Menera ulang nasionalisme

Peringatan 17-an di Wollongong 2009

Tahun 2007, saya berkunjung ke Canberra dan mengikuti sebuah diskusi yang sangat menarik. Pembicaranya adalah mahasiswa dan peneliti Indonesia yang bermukim di Australia. Topik menarik yang diangkat adalah ‘pilihan peneliti Indonesia untuk bertahan di luar negeri atau kembali ke tanah air’. Urusannya tentu saja tidak sederhana dan pertanyaan itu, seperti bisa diduga, tidak bisa dijawab dengan singkat. Benar saja, pembicara memberikan berbagai terori. Bahwa bertahannya para peneliti Indonesia di luar negeri tidak selalu merupakan gejala brain drain, alias kaburnya asset intelektual bangsa karena godaan di negeri seberang lebih baik. Gejala ini juga merupakan brain overflow, alias tumpah dan melubernya asset intelektual hingga ke luar negeri karena di dalam negeri tidak tertampung. Sang pembicara menceritakan usahanya mencari pekerjaan di Indonesia lewat fasilitas internet (email) tetapi satupun tidak mendapatkan respon. Jangankan diterima, dibalaspun tidak. Berita penolakan juga tidak pernah ada, katanya berkelakar.

Continue reading “Menera ulang nasionalisme”

Mesin Poker

gambar dipinjem dari smh.com.au

Saya bekerja menjadi petugas kebersihan di sebuah tempat hiburan di Wollongong. Salah satu tugas saya adalah membersihkan mesin poker, mesin yang digunakan untuk bermain dan biasanya disertai dengan judi. Sesuai instruksi pelatihan saya selalu membersihkan layar mesin poker dan tombol-tobolnya agar terbebas dari bekas sentuhan tangan. Sidik jari harus benar-benar hilang dari tombol-tombol itu dan layar mesin poker kembali mengkilat sebelum digunakan setiap harinya.

Continue reading “Mesin Poker”

Euthanasia

Ngaben

Saya memacu mobil sekencang mungkin. Akhir pekan ini jalanan tidak ramai tetapi batas maksimal kecepatan tetap berlaku. Meskipun tidak ada polisi, rambu lalu lintas di tepi jalan yang dengan tegas memamerkan angka 60 berlaku sama dengan kehadiran seorang polisi. Tidak seorang pun berani melanggarnya. Saya pastikan kecepatan mobil saya hampir 60 kilometer per jam, kecepatan maksimal yang diperbolehkan di Crown Street. Sesekali saya melirik tubuhnya yang lemas di sebelah kiri saya. matanya terpejam, tutuhnya bergerak lemah dan nafasnya turun naik sangat halus. Mulutnya sesekali ternganga, nampak jelas dia sedang sekarat.

Continue reading “Euthanasia”

Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran

Ada hal yang belum pernah saya kisahkan di blog ini. Ketika saya dipanggil untuk ujian wawancara Australian Development Scholarship (ADS) pada bulan November 2002 silam, saya dalam keadaan tidak bersemangat. Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, saya tidak terlalu bergembira. Biasa saja. Bukan karena saya meremehkan Australian Development Scholarship dan telah yakin akan dipanggil, semata-mata karena saya tidak menjadikan Australia sebagai tujuan utama pendidikan lanjut saya. Eropa adalah satu-satunya tempat yang terbersit di benak saya ketika itu. Belanda menjadi negara yang lebih spesifik lagi. Semetara itu, ADS ketika itu adalah sebuah kisah sambil lalu bagi saya. Kalau dapat, bagus, tidak dapat juga tidak masalah. Gejolak jiwa muda, Eropa adalah mimpi.

Continue reading “Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran”

Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali

Juni 2011 lalu saya berlibur di Bali di sela menghadiri sebuah konferensi dan kuliah umum. Desa Tegaljadi, tempat kelahiran saya, terletak di bagian yang cukup terpencil di Kabupaten Tabanan. Meski terpencil, tempat itu selalu berkesan dan membuat saya selalu ingin pulang lagi dan lagi. Saya menikmati mandi di pancuran yang kata kakek saya memang tidak pernah surut airnya sejak beliau ingat. Saat selesai membasuh badan, kadang tangan saya reflek mencari-cari keran untuk menghentikan aliran air. Kerabat saya yang tahu ini pasti tergelak.

Continue reading “Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali”

Galoongan

Pelatihan Menulis – Selalu ada yang Pertama

Peserta Pelatihan Menulis - Titian Foundation

“Ini seperti malam pertama bagi kita Mas” celetuk saya pada Mas Gogon dan disambut derai tawa oleh peserta pelatihan lainnya. Pagi itu saya dapati diri di sebuah ruangan di lantai atas Gedung Titian Foundation di Yogyakarta, berhadapan dengan belasan orang yang bersemangat dan sangat antusias. Sebagai seorang guru, menghadapi banyak orang tentu saja bukan hal baru bagi saya tetapi pagi itu sedikit berbeda. Pasalnya, saya hadir di tengah-tengah mereka untuk memberi pelatihan cara menulis. Ini adalah kali pertama saya memberikan materi cara menulis dalam forum yang formal. Menariknya, Mas Gogon, koordinator acara, juga menyatakan bahwa itu adalah kali pertama Titian Foundation Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan serupa. Itulah alasannya mengapa saya berkelakar tentang malam pertama. Pelatih dan peserta pelatihan sama-sama belum berpengalaman.

Continue reading “Pelatihan Menulis – Selalu ada yang Pertama”

Marketing in Venus

Asti menari Legong

Awal Juni 2011 saya berlibur di rumah di Desa Tegaljadi di Tabanan. Saat asik di depan laptop karena harus menyelesaikan beberapa tugas, seseorang datang berkunjung. Lelaki 40an tahun itu mengenakan kain, memakai udeng dan berselendang. Dari penampilannya, nampak beliau sedang menjalankan tugas adat. Lelaki itu, tidak lain adalah Kelihan Banjar, kepala adat di kampung kami.

Continue reading “Marketing in Venus”

Yang istimewa dan yang tidak

Bebengan

Meski tidak terlalu suka komik, saya pernah membaca cerita Donald Bebek yang terkenal di tahun 80-90an. Satu cerita yang berkesan adalah tentang petualangan Paman Gober (atau tokoh lain, saya sudah lupa) ke Planet Mas. Dia diundang ke Mas untuk membantu penduduk Mas menemukan tanah di planet mereka. Berdasarkan penelitian para penghuni Mas itu, tanah yang ada di Bumi sangatlah bagus untuk bercocok tanam dan menjadi sumber kehidupan. Mereka berpikir, kalau saja mereka berhasil menemukan tanah di Planet Mas tentu saja sangat bermanfaat untuk kehidupan mereka.

Continue reading “Yang istimewa dan yang tidak”

Gayatri

“Om bhur bhuva svaha tat savitur varenyam bhargo devasya dheemahi dhi yo yonah prachodayat”. Aku mendengar mantra-mantra itu dilantunkan saat malam di puncak keheningannya. Angin berdesir lirih di luar jendela menghadirkan nuansa yang sangat tenang tenteram. Samar-samar Mantram Gayatri itu menyelinap ke kamarku, berasal dari unit nomor 4 di lantai bawah. Bharata, istri dan bayi kecil mereka menghuni unit nomor 4 entah sejak kapan. Mereka berkebangsaan India dan Bharata menjadi peneliti di University of Wollongong, tempatku belajar. Sudah beberapa hari ini aku mendengar lantunan Mantram Gayatri, doa Hindu yang paling utama dalam sebuah puja, dilantunkan lirih tepat jam 12 malam.

Continue reading “Gayatri”