Susu Nasional

http://s3.amazonaws.com/

Sore tadi saat menjemput Lita dari sekolah, saya membeli empat gelas susu. Namanya Susu Nasional, dijajakan oleh penjual yang mengayuh gerobak sepeda berwarna dominan biru. Jika pernah tinggal di Jogja, Anda akan tahu lengkingan pengeras suara yang melantunkan penggalan lagu “susu murni nasional”. Sejak tahun 1990an akhir, saya sudah mengenal susu ini dan sudah menyukainya. Sore tadi saya bernostalgia.

Beda dengan belasan tahun lalu, kini saya memperhatikan lebih serius. Saya ajak mas penjual susu untuk ngobrol sebentar. Saya mulai bertanya produksi susunya, bagaimana sistem upah dan lain-lain. Awalnya dia menjelaskan dengan agak ragu. Mungkin tidak sering menjumpai pembeli yang banyak tanya seperti saya. Susu Nasional diproduksi di Salatiga dan dikirim ke Jogja setiap hari. Tempat penampungannya di Jalan Kaliurang. Pekerja seperti dia mendapat tempat tinggal di penampungan susu sehingga tidak perlu sewa tempat tinggal. Saya pikir ini lumayan untuk dia.

Continue reading “Susu Nasional”

Selamat Kuningan

Inspirasi dari Neil Armstrong

Google Moon

Tahun 1969 adalah legenda karena kala itulah untuk pertama kalinya makhluk bumi bernama manusia menjejakkan kakinya di Bulan. Sesaat setelah menyentuh Bulan, Neil Armstrong, astronot Amerika itu mengumandangkan sebuah kalimat “[t]hat’s one small step for man, one giant leap for mankind”. Bahwa jejaknya di permukaan bulan mungkin penanda sebuah langkah kecil manusia biasa tetapi itu sesungguhnya adalah lompatan raksana bagi sebuah peradaban. Hari ini, Neil Armstrong berpulang pada usia 82. Dunia berduka dan kehilangan.

Continue reading “Inspirasi dari Neil Armstrong”

Inspired by something that has yet to exist

http://contest.mhphotoclub.com/

Inspired by someone you know or a writing that you have read? That is nothing new. We all have the experience in one way or another. We often say or do things in a particular way because of what others have done. Put simply, were are inspired by something that exists. Now, the question: can we be inspired by something that has yet to exist? Can non-existence be a reason for us to do things in a certain way? I have a story to share.

One day I was driving in a reasonably quiet city of Wollongong, Australia. It was my unlucky day since a car passing close by was misbehaving. The car suddenly overtook me and cut my line just before stopping due to a red light. Of course I was surprised and shocked since it was not something one experiences every day in Wollongong. I was about to hit the horn and yell. However, at the very critical moment there was something in me whispering “don’t do that” and I followed it. I was thinking for a while and then decided to smile, instead of cursing. I smiled to the car in front of me and I could see the driver’s face from his mirror. Having noticed me smiling, he raised his hand and smiled too. The difference was that he did it with a feeling of guilty which was noticeable from his eyes and face. I vaguely  saw his lips saying “sorry”. It was not bad at all. If I did not decide to prevent myself from yelling, the story might have been different.

Continue reading “Inspired by something that has yet to exist”

Desiderata

http://www.ciul.ul.pt/

Berjalanlah dengan tenang di tengah kebisingan dan ketergesaan, dan ingatlah kedamaian itu bertumbuh dalam kebisuan yang tenang. Sedapat mungkin, jagalah kisah baik dengan semua orang, tanpa harus menyerah dan menjadi tumbal. Nyatakanlah kebenaran hatimu dengan lirih dan jernih; dan dengarkanlah orang di sekitarmu, betapapun mereka membosankan dan tidak peduli; merekapun memiliki cerita yang layak didengar.

Hindarilah mereka yang gaduh dan agresif, mereka adalah orang-orang yang menebarkan kekhawatiran bagi jiwamu. Jika engkau membandingkan dirimu dengan yang lain, engkau mungkin merasa tiada berguna dan getir; karena sesungguhnya selalu ada orang yang lebih hebat atau lebih lemah dari dirimu.

Nikmatilah pencapaian dan juga rencana-renana hidupmu. Berusahala untuk tetap tertarik dengan pilihan pekerjaanmu, betapapun sederhananya.; itulah milikmu yang sesungguhnya melewati masa dengan keberuntungan yang senantiasa berubah tidak terduga.

Continue reading “Desiderata”

The Winner – Sang Pemenang

A nice surprise on the Independence Day 🙂

Warm greeting from Canberra (in the midst of cold winter),
Alhamdulillah. The English Writing Competition for the commemoration of the 2012 National Education Day has eventually reached its final stage.

Board of judges, consisting of Prof Aris Junaidi (Educational and Cultural Attaché of the Indonesian Embassy in Canberra) and A’an Suryana (PhD Candidate/former journalist at the Jakarta Post), have decided three winners as follows:

 

Continue reading “The Winner – Sang Pemenang”

National.is.me

Merah Putih

Di sebuah milis yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi menarik soal nasionalisme. Beberapa ilmuwan Indonesia memilih untuk tidak pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya. Tentu banyak yang prihatin akan hal ini. Saya memiliki satu pandangan.

Dimensi geografis di masa lalu tentu sangat berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Teknologi saat ini membuat dunia jadi ‘lebih kecil’ secara signifikan. Dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kita bisa tahu apa yg dilakukan seorang kawan di Finlandia dan dua detik kemudian bertegur sapa dengan kolega di Afrika Selatan. Ini tidak bisa dilakukan di tahun 80an. Saat ini ‘negara’ dengan jumlah pendudukan terbesar ketiga bernama Facebook, taman bermain paling besar bernama Google Earth dan tempat ngerumpi paling asyik mungkin saja Twitter.

Continue reading “National.is.me”

Saya mengaku kalah

darii http://6.mshcdn.com/

Saya mengikuti sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Telkom Solution terkait penggunaan teknologi informasi (TI) untuk mendukung kinerja perusahaan. Ketika mendapatkan informasi ini dari milis Bali Blogger, saya tidak berniat mengikutinya. Namun begitu, diskusi tidak serius di milis tersebut akhirnya membuat saya mengubah pikiran. Atas ‘desakan’ setengah guyon dari Cahya Legawa, saya akhirnya menulis dan mengirimkannya pada panitia. Ditulis suatu malam yang dingin di Innovation Campus University of Wollongong, saya mengirimkan langsung pada malam itu juga. Tulisan saya hanya 1.192 kata dari 1.200 syarat maksimum yang ditetapkan panitia.

Tulisan saya terkait penggunaan IT untuk kuliah jarak jauh yang memang saya senangi belakangan ini. Rasanya topik ini menarik untuk dibahas dan sangat mungkin untuk diterapkan dengan situasi infrastruktur TI yang dimiliki Indonesia saat ini. Tulisan itu berjudul Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani.

Continue reading “Saya mengaku kalah”

Pencarian pada Google dengan tulis tangan

Setelah mengeluarkan fitur pencarian menggunakan suara, kini Google melengkapi pencarian dengan tulis tangan (hand writing). Berikut videonya.

Hangout: Komunikasi Video dari Google

Terbit di Suara Merdeka 5/8/12

Tanggal 21 Juli lalu, Perdana Menteri Australia, Julia Gillard, melakukan komunikasi dengan masyarakat Australia secara langsung menggunakan percakapan video di Ineternet. Menariknya, undangan untuk berinteraksi itu bahkan disampaikan lewat iklan di YouTube. Pada hari H, percakapan lewat video itu ditayangkan langsung lewat YouTube.

Teknologi sudah merambah dunia politik begitu jauhnya. Apa yang dilakukan Julia Gillard sesungguhnya bukan yang pertama karena sebelumnya Presiden Barack Obama di Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Obama berinteraksi dengan rakyat Amerika secara langsung dengan komunikasi video di internet. Ini merupakan sebuah revolusi dalam dunia politik dan bahwa jarak, waktu dan hirarki kekuasaan memang semestinya tidak menghalangi rakyat untuk menyampaikan suaranya.

Barack Obama dan Julia Gilard menggunakan alat yang sama ketika berbicara dengan masyarakat yaitu Google Hangout. Ketika saya menyampaikan hal ini di twitter, ada yang bahkan bertanya “apa itu Google Hangout?” Itu jadi salah satu alasan saya menulis artikel ini.

Continue reading “Hangout: Komunikasi Video dari Google”