Berita Baik, Berita Buruk


Saya masih duduk di atas motor selepas menurunkan Lita di sekolahnya pagi itu. Setelah salim, Lita segera melesat, hilang di tengah kerumunan teman-temanya. Di depan saya, ada seorang lelaki bermotor baru saja menurunkan dua anak kecil yang juga sekolah di sana. Lelaki itu nampak keren dan sangat lelaki. Jaketnya sporty dengan perawakan tinggi besar. Beliau tidak turun dari motor tetapi dengan tertib memastikan dua anak kecil itu turun dan siap melesat menuju kelas mereka.

ciumtangan
http://www.nunuamir.com

Anak lelaki yang kemungkinan adalah kakaknya segera salim, mencium tangan lelaki keren itu, yang saya yakin adalah ayahnya. Setelah itu si lelaki kecil berdiri tenang menyaksikan adiknya yang nampaknya sebentar lagi akan melakukan ritual. Si adik, seorang perempuan kecil yang cantik, mendekati ayahnya dan membuka kaca menutup helm ayahnya. Karena tubuhnya yang kecil dan ayahnya yang masih di atas motor, dia melakukanya dengan berjinjit dan bersusah payah. Dengan helm ayah yang masih terpasang dia mencium pipi ayahnya kiri dan kanan lalu hidung atau bibirnya. Saya tidak melihat dengan jelas. Saya melihat wajah si gadis kecil sumringah dengan senyum nakalnya. Dia menggoda ayahnya.

 

 

Selepas mencium ayahnya dia salim, mencium tangan ayahnya dengan takzim. Lelaki keren itu masih tenang dan duduk di atas motor ketika menyaksikan kedua anaknya lenyap di tengah kerumunan puluhan manusia kecil di SD itu. Saya masih mengamati meskipun Lita sudah lenyap sejak beberapa menit lalu. Pemandangan itu membuat saya bahagia. Yang menarik, anak lelaki yang dari tadi sabar menunggu tingkah polah adiknya, berlalu sambil megatakan dengan santai “hati-hati ya Pa”, layaknya seorang ayah menasihati anaknya. Nada suaranya percaya diri dan sangat tenang. Entah apa yang dikatakan lelaki keren itu, si anak berlalu dengan gaya maskulin mengawal adiknya. Sangat menakjubkan.

Ini bukan berita luar biasa. Berita begini tidak akan masuk media online, apalagi koran cetak. Cerita seperti ini tidak punya tempat di media massa mainstream. Dia juga tidak kontroversial sehingga tidak layak di-share. Cerita begini tidak akan menyebar cepat lewat grup-grup WA atau broadcast BBM karena memang tidak ada sensasinya.

Yang menarik, jika seorang ayah menampar anaknya hingga cidera, beritanya dipastikan akan nangkring di media online dan menjadi pembicaraan dalam waktu lama. Seorang remaja atau bahkan seorang ibu-ibu atau Bapak yang galau dengan cukup mudah menyebarkan berita itu di akun Facebook mereka sambil menulis analisis ‘tajam’ “Indonesia memang parah”. Seorang Bapak yang menampar anaknya, yang kita tahu pastilah kaum minoritas di negeri ini, tiba-tiba saja dibiarkan menjadi ‘wakil’ Indonesia. Sementara itu, ada ribuan atau jutaan ayah keren yang dicium anak gadisnya saat mengantar sang anak ke sekolah tidak pernah menjadi cerita. Berita buruk mudah menyebar, berita baik bukanlah berita.

Apakah tulisan saya ini penting? Entahlah. Ini hanyalah catatan pengingat bahwa negeri ini terbentang dari Sabang sampai Merauke yang lebarnya lebih dari California-New York. Bahwa ada 17 ribu lebih pulau dengan 34 provinsi dan 508 kabupaten/kota serta lebih dari 70 ribu desa. Negeri ini punya seperempat miliar manusia yang berbeda suku, agama, ras dan adat istiadatnya. Sangat arogan dan dangkal, jika saya merasa paham Indonesia hanya dengan membaca satu berita sensasional di sebuah media online.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Berita Baik, Berita Buruk”

  1. selamat siang pak.

    “berita baik bukanlah berita.” pelan sih, tapi dalem dan nancep banget. dan kalaupun berita baik diberitakan. seringnya, kita bilang “pencitraan.”

    peribahasa “ada udang dibalik batu.” sepertinya sudah terlalu dalam menancap dalam budaya kita menjadikan kita saling curiga.

    kalau boleh menjawab pertanyaan bapak “apakah tulisan saya ini penting?”
    sangat penting pak. dan menjadi bahan kontemplasi buat kami pembaca blog bapak. hehehe.. terimakasih pak,

  2. Kadang suka kasian sama orang Indonesia yang cepat merasa paham dan seolah-olah ahli dalam hal tsb hanya karena membaca pos di media online. Semoga media di negeri kita semakin lebih baik dan bisa memilah mana yang harus disajikan ya pak 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s