Merenungi 2010


Sebenarnya semua penggal waktu bisa menjadi istimewa. Sebaliknya, semua periode bisa jadi tidak istimewa jika dibiarkan berlalu begitu saja. Tahun 2010 tidak ada bedanya, dia istimewa, sekaligus juga tidak. Tergantung masing-masing orang melihatnya. Bagi saya, setiap penggal waktu itu bermakna.

Januari 2010, buku populer pertama saya terbit di Jakarta oleh Lingkar Pena. Setelah lama sekali berproses dan mengalami ketidakmenentuan, akhirnya buku itu terbit juga. Cincin Merah di Barat Sonne (CMBS), demikian judulnya dan mulai beredar bulan Januari 2010. Tentu saja saya sangat bahagia dan bangga, meskipun buku itu tidaklah sedasyat Laskar Pelangi atau buku-buku laris lainnya. Setidaknya saya mengerti betapa tidak mudahnya menerbitkan sebuah buku populer.

Bulan Februari 2010 saya sibuk mempromosikan buku CMBS dengan berbagai cara. Saya sempat diwawancarai Radio SBS Australia dan melakukan peluncuran buku di Konsulat Jendral RI di Sydney. Cukup menarik karena buku itu diluncurkan di Sydney, dihadiri cukup banyak orang, termasuk Atase Pendidikan Nasional Indonesia untuk Australia, Prof. Aries Junaedi. Hasil peluncuran ini kemudian dimuat di Media Hindu Mei 2010.

Maret 2010 tidak begitu sibuk dengan kejadian penting, kegiatan saya, selain penelitian S3 masih seputar promosi buku. Ada satu artikel yang meliput buku CMBS di The Jakarta Globe (TJG), sekaligus menjadi kesempatan pertama bagi saya muncul di TJG. Adalah Ade Mardiyati, wartawan TJG, yang saat itu sedang ada tugas ke Australia dan mewawancarai saya. Mengapa ini terjadi? Bukan karena bukunya sudah terkenal tetapi karena ada kawan yang kenal dengan Ade dan punya ide untuk mempertemukan kami. Thanks Dede atas kesempatan ini. Saya juga menulis tentang buku ini di ASM dalam bentuk artikel lepas. Sementara itu, saya masih tetap menulis di media massa, terutama The Jakarta Post.

Pada bulan April 2010, untuk pertama kalinya saya mempresentasikan makalah di FIG, forum organisasi tertinggi surveyor dunia yang kebetulan diselenggarakan di Sydney. Saat itu saya bertemu banyak orang-orang hebat di bidang survey dan pemetaan, juga batas maritim. Dalam FIG itu juga untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan seorang senior editor dari majalah Hydro Internasional.

Di Bulan Mei 2010, untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya merayakan ulang tahun di rumah di Tabanan, Bali. Ulang tahun itu istimewa karena bertepatan dengan Galungan. Pasalnya, saya diundang untuk presentasi dalam sebuah lokakarya di Hotel Patra Bali terkait Coral Triangle Initiative (CTI) yang fenomenal itu. Saat itu saya presentasi sebuah topik terkait batas maritim antardaerah di Indonesia dan dikaitkan dengan adanya rencana pemerintah menerapkan Hak Pengelolaan Perairan Pesisir (HP3). Di situ saya sampaikan kompleksitas yang mungkin timbul dan kemudian dikaitkan dengan usaha menentukan zona-zona untuk CTI. Serangkaian dengan kunjungan saya ke Indonesia bulan Mei itu, KMTG mengadakan bedah buku CMBS dan seminar seputar batas maritim Indonesia di Jogja. Dalam kesempatan itu, beberapa media meliput termasuk Jogja TV.

Yang cukup menarik di Bulan Mei 2010 adalah pertemuan saya dengan Dr. Hassan Wirajuda di Jakarta. Saya beruntung bisa bertemu empat mata dan berdiskusi hingga hampir dua jam dengan Pak Hassan seputar penelitian saya terkait batas maritim. Pertemuan di Hotel Arya Duta itu terjadi pagi-pagi sambil menikmati sarapan. Sangat berkesan dan penuh pembelajaran.

Bulan Juni 2010 saya mulai bekerja secara resmi sebagai International Student Advisor di University of Wollongong. Setelah menjalani tes yang cukup menarik, saya akhirnya diterima bekerja dan bertugas berkomunikasi dengan calon mahasiswa baru di University of Wollongong dari Indonesia. Tugas saya cukup sederhana yaitu menelpon calon mahasiswa dari Indonesia dan membantu mereka jika memerlukan informasi. Tentu saja ini tidak terlalu sulit karena saya bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia. Sejalan dengan pekerjaan baru saya itu, saya tetap menulis tips-tips beasiswa di blog yang nampaknya cukup bermanfaat bagi para pejuang pemburu beasiswa.

Bulan Juli 2010, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Melbourne. Kali ini ada dua agenda yaitu mempresentasikan sebuah makalah di KIPI 2010 dan mengikuti kongres PPIA. Bulan Juli sebenarnya bukanlah waktu terbaik untuk berkunjung ke Melbourne yang cuacanya tidak menentu. Puncak musim dingin menjadikannya lebih tidak menentu lagi. Meski demikian, bertemu dengan teman-teman lama dan teman baru membuat suasana dingin menjadi hangat. Saya juga berproses agak serius dalam Kongres PPIA kali itu yang berhasil memilih ketua baru. Selain itu, saya juga berinteraksi dengan teman-teman peraih beasiswa ALA dan mendapat banyak informasi dari pengalaman mereka. Di akhir bulan Juli, untuk kedua kalinya saya menikmati salju di Australia. Kali ini dengan tambahan satu anggota keluarga yaitu Lita yang pada tahun 2004 belum ada wujudnya. Terkait publikasi, untuk pertama kalinya tulisan saya dimuat di Makalah Hydro International yang merupakan kelanjutan dari perkenalan saya dengan Durk Haarsma April lalu di Sydney saat kongres FIG.

Bulan Agustus 2010 saya mengunjungi Vietnam untuk pertama kalinya. Setelah kejadian yang cukup menegangkan di Bandara Sydney, akhirnya saya bisa menikmati negeri Paman Ho itu. Saat itu saya memaparkan sebuah paper dalam rangkaian lokakarya penelitian yang didanai oleh National Bureau of Asian Research, Amerika Serikat. Di situ saya bertemu banyak tokoh papan atas peneliti di bidang kelautan dan juga beberapa pendatang baru. Sebagai seorang anak bawang, saya menikmati belajar dari tokoh-tokoh senior itu.

Di bulan Agustus 2010 juga, terjadi perubahan penting dalam keluarga saya. Kami memutuskan bahwa Asti dan Lita mendahului kembali ke tanah air karena mendapat kesempatan bekerja di salah satu pusat penelitian di UGM sebagai asisten peneliti. Keputusan ini tentu saja bukan hal yang mudah untuk dilakukan tetapi kami yakini sebagai yang terbaik. Tanggal 23 Agustus 2010, saya mengantar Asti dan Lita ke Bandara Sydney untuk bertolak ke Indonesia. Harapannya, semua berjalan dengan baik dan segala sesuatu menjadi lebih baik, meskipun jelas-jelas tidak mudah.

Di awal bulan September saya mengikut kompetisi Three-Minute Thesis Presentation yang diselenggarakan oleh University of Wollongong. Meskipun tidak berhasil menang, saya merasa mendapat pengalaman berharga. Tidak mudah ternyata menyampaikan apa yang kita teliti kepada orang awam, apalagi jika waktunya hanya tiga menit. Di bulan yang sama, saya juga mendapat berita baik sekaligus berita buruk. Pada tanggal 7 September 2010, Asti mengabarkan kehamilannya yang tentu saja menyenangkan seluruh keluarga. Rupanya apa yang kami rencanakan sudah berhasil. Meski demikian, berita baik itu tidak bertahan lama karena seminggu kemudian ada berita bahwa Asti mengalami pendarahan. Tanpa berpikir panjang, saya langsung terbang dari Sydney ke Jakarta menemani Asti menghadapi saat-saat yang tidak mudah itu. Apa daya, kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya dan Asti dinyatakan keguguran. Sedih luar biasa tentu saja, tetapi kami menguatkan diri untuk melangkah maju. We are moving on. Selain itu dokter mendeteksi ada Qista dalam kandungan Asti dan harus dioperasi. Bagi kami, itu adalah the next step yang harus segera ditangangi.

Bulan Oktober 2010, saya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan sebuah makalah di Monaco, Eropa dalam forum ABLOS 2010. Forum itu sangat begengsi dan ini adalah kesempatan pertama saya. Ini sekaligus menjadi kunjungan ketiga saya ke Eropa. Sangat menarik karena saya bisa berkunjung ke Eropa setiap tahun sejak tahun 2008. Selain untuk presentasi di ABLOS 2010, kunjungan ke Eropa kali ini juga istimewa karena saya bisa bertemu Asti yang secara bersamaan juga mengikuti kursus singkat di Geneva dan Belgia. Saat itu saya juga menghabiskan waktu untuk mengunjugi Italia, Paris, dan Luxembourg. Di Kunjungan ke Luxembourg itu sekaligus menjadi penanda kunjungan saya ke 20 negara. Sebuah catatan yang rasanya layak saya ingat. Sayang sekali perjalanan ini agak terganggu karena tanah air sedang berduka: Merapi Meletus. Yang lebih tidak menyenangkan tentu saja karena Lita sedang berada di Jogja, jauh dari orang tuanya. Sementara itu, dari Eropa saya mencoba membantu sebisanya dengan membantu membuat peta online dan tentu saja memberi sedikit sumbangan uang.

Di bulan November 2010, Lita dan Mbahnya bersepakat untuk mengungsi ke Bali agar terhindar dari bahaya Merapi. Di waktu yang sama, Asti bertolak dari Eropa langsung menuju Bali untuk menemui Lita, selain karena Bandara Jogja memang ditutup. Di bulan yang sama, untuk pertama kalinya tulisan saya dimuat oleh Detik. Setelah agak lama berusaha untuk tidak menulis di Detik, akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan sebuah tulisan yang ternyata akhirnya dimuat. Dampak tulisan itu juga cukup bagus untuk diri sendiri dan menambat respon yang baik dari almamater dan terutama Alumni Teknik Geodesi UGM.

Di penghujung tahun, saya mendapat kesempatan yang cukup istimewa saat diundang oleh Jurusan Hubungan Internasional UGM untuk berbicara di sebuah seminar. Yang membuatnya istimewa adalah karena saya disandingkan dengan Prof. Hasjim Djalal dan dimoderatori oleh Prof. Ichlasul Amal. Ini merupakan satu momen penting yang menunjukkan kolaborasi yang bagus antara disiplin geospasial dengan hukum dan politik. Saya sangat menikmati seminar tersebut dan demikain pula (semoga) para hadirin.

Selain oleh berita baik, bulan Desember dihiasi berita yang cukup menyedihkan. Lita, anak saya masuk rumah sakit karena tyfus, setelah bulan sebelumnya Asti menjalani operasi qista. Desember menjadi bulan saat grafik kehidupan kami ada di titik yang sangat rendah. Meski demikian, toh hidup harus berjalan. The show must go on dan kami bersepakat untuk bertahan. Syukurlah, dengan dukungan orang-orang tercinta kami berhasil melewati masa sulit itu. Setelah 12 hari diopname, akhirnya Lita dinyatakan boleh keluar. Kami semua lega meskipun tetap harus berhati-hati. Meski berat, dengan cara ini lah rupanya kami harus terus belajar dan eling. Dukungan keluarga adalah hal paling penting dalam melewati masa-masa sulit itu.

Tahun 2010 saya tutup dengan sebuah tulisan di The Jakarta Post tentang batas maritim Indonesia. Tulisan ini melengkapi koleksi publikasi saya yang akhirnya berjumlah 22. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 27 buah publikasi. Meski demikian, saya yakin publikasi ini tidak menurun secara kualitas. Ada satu tulisan yang diselesaikan berasama Clive dan Robert termuat dalam sebuah buku Law, Technology and Science for Oceans in Globalization. Buku ini diterbitkan oleh Martinus Nijhoff yang sangat tersohor. Lepas dari itu semua, ada semacam usaha sadar untuk menurunkan jumlah publikasi karena beberapa alasan tertentu.

Saya menyambut tahun 2011 dengan semangat yang sangat besar dan optimis. Mudah-mudahan demikian juga dengan orang-orang di sekitar saya. Tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun ini, yang bisa dilakukan adalah menjaga level energi agar selalu tinggi dan berusaha untuk selalu lebih baik. Saya yakin akan ada banyak kesalahan dan tantangan tetapi itu yang akan menjadikan 2011 menjadi menarik dan catatan akhir 2011 menjadi lebih bermakna. Selamat tahun baru.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

3 thoughts on “Merenungi 2010”

  1. WOW. Setelah membaca tulisan pak Andi tahun 2010, terus terang jadi semangat lagi. >pompa pompa pompa semangat<

    Sekedar refleksi dari membaca tulisan ini, untuk saya, akhir tahun 2010 dan awal 2011 adalah saat-saat yang terberat dalam hidup. Tapi ternyata saya tidak sendirian!! Di dunia ini, setiap orang punya pergumulannya masing-masing.

    Tetap semangat dan semoga pak Andi sekeluarga selalu diiringi kebahagiaan =)

    Ps. baru tau pak Andi punya blog, hehe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s