Telepon dari Yanti


Lega, akhirnya bisa bertemu Ibu Rektor untuk minta tanda tangan beliau. Beberapa hari ini saya dikejar-kejar mitra UGM dari luar negeri perihal dokumen yang harus saya siapkan dalam rangka sebuah kerjasama. Pasalnya, Ibu Rektor bertugas ke Eropa beberapa hari ini sehingga semua proses terhenti untuk menunggu tanda tangan beliau. Meskipun Senin ini libur Imlek, Bu Rektor berkenan ditemui untuk dimintai tanda tangan. Menariknya, saya menemui beliau saat sedang berlatih pentas Kethoprak. Okay, ini cerita lain.

Saya bergegas menuju kantor setelah mendapatkan tandan tangan rektor untuk membubuhkan cap pada tanda tangan beliau. Seperti biasa, saya perlu update beberapa pihak tentang progress dokumen itu dan saat itulah ada pangglan masuk dari Asti, istri saya. Saya jawab singkat, minta maaf karena tidak bisa menerima telepon saat ini. Saya harus utamakan update ke beberapa pihak yang sudah menunggu dengan cemas. Asti paham.

Saat asik menulis pesan penting di WA, tiba-tiba ada panggilan masuk lewat telepon, bukan WA. Nama peneleponnya tertera “yanti nelvia”, sahabat saya ketika kuliah dulu. Dalam hati saya menggerutu aduh Yanti, kok nelpon di saat yang tidak tepat sih. Tanpa pikir panjang saya tolak telepon itu dengan keyakinan saya akan telepon balik sebentar lagi. Saya melanjutkan menulis pesan penting yang sudah direncanakan sejak tadi. Anehnya, tiba-tiba saya merasa ada yang tidak beres. Ada perasaan tidak wajar menjalari saya, entah apa itu. Jari-jari tidak bisa mengetik dengan lancar karena sepertinya ada yang mengganjal, ada yang tidak tuntas, ada yang mengganggu. Saya berhenti sesaat lamanya lalu mengingat lagi telepon dari Yanti tadi. Di situlah saya merasakan sesuatu yang tidak lazim. Ada kesadaran yang seperti dibuka dan membuat saya tersentak kaget luar biasa.

Saya pandangi HP saya dan pegang dengan tangan kanan. Saya jauhkan dari tubuh saya sambil mengamati layarnya. Halaman depan Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri itu tiba-tiba terasa lengang. Sore itu terasa tidak biasa, terasa aneh dan dingin. Saya palingkan wajah melihat sekitar, memang ada satu dua orang di kejauhan yang sedang berolah raga atau sekedar jalan santai. Pemandangan yang biasanya terlihat menyenangkan dan santai itu tiba-tiba seperti syahdu, sedih dan sedikit menyeramkan. Sore yang muram dan langit yang suram menghadirkan parasaan yang sulit diceritakan. Kusam. Saya takut atau mungkin tidak mampu menjelaskan situasi diri saya sore itu.

Perlahan namun pasti saya lihat kembali ke log telepon saya dan melihat nama “yanti nelvia” muncul sebagai ‘missed call’. Nama itu tertera dengan warna merah yang mengundang gelisah. Entah apa yang terjadi tadi. Sebenarnya saya yakin sudah menolak panggilan Yanti tadi dengan menekan tombol merah. Entahlah bagaimana ceritanya, yang jelas, kini iPhone saya mencatat panggilan itu sebagai panggilan tidak terjawab alias missed call. Apakah tadi telepon sudah diputus sebelum sempat saya tekan tombol merah, saya tidak tahu. Sepemahaman saya, jika sebuah panggilan ditolak maka dia tidak akan dicatat sebagai ‘missed call’. Pikiran saya berkecamuk dengan berbagai dugaan. Apapun itu, semua mengundang penasaran dan terutama perasaan tidak nyaman yang bermanifestasi pada ketakutan.

Perlahan saya tekan nama “yanti nelvia” untuk melakukan panggilan balasan. Yanti, atau siapapun yang menggunakan telepon Yanti, mungkin memang perlu berkomunikasi dengan saya. Mungkin Yanti memang memanggil saya untuk dititipi pesan atau diajak diskusi tentang sesuatu. Perasaan galau dan khawatir menjadi-jadi. Suara nada sambung terdengar jelas dan saya berharap-harap cemas akan mendengar suara jawaban dari ujung sana. Telepon itu tidak langsung diangkat sehingga saya menunggu agak lama. Itulah periode menelpon paling lama dalam sejarah hidup saya. Setidaknya demikian rasanya. Nada sambung itu pelan-pelan terdengar seperti nada-nada yang mistis, tidak seperti biasanya. Pikiran saya telah dikuasai suatu pemahaman aneh dan terutama perasaan yang tidak biasa. Meskipun dengan perasaan tidak menentu, saya masih setia menunggu dan menyimak nada sambung itu.

Di tengah kegelisahan yang menuju puncak, ada suara di sebearang saya. Suara itu milik seorang perempuan yang mengatakan telepon yang saya tuju sedang sibuk atau digunakan. Ya, itu suara mesin. Entahlah, saya lega di satu sisi karena tidak mendengar suara Yanti tapi makin penasaran di sisi lainnya jarena alasan yang sama. Siapa gerangan yang tadi menelpon saya. Suaminya kah? Anaknya Yanti kah? Atau Yanti memang ingin memanggil saya? Sudah waktunya kah ini?

Oh ya, saya lupa cerita, Yanti Nelvia adalah sahabat saya. Beliau baru saja meninggal beberapa bulan lalu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

7 thoughts on “Telepon dari Yanti”

  1. artikel Anda membuat saya tertawa , terutama bagian panggilan tidak terjawab . Hal ini seperti yang kadang-kadang ketika Anda baru untuk ponsel . Sangat menarik dan mengagitasi cerita begitu banyak untuk telepon yanti

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s