
Tahun 2007, saya berkunjung ke Canberra dan mengikuti sebuah diskusi yang sangat menarik. Pembicaranya adalah mahasiswa dan peneliti Indonesia yang bermukim di Australia. Topik menarik yang diangkat adalah ‘pilihan peneliti Indonesia untuk bertahan di luar negeri atau kembali ke tanah air’. Urusannya tentu saja tidak sederhana dan pertanyaan itu, seperti bisa diduga, tidak bisa dijawab dengan singkat. Benar saja, pembicara memberikan berbagai terori. Bahwa bertahannya para peneliti Indonesia di luar negeri tidak selalu merupakan gejala brain drain, alias kaburnya asset intelektual bangsa karena godaan di negeri seberang lebih baik. Gejala ini juga merupakan brain overflow, alias tumpah dan melubernya asset intelektual hingga ke luar negeri karena di dalam negeri tidak tertampung. Sang pembicara menceritakan usahanya mencari pekerjaan di Indonesia lewat fasilitas internet (email) tetapi satupun tidak mendapatkan respon. Jangankan diterima, dibalaspun tidak. Berita penolakan juga tidak pernah ada, katanya berkelakar.







