“Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal

dari: http://www.foyle.eu/

Saya pernah menulis tentang pre-departure training (PDT) bagi calon penerima Australian Development Scholarship (ADS) di blog ini. Calon penerima beasiswa ADS memang wajib mengikuti pelatihan Bahasa Inggris di IALF Bali atau Jakarta yang dikenal juga dengan English for Academic Purposes (EAP). Singkatnya, seorang calon penerima beasiswa ADS harus mencapai nilai IELTS minimal 6,5 untuk bisa berangkat belajar di universitas Australia. Dalam beberapa kasus tertentu, nilai IELTS bahkan harus lebih tinggi.

Continue reading ““Selamat, Anda diterima” hanyalah titik awal”

Kebanggan kita adalah manusia, bukan alam

dipinjam dari http://www.lampahkacakna.org/

Sejak beberapa tahun terakhir Bapak saya giat bercocok tanam, berkebun berbagai jenis tanaman di Desa Tegaljadi. Yang paling umum adalah buah-buahan dan sayuran. Kami memiliki cukup banyak pisang, pepaya, pare, ketela, keladi, labu siam, dan lain-lain. Bapak memelihara semua tanaman itu di sebuah lahan yang peruntukan utamanya sejatinya bukan untuk itu. Dengan kata lain, semua produksi itu adalah sambilan saja. Menariknya, produksinya berlimpah dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Alhasil, banyak yang diberikan secara cuma-cuma kepada tetangga. Ada kepuasan tersendiri melakukan semua itu.

Continue reading “Kebanggan kita adalah manusia, bukan alam”

Kembalinya si STNK hilang

Pagi itu saya dibuat panik karena STNK motor tidak ditempatnya. Singkat kata, STNK motor hilang entah ke mana. Yang saya ingat hanya satu, kemarinnya saya berkendara di sekotar Jalan Solo dan jalan kampus UPN. Kemungkinan besar STNK jatuh karena saya tempatkan di saku jaket. Usaha untuk mencari STNK itu pagi-pagi ternyata tidak berhasil. Saya merasa positif bahwa STNK itu hilang.

Continue reading “Kembalinya si STNK hilang”

Didanai Jepang, Riset di Australia dan Amerika

Gedung Putih di US

Saya menulis ini tanggal 2 April 2007 sambil sesekali memandang gemerlap lampu di kejauhan. Suasana malam ini sangat indah terlihat dari tempat tinggal saya di lantai 3 sebuah apartemen yang berada di Crown Street, Wollongong, NSW, Australia. Sudah beberapa hari ini saya berada di Wollongong Australia untuk melakukan sebuah penelitian. Hal inilah yang akan saya ceritakan kepada Anda saat ini. Mungkin tidak berguna bagi semua orang, tetapi bisa jadi memberi sedikit inspirasi bagi sebagian pembaca. Bagi Anda yang ingin mendapatkan kesempatan seperti ini, mungkin ada baiknya Anda simak.

Continue reading “Didanai Jepang, Riset di Australia dan Amerika”

Saya jual rumah

Setelah menjaganya selama 5 tahun, akhirnya dengan berat hati saya jual rumah mungil ini. Rumah ini type 70/80 dengan 2 kamar tidur dan satu kamar untuk asisten tprumah tangga. Garasinya cukup untuk satu mobil dengan listrik, air, dan telepon beroperasi dengan baik. Di depan rumah, jalan dilapisi aspal hotmix. Rumah ini saya tawarkan dengan harga 250 juta (nego). Penawaran terdekat yang akan dikabulkan. Jika tertarik, silakan kontak saya di 081236711209.

Ini adalah rumah sejarah karena merupakan rumah pertamayg kami beli dengan keringat sendiri. Dia menandai kemandirian sekaligus kolaborasi dua keluarga besar. Karena suatu alasan yg baik, saya harus menjual rumahnya, tentu saja tidak termasuk kenangannya. Siapaun yang akan mendapatkannya semoga menikmati dan diberi kelancaran seperti halnya kami.

Lokasi: Perum Melati Permai A13, Ds. Sedan, Mlati, Sleman (Belakang Hyatt) Jogja (lihat peta).

Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya telah menonton puluhan video Anies Baswedan melalui Youtube. Oleh karena itu, sejatinya tidak banyak hal baru yang bisa diperoleh saat menyimaknya langsung di Grha Sabha Pramana (GSP), UGM beberapa hari lalu. Meski begitu saya tak kalah terpana dibandingkan menyimak puluhan videonya. Meski telah lama mengikuti pemikirannya, saya memang baru pertama kali menyaksikan Anies Baswedan tampil langsung memberi inspirasi.

Seorang anak muda yang duduk di sebelah saya bertanya apa yang membuat saya datang ke acara Road Show Indonesia Mengajar (IM) di Jogja. Saya paham maksudnya karena 90% lebih dari ribuan pengunjung adalah anak muda duapuluhan tahun. Saya memang datang ke GSP sore itu bukan untuk mendapatkan informasi bagaimana caranya menjadi pengajar muda karena usia saya sudah kadaluarsa. Kedatangan saya adalah untuk belajar, menyimak gagasan besar dan menuai inspirasi dari orang-orah hebat. Dari Anies Baswedan tentu yang utama.

Continue reading “Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar”

Meminjamkan mata hati

dinazhar.multiply.com

Suatu pagi, saya mengantar Lita ke sekolah. Kami melewati sebuah pasar yang ramai bukan main sehingga saya harus melaju sangat pelan. Di depan saya terlihat seorang anak SMA perempuan yang berjalan agak di tengah. Sepertinya anak ini kurang menghiraukan lalu lintas yang padat. Dia telah menambah keruwetan pasar pagi itu. Tak ayal lagi, motor dan mobil membunyikan klakson membuat suasana jadi riuh rendah. Sebuah mobil yang berjalan tepat di belakang anak SMA itu bahkan membunyikan klaksonnya dengan keras dan panjang karena anak itu tidak menghentikan langkahnya. Selanjutnya anak itu terlihat panik dan justru berjalan agak ke tengah jalan sehingga nyaris bertabrakan dengan mobil yang saat itu sudah melintas di sampingnya. Mobil itupun secara tiba-tiba berhenti, orang-orang di pasar berteriak histeris. Saya berharap-harap cemas, apa yang akan terjadi. Terbayang si bapak sopir akan berteriak memaki anak SMA yang tidak tahu aturan itu.

Continue reading “Meminjamkan mata hati”

Tips presentasi: skenario, bukan talking points!

Karena berbagai alasan, saya sering berbicara di berbagai forum. Konferensi adalah yang paling sering karena pekerjaan saya sebagai seorang peneliti dan mahasiswa S3. Sebagian besar dari semua itu harus saya sampaikan dalam Bahasa Inggris. Syukurlah, hingga sekarang saya melakukannya dengan cukup baik. Biasanya saya merasa puas setelah menyampaikan pemikiran saya, sebagai tanda keberhasilan. Penilaian ini tentulah subyektif.

Continue reading “Tips presentasi: skenario, bukan talking points!”

Mengapa harus jualan buku?

Artikel di Maritime Mag

Setiap kali mengiklankan buku, saya merasa risih karena merasa berjualan ilmu pengetahuan. Kadang ada yang bergurau, saya beralih profesi jadi salesman. Idealnya, menurut saya, ilmu pengetahuan harus disebarkan tanpa berbayar untuk kemajuan peradaban. Sayang sekali kita tidak hidup di dunia ideal seperti itu. Ada kertas yang harus dibeli untuk membuat buku dan ada tinta yang harus dibayar. Mesin untuk mencetak juga tidak gratis serta orang-orang yang bekerja di industri penerbitan dan percetakan memiliki anak yang harus membayar SPP. Singkat kata, penerbitan buku sudah menjadi industri mapan yang harus menghidupi banyak manusia.

Continue reading “Mengapa harus jualan buku?”

Terang Bulan

Saat berada di Bali, saya menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Tidak saja menemani Asti belajar, saya juga berperan sebagai tukang antar ibu saya kalau sedang melakukan aktivitas terkait bisnis kecilnya. Suatu hari saya datang dari sebuah proyek pembangunan properti di Tabanan dan mampir membeli gorengan dalam perjalanan pulang. Pedagang kali lima itu berjualan di depan sebuah toko bernama Wijaya di Jalan Kapten Tendean, di Tanah Bang (atau Pemenang, saya kurang yakin). Lokasinya tidak terlalu jauh di sebelah utara Rindam IX Udayana di Kediri, Tabanan.

Continue reading “Terang Bulan”