Circle Crop: Antara Fakta, Ilmu dan Misteri


Courtesy: Lab Fotri dan Inderaja Teknik Geodesi UGM

Saya bukanlah pemerhati, apalagi ahli Unidentified Flying Object (UFO). Saya juga bukan penggemar cerita-cerita misteri atau ahli yang bisa memahami makna symbol-simbol yang langka. Sayapun kadang merenung, bagaimana seseorang bisa menjadi pengamat atau pemerhati, apalagi ahli, sesuatu yang ‘unidentified’ yang tidak dikenali. Apakah pemahaman saya terhadap istilah ‘ahli’ berbeda dengan pemahaman orang lain terhadapnya?

Meski demikian, hingar bingar crop circle (CC) di Berbah, Sleman yang menghebohkan itu, tak ayal menarik perhatian saya. Saya kemudian tahu kolega di Teknik Geodesi UGM akan melakukan pemotretan udara, mengambil gambar circle crop itu menggunakan pesawat. Saya paham, kolega di lab Penginderaan Jauh dan Fotogrametri Teknik Geodesi UGM dibantu pehobi aeromodelling memiliki kecakapan yang cukup untuk melakukan itu semua. Memotret sebuah obyek di muka bumi lalu menyajikan hasilnya dalam bentuk peta yang akurat adalah makanan sehari-hari bagi mereka.

Jam 6.00 WIB tanggal 25 Januari 2011 saya sudah meluncur dari rumah menuju Dusun Jogo Tirto Berbah, lokasi crop circle yang mengebohkan Indonesia sejak hari Minggu kemarin. Sepagi itu, lokasi ternyata sudah dipenuhi pengunjung. Yang menarik adalah, di depan jalan masuk telah berderet beberapa pemuda yang mengatur kendaraan para pengunjung dengan memberikan tiket parkir. Saya memarkir motor setelah membayar dua ribu rupiah. Di pojok jalan setapak menuju sawah, saya melihat seorang pedagang asongan yang menjajakan kue basah sederhana. Sementara itu, beberapa pemuda nampak dengan bersemangat menjual foto hasil dokumentasi Mas Dalis, putra pemilik sawah yang menjadi lokasi crop circle itu.

Mas Dalis bercerita, fenomena itu pertama kali diketahui oleh kakaknya yang sedang menyemprot tanaman padi di lokasi yang tidak jauh dari CC tersebut. Karena suatu alasan, sang kakak berjalan menuju lokasi cc dan di tengah jalan bertemu dengan seorang kerabat petani lainnya yang bertanya “kamu mau melihat padimu yang porak poranda itu ya?” Kontan sang kakak terkejut karena hal itu sama sekali belum diketahuinya. Rupanya sang kerabat ini sudah melihat bahwa ada sebagian tanaman padinya yang rusak karena rebah. Namun begitu, sang kerabat rupanya tidak menyadari bahwa kerusakan atau rebahnya tanaman padi itu sesungguhnya membentuk pola yang kemudian menghebohkan nusantara.

Menurut Mas Dalis, sang kakak berinisiatif untuk melihat pola kerusakan padi itu dari dataran tinggi yang tidak jauh dari sawah itu karena mulai curiga dengan pola rebahnya padi yang tidak biasa. Benar saja, hasil pemantauan dari bukit yang tidak jauh dari sawah itu terlihatlah pola yang sangat teratur, simetris dan indah. Itu juga yang memotivasi Mas Dalis untuk memotret pemandangan itu. Meskipun dengan kamara saku biasa, hasilnya cukup bagus dan cukup mampu memvisualisasikan pola tersebut, termasuk secara jelas menunjukkan bagaimana batang-batang padi rebah di sawah tersebut. Sebuah lembar foto yang dijual seharga Rp 5000 tersebut berisi dua gambar yaitu gambar dari atas bukit dan gambar batang padi yang diambil dari jarak dekat.

Saat coba saya usut perihal fenomena unik itu, Mas Dalis menegaskan bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu kejadian itu. “Tidak ada yang melihat” katanya meyakinkan. Dia sendiri nampak masih berbinar wajahnya karena menyimpan ketertarik dan penasaran yang belum terjawab.

Sementara itu, pertanyaan yang berkembang saat ini adalah pembuat CC tersebut. Ada yang menduga bahkan menuduh bahwa itu dibuat oleh manusia, sementara sebagian mempercayai itu bukan buatan manusia. Di sebuah situs internet juga ada klaim bahwa CC itu dibuat oleh mahasiswa UGM tetapi pihak kampus belum bisa memastikan kebenarannya. Singkatnya, pembuatan CC itu masih misteri.

Pemetaan oleh Tim Teknik Geodesi UGM dengan pesawat aeromodeling berhasil mengungkap bentuk dan dimensi/ukuran CC secara akurat. Dengan ilmu dan teknologi fotogrametri yang dikemas dalam Rapid Imaging and Mapping System, dihasilkanlah sebuah peta foto udara yang dengannya bisa diukur dimensi/ukuran CC tersebut. Diketahui bahwa diameter lingkaran terbesar adalah 54 meter dan ada dua lingkaran kecil di sisi timur dan barat dengan jarak keduanya 67 meter.

Seperti yang telah dilansir di beberapa media, diketahui juga bahwa bentuk CC itu ternyata tidak simestris sempurna. Sementara itu, ada pandangan bahwa seandainya CC itu merupakan jejak dari landasan sebuah pesawat/mesin, seharusnya bentuknya simetris sempurna. Tentu saja pandangan ini dilatarbelakangi oleh asumsi bahwa desain suatu mesin/pesawat selalu simetris. Masuk akal, karena demikianlah umumnya desain mesin/pesawat hasil karya manusia atau makhluk planet bumi. Ini mengarahkan dugaan bahwa CC itu hasil karya manusia. Selain itu, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa CC memang bisa dibuat oleh manusia dengan alat yang sederhana. Banyak sekali petunjuk yang bisa diikuti di internet. Perlu diperhatikan bahwa dugaan ini adalah hasil dari asumsi. Artinya, dugaan ini bisa salah jika asumsinya tidak benar.

Saya bukan pencinta misteri, tetapi kurang sepakat jika ada yang buru-buru menuduh CC itu adalah karya manusia, hanya gara-gara hal seperti ini biasa terjadi di luar negeri. Jika pun kita sampai pada kesimpulan bahwa CC ini buatan manusia, harus ada argumen yang ilmiah dan tentu saja kemudian harus ditindaklanjuti dengan menunjukkan pelakunya. Tentu saja tidak berarti bahwa si pelaku harus dihukum karena saya tidak melihat ini sebuah kejahatan besar. Dalam beberapa hal, CC ini justru saya lihat sebagai sebuah mahakarya seni yang perlu mendapat apresiasi. Bahwa kenyataannya dia merusak tanaman dan merugikan petani, tentu saja harus ada konsekuensi yang layak sesuai hukum.

Pertanyaan yang menarik untuk dijawab adalah apakah motivasi pembuatan CC ini. Jika dia adalah hasil karya mahkluk bukan manusia, apa maksudnya? Adakah pesan yang perlu kita perhatikan? Sebaliknya jika dia dibuat manusia, apa motivasinya? Apakah ini sebuah karya seni biasa yang hanya harus dinikmati atau merupakan bentuk lain dari sebuh pesan penting yang perlu ditindaklanjuti? Misteri ini lah yang harus diungkap dengan pendekatan multidisiplin. Apa yang dilakukan oleh para surveyor/geodet di Teknik Geodesi UGM misalnya harus dipadukan dengan apa yang dilakukan oleh LAPAN dan BATAN sehingga mendapatkan hasil yang komprehensif. Teori yang mengatakan bahwa ini adalah hasil dari gerakan angin dan proses fisika yang rumit tentu juga perlu diperhatikan. Kontribusi dari berbagai disiplin ilmu terkait tentu akan meningkatkan kehandalan kesimpulan yang diambil nantinya.

Di luar itu semua, saya mengerti bahwa selalu saja ada pihak-pihak yang menyukai misteri. Seperti fenomena segitiga Bermuda yang meskipun telah coba dijelaskan dengan pendekatan ilmu pengetahuan, selalu saja ada penjelasan lain yang bisa mengarahkannya kepada misteri. Mari kita tunggu penjelasan lebih lanjut tentang CC di Berbah Sleman yang menghebohkan itu. Meski demikian, perhatian kita juga tidak boleh tersedot seluruhnya oleh isu ini karena itu bisa membuat kita lupa mengerjakan hal-hal yang wajib dilakukan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

1 thought on “Circle Crop: Antara Fakta, Ilmu dan Misteri”

  1. Mungkin seharusnya dicek juga, apakah ada laporan warga yang hilang pada malam sebelumnya, siapa tahu kasusnya berhubungan dengan penculikan oleh alien :).

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s