Pasar Sambilegi


Kadang aku temukan pelajaran baru yang tercecer di pinggir jalan setapak desa yang berembun atau di lantai pasar rakyat yang jauh dari mewah. Di Pasar Sambilegi, Jogja, pelajaran bisa hadir lewat senyum para pedagang atau dari sekumpulan tukang parkir yang duduk santai seakan dunia tanpa masalah. Dari senyum mereka, tak ada tanda-tanda seorang presiden sedang dihina dengan terbuka di depan khalayak oleh seorang perempuan penjaga dapur. Dari senyum mereka, tak ada tanda perseteruan sebuah partai besar yang memegang teguh satu prinsip: oportunitas.

Berjalanlah di tengah kepungan ibu-ibu paruh baya yang tengah menjajakan dagangannya. Sentuhlah kangkung, pare, bayam dan mentimun yang hijau segar dengan tanganmu. Seperti sebagian pedagang itu, mungkin kamu juga lupa bahwa warna warni dan kesegaran itu sesungguhnya pertanda kekayaan. Mungkin kamu juga seperti sebagian pedagang itu yang mengira kemewahan dan kebahagiaan hidup ada di gedung-gedung tinggi yang berwibawa atau di lantai marmer yang mengkilat, karena demikainlah sinetron mengajarkan mereka tentang kebahagiaan. Mungkin kamu seperti kebanyakan orang itu, yang ketika menikmati sebiji mangga ranum tetap mengeluh tentang ketidakmakmuran, karena kamu bahkan tidak tahu satu perkara. Bahwa seorang professor terkemuka di belahan bumi selatan tergelincir air liurnya saat melihatmu melahap sebiji mangga yang ranum itu, yang baginya adalah kemewahan.

Jika kamu dekati Mbak Sumi di ujung pilar barat Pasar Sambilegi, kamu akan melihat lengkuas nan sehat, berderet berdampingan dengan bawang merah dan putih yang gemuk dan subur. Di sebelahnya berupa-rupa hasil bumi menemani. Cabai keriting yang merekah itu, berpadu dengan daun salam yang segar, sebelah menyebelah dengan daun jeruk yang hijau segar mengundang selera. Kamu mungkin seperti kebanyakan mereka, saat memandang itupun kamu lupa akan kekayaan bangsamu. Pada kepalamu mungkin berkecamuk sebuah perkara yang didoktrin oleh Koran, TV dan portal berita online yang menjadikanmu pesimis. Bahwa segala hasil bumi yang nyata dan berfaedah itu tak sanggup membuatmu percaya bahwa kamu hidup di lumbung kemakmuran.

Bergeraklah sedikit ke timur, dan temuilah seorang perempuan paruh baya yang menjual kelapa. Lihatlah tumpukannya dan ingatlah masa-masa saat kamu penuh rasa penasaran hidup di negeri orang. Di Coles, Sydney, sebiji kelapa yang jelas nampak tidak sehat akan menguras isi kantongmu. Sementara itu, si Ibu paruh baya dengan tanpa basa-basi dan tanpa berpikir panjang memasukkan beberapa gumpal kelapa ketika kamu ingin membeli untuk tupai piaraanmu. Masih terngiangkah ucapan perempuan itu ketika dengan Bahasa Jawa yang fasih mempersilakanmu membawa gumpalan kelapa tanpa harus membayar sekepingpun. Kebaikan dan keberanian menolong itu tersebar hebat di berbagai pojok Pasar Sambilegi.

Lalu pulanglah. Rasakanlah tas belanjamu yang penuh sesak dengan berupa-rupa hasil bumi. Rasakanlah daun pisang itu. Dia tak nampak istimewa tetapi itulah yang ternyata membuat hidangan di Restoran Thailand di New York jadi mahal. Tengoklah berbatang-batang sereh yang kaubawa dan kamu bahkan sudah lupa harganya. Yang kamu ingat tentu saja sebatang sere di Figtree, Wollongong yang harganya bisa melebihi 25 ribu rupiah setiap batangnya. Semua itu mungkin membuatmu bertanya. Benarkah kamu hidup di negara berkembang yang tidak maju, saat kemakmuran dan kenikmatan hidup hadir lewat dedaunan hijau, ranumnya buah dan ramahnya senyum Mbak Sumi di Pasar Sambilegi?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Pasar Sambilegi”

  1. Salam kenal
    Saya setuju dengan tulisan anda,selama ini dalam benak kita selalu tertanam bahwa kita adalah manusia dari negara berkembang sehingga terkadang kurang menghargai diri sendiri,merasa lebih keren dengan sesuatu yang berlabel luar negeri,padahal dari berbagai buku traveling yang saya baca sepertinya luar negeri itu tidak selalu seindah negeri kita sendiri.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s