itulah saya mendapat pesan lewat email yang subyeknya kira-kira berbunyi “Si X telah memperbaharui nya Blog Frienster” Pesan ini, walaupun bukanlah merupakan sesuatu yang penting di dunia, pesan ini saya rasa sangat mengganggu. Tata bahasanya jelas-jelas salah.
Harus Bisa!
Di Gramedia Plaza Ambarukmo Yogyakarta, saya membeli sebuah buku yang sudah cukup lama saya inginkan: “Harus Bisa: Seni memimpin à la SBY” karya Dr. Dino Patti Djalal. Adalah sebuah artikel yang beredar lewat dunia maya yang membuat saya memutuskan membeli buku tersebut. “Pemimpin yang Menyentuh Hati dan Menyembuhkan Luka” demikian judul artikel tersebut yang konon adalah salah satu tulisan dalam buku yang kemudian saya beli.
Laskar Pelangi

Akhirnya saya berhasil menyaksikan film Laskar Pelangi (LP) sedikit lebih cepat dari yang dibayangkan semula. November lalu ada kesempatan pulang ke tanah air dan menonton film adalah salah satu agenda penting diantara agenda lain yang cukup padat.
Sudah sangat banyak ulasan tentang film LP di media massa, saya tidak akan mengulang-ulang ulasan itu di sini. Saya berkisah tentang kekhawatiran saya yang saya sampaikan beberapa saat lalu. Betul memang, bahwa sebuah film tidak akan pernah secara utuh dapat menampilkan isi buku/novel yang menjadi basis film tersebut. Orang kecewa dengan Harry Potter, terutama mereka yang maniak membaca novelnya. Bagi saya yang tidak membaca Harry Potter, tidak terlalu kecewa dengan filmnya, walaupun tidak pernah bisa menjadi fans-nya.
Photofunia
Sudah cukup lama tidak posting hal-hal teknis di blog ini. Saya ingat dulu di tahun 2004 dan 2005 saya rajin memposting ‘keajaiban-keajaiban’ yang saya temui di dunia maya. Kedigdayaan Google adalah yang paling saya posting dulu sampai akhirnya kumpulan kisahnya menjadi sebuah buku.
Saya menyukai kreativitas terkait olah gambar/photo. Sempat juga iseng-iseng belajar memodifikasi foto dengan Photoshop waktu jaman kuliah. Asti pasti masih ingat ada beberapa fotonya saya utak-atik 🙂 waktu jaman muda dulu. Maklumnlah, larangan-larangan memang melahirkan kreativitas. Orang memang bisa mendapatkan apa saja dengan imajinasinya 🙂
Membandingkan

Ketika ditanya berapa saya ingin dibayar untuk mengajar komputer untuk aplikasi perkantoran, saya tidak mampu mejawab dengan segera. Tidak mudah untuk secara gamblang mengatakan saya ingin dibayar “sekian per jam,” terutama karena saya bukanlah pengajar komputer professional. Untunglah calon murid saya paham situasi ini dan dia mengambil inisiatif. “How about forty dollars an hour? Does it sound good to you?” demikian katanya menerobos kebuntuan. Saya senang bukan kepalang mendapat uang sebanyak itu, terutama ketika saya bandingkan dengan gaji yang saya terima untuk bekerja di restoran Thailand. Kurang lebih 10 dolar per jam untuk pekerjaan kasar yang berat.
Anjing

Jangan terkejut membaca tulisan ini. Judulnya memang singkat dan kalau dibaca dengan suasana hati yang tak semestinya, bisa jadi terdengar seperti makian. Ini bukan makian, tulisan ini memang bercerita tentang seekor anjing.
Seorang kawan berkebangsaan Amerika memeliki seekor anjing putih. Bonnie, nama anjing tesebut, sangat sehat dan bersahabat. Bonnie menyambut saya dengan ramah setiap kali saya datang ke rumah kawan saya ini. Bulunya yang tebal, tubuhnya yang gemuk sehat dan kondisinya yang bersih menunjukkan betapa Bonnie memang terawat dengan baik. Pernah suatu kali ketika kawan saya mengantar saya dari tempatnya ke apartemen saya, Bonnie diajak. Kami melaju dalam mobil BMW kap terbuka berpenumpang tiga: kawan saya, saya sendiri dan Bonnie. ”She is a good girl”, demikian kawan saya ini selalu membanggakannya.
