Rasis, nasionalis dan primordial


Genjo sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya sesama mahasiswa Indonesia di perantauan. Kali ini bukan tetang tesis tetapi soal pekerjaan paruh waktu. Part time job, kata orang-orang pinter.

“Dapat nggak kerjaannya?” Tagor bertanya serius pada Bagong.
“Nggak! Memang sulit tuh sama India. Rasis bener. Semua pekerjaan diambil sendiri hanya buat bangsanya. Mana mau dia ngasih sama orang-orang dari negara lain. Dasar rasis!” Bagong berapi-api.
“Ya, memang rasis tuh mereka!” Tagor menimpali
“Kerjaanmu gimana? Lancar nggak?” Bagong kini yang bertanya, sementara Genjo diam saja tidak ambil bagian.
“Bagus. Aku pastikan semua yang kerja orang Indonesia. Sempat kemarin ada orang Filipina yang minta kerjaan. Aku tolak aja, aku bilang tidak ada kerjaan. Kita harus utamakan bangsa sendiri dong, ya nggak?” Tagor menjawab sambil tersenyum bangga.
“Mantap Gor. Itu baru namanya nasionalis. Kita memang harus mengutamakan bangsa sendiri di tengah persaingan yang makin ketat.” Bagong tak kalah semangat, sumringah melihat sikap nasionalis Tagor.
“Eh, Genjo. Kamu sendiri gimana di tempat kerja yang baru?”
“Baik” jawab Genjo Singkat.
“Aku denger semua yang kerja di sana dari daerahmu ya? Betul?” Tagor menimpali.
“Betul” kata Genjo tak kalah singkat.
“Eh, Genjo, kamu nggak boleh primordial gitu dong. Berilah kesempatan pada teman-teman dari daerah lain. Kita kan sama-sama Indonesia.” Bagong kini memberinya kuliah.

Genjo termangu-mangu. Tak lihai otaknya memilah-milah makna rasis, nasionalis dan primordial. Kalau Tagor dan Bagong melihat jelas perbedaannya, Genjo bingung karena baginya ketiganya tidaklah berbeda. Mungkin Genjo didera pusing yang terlalu dan tak bisa berpikir sehat. Entahlah.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

9 thoughts on “Rasis, nasionalis dan primordial”

  1. klo di malaysia banyak tuh part time buat mahasiswa apalagi yg padai ngaji karena di malaysia banyak sekali para ust yg diperlukan untuk mengajari ngaji anak2 kecil dan dewasa.

  2. Meskipun Tweet daur ulang, pembahasan ini selalu menarik apalagi kalau menyangkut kata pertama ‘rasis’. Terkait apakah cerita diatas fiksi atau tidak, saya juga tidak jarang mendengarkan celetukan seperti begini ‘carinya bule’, ‘rasis ke orang Asia’, etc…

    Jika kita tidak mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan, mestinya kita introspeksi: apakah kemampuan bahasa Inggris kita memadai?
    apakah kita dapat membawa diri dengan baik di interview?

    Tentunya perusahaan akan mencari talenta yang dapat berkomunikasi dengan semua staff perusahaan, klo di interview bahasanya udah belepotan n ga jelas, mana mau mereka ?

    Di Australia tidak ada yang namanya manthuk-manthuk nurut bos. Semua orang punya pendapat masing-masing (meskipun pada akhirnya si boss yang menentukan :D) disertai fakta-fakta yang mendukung.

  3. Hmm.. I think my last comment wasn’t sent -_- Anyway…

    Intinya, entah cerita diatas fiksi atau beneran, saya banyak mendengar keluhan terutama tentang ‘rasisme’ orang sini…

    Sebenarnya yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri, sudahkah kita FASIH dan LANCAR berbahasa Inggris? sudah optimalkah interview kita?

    Apalagi untuk kerja di institusi pendidikan… Orang2 disini, mereka itu sampai memperhatikan bedanya dash, en dash, dan em dash… tahukah anda? @_@

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s