Saat kuliah, saya kos di tempat seorang penulis novel dengan nama pena Nani Heroe. Kami memanggil beliau dengan nama Bu Heru. Tempat kos kami berupa sebuah rumah besar yang sudah tua umurnya. Di halaman ada beberapa batang pohon manga. Kerap mangga itu berbuah dan manis rasanya. Kami, anak-anak kos, turut menikmati buah mangga itu dengan penuh sukacita. Saya termasuk yang sering memanjat untuk memanen mangga yang sudah matang.
Category: Family
Ketika MacGyver Tersenggol
Tegaljadi, tahun 1992
Setiap jumat malam Kawan, sekitar jam sepuluh. Aku berlari kencang menembus kegelapan jalan kampung dari Warung Men Ayu menuju rumah. Gelapnya perempatan keramat yang biasanya menyeramkan, tak berdaya setiap Jumat malam. Perempatan yang konon angker itu bertekuk lutut diam tak menunjukkan perbawanya kalau aku berlari kencang melewatinya dengan perasaan bergemuruh. Aku baru saja menonton film kesayangan ku: “MacGyver”.
Aku gugah meme’ (ibu) yang tengah terlelap. Persis seperti yang terjadi minggu lalu. Beliau tentu sudah hafal dan mungkin bahkan sudah siap. Sambil mengusap-usap matanya yang terlihat lelah dan masih dikuasai kantuk, meme’ pasti tersenyum. Tanpa dikomando, bercelotehlah aku menceritakan betapa dramatisnya kisah yang baru saja aku saksikan. MacGyver selalu berhasil memukau dan memsonaku dengan segala kecemerlangan pikir dan akalnya.
“Tinggal satu detik lagi Me’” aku bercerita dengan semangat, “tinggal satu detik lagi waktu yang tersisa dan dia berhasil menjinakkan bom itu.” Aku menumpahkan segala kesenangan dan rasa puas yang tiada tara. Tanganku bergerak-gerak penuh semangat, mimik yang serius sambil sekali waktu menirukan adegan serial MacGyver yang baru saja aku tonton, dan tatapan mata berbinar yang penuh energi. Film berdurasi satu jam itu aku ceritakan dalam waktu satu jam juga karena begitu detil dan persis seperti cerita aslinya. Entah dari mana datangnya kemampuan itu, aku kadang mengutip ucapan tokoh-tokohnya, meskipun kini dalam Bahasa Indonesia. Anak SMP kelas 2 menceritakan kembali kisah sebuah film hanya dengan mengingat substitle Bahasa Indonesia yang mungkin mengenaskan kualitasnya. Entahlah.
Sementara itu, meme’ selalu mendengarkan dengan takzim. Raut mukanya selalu tertarik dan seakan ikut terbawa dalam kisah petualangan seorang pahlawan bernama MacGyver. Matanya awas, meskipun mungkin mengantuk, raut mukanya serius dan terbawa, senyum dan kesedihan silih berganti di wajahnya menyesuaikan alur dan nuansa ceritaku. Meme’ telah ikut larut dalam kisah membasmi kejahatan tanpa senjata.
Tegaljadi, Mei 2016
Aku duduk menikmati sambal bongkot (kecombrang) buatan meme’. Telah kupesankan sebelumnya, aku tidak ingin menikmati apapun selain sambal bongkot khas racikan beliau. Penerbangan dari Jogja ke Bali serta perjalanan dari Bandara ke kampung di Tegaljadi cukup melelahkan. Meski mengantuk, sambal bongkot tidak pernah gagal menyambutku dan menjadi penawar rindu akan rumah, keluarga dan suasana desa.
“Ical, sebenarnya pernah tersenggol” kata meme’ melanjutkan ceritanya soal reality show Dangdut Academy, “tapi dia masih diberi kesempatan oleh para juri. Dia gunakan kesempatan itu dengan baik dan akhirnya bisa menang.” Ketika aku Tanya apakah si pemenang itu memang yang dijagokan beliau, dengan mantap meme’ mengiyakan. “Ical bisa membuat lagu itu menjadi khas sesuai karakternya sendiri. Beda dengan Weni yang juara dua itu. Dia memang bagus dan bisa bernyanyi dengan baik tapi lagunya menjadi tidak berkembang. Lagunya sama dengan aslinya dan dia tidak bisa menampilkan ciri khasnya sendiri.” Aku tiba-tiba seperti mendengar Simon di the American Idol yang mengomentari peserta dengan kritis dan pedas. Meme’ tiba-tiba menjadi seorang ahli dan berkomentar dengan sangat fasih. Aku menyimak dengan seksama.
Raut mukanya serius. Wajahnya penuh gairah. Tangannya bergerak-gerak sibuk memeragakan berbagai hal dan suranya penuh kesungguhan. Meme’ menceritakan kesukaanya, menceritakan petualangan bersama para kontestan Dangdut Academy yang diikutinya dengan seksama. Sementar itu aku tersenyum-senyum mendengarkan sambil mencoba dengan sekuat tenaga menjiwai cerita yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatianku.
Ingatanku melayang ke tahun 1991, ketika tidak ada TV di rumah kami. Ketika Warung Men Ayu menjadi satu-satunya harapan penjaja nikmat dan kesenangan di setiap Jumat malam. Ketika gairah untuk menceritakan kembali kisah MacGyver kepada ibuku menyala terang dan mengalahkan rasa takut saat melintas di perempatan keramat. Aku merasakan gariah yang sama pada meme’. Gairah untuk bercerita dan berbagi. Bedanya, meme’ menonton dari TVnya sendiri, beliau tidak perlu menemui para kontestan Dangdut Academy dari sebuah TV berwarna di Warung Men Ayu.
Kalau saja hari ini ada MacGyver. Mungkin aku akan membiarkan MacGyver tersenggol oleh Dangdut Academy. Richard Dean Anderson, pemeran MacGyver, mungkin akan mengedipkan matanya penuh dukungan ketika aku memindahkan saluran TV untuk memberikan kesempatan kepada meme’ berpuas diri bercengkrama dengan Ical dan Weni. Maka tak mengapa ketika MacGyver tersenggol.
Malaysia Airlines dari Kuala Lumpur ke Pulau Langkawi, 30 Mei 2016
Ada apa dengan Cinta 2: Sebuah Review
Aku pastilah diselimuti subyektivitas stadium tinggi saat berbicara soal film Ada Apa dengan Cinta 2. Aku seorang penggemar. Maka jangan jadikan review ini sebagai satu-satunya kiblat. Engkau mungkin tersesat.
Kehilangan Tas
Tas saya hilang, lenyap dicuri orang dari mobil saya pada tanggal 29 April 2016 lalu. Yang menyedihkan, itu tas baru, hadiah dari Asti, isteri saya, dan dibeli karena rasa kasihan melihat saya menggunakan tas gendong mutu rendahan pemberian panitia training.
Berita Baik, Berita Buruk
Saya masih duduk di atas motor selepas menurunkan Lita di sekolahnya pagi itu. Setelah salim, Lita segera melesat, hilang di tengah kerumunan teman-temanya. Di depan saya, ada seorang lelaki bermotor baru saja menurunkan dua anak kecil yang juga sekolah di sana. Lelaki itu nampak keren dan sangat lelaki. Jaketnya sporty dengan perawakan tinggi besar. Beliau tidak turun dari motor tetapi dengan tertib memastikan dua anak kecil itu turun dan siap melesat menuju kelas mereka.
Telepon dari Yanti
Lega, akhirnya bisa bertemu Ibu Rektor untuk minta tanda tangan beliau. Beberapa hari ini saya dikejar-kejar mitra UGM dari luar negeri perihal dokumen yang harus saya siapkan dalam rangka sebuah kerjasama. Pasalnya, Ibu Rektor bertugas ke Eropa beberapa hari ini sehingga semua proses terhenti untuk menunggu tanda tangan beliau. Meskipun Senin ini libur Imlek, Bu Rektor berkenan ditemui untuk dimintai tanda tangan. Menariknya, saya menemui beliau saat sedang berlatih pentas Kethoprak. Okay, ini cerita lain.
Menjadi ayah yang lebai
Saya dibesarkan di sebuah desa yang perilaku warganya tidak penuh drama. Hari pertama sekolah tak ubahnya hari lain, tak ada yang istimewa. Para ayah tidak merasa wajib menemani anaknya untuk datang ke sekolah, tak juga menganggap kehadirannya akan berkesan dan berpengaruh pada masa depan anaknya. Mereka tidak gemar mendramatisir bahwa kehadiran orang tua di sekolah di hari pertama masuk sekolah adalah dukungan moral yang hebat untuk memberi energi kepada anak anak mereka.
Mereka juga tidak menggunakan istilah-istilah yang lebai seperti “anak SD adalah calon pemimpin bangsa” atau “anak adalah pewaris peradaban yang harus disiapkan untuk bertahta pada saatnya nanti”. Huh, pemimpin bangsa. Pemimpin bangsa apa? Anak anak itu tak lebih dari gerombolan bromocorah yang gemar mencuri rumput Pan Koplar untuk sapi sapi mereka. Sebagian lain tak lebih dari sekumpulan anak nakal yang membuat pohon nangka di belakang rumah Nang Kocong, rusak binasa karena getahnya dipanen tanpa izin. Pewaris peradaban apa!?
Galungan di Tegaljadi
Kisanak, mampirlah ke Tegaljadi tepat saat Rabu Kliwon Dungulan dan saksikanlah geliat Galungan yang disambut suka cita kerabat kami. Kisanak akan tahu, kami punya seniman tak terbilang jumlahnya. Tak hanya sanggah kemulan dan candi bentar, jalanpun mereka ukir rupa-rupanya. Atau ini hanya pertanda tiada peduli Ibu Bupati, kisanak mungkin bisa meneliti.
Laluilah jalanan desa kami yang bersahabat dan tak merelakan para mengendari kuda besi bergerak cepat. Dan rasakanlah sapaan penjor yang berhias meriah. Lengkungannya menjuntai dengan pernak pernik yang melambai. Lontar itu, yang mendekap sebatang bambu, telah menggeser ambu, daun enau putih yang aromanya memikat kalbu. Aku masih mengingatnya, persis seperti yang kusimak dua dasawarsa silam. Kini berbeda. Penjor lebih genit, sumringah dan bertingkah menggoda. Penjor kini mentereng, hebat dan mungkin juga mahal. Nang Kocong tak lagi merangkai bakang-bakang dengan tangannya sendiri. Bakang-bakang penghias penjor kini gampang datang karena ditukar uang.
Sakit
Tahun 1999 saya pernah dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Kala itu masih mahasiswa dan demam berdarah telah menundukkan saya. Ketika ditanya oleh Ibu saya, Asti, yang ketika itu masih jadi pacar, berkata setengah berkelakar “Bli Andi cuma perlu istirahat, Me’. Kalau tidak sakit, dia tidak akan istirahat”. Kata-kata itu saya ingat terus. Candaan itu sederhana tetapi rupanya benar berlaku pada saya. Sakit membuat saya berhenti. Tidak saja istirahat tetapi juga berpikir dan terutama merenung.
Pulang ke Tegaljadi
Ibu aku pulang menemuimu. Seperti yang kaurafalkan dalam mantra sederhanamu saat mengantarku menemui Hyang Widhi dalam ritual otonanku, aku pulang menyangkil menyuwun. Memikul di pundakku sebentuk tanggung jawab dan menjunjung di kepalaku selapis pengetahuan yang semoga tidak bereinkarnasi menjadi kesombongan.
Temani aku untuk berbicara dengan sebatang pohon kamboja merah darah yang kini berdiri sabar di samping rumah. Aku ingin bertanya perasaanya saat kita cincang dia menjadi terpotong tiga dan tercerai berai. Adakah pohon kemboja memarahiku, Ibu Jika dia marah, ingatkanlah padanya, akulah yang mengumpulkan bunga bunganya yang berguguran dan terserak setiap pagi. Ingatkanlah dia, aku yang memeluknya setiap sore sambil bergelantungan di dahannya yang kokoh dan sabar. Aku yang membantu kawannya, tanduk menjangan, untuk melepaskan hahaga dengan segayung air kali yang aku pikul dari sungai sebelah rumah. Ingatkanlah dia.