Once upon a time in a beautiful garden there lived an insect family of Bapak Pucung. Four of them in the family: Bapak Pucung, Ibu Pucung and two children: Ana Pucung and Dody Pucung. They are beautiful family; their color is beautiful, orange with black spots on the wings. The Pucung family members always spend their time talking to each other every time they can. Bapak Pucung is a wise father for the family and Ibu Pucung is a patient mother for her children. Ana is the oldest daughter and Dody is her little brother. They love each other.
I was standing in front of a street food vendor and staring at noodle and meatball, thinking of having something for dinner. A lady approached me and started talking in a language that I could not understand. I believed it was Vietnamese. I looked at her and smiled and shook my head to signal her that I did not get it. Having realized that she was facing a foreigner, she called a man whom I believed to be her husband. She asked for help to communicate with me but apparently she called a wrong guy. The man spoke no English. What could I do?
Saya masih ingat ketika mendengarkan penjelasan seorang pemandu wisata saat berkunjung ke Washington di musim dingin 2007 silam. “Jika Anda datang ke Washington dan tidak melihat Gedung Putih, Anda akan menyesal” katanya bersemangat. Tentu saja saya ingin sekali melihat Gedung Putih, kantor Presiden Amerika itu, dari dekat. “Tapi”, katanya menambahkan, “kalau Anda sudah melihat Gedung Putih, Anda akan lebih menyesal lagi.” Semua peserta wisata spontan tertawa tanpa tahu persis maksudnya. Sayapun bertanya-tanya.
Beberapa menit kemudian saya sudah berdiri di dekat sebuah pagar besi, memandang sebuah gedung kecil putih di dalam pagar. Di depannya terlihat air mancur yang tidak besar. Sepintas gedung ini terlihat seperti rumah biasa, tidak begitu istimewa, sebelum saya akhirnya tahu, itu adalah Gedung Putih, alias the White House, kantornya Presiden Amerika. Tidak besar dan sederhana. Jauh dari kesen menyeramkan. Rupanya pemberitaan di TV dan terutama film Hollywood telah menciptakan citra tersendiri tentang Gedung Putih yang sedemian sangar. Dia ternyata tidak lebih dari sebuah rumah yang tidak terlalu besar di sudut Kota Washington. Setidaknya begitu saya berpendapat ketika melihatnya langsung.
Sahabat kami, Ketut Yudia Margawan, telah berpulang pada usia 33 tahun 3 hari. Ketut pergi meninggalkan seorang putra yang tampan dan seorang istri yang tabah, Ekarini. Ketut telah pergi setelah menderita kanker selama beberapa tahun terakhir. Tidak kurang usaha dari Ketut dan keluarga, ternyata Hyang Widhi berkehendak lain. Ketut telah diberik kesempatan lebih dulu untuk bertemu Sang Pencipta. Kami mendoakan moksa untuknya, manunggal dengan Sang Paramakawi.
Selepas Trisandya malam, Made Kondang tertidur di altar pemujaannya. Dia kelelahan karena seharian bekerja keras. Tidak biasanya, Kondang bermimpi. Dia bermimpi bertemu Tuhan.
Suka duka bekerja sebagai tukang bersih-bersih lantai di sebuah tempat hiburan sangatlah banyak. Salah satu yang membuat saya kelimpungan adalah sulitnya membersihkan abu rokok yang menempel di karpet karena terinjak-injak. Di tempat saya bekerja, ada sebuah ruangan mesin poker yang mengijinkan pengunjungnya merokok. Seperti layaknya di Australia pada umumnya, ruangan ini pasti jauh lebih kecil dibandingkan tempat bebas asap rokok. Meskipun kecil, waktu yang diperlukan untuk membersihkan bisa lebih lama karena abu rokok serta puntungnya yang berserakan dan menempel di karpet. Vacuum cleaner tidak berfungsi banyak.
Saya mendapat kiriman sebuah foto dari Asti, istri saya, lewat email. Di foto itu nampak seorang anak perempuan membaca komik dengan tekun. Di sampingnya duduk dua bayi yang nampaknya anteng untuk ukuran bayi seusia mereka. Saya tahu, anak perempuan ini Bernama Elin, dia tetangga kami di kampung di Bali. Dari foto itu saya merasakan kesenangannya membaca, seperti menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin lama dirindukan tetapi tidak diketahuinya. Saya amati foto itu lekat-lekat, sebuah kombinasi yang ganjil dan mengharukan. Seorang anak kecil dengan pakaian sederhana, duduk takzim membaca buku sambil memastikan dua orang adik bayinya baik-baik saja.
Saya mencari-cari kata2 yang bagus untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri tahun ini tapi nampaknya semua kata-kata mutiara sudah dipakai tahun-tahun lalu. Mau pakai kata-kata ‘jernih’ atau ‘bening’, sudah dipakai di banyak sms sambil beriklan terselubung oleh operator 🙂
Kalau pakai pantun, sama saja.. sudah dipakai. Terutama kata “ketupat” yang berima dengan ‘lepat’ [apa pula tuh artinya?]. Akhirnya saya kontak Larry dan Sergey, pemilik Google. Mereka mau membuat logo google edisi khusus lebaran. Maaf juga katanya, kalau searching selama ini sering salah dan menggelincirkan para pemakai Search Engine ke tempat yang tidak-tidak…
Logo-nya agak maksa, tapi kita hormatilah.., better than tidak sama sekali 😀 Mohon maaf atas segala salah dan khilaf selama ini. Selamat meraih kemenangan bagi teman-teman Muslim yang telah menuntaskan Ramadhan dengan gemilang.
Steve Jobs, CEO Apple, baru saja mengundurkan diri. Banyak orang yang menilai Steve adalah salah satu CEO terbaik yang pernah dimiliki planet Bumi. Inovasinya luar biasa dan di tangannya Apple menjadi sebuah perusahan terkemuka dunia. Saya coba terjemahkan secara bebas salah satu pidato inspiratifnya ketika berbicara di depan mahasiswa Stanford pada tanggal 12 Juni 2005.
Genjo sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya sesama mahasiswa Indonesia di perantauan. Kali ini bukan tetang tesis tetapi soal pekerjaan paruh waktu. Part time job, kata orang-orang pinter.