Sewindu Menulis untuk The Jakarta Post

Tulisan ke-56
Tulisan ke-56

Delapan tahun yang lalu saya gembira sekali mendapati tulisan pertama saya terbit di The Jakarta Post. Saat itu saya masih mahasiswa S2 akhir tahun pertama di UNSW, Sydney. Itulah kali pertama saya merasakan bahwa topik yang saya teliti tidak saja penting tetapi juga menarik untuk dikisahkan. Ambalat menjadi debut saya dalam penulisan di media massa.

Saya teringat kisah Anand Krishna yang konon melakukan hal yang mirip. Jika ditanya tulisan mana yang paling membanggakan dari ratusan tulisannya maka jawabannya adalah yang ditulisnya pertama kali ketika dia bersekolah di luar negeri. Kalau ingat reaksi saya ketika itu, ada perasaan risih dan malu. Apa perlu sebuah tulisan yang muncul di The Jakarta Post dibanggakan begitu rupa? Waktu itu, rasanya reaksi itu tidak berlebihan. Entahlah bagaimana kawan saya melihatnya.

Continue reading “Sewindu Menulis untuk The Jakarta Post”

Konspirasi Bumi Datar, Distorsi dan Proyeksi Peta


Dalam ilmu yang saya pelajari tetang pemetaan, kami mengenal istilah distorsi. Intinya, bumi yang permukaannya lengkung dan cenderung tidak teratur itu harus digambarkan dalam satu bidang datar berupa peta. Tentu saja akan ada distorsi, ada kesalahan, ada perubahan bentuk.

Continue reading “Konspirasi Bumi Datar, Distorsi dan Proyeksi Peta”

Kebaikan yang Menyentuh

Pagi itu saya berangkat ke kampus di University of Wollongong dengan mengendari bus. Sebelumnya saya mampir di ALDI, sebuah tempat belanja, untuk membeli beberapa biji buah pir. Saya terbiasa ngemil kelau sedang bekerja.

Karena sudah jelas apa yang dicari, dalam waktu singkat saya sudah menjinjing satu kotak buah pir dan siap antri di depan kasir. Di depan saya ada sekitar empat orang yang sedang antri dan satu orang sedang dilayani. Tepat di depan saya ada seorang ibu-ibu yang sudah cukup berumur. Saya tersenyum ketika dia menoleh ke belakang. Diapun tersenyum lalu memerhatikan barang belanjaan saya yang hanya satu bungkus. Sementara itu, belanjaannya sangat banyak, demikian pula orang-orang yang antri di depannya. Semuanya berbelanja dengan troli besar dengan belanjaan beragam. Continue reading “Kebaikan yang Menyentuh”

River’s Note: Cinta seorang ayah kepada anaknya

http://sekolahpesisir.wordpress.com/

Sahabat saya, Sony Kusumasondjaja, tiba-tiba menyapa saya di twitter ketika saya berada di tanah air untuk beberapa lama bulan Maret lalu. Sony, katanya, akan mengirimkan sesuatu untuk saya. Sesuatu itu ternyata adalah sebuah buku berjudul River’s Note. Dari judulnya, sekilas terdengar seperti sebuah novel roman. Itu juga yang diduga oleh seorang kawan saya di Sydney ketika melihat novel itu tergeletak di meja.

River’s Note tidak bergenre roman. Mungkin tidak bisa juga dikatakan sebuah novel. Seperti namanya, River’s Note adalah kumpulan catatan. Ini adalah catatan seorang bapak kepada anaknya. River adalah nama anak yang dibicarakan atau menjadi penerima pesan itu. Itulah rupanya yang menjadi alasan pemilihan judul itu. River’s note adalah sebuah buku non fiksi, tulisan seorang ayah atau calon ayah yang merupakan pesan cinta kepada anak atau calon anaknya.

Saya menerima buku itu di rumah di Jogja, disaksikan oleh Lita, anak saya. Rasa ingin tahunya tentu saja tidak terbendung. Lita membuka buku itu bahkan sebelum saya. “Lita pernah membaca buku ini Yah” katanya, “tapi belum selesai” sambil mencari-cari halaman terakhir yang dia baca. Lita baru kelas dua SD dan tidak memiliki kegemaran membaca, saya tahu itu. Bisa jadi yang dikatakannya benar, tapi saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan ketika bertanya tentang apa buku itu. Dia sibuk membolak balik halaman buku lalu menyampaikan informasi yang berubah-ubah terkait halaman terakhir yang dibacanya. Sungguh tidak meyakinkan.

Continue reading “River’s Note: Cinta seorang ayah kepada anaknya”

Berlin 2013: telur setengah matang

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Tanggal 7 Maret saya meninggalkan Berlin menuju tanah air. Siang menjelang sore itu saya mengajak Ayu makan siang terakhir. Meskipun hampir seminggu tinggal bersama, kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Saya ingin menyampaikan terima kasih saya yang tulus di hari terakhir. Saya sudah berjanji mengajak Ayu makan siang dan kali ini saya yang akan mentraktir. Dibandingkan segala kebaikan Ayu yang telah menyediakan tempat tinggal dan sarapan sehat setiap hari, traktiran itu adalah hal minimal yang bisa saya lakukan. Kami makan di sebuah restoran sushi.

Continue reading “Berlin 2013: telur setengah matang”

Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke

@SabangMeraukeID
@SabangMeraukeID

Ada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab dengan baik “bagaimana mewakili Indonesia di pentas dunia?” Jika harus mewakili Indonesia dengan sepotong baju, baju apa yang paling layak mencirikan Indonesia? Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dengan ratusan suku bangsa dan sekian banyak pakaian daerah di Indonesia. Ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, saya selalu mengalami kesulitan ketika harus mengikuti pameran budaya antarbangsa. Kesulitan pertama adalah ketika ingin menampilkan PPIA agar tampil khas diantara organisasi pelajar dari berbagai negara. Memang tidak mudah menyajikan atribut yang menarik, khas dan gampang diingat karena keindahannya. Bendera Merah Putih tentu saja khas tetapi rasanya tidak cukup untuk meghadirkan semarak pesta antarbangsa yang menuntut kemeriahan lebih dari kibaran Sang Saka Merah Putih. Akhirnya, pilihan lebih sering jatuh pada atribut Bali yang memang sudah dikenal di Australia. Namun Bali bukanlah Indonesia. Bali, dengan segala keunikan dan keindahannya sesungguhnya tidak pernah bisa mewakili Indonesia secara utuh. Tidak heran jika seorang petugas bank Commonwealth di Wollongong bertanya polos tanpa dosa kepada kawan saya yang dari Bali ketika membuat rekening “are you actually from Bali or Indonesia?

Continue reading “Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke”

Timbul Hari

photoNamanya Timbul Hari, setidaknya begitu saya dengar dalam percakapan singkat yang dilakukan sambil lalu. Saya bertemu Mas Timbul saat berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka di Jogja bersama Lita. Mas Timbul adalah pawang onta yang ditunggangi pengunjung dalam suatu atraksi. Saya dan Lita tidak ketinggalan menunggang seekor onta dalam satu putaran yang tidak lebih dari 5 menit.

Sejak sebelum naik onta, saya sudah memperhatikan Mas Timbul dari kejauhan. Berbaju kaos lengan panjang dan celana pendek serta sepatu boot, dia dengan sabar menuntun onta yang ditunggangi satu atau dua orang pengunjung. Tak satupun kata keluar dari mulutnya dan memang tak satu orangpun mengajaknya bicara. Dari gelagat mereka, sepertinya pengunjung dan penunggang onta itu bahkan tidak menyadari kehadiran Mas Timbul. Perannya memang seakan tidak penting, tidak berinteraksi langsung dengan pengunjung, berbeda dengan petugas lain yang menjual tiket atau membantu penunggang menaiki onta. Setidaknya petugas yang demikian sempat berdialog singkat atau sekedar tersenyum kepada pengunjung. Mas Timbul tidak demikian. Dia tidak ada, kehadirannya tidak diperhatikan. Dia terlupakan.

Continue reading “Timbul Hari”

Bahasa

Di sebuah perjamuan makan malam di Canberra selepas konferensi, anak muda itu berkisah. Dia lahir di Malaysia, besar di Singapura dan mengenyam pendidikan tinggi di Australia. Seorang pemuda berwawasan global dan terekspos oleh geliat internasional. Dia cakap berbahasa Inggris, itu sudah pasti. Menariknya, saya bisa menyimak dengan jelas, cengkok Singlish terdengar cukup sering dari celotehnya.

Continue reading “Bahasa”

Pindah Partai

http://blogs.bet.com/

Pemilu masih sangat jauh, tapi desas-desus soal partai mulai terdengar. Made Kondang yang sebenarnya apolitis tidak terhindar dari deru politik yang mulai menggeliat. Meski tidak begitu paham akan ideologi, Kondang memiliki pilihan politik sendiri. Dipilihnya sebuah partai bukan karena telah dipahami segala ideology, visi, misi dan programnya tetapi semata-mata karena nenek moyangnya telah menunjukkan kesetiaan pada partai yang sama sejak waktu yang tidak bisa diingat lagi. Singkat kata, Kondang berpartai karena keturunan. Kondang tidak pernah mempertanyakan pilihan partainya hingga suatu hari:

Continue reading “Pindah Partai”

My speech for a farewell event at IALF Jakarta

I was asked to give a short speech on the closing of a pre-departure training for AusAID scholarship recipients at IALF in Jakarta (September 2012). Here is my speech which I delivered surely without text, no teleprompter, either 🙂

andi-ialfIt is always good to speak in your home country, especially when people just know how to pronounce your name. Yes, my name is I Madé Andi Arsana, not I made Andi Arsana. Thanks Richard for your introduction and thank you for pronouncing my name correctly. Michael and Barbara, I cannot thank you enough how grateful I am for this opportunity. It certainly is really something. In the language of Syahrini “sesuatu banget”. I have known Barbara for nine years now. Time flies, really! Barbara, you look as wonderful as you were nine years ago [staring at Barbara and smile]. This is actually a payback because that’s what Barbara said to me when I met her two days ago. So Barbara, the score is now one-one.

Teman-teman pejuang sekalian, today is of course about you not me. Today marks an important stage in your journey to Australia. I understand this is not the final day as some of you still have to sit IELTS test in the next couple of days. I know the fight has yet to end but I am also sure that you will do just fine. Good luck.

Continue reading “My speech for a farewell event at IALF Jakarta”