Rusak Semua

Transit di Doha, Qatar selama lebih dari tujuh jam membuat saya harus bersiasat. Pasalnya, airline tidak menyediakan hotel transit untuk istirahat. Alasannya memiriskan hati: tiket saya kategori promo. Sebenarnya perjalanan ini didanai sponsor dan saya tidak harus memesan tiket promo karena memang tidak ada plafon. Tapi sudahlah, memang sudah kebiasaan memilih tiket murah. Murah bukan berarti murahan. Meski murah itu sama dengan kenyamanan yang berkurang. Saya tidak bisa tidur nyenyak di Bandara Doha.

Continue reading “Rusak Semua”

Spaghetti tahun 1995

Kuta Bali, tahun 1995
“Ini to Ketua OSISnya? Kok Kecil?” kata lelaki usia empat puluhan tahun itu berkelakar. Dua kawanku tersenyum saja. Aku tidak menjawab, hanya menyalami dengan senyum sopan. Lelaki itu, kalau tidak salah, adalah seorang manajer di hotel ini. Hotel besar yang terkenal di Bali. Aku hanya bisa kagum. Betapa hebatnya lelaki ini, menjadi orang penting di sebuah hotel berbintang. Penampilannya nampak perlente, professional dan elegan. Sementara itu aku gugup luar biasa, tak terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Aku Ketua OSIS, terbiasa memimpin pasukan di lapangan atau memimpin rapat dengan sesama pengurus OSIS tetap tidak pernah dilatih berinteraksi dengan seorang professional sekelas manajer hotel dalam suasana yang mewah dan mentereng. Nyaliku ciut.

Continue reading “Spaghetti tahun 1995”

Takut

Di negeri Belanda, di misim gugur yang mulai menggigil, seorang kawan Indonesia bertanya perihal Amerika. Kawan ini ingin sekali berkunjung ke Amerika dan bahkan tertarik untuk melanjutkan pendidikan. “Di Amerika serem ya Bro?” tanyanya penuh selidik. Aku hanya melihatnya tanpa menjawab. Menyadari kebingunganku, dia menambahkan “Ya, di sana sepertinya serem banget ya. Hidup tidak aman, banyak kejahatan. Penembakan di mana-mana dan mahasiswa tidak aman di kampusnya sendiri. Ngeri sekali membayangkan Amerika”. Aku yang baru saja menyelesaikan tugas di New York, hanya bisa tersenyum tertahan. Dalam jawaban setengah berkelakar, aku berkata “kamu terlalu banyak nonton film Hollywood”. Dia tidak paham, menatapku dengan sorot mata yang bingung.

Continue reading “Takut”

Harvard

harvard
Harvard

Mejanya terlihat biasa saja. Di atas meja itu tergeletak sebuah piring kertas yang padanya terkapar pisau dan sendok plastik berlumuran saos. Kotor, tidak rapi dan mengenaskan. Di sebelahnya terhampar selembar kertas tisu, melambai-lambai terpapar desiran angin yang halus. Aku memandanginya dengan tatapan penuh selidit. Barang-barang itu tentu tidak istimewa.

Mataku menerawang, melihat lelaki dan perempuan muda yang bergerak cekatan, lincah dan trengginas. Beberapa dari mereka nampak berjingkat bergegas, sementara yang lainnya memegang segepok makanan dan menggigitnya sambil berlalu tergesa. Aku menyaksikannya saja. Di pojok yang agak jauh, ada sekelompok lelaki dan perempuan, membuka kotak pizza dengan antusias dan menyantapnya dengan penuh semangat. Di sebelahnya, duduk seorang lelaki yang tubuhnya ada di sana tetapi jiwanya entah ke mana. Sepotong sandwich yang digenggamnya, lenyap potong demi potong menyelinap ke dalam mulutnya bahkan mungkin tanpa dia sadari. Jiwanya sedang tenggelam bersama bacaannya yang memendarkan cahaya redup dari sebuah tablet yang nangkring di atas meja. Mungkin pikirannya telah tersandera kisah misteri cerdas sekelas karya John Grisham, atau melayang-layang bersama percikan rumus-rumus Kimia atau Fisika yang seakan beterbangan di sekitar kepalanya, atau hanyut bersama kasus-kasus hukum internasional yang diputuskan di gedung mentereng Mahkamah Internasional di The Hague. Entahlah, apa isi bacaan lelaki itu. Dia tenggelam sempurna dan tidak terusik oleh apa yang terjadi di sekitarnya.

Continue reading “Harvard”

Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?

Sore kemarin ada SMS masuk ke HP saya. Pengrimnya tak asing, beliau adalah kepala sekolah SMA 3 Denpasar, almamater saya sekitar dua puluh tahun silam. Nomornya masih sama dan sudah saya simpan dalam waktu sekitar lima tahun terakhir. Tanpa menunggu, SMS itu saya balas sambil bertanya. Beliau sedang ada di Jogja untuk suatu tugas dan dan saya segera menemui beliau di sebuah hotel lalu mengajaknya jalan-jalan menikmati Jogja di malam hari.

Continue reading “Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?”

Indonesia Laris Manis

Hampir setahun terlibat di Kantor Urusan Internasional UGM, kesibukan yang paling menyita perhatian dan waktu adalah menerima tamu. Setiap minggu, hampir tidak pernah tidak ada tamu dari luar negeri. Kawan sering berkelakar “kamu jadi kepala kantor atau among tamu sih?” Meski kadang lelah, selalu ada hal baru yang dipelajari dari masing-masing tamu. Yang sama dari hampir semua tamu adalah tujuan mereka untuk menjalin kerjasama dengan UGM. Sebagian besar dalam keadaan ‘ngebet’ untuk menjadi mitra UGM. Ini menarik dan berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya.

Continue reading “Indonesia Laris Manis”

Beasiswa Luar Negeri Itu …

Kisanak mungkin pernah bertanya, mengapa ada sebuah negara berbaik hati memberikan beasiswa kepada warga negara asing untuk belajar S1, S2 dan S3 di negera mereka. Kadang kita menduga bahwa negara-negara yang demikian itu sangat dermawan dan menduga bahwa seluruh urusan ruwet dalam negerinya sudah selesai. Maka dari itulah mereka punya cukup waktu dan sumberdaya keuangan untuk diberikan kepada warga negara asing. Kisanak mungkin masih berpikir demikian.

Continue reading “Beasiswa Luar Negeri Itu …”

Tips Sukses untuk Mahasiswa ala #KUChat

Beberapa waktu lalu, Kampus Update mewawancarai saya lewat twitter terkait pandangan saya tentang tips sukses bagi mahasiswa. Prosesnya sederhana, saya dimention oleh @KampusUpdate dengan pertanyaan dan saya kemudian mereply twit tersebut dengan menambahi tagar #KUChat. Prosesnya cukup seru. Saya tampilkan lagi jawaban saya di blog ini agar lebih mudah disimak. Semoga ada yang bermanfaat bagi pembaca.

  1. Halo Pak @madeandi, apa kabar? Sekarang sedang sibuk dalam kegiatan apa saja?
    Halo juga dan updaters, terima kasih. Saat ini saya mengajar di @geodesiugm dan menjadi Kepala @oiaugm Masih tetap meneliti, menulis dan ikut konferensi. Berbagi sama anak2 muda seperti para updaters juga jalan.
  2. Bisa ceritakan sedikit filosofi hidup yang Pak @madeandi pegang apa ya sampai bisa sukses keliling 4 benua?
    Lakukan dengan baik, percaya apa yang tidak mematikan kita akan menguatkan. Menyerah adalah kalah. Saya lahir di keluarga yang sederhana dengan Bapak dan Ibu hanya sekolah SD. Ini membuat saya mudah beryukur. Mudah bersyukur tidak berarti mudah puas. Saya percaya dengan prinsip dinamis: happy dengan keadaan tapi percaya perubahan. Btw, saya sudah ke lima benua. Sudah sempat ke Somalia juga di tahah Afrika hehe.
  3. Bisa jelaskan pentingnya pengembangan diri bagi mahasiswa?
    Sangat penting! Sekarang ini sesuatu laku karena fungsi tambahan, bukan fungsi utama. Mahasiswa juga begitu. Mahasiswa tidak bisa jual diri hanya karena IP tinggi, seperti HP tidak laku hanya karena bisa untuk nelpon. Anda tidak bisa jual HP dan bilang “ini bisa untuk nelpon” tapi “HP ini kameranya bagus, bisa FB, bisa twitter” dll. Pengembangan diri mahasiswa juga demikian. Semua dalam rangka mendapatkan kualitas tambahan untuk kompetisi. Terlalu mainstraim kalau bilang “saya alumni geodesi dan bisa GPS”. Coba “saya alumni geodesi dan pinter jadi MC”. Biasa saja kalau bilang “lulusan informatika dan pinter programming”. Coba “lulusan informatika dan jago negosiasi”. Intinya, pengembangan diri mahasiswa diperlukan untuk mendapat sesuatu yang bisa jadi nilai jual unik, tidak biasa.
  4. Bagaimana cara mahasiswa membangun pengembangan diri mereka?
    Pertama, mahasiswa harus merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar sehingga peduli dan peka. Tidak asik sendiri. Mahasiswa perlu paham bahwa dia perlu kehadiran orang lain, perlu komunikasi, perlu organisasi, perlu kolaborasi. Maka mahasiswa perlu aktif di kegiatan kemahasiswaan. Perlu ikut kegiatan ekstra kurikuler, perlu jadi sukarelawan, keluar dari kotak. Tidak segan belajar hal baru, termasuk dari disiplin ilmu lain. Belajar menerima tanggung jawab besar. Berani menerima tantangan dengan ikut kompetisi. Dengan begitu kita mengukur diri. Perbayak membaca dan diskusi. Belajar menangani proyek atau pekerjaan sebenarnya sesuai bidang ilmu agar tahu dunia nyata dan risikonya. Menganggap bahasa Inggris adalah bahasa sendiri karena kita adalah penduduk sebuah desa yang bernama “Global Village”
  5. Kadang,mahasiswa belum memiliki personal brand & value cukup baik. Bagaimana agar mahasiswa mampu berkompetisi di global?
    Langkah pertama adalah menjadi ‘hebat’ pada apa yang seharusnya menjadi disiplin kita. Setelah itu, kenalkan. Untuk itu harus percaya bahwa tidak ada bim salabim. Yang ada adalah usaha serius dan doa yang tulus. Kerja keras. Agar efektif, kita perlu tahu kekuatan kita di mana, passion kita apa. Temukan, lalu cintai dengan sungguh2! Check: Apa yang sdh kamu lakukan dalam waktu lama dan tidak pernah bosan. Itu passion kamu! Tapi tetap rasional! Kompetisi global perlu bahasa global dan mental global. Ini harus ditumbuhkan! Jangan suka baca berita buruk! Kompetisi global dimulai dengan memanangkan kompetisi lokal. Kalau menghadapi teman kos saja minder, jangan mimpi! Sadari, Indonesia dibutuhkan dunia dan penting posisinya. Jangan hanya baca berita yang mengolok2 bangsa sendiri . Yang penting, kunjungilah tempat2 di dunia agar paham dengan jelas sebelum berkompetisi secara global. Sulit membayangkan akan ‘menundukkan’ suatu negara jika tidak pernah merasakan udara mereka. Jelajahi dunia!
  6. Menurut Pak @madeandi apakah generasi muda saat ini siap bersaing dengann tenaga kerja dr ASEAN lainnya menjelang MEA 2015?
    Kita siap menghadapi MEA asal kita bekerja lebih keras lagi. Menjaga mental global dan optimis. Jangan hanya sibuk menahan mereka agar tidak masuk ke Indonesia tapi serius mengusahakan agar kita masuk ke mereka! Dari segi bahasa kita belum siap. Bahasa Inggris perlu ditingkatkan. Bahasa ASEAN belum kita pelajari dg serius 😦 Keterampilan teknis tidak cukup kalau tiba2 dapat proyek di sebuah desa terpencil di Vietnam kalau tidak bisa bahasa mereka. Kita sibuk belajar bahasa Inggris tetapi lupa belajar budaya Thailand, padahal mau kerja di sana kan. Intinya kesiapan kita menghadapi MEA memang ada tatapi dengan catatan yang cukup banyak. Tapi kita bisa. Optimis!
  7. Menurut Pak @madeandi penting manakah pengalaman magang atau pengalaman beasiswa kuliah di luar negeri?
    Saya orang yang ‘rakus’ mungkin hehe. Saya bilang keduanya penting banget! Usahakan keduanya dapat! Tapi kalau harus memilih maka tergantung profesi. Mau profesional di industri mungkin bisa magang! Mau jadi peneliti di perguruan tinggi, mungkin bisa kuliah di LN. Ini salah satu opsi. Yang terpenting, kuliah di LN dengan beasiswa atau magang di perusahaan harus sama2 membuat diri bertumbuh. Untuk apa kuliah di LN dengan beasiswa kalau hanya membuat kita suka memaki2 bangsa sendiri dan tukang keluh! Untuk apa magang di perusahaan hebat kalau hanya membuat kita jadi materialistik dan kehilangan kepekaan sosial!
  8. Tahap2 apa aja yang baiknya dilakukan mahasiswa agar mereka dapat memiliki bekal yang cukup baik selepas lulus kuliah S1?
    Pertama, biasakan membaca skripsi dan melihat lowongan kerja sejak semester 1 agar tahu ‘masa depan’! Kedua, buatlah CV saat semester 1 dan bayangkan bahwa CV itu Anda tulis ketika lulus S1. Buat seindah mungkin! Pastikan CV yang Anda buat, memenuhi syarat lowongan kerja yang sudah Anda amati sebelumnya 😀 Lampaui, bila perlu! Tempel CV itu di kamar, lihat setiap hari! Di sepanjang waktu, pelan2 jadikan CV itu KENYATAAN! Kalau Anda tulis TOEFL 600 tapi belum tercapai, KURSUS! Nulis IP 3.5 di CV tapi blm tercapai, BELAJAR! Memulai dari akhir. Bayangkan saat Anda pakai toga dan siap memasuki dunia kerja, apa yang diperlukan, LAKUKAN!
  9. Terakhir, adakah tips untuk para mahasiswa agar mereka memiliki karir yang sesuai impian mereka
    Percaya bahwa langkah utama mewujudkan mimpi adalah bangun dari tidur! Bahwa semua perlu kerja keras. Bergaul dengan pekerjaan sejak dini. Jangan tunggu lulus baru lihat2 lowongan kerja. Lakukan sejak awal. Akrab akrab lah dengan industri melalui jalur organisasi mahasiswa sehingga tidak kagok dalam pergaulan nanti. Yang paling penting, bermimpilah setinggi langit. Kalaupun jatuh, kamu akan jatuh di antara bintang2.

Reklamasi Tidak Selalu Seksi

balipostreklamasiReklamasi Teluk Benoa menjadi isu yang menyita perhatian banyak orang di Bali bahkan di tingkat nasional saat ini. Para aktivitas bergerak, ilmuwan beropini dan pro kontra pun terjadi. Mereka yang pro reklamasi sering menceritakan keindahan dan manfaat reklamasi untuk masa depan Bali. Reklamasi atau pembuatan pulau Jumeirah Palm Island di Uni Emirat Arab kerap menjadi contoh.

Jika Anda belum berkesempatan untuk melihat dan menikmati langsung, cobalah bayangkan suasana di Jumeirah Palm Island. Bayangkanlah diri Anda berjemur di sana menikmati segelas minuman dingin khas tropis sambil membaca buku atau sekedar bermalas-malasan. Bayangkan pula, dua dekade lalu, pulau itu tidak ada dan yang ada ketika itu adalah laut. Tentu Anda tidak bisa menikmati suasana eksotis itu jika tidak ada reklamasi yang kemudian membuat pulau itu ada. Reklamasi memang bisa menghadirkan ruang baru untuk menikmati alam.

Continue reading “Reklamasi Tidak Selalu Seksi”

Pasar Sambilegi

Kadang aku temukan pelajaran baru yang tercecer di pinggir jalan setapak desa yang berembun atau di lantai pasar rakyat yang jauh dari mewah. Di Pasar Sambilegi, Jogja, pelajaran bisa hadir lewat senyum para pedagang atau dari sekumpulan tukang parkir yang duduk santai seakan dunia tanpa masalah. Dari senyum mereka, tak ada tanda-tanda seorang presiden sedang dihina dengan terbuka di depan khalayak oleh seorang perempuan penjaga dapur. Dari senyum mereka, tak ada tanda perseteruan sebuah partai besar yang memegang teguh satu prinsip: oportunitas.

Continue reading “Pasar Sambilegi”