Membuat Peta dengan Google Maps

 

Sebagai orang Geodesi, saya merasa bahwa munculnya Google Earth dan Google Maps merupakan suatu revolusi yang mengubah pandangan orang (awam) terhadap data dan informasi geospasial berupa peta. Google telah membuat peta menjadi sesuatu yang akrab dengan berbagai kalangan, tidak hanya orang teknis. Munculnya Google Maps ini melengkapi revolusi sebelumnya dengan ketersediaan GPS, Global Positioning System.

Continue reading “Membuat Peta dengan Google Maps”

Pidato Obama di Universitas Indonesia

 

Terima kasih… terima kasih… terima kasih banyak semuanya.

Selamat pagi!

Saya sangat senang berada di sini, di Universitas Indonesia. Kepada staf, dosen dan mahasiswa serta kepada Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri, terima kasih banyak atas keramahtamahannya.

Assalamualaikum dan salam sejahtera.

Terima kasih atas sambutan yang sangat mengesankan. Terima kasih kepada masyarakat Jakarta. Dan terimakasih kepada seluruh rakyat Indonesia. Pulang kampung, nih!

Continue reading “Pidato Obama di Universitas Indonesia”

Radius Siaga Merapi

Seberapa jauh tempat tinggal Anda dari puncak Gunung Merapi?

Gunakan:
[+] untuk memperbesar tampilan peta (zoom in)
[-] untuk memperkecil tampilan peta (zoom out)
[tanpa panah] untuk menggeser tampilan peta
Klik pada tiap lingkaran untuk melihat keterangan radius (15, 20, 25, 30 dan 35 kilometer dari Gunung Merapi)

Untuk Pengguna Google Earth, silakan unduh file KML di sini.

Jika ingin melihat peta dengan ukuran lebih besar, silakan klik di sini

Bagi Anda yang memiliki informasi terkait Bencana Merapi yang ingin dibagi kepada khalayak, silakan kunjungi Peta Partisipatif yang dikembangkan oleh UGM.

The power of networking

Ibu saya selalu mengingatkan, teman sangatlah penting artinya dalam hidup. Pengalaman beliau menjalani usaha kecil di dunia properti membuatnya yakin bahwa teman adalah kekayaan yang sangat penting artinya. Teman lah yang seringkali menyelamatkan kita dalam kegentingan, teman juga yang mengingatkan kita dalam kekhilafan. Tentu saja ibu saya juga percaya, teman yang dimaksudnya bukanlah teman untuk berkolusi apalagi berkorupsi dan bernepotisme.

Dalam bahasa lebih seram yang sering saya dengar dalam beberapa tahun terakhir, istilah pertemanan yang tadinya sederhana itu berganti dengan istilah lain yang lebih canggih dan rumit: networking. Jejaring atau networking adalah istilah lain untuk menjelaskan perlunya kita memiliki teman baik dalam jumlah yang banyak. Meski sebaiknya tidak boleh didasari dengan suatu niat untuk mengambil keuntungan secara berlebihan, memiliki semakin banyak teman tentu samakin baik. Kenyataannya memang demikian.

Continue reading “The power of networking”

A three-minute thesis competition

This is what happens if a a three-year’s worth of works have to be presented only in three minutes.

Neraka bertobat

Dahulu, malam yang dingin dan angin yang lirih adalah alasan yang bijak untuk melantunkan puisi. Kesendirian dan pergulatan pikir yang tiada bertepi adalah paduan nan digdaya untuk meceritakan keindahan cinta. Tapi itu dulu. Di masa lampau ketika masih tersisa sebaris misteri di lorong-lorong hati yang penasaran. Dahulu kala, ketika jiwa masih muda dan liar bergairah. Ketika itulah, tatapan menjelma menjadi sabda, dan kata-kata tak kurang dari hukum yang padanya segenap nyawa dan belantara bersimpuh memohon ampun.

Continue reading “Neraka bertobat”

A Great Speech of Dino Patti Djalal

Dino Patti Djalal, the new Ambassador of Indonesia for the United States of America, delivered his speech during a welcome dinner organised by USINDO. In my opinion, this is one of the best speech delivered by an Indonesian about America. The speech is realistic and optimistic at the same time. It was delivered with elegant language, depicting respects of Indonesia to the United States, but at the same time also properly asking the US to show the same, not just to Indonesia but also the world. Dino is a young, dynamic and nationalist Indonesian, yet an open-minded and internationally-knowledgeable leader. Here is his speech.

Back for good

putrahermanto.wordpress.com

“Jarang-jarang kita ke Sydney berdua ya Yah”
“Ya, biasanya ada yang ramai, ngoceh sepanjang jalan.” Aku melirik cermin di depanku, terlihat car seat (kursi bayi) kosong di jok belakang.
“Ya, kok bisa ya, dia ngomoooong terus sepanjang 1,5 jam tidak berhenti”
“Kecuali kalau tidur aja dia diam.” Kami tertawa.

Perjalanan ke Sydney dari Wollongong kali ini terasa berbeda. Sepi dari obrolan yang biasanya berasal dari jok belakang yang tidak pernah berhenti. Aneh rasanya tidak ada yang memaksaku bermain tebak-tebakan I spy with my little eyes, something to begin with a letter D. Kangen juga dengan ocehan itu.

Mobil biru ungu melaju di sepanjang freeway yang lengang. Kecepatan maksimum 110 km/jam aku manfaatkan sebaik mungkin. Terdengar alunan suara Armand Maulana, melantunkan Cinta Lalu yang syahdu. Aku teringat kelakar seorang kawan, ada kejanggalan dalam syair lagu ini. ”Aneh banget ada kata-kata ’telepon aku’ dari lagu sebagus itu. Kata ’telepon’ nggak pas bersanding dengan kata-kata puitis” kata temanku penuh kritik. Kamipun berderai tawa, saat menyadari bahwa lagu-lagu sekarang dipenuhi kata-kata yang sangat teknologis dan gaul seperti email, chatting, facebook, telepon, hp dan sejenisnya.

”Ini berarti kita sudah tua” kataku mengingatkan.
”Ya, bisa jadi. Mungkin kita saja yang merasa aneh mendengar kata-kata ’facebook’ digunakan dalam lagu cinta.” Aku sempat hanyut dalam lamunan di sepanjang perjalanan Wollongong-Sydney.

Continue reading “Back for good”

Perspektif

Dalam sebuah acara arisan…

“Aduh, sudah lama sekali kita tidak ketemu ya Jeng.”

“Ya Mbak Yu. Sudah enam bulan lebih ya. Apa kabar Mbak Yu?”

“Baik Jeng. Saya baru saja datang nengok cucu di Batam.”

“Oh ya, gimana kabar putra Mbak Yu dan keluarganya di Batam?”

“Aduh, saya kasihan banget sama anak laki-laki saya itu. Hidupnya menderita betul, kelihatannya.”

“Oh ya, kenapa Mbak Yu?”

Continue reading “Perspektif”

Tukang cuci motor

dari : http://olx.co.id/

Saya memperhatikan dengan seksama anak muda belasan tahun di depan saya yang tekun mencuci motor saya yang kumalnya sudah berlebihan. Beginilah enaknya hidup di Indonesia, seseorang yang tidak kaya sekalipun bisa memerintahkan orang lain untuk mencucikan motornya hanya dengan delapan rubu rupiah saja. Tinggal menunggu sambil baca koran, dalam waktu beberapa menit saja motor sudah kembali kinclong. Meski begitu, cerita ini bukanlah tentang motor, apalagi tentang uang. Sama sekali bukan.

Continue reading “Tukang cuci motor”