Courtesy: Lab Fotri dan Inderaja Teknik Geodesi UGM
Saya bukanlah pemerhati, apalagi ahli Unidentified Flying Object (UFO). Saya juga bukan penggemar cerita-cerita misteri atau ahli yang bisa memahami makna symbol-simbol yang langka. Sayapun kadang merenung, bagaimana seseorang bisa menjadi pengamat atau pemerhati, apalagi ahli, sesuatu yang ‘unidentified’ yang tidak dikenali. Apakah pemahaman saya terhadap istilah ‘ahli’ berbeda dengan pemahaman orang lain terhadapnya?
Jujurlah bahwa sesungguhnya pernah ada urusan yang tertunda diantara kita. Saat gelayut waktu mengijinkan pertemuan itu maka tak kuasa kausembunyikan rahasia. Sebuah kisah yang rapi tersimpan, terpupuk hanya oleh rasa kagum dan galau yang menjadi satu. Ada pertanyaan yang tak pernah terjawab, mengapa waktu tidak meluluskan semua doa tentang harapan-harapan yang terasa hebat di masa muda? Tapi itulah maha karya sang waktu. Misterinyalah yang menjadikannya sempurna.
Sebenarnya semua penggal waktu bisa menjadi istimewa. Sebaliknya, semua periode bisa jadi tidak istimewa jika dibiarkan berlalu begitu saja. Tahun 2010 tidak ada bedanya, dia istimewa, sekaligus juga tidak. Tergantung masing-masing orang melihatnya. Bagi saya, setiap penggal waktu itu bermakna.
Januari 2010, buku populer pertama saya terbit di Jakarta oleh Lingkar Pena. Setelah lama sekali berproses dan mengalami ketidakmenentuan, akhirnya buku itu terbit juga. Cincin Merah di Barat Sonne (CMBS), demikian judulnya dan mulai beredar bulan Januari 2010. Tentu saja saya sangat bahagia dan bangga, meskipun buku itu tidaklah sedasyat Laskar Pelangi atau buku-buku laris lainnya. Setidaknya saya mengerti betapa tidak mudahnya menerbitkan sebuah buku populer.
Made Kondang ragu-ragu mengangkat tangannya dan berteriak. Ada yang tidak pas karena tidak biasanya dia begini, bersemangat dan berdebar-debar menyaksikan bola tergelincir di lapangan hijau dan mengungsi dari kaki ke kaki. Ini jelas bukan dirinya. Bukan Kondang yang dikenal banyak orang kalau lelaki itu lalu menjadi orang biasa yang berteriak, histeris dan berdebar karena sebutir bola.
Namun bola itu kini istimewa. Istimewa karena dia menjadi satu-satunya pusaka kebersamaan desa pekraman yang lama ditinggalkan Kondang. Saat kelihan banjar, nak lingsir, tukang angon dan penyiang gulma sudah kehilangan dan tidak bisa menjadi teladan, bola itu seperti malaikat, datang tiba-tiba dan menyatukan.
Saya masih berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta ketika saya mendapat panggilan dari AusAID perihal wawancara Australian Development Scholarship (ADS) di bulan November 2002 silam. Dalam panggilan itu, ada sepucuk surat dengan berbagai lampiran jadwal ujian wawancara dan ujian IELTS serta satu buku panduan yang cukup tebal. Saya masih ingat, warnanya merah bata. Bagi banyak orang di Indonesia, surat ini adalah berkah luar biasa, telah ditunggu berbulan-bulan dalam ketegangan. Ada teman yang berkelakar beberapa tahun setelahnya bahwa jika mendapat surat dengan amplop besar dari AusAID artinya lolos wawancara. Jika amplopnya kecil, artinya hanya berisi surat permohonan maaf alias penolakan. November 2002, saya memang mendapat amplop besar dan tebal.
Surat rekomendasi ini hampir selalu diperlukan dalam perburuan beasiswa. Tidak hanya untuk mendapatkan beasiswa, untuk mendaftar sekolah (S2, S3) pun surat rekomendasi ini perlu. Dalam bahasa lain, surat rekomendasi dikenal dengan recommendation letter, atau reference letter. Untuk singkatnya, kita sebut saja SR sebagai pengganti surat rekomendasi.
Mendapatkan surat rekomendasi ini ternyata tidak mudah. Selain itu, seringkali pelamar beasiswa tidak tahu persis kepada siapa harus meminta SR. Pun setelah menemukan calon pemberi SR, tidak sedikit dari mereka yang tidak yakin atau tidak tahu format SR yang sesuai.
Aku berkelana di sebuah desa, menyusuri jalanan yang terjalin dari bebatuan berukir ulah manusia yang fana. Gelap jalanan itu, berhias temaram lampu minyak. Di tepinya berderet gapura-gapura dan benteng ringkih yang melindungi istana-istana kecil yang mengenaskan. Penjaja hidangan bersemu sendu mematung di sudut-suduh jalan bercahayakan lentera yang juga temaram. Lehernya kurus, keriput dan panjang, wajahnya tirus lesu namun menatap tajam. Rambutnya putih pucat terurai hingga bahu. Telinganya panjang berjuntai menyentuh pundaknya yang telanjang dan keriput. Sesekali dia menyeringai, giginya kehitaman, sisa-sisa tembakau bersembunyi lekat berbaur dengan sirih dan gambir yang pekat dan pucat. Wajah itu tak kan kaulihat di sembarang tempat. Aku melihatnya karena aku adalah sang waktu yang selalu melihat dan mencatat.
Saya mengendari motor butut saya, melaju dari kampus menuju rumah. Memang hari telah larut, saya terlibat dalam tim penanggulangan gempa Jogja yang menghebohkan itu sehingga bekerja sampai larut malam. Apalagi kalau bukan utak atik peta dan sistem informasi geografis. Sampai di pintu gerbang teknik (portal), saya tertegun karena portal sudah terkunci. Selarut itu, orang tidak saja dilarang masuk Fakultas Teknik, mereka juga tidak bisa keluar. Parahnya lagi, penjaga tidak ada. Saya kebingungan dengan tampang lusuh, jaket kumal dan motor tak terawat.
Saya beranjak mendekati KPTU Teknik UGM, melihat ada seorang lelaki petugas keamanan yang sedang membersihkan plaza. Saya menyatakan maksud saya untuk keluar. “Wah, sudah tutup dari tadi Mas!” kata si bapak dengan wajah yang agak terheran melihat ketidaktahuan saya. “Saya baru saja selesai kerja di kampus Pak. Gimana ya?” saya mencoba meminta pendapat sekaligus bantuannya dengan harap-harap cemas. “Sudah nggak bisa. Sudah tutup gerbangnya Mas!” katanya mulai agak kesal sambil tidak berhenti menyapu. “Kok tutup sih Pak?” lagi-lagi saya bertanya polos karena benar-benar tidak tahu kalau kini Fakultas Teknik ditutup malam-malam. Saya memang baru saja pulang dari Australia setelah dua tahun sekolah di Sydney. “Lho, ndak tahu to!? Sudah lama! Kamu anak mana to?” si bapak bertanya, kali ini dengan tampang sedikit galak.
Saat akan ke Monaco, saya melewati imigrasi di Bandara Sydney. Seperti biasa, ada pemeriksaan paspor. Saya menuju ke loket dengan petugas yang nampak berwajah Asia, kemungkinan besar Filipina. Sebelum saya bicara apa-apa dan sebelum dia memeriksa passpor saya dia mengeluarkan satu kalimat yang tidak saya mengerti artinya. Saya tahu itu Bahasa Tagalog. Dia pastilah menduga saya asli Filipina, seperti dirinya.
“Maaf Pak?” saya balik bertanya kepada dia, kali ini dalam Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris. Tentu saja dia tidak mengerti apa yang saya bilang, tetapi segera yakin saya bukan orang Filipina.
“Oh, I thought you are a Philippino!” katanya dengan ringan sambil tersenyum.
Tentu saja tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Perlakuan seperti ini sering saya alami di luar Indonesia. Petugas keamanan Gedung PBB di New York juga melakukan hal yang sama ketika saya memasuki gedung itu. Banyak satpam di sana berasal dari Filipina dan tanpa pikir panjang berbicara dalam Bahasa Tagalog dengan saya. Ada asumsi yang bermain di sini. Lebih sering saya tidak hiraukan, tetapi sekali waktu saya merasa agak terganggu juga. Saya menduga ini adalah bentuk sederhana dari sikap ‘stereotyping’ atau ‘generalising’ secara berlebihan. Sangat berbahaya bermain dengan asumsi karena kita tahu, “assumption is the mother of all f**k ups!” Kadang merasa perlu untuk melayani permainan asumsi ini.
Dalam sebuah sambutannya pada acara pameran di Jakarta Convention Center tahun 2006, Dr Kusmayanto Kadiman yang adalah Menteri Riset dan Teknologi ketika itu mengatakan bahwa Indonesia adalah ‘supermarket bencana alam’. Meski disampaikan setengah berkelakar, ucapan ini tidaklah salah.
Di Indonesia, hampir semua jenis bencana alam ada. Apa yang terjadi sebulan terakhir menjadi bukti kebenaran ucapan itu. Sebagian bencana memang bisa dicegah seperti banjir, sebagian lain harus diterima apa adanya, misalnya letusan gunung berapi. Untuk yang terakhir ini, Indonesia konon berada di sebuah cincin api atau ‘ring of fire’ yang menyimpan berbagai potensi bencana.