Menjadi ayah yang lebai

Saya dibesarkan di sebuah desa yang perilaku warganya tidak penuh drama. Hari pertama sekolah tak ubahnya hari lain, tak ada yang istimewa. Para ayah tidak merasa wajib menemani anaknya untuk datang ke sekolah, tak juga menganggap kehadirannya akan berkesan dan berpengaruh pada masa depan anaknya. Mereka tidak gemar mendramatisir bahwa kehadiran orang tua di sekolah di hari pertama masuk sekolah adalah dukungan moral yang hebat untuk memberi energi kepada anak anak mereka.

Mereka juga tidak menggunakan istilah-istilah yang lebai seperti “anak SD adalah calon pemimpin bangsa” atau “anak adalah pewaris peradaban yang harus disiapkan untuk bertahta pada saatnya nanti”. Huh, pemimpin bangsa. Pemimpin bangsa apa? Anak anak itu tak lebih dari gerombolan bromocorah yang gemar mencuri rumput Pan Koplar untuk sapi sapi mereka. Sebagian lain tak lebih dari sekumpulan anak nakal yang membuat pohon nangka di belakang rumah Nang Kocong, rusak binasa karena getahnya dipanen tanpa izin. Pewaris peradaban apa!?

Continue reading “Menjadi ayah yang lebai”