Spiderman tidak berasal dari Tabanan

http://fc09.deviantart.net/

Kerap ada pertanyaan bagaimana saya menemukan ide untuk menulis dalam jumlah yang cukup banyak. Menjawab pertanyaan demikian, saya pernah bertanya balik apakah pernah menonton film Spiderman. Hampir semua mengatakan pernah dan begitu saya tanya berapa kali dan berapa judul film tentang Spideman yang pernah ditonton, hampir semua menyatakan lebih dari satu. Film Spiderman, seperti halnya film super hero lainnya, memang hadir dalam berbagai versi. Seakan-akan kisahnya baru, film Spiderman versi apapun selalu berhasil menarik minat orang untuk menonton.

Continue reading “Spiderman tidak berasal dari Tabanan”

Pesan Anak Penambang Padas

Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal
Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal

Aku kembali ke Desa Tegaljadi, tempat segala sesuatunya bermula. Di awal tahun 1980, aku adalah seorang anak kecil yang terbaring di sebuah sudut penambangan batu padas. Masih jelas terngiang di telinga suara dentuman palu yang menghantam besi yang diayunkan oleh Bapak dan Ibuku. Mereka adalah penambang padas. Aku ada di sana menemani mereka karena kami tentu saja tidak punya pembantu untuk merawatku. Bongkahan batu padas itulah yang kami tukar dengan bahan makanan di desa tetangga.

Continue reading “Pesan Anak Penambang Padas”

Serpihan kebaikan

Jujur saja, saya sering terjebak membanding-bandingkan Indonesia dengan negara maju lainnya. Kadang muncul ucapan atau sekedar kelakar untuk mengagungkan bangsa lain dan meremehkan banga sendiri. Kebaikan orang-orang sering menjadi bahan pembicaraan. Saya tahu, sikap seperti ini tidak baik dan harus dikurangi. Mungkin ini bisa jadi resolusi tahun 2014. Membandingkan boleh tetapi sebaiknya hanya untuk tujuan perbaikan bangsa sendiri, bukan sekedar mencari-cari kelemahannya lalu menertawakannya tanpa berbuat apa-apa.

Continue reading “Serpihan kebaikan”

Merawat benih kebaikan

Borobudur - 17 Desember 2013
Borobudur – 17 Desember 2013

Kami sedang ada di kawasan Candi Borobudur, mengantar dua sahabat dari Filipina yang berkunjung ke Indonesia. Dalam perjalanan pulang, kami melewati banyak pedagang asongan yang menjajakan berbagai barang dagangan. Tidak sedikit dari mereka nenek-nenek yang sudah lanjut usia dan mungkin semestinya sudah tidak bekerja lagi. Jika tidak terlalu sering datang ke tempat seperti itu, pemandangan itu kadang membuat terenyuh, meskipun kenyataannya ada saja orang yang dengan sengaja memanfaatkan situasi untuk kepentingan ekonomi.

Continue reading “Merawat benih kebaikan”

Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri

Pernahkah Anda mendengar nama “Universitas Katolik Widya Mandira” ? Jika Anda tidak berasal dari NTT dan kurang gaul seperti saya, mungkin jawabannya adalah “tidak”. Terus terang saya belum pernah mendengar nama universitas ini sampai akhirnya saya bertemu Cilla. Nama lengkapnya Priscilla Maria Assis Hornay. Just in case you are wondering, YES, there is an ‘a’ between ‘n’ and ‘y’ in her last name, so shut it and let’s get down to business! 🙂

Pertemuan saya dengan Cilla di Sydney mengingatkan saya pada banyak pertanyaan yang saya terima perihal beasiswa luar negeri, terutama beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Pertanyaan itu adalah “bisakah alumni dari universitas swasta yang tidak terkenal mendapatkan beasiswa untuk S2 atau S3 di luar negeri?” Jawabannya tentu saja “bisa” dan pertemuan saya dengan Cilla menegaskan itu.

Continue reading “Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri”

Bédog

cockfight by Affandi – http://www.artvalue.com/

Lelaki itu bernama Bédog, tentu saja tidak penting apakah dia punya surname atau tidak dan apakah Bédog itu itu nama asli atau bukan. Bédog jelas tidak punya paspor dan sangat mungkin tidak punya KTP. Lelaki sederhana itu tidak sempurna tubuhnya, kulitnya penuh benjolan. Anak-anak kecil yang melihatnya bisa lari karena takut. Kulit hitamnya yang legam, wajahnya yang tidak bersahabat dan benjolan di sekujur tubuhnya menyempurnakan nestapa itu.

Meski buruk rupa, Bédog disukai para bobotoh penyabung ayam di desa kami. Pasalnya, dia bisa diperintah untuk melakukan apa saja tanpa mengeluh dan tanpa pernah menolak. Bédog tidak pernah bernegosiasi soal upah kerja. Para bobotoh di desa kami menjadikan Bédog orang kepercayaan untuk membersihkan ayam pecundang yang binasa dalam sebuah pertempuran. Bédog terampil mencabuti bulu ayam malang itu dan membersihkan isi perutnya. Dalam pagelaran sabung ayam yang ramai, Bédog harus merampungkan pekerjaan untuk lebih dari lima ekor ayam. Karena dikerjakan sendiri, dia nampak sibuk dan kerap kelebihan beban. Meski begitu, tidak ada yang membantunya. Bédog bekerja sendiri.

Continue reading “Bédog”

Kembali ke Le Meridien

Hotel Le Meridien, Suatu ketika tahun 2002,
eu-aseanSaya seperti orang hilang di tengah kerumunan itu. Ada rasa sepi menghinggapi di tengah hiruk pikuk suasana. Setiap orang nampak antusias berkeliling melihat-lihat stand pameran siang itu. Tidak sedikit yang terlibat percakapan dengan penunggu stand pameran, bersemangat bertanya ini dan itu, menunjukkan gairah mereka untuk mengetahui lebih jauh dan lebih dalam. Lelaki dan perempuan usia 30an tahun nampak penuh perhatian memberikan informasi kepada pengunjung yang mendekat ke stand masing-masing. Keramahan dan pengetahuan yang mumpuni nampak berpadu dengan apik pada wajah dan senyum mereka. Sementara itu, saya memandang dari satu sudut yang agak jauh, terkesima melihat geliat orang-orang yang antusias melapangkan jalan menimba ilmu. Siang itu saya sedang menghadiri sebuah pameran pendidikan luar negeri di Hotel Le Meridien Jakarta.

Ada rasa ragu ketika berjalan mendekati beberapa stand pameran dan melihat nama-nama universitas terpandang yang terpampang di setiap stand. Beberapa nama universitas itu sudah pernah saya dengar dan sebagian lain nampak asing. Meski tertarik, tidak mudah untuk memulai percakapan dengan penunggu stand pameran karena ada keraguan. Perihal apa yang paling tepat ditanyakan, saya tidak tahu. Maka saya memilih untuk mengamati saja. Di berbagai titik terlihat anak-anak muda berpenampilan mentereng, kadang ditemani ayah ibunya. Mereka bertanya penuh selidik, melapangkan jalan bersekolah di luar negeri. Sejujurnya, ada perasaan malu kalau harus datang ke sebuah stand dan bertanya “apakah universitas ini menyediakan beasiswa bagi yang tidak punya uang seperti saya?”

Continue reading “Kembali ke Le Meridien”

Ngepel Lantai

hambaallah92.wordpress.com

Saat SD, saya sering mendapat tugas ngepel lantai rumah. Kakak dan ibu saya yang biasanya mengajari saya melakukan pekerjaan seperti itu dengan baik. Untuk hal seperti ini, ibu saya termasuk ‘kejam’ dalam mengajari saya. Hasilnya, saya mengikuti prosedur dan tatacara ngepel lantai yang beliau ajarkan.

Langkah pertama adalah menyapu lantai dengan sapu ijuk agar sampah-sampah besar sirna dari lantai. Berikutnya, lantai diperciki air berisi pembersih lantai secara keseluruhan, disusul dengan menggosok lantai menggunakan lap yang juga dibasahi dengan air berisi pembersih lantai itu. Kami tidak memiliki alat pel, semua itu dilakukan manual dengan tangan. Yang paling saya ingat, saya harus jongkok dan bergerak mundur, memastikan tidak menginjak lantai yang sudah digosok. Hal ini kadang dilakukan secara berulang jika lantai kotor sekali. Tahap akhir adalah mengeringkan lantai agar benar-benar bersih.

Karena satu alasan, kadang saya harus mengulangi atau mendatangi bagian-bagian tertentu yang terlewati. Di saat itulah saya menginjak lantai yang sudah dipel tadi dan selalu merasa lantai itu masih kotor. Setiap bagian lantai yang saya injak terasa kotor oleh reman-remah pasir atau debu dan masih licin tidak kesat. Saya terpaksa mengulangi langkah terakhir yaitu mengeringkan bagian yang saya injak itu. Ini bisa berlangsung berulang sampai saya merasa lantai benar-benar bersih. Sering kali mengalami hal serupa, saya amati satu hal. Lantai akan terasa bersih jika kaki saya sudah kering dari sisa-sisa air licin untuk ngepel itu. Jika kaki saya masih basah oleh air yang bercampur pembersih lantai maka setiap bagian lantai yang saya injak akan terasa kotor dan licin. Yang kotor rupanya bukan lantainya tetapi kaki saya.

Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia

G. Washington, the surveyor!

Di tanah Afrika, saya bertemu lelaki ini. Dia seorang surveyor seperti saya. Dia kelahiran Somalia, seorang lelaki berkulit hitam layaknya orang Afrika yang saya pahami. Perawakannya tinggi langsing, lelaki ini sudah matang dalam usia. Dia adalah satu dari hanya dua orang sarjana geodesi di negeri itu. Dua surveyor itu menamatkan pendidikan sarjana geodesi di Polandia hingga jenjang magister. Bertemu Salihi, demikian namanya, adalah bertemu dengan makhluk langka di negeri Somalia.

Somalia telah lama menderita, porak poranda dilanda perang saudara. Kini negeri ini bangkit perlahan, geliat kehidupan mulai nampak di Kota Mogadishu ketika saya berkunjung ke sana. Pembangunan nampak berjalan meski tidak cepat, reruntuhan akibat perang mulai berganti rumah-rumah yang bermunculan. Di sela-sela puing kendaraan atau bangunan yang runtuh dibinasakan kejamnya perang saudara, kini mulai muncul gedung-gedung yang akan mengakomodasi geliat bisnis. Investasi mulai datang, para penanam modal melirik Somalia penuh gairah.

Di negeri yang mulai bangkit itu, ada persoalan kedaulatan dan wilayah yang rumit dan pelik. Tak jelas hingga di mana kedaulatannya. Territori dan yurisdiksi menjadi misteri. Di tengah ketidakpastian itulah sang presiden memerlukan panduan. Presiden perlu garis yang tegas untuk menerjemahkan rasa nasionalisme yang diperiharanya sejak lama. Tuan presiden adalah pemimpin konsititusional pertama sejak lebih dari dua dekade. Dia merupakan presiden yang diakui dunia termasuk Amerika Serikat dan rakyat menaruh harapan padanya.

Continue reading “Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia”

Penjor Galungan

galungan

Pak Wayan Sukantra, guru Agama Hindu kami saat SD, pernah bercerita. Jangan memperlakukan orang seperti penjor, katanya. Penjor itu, bagian lurusnya kita tanam tenggelamkan, bagian bengkoknya kita umbar pamerkan. Katanya, itu artinya kita lebih memerhatikan keburukan orang lain dan cenderung mengabaikan kebaikannya. Saya masih SD, usia belum genap duabelas tahun sehingga belum mampu memahami apa yang dimaksud Pak Wayan Sukantra. Bagi saya, cerita itu mengganggu karena selama ini penjor menjadi simbol kemeriahan hari raya. Penjor selalu ditemukan di jalanan di Bali ketika hari raya, terutama saat Galungan dan Kuningan. Ingatan di masa kecil tentang penjor salah satu yang membuat saya selalu rindu pulang.

Continue reading “Penjor Galungan”