Gayatri


“Om bhur bhuva svaha tat savitur varenyam bhargo devasya dheemahi dhi yo yonah prachodayat”. Aku mendengar mantra-mantra itu dilantunkan saat malam di puncak keheningannya. Angin berdesir lirih di luar jendela menghadirkan nuansa yang sangat tenang tenteram. Samar-samar Mantram Gayatri itu menyelinap ke kamarku, berasal dari unit nomor 4 di lantai bawah. Bharata, istri dan bayi kecil mereka menghuni unit nomor 4 entah sejak kapan. Mereka berkebangsaan India dan Bharata menjadi peneliti di University of Wollongong, tempatku belajar. Sudah beberapa hari ini aku mendengar lantunan Mantram Gayatri, doa Hindu yang paling utama dalam sebuah puja, dilantunkan lirih tepat jam 12 malam.

Malam ini aku dengar lagi lantunan itu, lirih, pelan dan menggema. Entah mengapa bulu romaku berdiri pelan. Aku yang dari tadi tenggelam berselancar di internet menjadi tersadar dan melihat sekeliling. Seprei yang masih sama dengan kemarin, baju-baju yang tergantung di sudut kamar dan bantal yang terhempas di ujung tempat tidur. Semua masih sama seperti kemarin. Aku bahkan tidak sempat memperhatikan itu jika tidak mendengar lantunan Mantram Gayatri yang lirih mendayu-dayu menyentuh hati. Suara angin yang semilir di luar, berpadu dengan suara serangga malam yang juga lirih. Dengan Mantram Gayatri yang lembut mengumandang sayup-sayup, kekhusukanpun hadir. Entah mengapa aku jadi terdiam. aku seperti diingatkan akan satu kewajiban yang telah lama terabaikan: berdoa.

Lantunan Mantram Gayatri itu memanggilku dengan persuasi yang sulit sekali aku tolak. Aku menggeliat, memalingkan muka dari layar laptop yang mungkin sudah lelah melayaniku tidak kurang dari duabelas jam sehari. Aku beranjak bangun menuju dapur mengambil segelas air minum dari keran. Hari sudah sangat larut dan dingin mulai menyengat meskipun musim dingin belum resmi tiba. Kesepian itu bahkan membuat langkahku nyata terdengar. Pijakanku di lantai unit aparteman tua ini menghadirkan suara berisik yang sangat kentara di malam yang beku ini. Tak tega rasanya aku berlama-lama berjalan di dalam unitku karena takut suara langkahku akan membuyarkan konsentrasi Bharata dan keluarganya yang sedang melantunkan Gayatri di bawah sana.

Aku kembali ke kamar, merapikan tempat tidur dan mengencangkan seprei. Aku duduk bersila, memejamkan mata lalu mencakupkan tangan di dada. Lantunan Gayatri itu masih terdengar lirih dan sangat pelan. Gemanya menggetarkan hati dan menyentuh bagian yang paling asing dalam diriku yang sulit dimengerti. Aku mengatur nafas dengan pranayama, merasakan udara yang keluar dan masuk lewat hidung. Aku menikmatinya dan lantunan Mantram Gayatri malam itu menguatkanku. Alunannya seakan menuntunku memasuki alam yang sepi, lengang namun damai tiada terkira. Tubuhku ringan, mataku terpejam dan aku seperti melayang, meliuk-liuk terbang mengikuti lantunan Mantram Gayatri itu. Sekali waktu angin menghempaskanku ke kiri dan ke kanan, aku hanya bisa pasrah. Aku bersila tetapi terbang mendatangi dunia-dunia yang belum pernah aku lihat. Angin berganti menerpa, kadang lembut kadang kencang mengancam. Sekali waktu hangat, sebentar kemudian dingin menyengat. Aku terobang ambing oleh takdir alam yang berkuasa atas kegelisahan dan ketidakyakinanku.

Kupanjatkan sembah sujudku pada Sang Penguasa Alam. Panca sembah kulantunkan bergantian, mengetuk pintu spiritual yang lama tidak aku buka. Aku terbata-bata. Ketukan itu berlangsung lama dan pintu-pintu tidak terbuka dengan mudah. Entah apa sebabnya, ada gejolak yang maha besar mendesakku. Dadaku dipenuhi oleh rasa yang tidak pernah kusadari sebelumnya. Tanpa sempat kumengerti, ada air bening mendesak keluar dari mataku. Aku terisak menumpahkan gejolak yang sulit dimengerti. Aku merasa bersalah, entah karena alasan apa. Aku ingin lepas, aku ingin menangis seperti anak kecil yang tidak terikat oleh norma-norma. Aku ingin membebaskan semua rasa dan menyerah pada rasa bersalah yang begitu besar.

Tiba-tiba aku oleng dalam terbangku, gravitasi yang dari tadi tidak ada, kini bekerja seperti semestinya. Aku ditarik oleh kekuatan maha besar dari bawah, aku terhempas ke bumi dan tersadar. Aku terduduk kembali di atas tempat tidur, di kamar unitku yang lengang, remang dan dingin. Aku tersadar, malam sudah sangat larut. Tidak ada satu suarapun terdengar. Lantunan Mantram Gayatri itupun tidak terdengar lagi. Rupanya Bharata telah menghentikan pujanya saat aku tenggelam dalam meditasi yang khusuk itu.

“Om bhur bhuva svaha tat savitur varenyam bhargo devasya dheemahi dhi yo yonah prachodayat” tanpa sadar mulutku bergumam dan mataku terpejam. Aku ulangi lagi dan lagi mantra itu sambil memejamkan mata. Aku semakin jauh masuk ke dalam dunia yang sepi dan lengang. Perlahan-lahan aku menjadi tenang, suaraku semakin lirih hingga tidak bisa kudengar lagi. Aku tersedot ke dalam dunia lain, melayang, berputar pelan dan mengambang. Aku tidak ingat lagi. Aku telah menyerahkan diri pada kekuasaan sang malam.

***

Sempat kulirik unit Bharata yang masih agak gelap saat aku mencuci baju di ruang cuci di lantai dasar gedung. Aku masih penasaran, lantunan Mantram Gayatri itu terdengar setiap malam dalam seminggu terakhir tetapi sudah lebih dari seminggu aku tidak melihat Bharata dan keluarganya. Mungkin kami berselisih waktu karena aku selalu sibuk di kampus dengan kegiatan riset dan menulis disertasi. Pagi ini tidak ada tanda-tanda, mungkin mereka masih terlelap. Akupun melanjutkan menjemur baju di belakang gedung sebelum kemudian kembali ke unitku. Hari ini aku tidak ada kegiatan di kampus dan mengerjakan tugas kampus dari rumah. Aku kembali bergentayangan di katalog perpustakaan online menjelajahi satu demi satu basisdata jurnal-jurnal penting. Indah sekali dunia penelitian jika fasilitasnya selengkap ini. Aku tidak akan tersesat dan berhenti karena semua bahan bacaan yang kuperlukan tersedia secara lengkap. Penelitian mutakhir tahun 2011 atau teks klasik tahun 1916 bisa ditelusuri dengan mudah. Jika saja semua peneliti menghabiskan waktunya untuk membaca apa yang sudah diteliti orang sebelumnya, tidak akan ada ceritanya penelitian harus berulang atau tumpang tindih satu sama lain. Yang ada hanya satu: kemajuan karena semua peneliti berpijak dengan mantap pada landasan yang sudah dibentuk dengan kokoh oleh peneliti sebelumnya. Tugas seorang peneliti adalah melanjutkan dan menemukan sesuatu yang baru, atau mengisi kekosongon yang tersisa dari penelitian sebelumnya.

Konsentrasiku buyar, aku melihat sekelebat orang bergerak di jalan di samping apartemenku. Meja belajarku yang dekat jendela memungkinkanku untuk melihat setiap gerakan di luar melalui jendela kaca yang sudah buram. Seorang perempuan berpakaian rapi mendekap map berjalan di depan diikuti 6 anak muda lelaki dan perempuan di belakangnya. Mereka bergerak menuju unit Bharata. Aku tidak mengerti apa yang terjadi dan akupun beranjak keluar. Gedungku ini terdiri dari empat unit saja sehingga segala aktivitas di unit tetangga akan terdengar dari unit lainnya. Aku masih heran kerena perempuan berpakaian rapi itu nampak seperti pegawai agen properti yang biasanya melayani penyewaan atau jual beli unit/rumah. Akupun membuka pintu dan berdiri memandang mereka.

Good morning!” aku menyapa perempuan itu.

Oh, morning! I hope we don’t disturb you.” Perempuan itu menyapa sopan sambil tetap berlalu menuju unit Bharata.

No. Not at all! Is it an … ” aku berhenti tidak melanjutkan pertanyaanku.

Yes, we are doing an inspection for unit number 4” katanya menjelaskan. Aku masih bingung. Apakah Bharata akan keluar dari unitnya sehingga agen properti ini sudah menawarkannya kepada para calon penyewa lain. Pastilah enam orang yang mengikutinya ini calon penyewa yang melakukan inspeksi hari ini. Mengapa aku sama sekali tidak tahu kalau Bharata akan pergi dari sini? Aku merasa cukup dekat dengannya dan semestinya dia menginformasikan aku jika akan pindah. Aku bahkan tidak mendengar kabarnya sejak seminggu lebih, kecuali Mantram Gayatri yang mengalun mendayu-dayu setiap malam sejak seminggu terakhir. Dengan sedikit bingung, aku mengikuti rombongan itu, meninggalkan unitku dan menuju unit Bharata yang nampak lengang.

Are they moving out?” aku bertanya pada Catty, perempuan pegawai agen properti itu, apakah Bharata dan keluarganya akan pindah dari unitnya.

Who?” Catty bertanya dengan wajah agak bingung.

The current tenants.

What do you mean?” Catty melihatku bingung, dan aku lebih bingung lagi. Aku tidak sempat melanjutkan pertanyaan ketika Catty tiba di depan pintu unit Bharata dan tanpa basa-basi langsung mengeluarkan kunci dan membuka pintu itu.

Excuse me, don’t you knock?!” aku berteriak protes melihat kelakuan Catty yang tidak sopan, masuk rumah orang tanpa mengetuk pintu. Orang Australia sangat menghargai privasi dan aku tidak tahan melihat kelakuan yang tidak etis seperti itu. Catty malah menatapku dengan pandangan mata aneh.

Why should I knock?” katanya dengan wajah yang mulai kurang senang. Apakah aku terlalu banyak mencampuri? Sementara itu, enam orang calon penyewa unit itu saling pandang melihat interaksiku dengan Catty. Sepertinya aku terlihat aneh di mata mereka. Satu per satu dari enam orang itu masuk unit mengikuti Catty. Ada dorongan yang sangat kuat pada diriku untuk ikut masuk. Aku semakin penasaran. Apakah Bharata dan keluarganya masih di dalam unit itu? Aku bertanya-tanya dalam hati. Akupun memutuskan untuk ikut masuk setelah meminta ijin kepada Catty.

Dengan ragu aku langkahkan kaki memasuki unit itu. Kosong melompong tidak ada satupun perabotan rumah. Lantai karpetnya yang berwarna abu bersih tak bernoda. Aku semakin tidak mengerti. Aku memang tidak pernah masuk unit ini tetapi aku sangat yakin, Bharata dan keluarganya masih ada di sini dan kami tidak jarang mencuci bareng di ruang cuci. Mengapa kini unit ini sudah bersih dan kosong? Aku juga tidak pernah melihat ada orang pindahan rumah.

Where are the current tenants?” aku bertanya lagi pada Catty.

What do you mean? There is no tenants here!” katanya dengan nada agak tinggi, sementara aku merasakan keanehan. Aku tidak berani melanjutkan karena tegang dengan imajinasiku sendiri. Aku kemudian memberanikan diri melihat satu kamar tidur yang ada di situ. Tiba-tiba ada aroma harum dupa menyambutku. Pikiranku melayang.

Do you smell something?” spontan aku bertanya pada salah seorang calon penyewa yang ikut masuk kamar.

Yes, it’s quite strong isn’t it?” aku terkejut karena orang itu juga mencium aroma aneh itu.

You smell it?” aku masih tidak percaya.

Yes, of course. It seems that the cleaner used very strong disinfectant” katanya ringan. Aku memaki dalam hati kalau bau pembersih lantai sih nggak aneh dan aku nggak akan bertanya-tanya seserius ini. Ternyata hanya aku yang mencium aroma dupa itu. Aku semakin tidak mengerti. Kuedarkan padanganku menyapu seluruh ruang dalam unit itu. Kulihat para pengunjung itu memeriksa semua sudut dengan seksama. Mereka tentu ingin mendapatkan yang terbaik untuk sewa unit yang tidak murah per minggunya. Sementara aku sendiri seperti melayang tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi. Satu per satu para calon penyewa itu pergi setelah menyerahkan berkas pendaftaran kepada Catty. Satu dari mereka akan beruntung mendapatkan persetujuan sebagai penyewa, atau mungkin tidak satupun berhasil. Bisnis sewa menyewa rumah di Australia memang tidak mudah ditebak. Dalam beberapa menit suasana menjadi sepi, tinggal aku berdua dengan Catty di dalam unit.

Do you want to stay here?” dia menanyaiku setengah berkelakar karena aku tidak menunjukkan tanda-tanda beranjak pergi.

Oh no no. I am leaving” aku terperanjat. “Are you sure this unit is empty?” aku kembali bertanya untuk menuntaskan rasa penasaranku.

Yes, this has been empty for nearly six months” jawaban ini membuatku merinding. Aku tidak berani melanjutkan pertanyaanku. Dalam pikiranku berkecamuk sebuah pertanyaan: siapa yang aku ajak ngobrol di ruang cuci selama ini jika unit ini telah kosong selama enam bulan? Aku hanya terdiam kaku, terpasung oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul bagaikan air bah.

Are you OK?” tanya Catty.

Oh yes, I am OK” aku terbata. “Do you have any record of the last tenants of this unit?” tanyaku ragu.

Yes … why?” Catty menyeret jawabannya dan menatapku penuh selidik.

Do you mind giving me his or her name?” aku bertanya berharap. Catty nampak agak ragu.

Are you sure, you want to know?” katanya seadakan berusaha meyakinkan diri sendiri dari keraguan. Aku mengangguk berusaha memantapkan diri.

The last tenants were a small family with one baby.” Perempuan itu berhenti sejenak dan entah mengapa ada rasa tidak tenang pada diriku. Ada kegelisahan dan kekhawatiran akan lanjutan kisah itu.

Are you sure, you want to hear this?” pertanyaan perempuan itu hanya menambah rasa penasaran dan keteganganku.

Yes, please!” aku berusaha menjawab dengan mantap. Dengan air muka yang agak berubah, perempuan itu melanjutkan.

They had a bad car accident about six months ago and … oh, sorry … ” perempuan itu tidak melanjutkan. Akupun tidak berani mengejarnya dengan pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Aku hanya bertanya lirih penuh keraguan.

Name please?

Bharata is the father. They are Indians.” Tiba-tiba dunia terasa sepi. Sepi itu menghadirkan dengungan yang sangat keras. Aku tidak bisa menguasai diri. Dengungan itu semakin keras dan akhirnya mencapai puncaknya lalu turun perlahan. Aku memejamkan mata hingga dengungan itu sirna. Dalam keterpejaman aku mendengar sayup-sayup lantunan Mantram Gayatri Om bhur bhuva svaha tat savitur varenyam bhargo devasya dheemahi dhi yo yonah prachodayat, menghadirkan suasana mistis di lengangnya musim dingin yang menusuk tulang.

Mt Keira Rd, Wollongong, 14 Mei 2011 @ 1.04 am | Sebuah Cerpen

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Gayatri”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s