Kadang kita lupa, kita pernah jatuh cinta seperti dua remaja tanggung yang hari ini sering kita tertawakan tingkah polahnya. Kadang kita lupa, kita pernah bertingkah begitu rupa yang hari ini kita tuduh memalukan. Begitulah waktu, dialah yang paling kejam memporandakan ingatan kita, bahkan tentang cinta. Mari kita tolak. Kita tolak keangkuhannya yang membuat kita lupa. Mari sejenak membuka catatan kita di masa muda.
Bersekongkol dengan rakyat
Belakangan ini saya cukup sering menonton video yang diunggah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Youtube. Selama sekian tahun ada Youtube, baru kali ini saya betah menonton video yang ditayangkan oleh lembaga pemerintah. Ketertarikan saya melihat video PemProv DKI setara dengan antusiasme saya menyaksikan video-video Obama di Gedung Putih. Menurut saya, Pemprov DKI yang digawangi Jokowi dan Ahok telah berhasil membangun antusiasme publik. Masyarakat punya ketertarikan tinggi terhadap apa yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub Jakarta.
Dengan menayangkan video di Youtube, sesungguhnya Gubernur dan Wagub baru sedang berupaya ‘bersekongkol’ dengan rakyat. Sebuah video pelaksanaan rapat dengan PU yang ditayangkan di bawah ini misalnya, secara transparan menunjukkan pemikiran dan sikap tegas Gubernur dan Wagub tentang pembelaannya terhadap rakyat. Semua transparan, semua terbuka. Dengan begini, rakyat tahu persis apa yang terjadi. Dengan kata lain, rakyat diajak ikut serta mengawasi pemerintah dan terutama mengawasi sikap dan perilaku birokrat. Ini kelak juga akan jadi semacam bahan dukungan jika Gubernur dan Wakil Gubernur harus melakukan perombakan personil di suatu dinas misalnya. Dengan gagah mereka bisa bilang ‘seluruh rakyat seluruh dunia tahu kok. Mereka yang akan ada di belakang kami jika ada yang menghalangi’. Kini saya makin yakin bahwa teknologi informasi yang dimanfaatkan secara baik dan oleh mereka yang punya kuasa benar-benar bisa digunakan untuk menegakkan kebajikan. Jalan tentu saja masih panjang dan terlalu pagi untuk menghakimi. Meski demikian, Saya tidak pernah seoptimis ini tentang Indonesia melihat pemimpin yang ‘bersekongkol’ dengan rakyat melalui cara cerdas seperti yang dilakukan Jokowi-Ahok.
Tidak bisa bahasa asing? Tidak masalah!

Dalam sebuah perjalanan di Eropa tahun 2010 silam, saya ada di Brussels suatu pagi. Hari itu saya akan menemui Bapak Duta Besar Indonesia untuk Belgia, Dubes Arif Hafas Oegroseno. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Antwerpen ke Brussels, saya tiba di sebuah halte bus bernama Chien Vert. Saya menunggu bus dan tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu. Bagaimana kalau bus di sini seperti di Kota Sydney yang tidak mau menerima pembayaran cash di dalam bus dan hanya mengangkut penumpang yang sudah memiliki tiket? Saya bertanya-tanya dalam hati sambil khawatir. Selain itu, kalaupun saya harus membeli tiket (pre-pass), sayapun tidak tahu harus membeli di mana. Saya harus bertanya kepada orang lain.
Di sebuah kursi, saya melihat seorang ibu-ibu duduk menunggu bus dan sayapun mendekatinya. “Excuse me, Ma’am! Can we buy tickets in the bus?” saya bertanya sopan. Perempuan itupun menjawab dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Sangat singkat tetapi memberi kesan dia tidak mengerti pertanyaan saya. Rupanya perempuan itu tidak paham Bahasa Inggris dan membuat saya menjadi agak panik. Di situ terasa, bisa Bahasa Inggris saja belum tentu bisa menyelesaikan persoalan komunikasi internasional, terutama kalau saya sedang kebingungan di sebuah halte bus di Brussels. Saya membayangkan, seandainya saja saya bisa Bahasa Belanda, Perancis atau Jerman, tentu semua akan beres. Ketiga bahasa ini adalah bahasa resmi di Belgia. Dengan menguasai salah satu dari ketiga Bahasa ini saya pastilah bisa mendapatkan informasi penting yang saya mau. Sementara itu, waktu terus berjalan, bus selanjutnya akan datang pada pukul 9.16, sekitar empat menit lagi.
Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne

Saya sedang berada di Kota Melbourne suatu sore untuk bertemu seorang kolega di sebuah gedung di Melbourne University. Sesaat setelah turun dari tram, saya mulai mereka-reka. Kebetulan tidak membawa peta dan iPhone tidak berfungsi dengan baik. Saya tidak bisa menemukan gedung yang dimaksud dengan cepat. Sementara itu saya melihat puluhan mahasiswa berlalu lalang di sekitar saya.
Continue reading “Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne”
Benarkah bisa lulus sekolah di Australia tanpa ujian?

Orang Indonesia umumnya membayangkan gelar kesarjanaan, baik itu S1, S2, maupun S3 diperoleh setelah melalui ujian tugas akhir. Di Indonesia, umum kita ketahui, misalnya, lulus S1 harus melalui ujian skripsi. Ada yang menyebutnya pendadaran, ada yang mengistilahkan seminar. Di tingkat S2 dan S3 juga sama, selalu ada ujian untuk mempertahankan hasil karya tugas akhir (tesis maupun disertasi). Bagaimana dengan di Australia?
Continue reading “Benarkah bisa lulus sekolah di Australia tanpa ujian?”
[Bukan] tabrak lari

Pagi itu tanggal 13 September 2012, mobil saya ditabrak oleh sebuah mobil saat berhenti di sebuah perempatan yang padat lalu lintasnya. Pagi itu saya mengantar Lita, anak saya, ke sekolah di Jogja bersama mbah putrinya dan harus berhenti karena perempatan sangat padat. Saya lihat polisi sibuk mengatur lalu lintas dengan cekatan. Di depan saya terlihat sebuah mobil berhenti dan sayapun berhenti pada jarak sekitar dua meter di belakangnya. Saya yakin ini posisi aman karena jalannya tidak terlalu menanjak. Untuk kondisi wajar, tidak akan terjadi apa-apa, saya yakin.
Pidato Kemenangan Barack Obama 2012
I have to admit that Barack Obama is one of my inspirations in public speaking and, more importantly, leadership. I have creatively translated his victory speech he delivered after winning a reelection in 2012. When I said ‘creatively’ it means that the translation might not reflect exactly the literal meaning of every part of the speech. Here is Obama’s speech in Bahasa Indonesia.
“Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal

Saya pernah menulis tentang pre-departure training (PDT) bagi calon penerima Australian Development Scholarship (ADS) di blog ini. Calon penerima beasiswa ADS memang wajib mengikuti pelatihan Bahasa Inggris di IALF Bali atau Jakarta yang dikenal juga dengan English for Academic Purposes (EAP). Singkatnya, seorang calon penerima beasiswa ADS harus mencapai nilai IELTS minimal 6,5 untuk bisa berangkat belajar di universitas Australia. Dalam beberapa kasus tertentu, nilai IELTS bahkan harus lebih tinggi.
Continue reading ““Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal”
Kebanggan kita adalah manusia, bukan alam

Sejak beberapa tahun terakhir Bapak saya giat bercocok tanam, berkebun berbagai jenis tanaman di Desa Tegaljadi. Yang paling umum adalah buah-buahan dan sayuran. Kami memiliki cukup banyak pisang, pepaya, pare, ketela, keladi, labu siam, dan lain-lain. Bapak memelihara semua tanaman itu di sebuah lahan yang peruntukan utamanya sejatinya bukan untuk itu. Dengan kata lain, semua produksi itu adalah sambilan saja. Menariknya, produksinya berlimpah dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Alhasil, banyak yang diberikan secara cuma-cuma kepada tetangga. Ada kepuasan tersendiri melakukan semua itu.
Continue reading “Kebanggan kita adalah manusia, bukan alam”
Kembalinya si STNK hilang
Pagi itu saya dibuat panik karena STNK motor tidak ditempatnya. Singkat kata, STNK motor hilang entah ke mana. Yang saya ingat hanya satu, kemarinnya saya berkendara di sekotar Jalan Solo dan jalan kampus UPN. Kemungkinan besar STNK jatuh karena saya tempatkan di saku jaket. Usaha untuk mencari STNK itu pagi-pagi ternyata tidak berhasil. Saya merasa positif bahwa STNK itu hilang.