Susu Nasional


http://s3.amazonaws.com/

Sore tadi saat menjemput Lita dari sekolah, saya membeli empat gelas susu. Namanya Susu Nasional, dijajakan oleh penjual yang mengayuh gerobak sepeda berwarna dominan biru. Jika pernah tinggal di Jogja, Anda akan tahu lengkingan pengeras suara yang melantunkan penggalan lagu “susu murni nasional”. Sejak tahun 1990an akhir, saya sudah mengenal susu ini dan sudah menyukainya. Sore tadi saya bernostalgia.

Beda dengan belasan tahun lalu, kini saya memperhatikan lebih serius. Saya ajak mas penjual susu untuk ngobrol sebentar. Saya mulai bertanya produksi susunya, bagaimana sistem upah dan lain-lain. Awalnya dia menjelaskan dengan agak ragu. Mungkin tidak sering menjumpai pembeli yang banyak tanya seperti saya. Susu Nasional diproduksi di Salatiga dan dikirim ke Jogja setiap hari. Tempat penampungannya di Jalan Kaliurang. Pekerja seperti dia mendapat tempat tinggal di penampungan susu sehingga tidak perlu sewa tempat tinggal. Saya pikir ini lumayan untuk dia.

Setiap harinya seorang penjual akan mengayuh gerobak yang berbentuk sepeda dimodifikasi sejauh berkilo-kilo meter, menawarkan susu kepada calon pembeli. Syukurnya mereka tidak perlu berteriak seperti penjual “es kojong” yang legendaris di desa saya ketika saya kecil. Teknologi pengeras suara telah sedikit memudahkan hidupnya. Tata cara mbalannya ternyata menggunakan sistem bonus penjualan. Dia mendapat Rp. 500 dari setiap gelas susu yang terjual. Satu gelas susu (ukuran gelas air mineral) dihargai Rp 2000. Dari segi persentase, sesungguhnya lumayan karena dia memperoleh 25% dari harga jual. Dia menegaskan “saya hanya modal tenaga saja Pak”.

Meski demikian, 25% itu ternyata tidak berarti banyak. Dia berhasil menjual rata-rata 120 gelas per hari. Artinya imbalannya sekitar Rp. 60.000 setiap harinya. Khusus hari minggu, penjualan bisa mencapai 180 gelas karena ada “pasar kaget” di UGM. Orang-orang yang berolahraga dan menikmati suasana cukup senang membeli Susu Nasional, katanya. Di hari minggu itu, ada sekitar Rp. 90.000,- yang bisa diperolehnya sebagai imbalan. Sebuah jumlah yang tentunya tidak banyak untuk kerja fisik yang demikian berat meskipun tetap harus disyukuri.

Ketika saya tanya soal keluarga, dia mengatakan anak istrinya ditinggal di Tegal, kampung asalnya. Saya mulai membayangkan yang lebih serius dari sekedar apa yang saya saksikan sore itu. Teguk demi teguk susu yang sedang saya nikmati sambil bercakap-cakap itu ternyata sedemikian pentingnya bagi keluarga si penjual susu. Segelas susu yang saya minum adalah Rp. 500 yang akan disisihkannya untuk istri dan anaknya yang sedang menunggu di kampung halaman dengan harap-harap cemas. Seperti yang kemudian saya tulis di twitter, segelas susu yang saya minum dengan senang hati bisa jadi akan menentukan apakah seorang istri bisa belanja kebutuhan dasar atau seorang anak bisa sekolah atau tidak di sebuah pojok dunia yang nyaris terlupakan.

Saya tidak sedang beriklan Susu Nasional tetapi mengetahui proses kebatinan di balik sebuah bisnis bisa membuat kita memutuskan dengan bijaksana apakah akan berbelanja atau tidak. Susu Nasional hanyalah satu kisah. Saya yakin ada kisah-kisah serupa yang diperankan dengan cantik oleh pahlawan-pahlawan keluarga seperti si penjual Susu Nasional itu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

15 thoughts on “Susu Nasional”

  1. Di luar manfaat susu bagi penjualnya, yaitu memperoleh income untuk kehidupan sehari-hari, saya ingin bertanya, apakah benar susu bermanfaat untuk tubuh kita ?. Banyak artikel di internet yang mengungkapkan bahwa sebenarnya minum banyak susu justru menyebabkan kekeroposan tulang (osteoporosis). Mungkin bli andi bisa memberikan info lebih jauh ?

    1. Hi Pak Dicky dan pak Andi,

      Mohon maap jika ikut menjawab.

      Memang saya melihat ada beberapa riset yang menghubungkan susu dengan osteoporosis, tapi disini kata kunci yang saya banyak temukan adalah ‘excessive’ dalam artian, penggunaan yang berlebih. Kalau dalam batas normal (satu gelas per hari), malah sangat dianjurkan. Yang perlu diperhatikan lagi disini, susu yang baik adalah yang murni putih, bukan yang sudah dikasih gula warna merah, coklat, dll.

      Khusus untuk bayi, dianjurkan (dengan amat sangat) untuk tidak meminum susu selain ASI. Jangan termakan hasutan orang-orang yang tidak bertanggung jawab bahwa formula adalah komplemen (atau celakanya dibilang lebih baik) dari ASI. Formula itu diberikan jika ibu dan/atau anaknya sakit (sakit kuning yang minor tidak termasuk!). Maap jadi kampanye ASI 🙂

      Semoga bermanfaat…

  2. Susu murni nasional? wah, saya baru dengar Pak.
    Kalau es kojong, sekarang sudah jarang di Bali, di desa pun sudah tergantikan oleh, es campina yang digayuh pakai sepeda keliling kota.

    1. Numpang komen… Bos susu nasional. Aku wanadi nih situkang antar susu nasional. Gini bosss. Udah hampir 7 tahun aku kerja di susu nasional dibagian daerah bekasi kosistim upah karyawan bedaya sama yang ngirim susu dicikampek… Kerja 24 jam cuma di kasih upah 1.5oo.rebu satubulan apakah itu upah yang standar bos… Banyak yang bilang itu gajih kamu kecil banget… Jadi aku jawab … Mungkin karna aku terlalu bodoh jadinya mau ajah

  3. gaji besar atau kecil bukan karena ente bodoh mas Wanadi tetapi mungkin saja karena hanya itu kemampuan perusahaan. Kalo menurut saya selama anda setuju pada perjanjian kerja dengan gaji segitu ya harus konsekuen kerja yg amanah, nah kalo memang sudah merasa kurang gak usah demo tetapi mintalah kenaikan dengan baik2. Kalo ternyata minta naik gak dikasih trus anda sudah gak betah ya keluar dengan baik baik dan cari tempat kerja lain. Menurut aku karyawan yg demo, mogok bahkan anarkhis itu sangat tidak islami.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s