Menghafalkan Dialog Film

Tidak seperti ‘lelaki sejati’ lainnya, saya sama sekali tidak suka nonton sepak bola. Tidak juga suka atau bisa olahraga permainan lainnya. Banyak yang menganggap ini keanehan atau kelemahan. Meski begitu, saya punya hobi lain: menghafalkan dialog film. Banyak teman saya yang menganggap hobi ini juga aneh. Atau kalau mau menggunakan bahasa yang positif, hobi ini tidak ‘mainstream’. Bukan hobi sejuta umat. Maka dari itu, saya berani bilang, menghafalkan dialog film adalah “my thing“. Entahlah apakah penyuka sepak bola bisa mengatakan dengan leluasa bahwa “nonton bola is my thing” karena certainly, itu almosteverybody’s thing“. Saya sengaja menggunakan istilah Inggris yang tidak penting dalam tulisan ini, semata mata karena iseng 😀

Untuk apa menghafalkan dialog film? Mungkin Anda bertanya. Sama dengan menghafalkan lagu, untuk menghibur diri saja. Tidak ada tujuan lagi. Jika penyuka lagu, akan mendendangkan lagu ketika mandi, saya akan ‘mementaskan’ dialog film sambil mandi, masak, nyetir mobil atau apa saja. Aneh? Ya, bagi banyak orang bisa demikian. Tapi tidak apa apa, masing masing orag punya pilihan sendiri. Saya juga. Yang pasti, hobi menghafalkan dialog film ini sering berguna kalau mengajar atau presentasi tentang apa saja. Karena tidak mainstream, informasi hobi menghafalkan dialog film ini selalu menarik perhatian ketika saya sampaikan di depan khalayak. Tentu memang lebih menarik dibandingkan hobi membaca, apalagi mengoleksi perangko. Atau jangan jangan mengoleksi perangko di abad 21 ini justru menjadi hobi yang menarik dan langka. Saya yakin, ada pembaca blog ini bahkan tidak tahu bahwa suatu saat dalam beradaban dunia, perangko itu bisa dikoleksi dan itu adalah sebuah hobi yang keren.

Yang menarik, hobi menghafalkan dialog film ini mendapat dukungan keluarga. Entahlah, ini dukungan atau karena keluarga saya sudah tidak bisa berbuat apa apa karena hobi aneh ini. Yag pasti, Asti dan Lita, isteri dan anak saya, mau meluangkan waktu mendengarkan, mengomentari serta memberi masukan ketika saya mulai melakukan keanehan ini. Lita mau merekam saya ketika menghafalkan dialog sebuah film. Asti juga demikian. Moral cerita ini adalah bahwa hobipun memerlukan dukungan keluarga agar tumbuh subur dan bertahan.

Video berikut ini adalah saat saya menghafalkan dilog film Independence Day, saat Presiden Amerika memberi motivasi kepada pilot tempur yang akan menghadapi Alien yang menyerang Amerika saat peringatan kemerdekaan mereka. Namanya Lita, tidak ada yang tidak dibumbui keisengan. Maka jadilah videonya seperti ini.

Video berikutnya adalah rekaman saat saya menghafalkan dialog film A few good men, ketika Colonel Jessuf melalukan pembelaanya di pengadilan. Saya suka dialog ini karena penuh emosi dan panjang. Ada tantangan tersendiri ketika harus menghafalkan dialog yang panjang dan penuh emosi. Dengan begini, saya belajar banyak hal. Salah satu yang paling nampak adalah belajar berbicara Bahasa Inggris dengan intonasi yang tepat untuk sebuah public speaking.

Seperti Anda yang mungkin sangat passionate dengan nonton bola atau menghafalkan lagu, demikian pula saya dengan menghafalkan dialog film. Bedanya, jika Anda menemukan banyak teman untuk membicarakan hobi Anda itu, saya sebaliknya. Dunia hobi ini sepi peminat dan saya berjalan di lorong sunyi. Meski begitu, hobi ini tetap menarik bagi saya. Seperti kata orang bijak, menjadi menarik itu tidak harus banyak jumlahnya. Oh ya, hobi Anda apa?

Visa Monaco: Sebuah Drama

Saya pernah presentasi di tempat tempat yang jauh dari tanah air. Sering saya ceritakan pengalaman demikian dan yang lebih sering nampak adalah senang dan kerennya. Tidak banyak yang tahu atau ingin tahun drama di balik presentasi yang kadang terkesan hebat itu. Saya mau ceritakan satu perkara yang sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari semua cerita mentereng tentang presentasi di manca negara.

Visa hampir selalu menjadi urusan penting jika harus berkunjung ke negeri negeri yang jauh dari Indonesia. Kali ini saya juga harus mendapatkan visa untuk bisa presentasi di Konferensi ABLOS 2015 di Monaco, sebuah negara kecil di selatan Perancis. Mereka yang menggemari perhelatan balap Formula Satu mungkin akrab dengan negara mungil nan elok ini. Ini bukan kali pertama saya ke Monaco tetapi urusan visa tetap saja tidak otomatis dan tidak tiba tiba.

Continue reading “Visa Monaco: Sebuah Drama”

Menebar Hormat Menuai Kagum

Time flies when we are having fun, kata pepatah. Ternyata tidak saja ketika kita bersenang senang, waktu memang cepat sekali berlalu dan meninggalkan mereka yang mudah terlena. Kapan saja, saat melakukan apa saja. Tidak peduli! Ini juga yang saya rasakan dalam beberapa tahun terakhir ini. Waktu cepat sekali berlalu dan banyak perubahan drastis terjadi.

Suatu kali saya memimpin sebuah rapat penting, menghadirkan peneliti terkemuka dari belahan dunia lain yang berkunjung ke UGM. Yang juga hadir sebagai peserta rapat adalah seorang lelaki yang bagi saya begitu istimewa. Lelaki itulah, sekitar 19 tahun yang lalu ‘memungut’ saya sebagai ‘anak angkat’ ketika saya datang pertama kali ke Jogja sebagai calon mahasiswa UGM. Saya tidak akan pernah lupa beliau menjemput saya di terminal Umbul Harjo subuh-subuh dan mendapati seorang anak muda kampung yang tergagap-gagap datang ke Kota Pelajar Yogyakarta. Keramahan dan kepedulian yang tinggi membuat saya merasakan kenyamanan dan bahkan kemewahan meskipun mobilnya sederhana.

Continue reading “Menebar Hormat Menuai Kagum”

Segelas Teh yang Mendamaikan

Kita, para orang tua ini, tidak selalu bisa menemukan cara bijaksana untuk menyelesaikan persoalan. Pertengkaran kerap hadir menjadi jalan keluar, meskipun tidak diharapkan dan bukan jalan keluar yang ideal. Kami tidak istimewa, maka pertengkaran kadang jadi jalan keluar, seperti halnya suami istri lainnya.

Suatu malam, ada problema yang dengan terpaksa harus bermuara pada pertengkaran. Ini tentu bukan cerita yang saya banggakan karena ini adalah sebuah sisi gelap. Saya berbagi dengan satu tujuan, sahabat saya bisa memetik pelajaran dan tidak terjerumus di lubang yang sama.

Continue reading “Segelas Teh yang Mendamaikan”

Tulisan Tangan Pak Menteri

Tulisan tangan Pak MenteriAda pesan Whatsapp dari seorang karyawan Teknik Geodesi UGM yang mengabarkan bahwa saya mendapat sebuah paket kiriman. Tidak lupa disampaikannya foto paket itu melalui Whatsapp. Saya tidak tahu apa isi paket itu dan saya juga tidak sedang menunggu kiriman dari pihak manapun. Paket itu datang sebagai sebuah kejutan dan saya tidak sabar ingin melihat isinya.

Beberapa jam kemudian, di tangan saya ada sebuah paket yang cukup berat. Di salah satu sisi amplopnya tertera nama sebuah instansi pengirimnya dan itu tidak asing sama sekali di pikiran saya. Itu adalah nama kementerian yang bahkan sudah saya hafalkan sejak belum masuk SD di awal tahun 1980an silam. Nama kementerian atau departemen itu selalu ada di sampul buku bacaan semua anak sekolah dasar ketika itu. Di bagian belakang sampul ada sebuah tanda tangan yang menunjukkan nama pengirimnya. Nama yang tertera itu memacu adrenalin. Mendebarkan.

Continue reading “Tulisan Tangan Pak Menteri”

Ketika Dosen Stand Up Comedy

Saat reuni dan Syawalan alumni Teknik Geodesi dan Geomatika Universitas Gadjah Mada tanggal 8 Agustus lalu, saya melakukan Stand Up Comedy pertama kali. Bagi saya, ini pengalaman penting dan saya ingin berbagi.

  1. Berawal dari telepon dari seorang alumni, ketua panitia reuni/syawalan. Saya diminta standup atau cari orang yang bisa stand up comedy.
  2. Permintaan ini seperti membangkitkan impian lama. Sudah lama saya ingin melakukan hal-hal mengejutukan untuk alumni!
  3. Saya pernah cerita kepada teman soal impian ini. Waktu itu sih tidak mendapat sambutan seperti yang saya harapkan. Ide hebat memang kadang disepelekan 🙂
  4. Waktu ditelpon, saya ada di Singapura. Tanpa pikir panjang, saya mantapkan hati. Saya harus terima tantangan ini!
  5. Saya punya waktu sekitar 10 hari sejak ditelpon. Saya harus cari bahan, siapkan skrip, latih delivery. Semoga cukup!
  6. Mengikuti nasihat @pandji dan @ernestprakasa, stand up katanya 90% skrip dan 10% improvisasi! Saya ikuti!
  7. Lima hari pertama kumpulkan bahan. Saya mencatat sebanyak mungkin hal terkait alumni @geodesiugm dan hal-hal umum yang mungkin lucu.
  8. Saya kumpulkan sebanyak mungkin kejadian atau cerita atau teori yang punya potensi kelucuan dan terkait alumni @geodesiugm
  9. Selain terkait @geodesiugm, saya juga kumpulkan bahan terkait profesi saya dan hobi. Sedikit-sedikit juga tentang politik 🙂
  10. Dirasa cukup, saya mulai membuat naskah. Cukup cepat, semalam jadi meski kasar. Akhirnya disempurnakan terus selama empat hari.
  11. Untuk penampilan 10-15 menit saya siapkan 3000 lebih kata, 6 halaman 🙂 Lumayan setara tugas kuliah membuat essay :))
  12. Karena kesibukan, saya harus bolak balik Singapura Jogja, Jogja Jakarta dan seterusnya. Saya belum sempat latih dengan baik hingga H-1 😦
  13. Akhirnya malam terakhir tanggal 7 saya memaksa diri. Asti, isteri saya, mendorong untuk latihan. Asti dan Lita yang mengevaluasi.
  14. Percayalah, tidak mudah latihan standup comedy dinilai isteri dan anak sendiri. Saya perlu energi besar. Perlu terobosan!
  15. Akhirnya saya harus mau. Saya punya prinsip: berlatihlah untuk mencapai kebaikan! Asti dan Lita mendukung penuh.
  16. Dari jam 10-12 malam latihan, banyak feedback dari Asti. Dia cukup kooperatif dan sangat supportif. Dia tahu, saya bukan seorang pro.
  17. Lita, terus terang, tidak terlalu supportif dan banyak komen “ga lucu Yah” atau “Lita ga ngerti”. Begitulah :))
  18. Apapun itu, the show must go on! Saya percaya pada Asti yang sudah memberi lampu hijau meski masih ragu 🙂
  19. Akhirnya Asti dan Lita tidur. Saya merenung sendiri. Mencoba lagi beberapa kali. Ada yang kurang rasanya. Saya punya ide, bahan diperkuat dengan slide show. Maklum dosen 😀
  20. Selama 1,5 jam saya bikin slide dan memilih bagian-bagian yang tepat masuk slide. Ada foto orang, ada jargon, ada punch line juga.
  21. Akhirnya selesai dengan keterbatasan waktu dan bahan. Setengah jam berikutnya saya latih lagi sampai jam dua pagi. Sayapun tidur dengan perasaan sedikit galau.
  22. Pesawat ke Jakarta Jam 6 pagi, tetap harus istirahat meski kurang dari 3 jam. Sejujurnya tidak nyenyak :)) Grogi. Gelisah. Tegang.
  23. Saya anggap persiapan cukup dengan segala keterbatasan. Berangkatlah saya ke Jakarta menuju tempat reuni di sekitar Halim.
  24. Di bandara dan pesawat saya berkomat kamit berlatih tiada henti. Teman-teman dosen mungkin tak paham 🙂 Menegangkan!
  25. Di Jakarta saya sempatkan sounding beberapa materi ke teman-teman dosen agar nanti tidak terlalu kaget. Sebelumnya tidak ada yang tahu saya akan stand up.
  26. Beberapa senior saya beritahu bahwa saya akan menjadikan nama mereka sebagai bahan dalam stand up nanti. So far so good, tidak ada yang keberatan.
  27. Beberapa alumni yang nantinya akan saya ‘hina’ saya kontak juga untuk permakluman 🙂 Tidak semua saya kontak. Yang khusus saja.
  28. Selama reuni berlangsung saya tegang melihat perkembangan. Situasi tidak kondusif karena seringkali alumni ngobrol sendiri-sendiri. Ini hal biasa dalam reuni.
  29. Tegang, bagaimana nanti saya harus merebut perhatian mereka. Padahal Standup perlu perhatian full dari penonton 😦
  30. Di puncak kekritisan, saya hampir membatalkan pada panitia. Tapi urung. Ingat, toh saya bukan comic. Nggak lucu ya wis!
  31. Tapi memang berisiko. Kalau garing dan nggak lucu, saya telah menggali kubur sendiri. Tapi kalau lucu, tentu jadi Sejarah!
  32. A Point of no return! Saya dengar nama disebut. Saya harus bergerak. Pantang mundur, tak bisa berpaling! Move on! Nekat!
  33. Saya lihat banyak dosen yang bahkan kaget. Sejak kapan Andi jadi komedian :(( Saya lihat banyak wajah ragu.
  34. Belakangan saya tahu. Panitia pun masih berdebat sampai tadi malam, belum yakin bahwa saya yang akan standup.
  35. Maka terjadilah sejarah itu. Entah dari mana datangnya energi. Saya bisa melakukan sesuai latihan. Setidaknya penonton konsentrasi menyimak!
  36. Dengan kombinasi dari kalimat, intonasi, gerakan tubuh, slide animasi, hadirlah suguhan itu. Baik atau buruk silakan mereka yang menilai.
  37. Situasi di reuni tidak 100% cocok dengan naskah yang saya siapkan. Misalnya orang yang saya akan libatkan/’hina’ tidak datang.
  38. Di sinilah perlu improvisasi. Ada pemotongan, penambahan, penggantian. Syaratnya: terlihat smooth dan natural 🙂
  39. Saat bit tertentu tidak lucu 😦 saya ingat nasihat @pandji, langsung pindah bit atau paksa mereka ketawa, misal dengan mengatakan “ga lucu ya?!”
  40. Ternyata interaksi dan pelibatan penonton begitu penting. Menyebut nama-nama orang menjadi kunci agar konsentrasi penonton terjaga.
  41. Yang istimewa, teman-teman dosen yang saya jadikan ‘sasaran’ memberi respon positif dan mau ‘terlibat’ ini kunci kelucuan yang alami.
  42. Yang saya ‘hina’ juga mau ‘pura-pura marah’ atau ‘tertawa lepas’. Sebagian malah acungkan jempol. Sungguh membantu 🙂
  43. Sebagian lain mau keluarkan celetukan sebagai respon atas bit saya. Ini membuat suasana hidup. Kuncinya adalah bantuan penonton.
  44. Sampai kemudian waktunya harus berakhir. Prinsip saya, boleh mulai agak gamang tapi akhirnya harus sharp, tegas, jelas. Maka saya siapkan dengan baik.
  45. Saya akhiri dengan sebuah punch line yang disiapkan matang. Kalimat terakhir merupakan punch line yang tegas dan ‘pecah’. Saya lega!
  46. Mengikuti gaya @ernestprakasa, saya menjura hormat di akhir sambil mengatakan “nama saya Andi Arsana, saya angkatan ’96”.
  47. Masih Cukup lama dampaknya terdengar. Penonton Masih tertawa ketika saya diberi penghargaan oleh alumni 🙂
  48. Saya lega, bukan Karena hasil yang sempurna tapi karena keberhasilan melakukan hal baru, mengalahkan ketakutan sendiri 🙂
  49. Harapan saya, Stand up Itu bisa memberi sentuhan berbeda dan ‘mendefiniskan ulang’ hub almamater-alumni.
  50. Saya pulang dengan catatan khusus. Terutama dari mereka yang dengan tulus memberi apresiasi. Dosen juga boleh gaul. Kenapa tidak 🙂

Menjadi ayah yang lebai

Saya dibesarkan di sebuah desa yang perilaku warganya tidak penuh drama. Hari pertama sekolah tak ubahnya hari lain, tak ada yang istimewa. Para ayah tidak merasa wajib menemani anaknya untuk datang ke sekolah, tak juga menganggap kehadirannya akan berkesan dan berpengaruh pada masa depan anaknya. Mereka tidak gemar mendramatisir bahwa kehadiran orang tua di sekolah di hari pertama masuk sekolah adalah dukungan moral yang hebat untuk memberi energi kepada anak anak mereka.

Mereka juga tidak menggunakan istilah-istilah yang lebai seperti “anak SD adalah calon pemimpin bangsa” atau “anak adalah pewaris peradaban yang harus disiapkan untuk bertahta pada saatnya nanti”. Huh, pemimpin bangsa. Pemimpin bangsa apa? Anak anak itu tak lebih dari gerombolan bromocorah yang gemar mencuri rumput Pan Koplar untuk sapi sapi mereka. Sebagian lain tak lebih dari sekumpulan anak nakal yang membuat pohon nangka di belakang rumah Nang Kocong, rusak binasa karena getahnya dipanen tanpa izin. Pewaris peradaban apa!?

Continue reading “Menjadi ayah yang lebai”

Mahasiswa Senior VS Mahasiswa Baru

Kini masanya Mahasiswa Baru masuk kampus. Bagaimana dengan Mahasiswa Senior? Ayo kita simak bagaimana sebaiknya agar sama2 baik 🙂

  1. Mahasiswa Senior jangan galak berlebihan sama Mahasiswa Baru, tujuh tahun lagi, mereka bisa jadi bos kamu. Yang wajar2 saja ya 🙂
  2. Mahasiswa Senior yang paling galak saat orientasi, jangan sampai jadi yang paling gagap saat ditanya Mahasiswa baru soal mata kuliah nantinya 🙂
  3. Mahasiswa Senior kadang perlakukan Mahasiswa Baru seakan mereka bod*h, lupa kalau diantara mereka ada pemenang Olimpiade dan mungkin akan lulus duluan.
  4. Tips hadapi Mahasiswa Senior, hubungi dengann amat sopan penuh hormat, Mahasiswa baru bisa tanya PR yang super sulit. Kadang aktivis lupa belajar 🙂
  5. Mahasiswa Senior, kalian pernah jd Mahasiswa Baru. Senior seperti apa yang jadi idola? Bukan yang galak, sok kuasa, serem, tapi nggak pinter kan!?
  6. Kalau Mahasiswa Senior merasa perlu ditakuti Mahasiswa Baru, mungkin kalian tidak punya kebanggaan lain dalam hidup. Coba renungkan 🙂
  7. Mahasiswa Senior jangan bangga bisa bikin keder Mahasiswa Baru. Tugas kalian tampil dengan PD menghadapi mahasiswa ASEAN di forum/kompetisi regional 🙂
  8. Mahasiswa Senior tidak perlu berlebihan pada Mahasiswa Baru. Yang wajar2 saja agar tidak kikuk saat pinjam catatan waktu ngulang kuliah nanti 😉
  9. Mahasiswa Senior mau galak sama Mahasiswa Baru? Pikir lagi. Tujuh tahun lagi kamu bisa saja diwawancarai sama salah satunya saat mau pindah kerja 🙂
  10. Mahasiswa Senior, kenapa kamu galak sama Mahasiswa Baru? Jangan-jangan karena kamu takut ditanya bahan kuliah yang kamu nggak ngerti 🙂
  11. Mahasiswa Senior kenapa galak sama Mahasiswa Baru? Jangan2 karena memang tidak ada hal baik yang bisa kamu tawarkan untuk membantu mereka 🙂
  12. Mahasiswa Senior, apa pendapat Mahasiswa Baru tentang kamu? A] Baik, pinter, suka membantu, sabar, cakep atau b] galak, sengak, ga pinter, sok tahu? 🙂
  13. Mahasiswa Baru sadarilah psikologi Mahasiswa Senior. Kehadiranmu bisa ‘mengancam’. Pahami kalau mereka ingin kamu sopan dan hormat. Saling dukung.
  14. Mahasiswa Senior kadang lupa kalau Mahasiswa baru yang mereka hadapi bisa saja lebih pintar, lebih dewasa dan mungkin akan lebih cepat lulus 🙂
  15. Waktu 4 tahun ini sangat cepat. Mahasiswa Baru yang diplonco Mahasiswa Senior hari ini akan mengevaluasi kinerja Mahasiswa Senior itu di dunia kerja nanti.
  16. Mahasiswa Senior, jika kamu benci dan kesel melihat Mahasiswa Baru, hati-hati, bisa jadi hanya karena dia lebih cantik dan lebih populer.
  17. Mahasiswa baru yang dibully Mahasiswa Senior dalam sebuah ospek hari ini, bisa jadi presiden Indonesia tahun 2049 nanti. Tunggu undangan inagurasinya.
  18. Jika Mahasiswa Senior menghadapi Mahasiswa Baru hari ini dan berniat membully, ingatlah, 12 tahun lagi kamu juga menghadap dia di kantornya, nunggu lama dan hanya ditemani satpam. Itupun tanpa suguhan.
  19. Mahasiswa Senior pengen jadi dosen? Hati-hati, bisa jadi Mahasiswa Baru yang kamu bully hari ini jadi pembimbing S3mu nanti.
  20. Mahasiswa Senior yang membully Mahasiswa Baru hari ini mungkin lupa apa yang sudah diperbuatnya tetapi percayalah, Mahasiswa Baru tidak akan lupa 😀

Kenapa Mahasiswa Senior yang banyak ‘ditekan’ dalam posting ini dan bukan Mahasiswa baru? Karena yang hebat dan punya kuasa adalah yang senior. Dengan kekuatan yang lebih besar maka lahir tanggung jawab yang lebih besar pula. Thanks 🙂

Pak Polisi, Jangan Diskriminasi Umat Islam di Bali!

Dipinjam dari Berita Bali, hanya untuk ilustrasi

Made Kondang bergegas menuju rumah Jero Mangku Utama, tokoh masyarakat yang dituakan dan diindahkan nasihatnya karena konon bijaksana. Panas luar biasa hatinya menerima sebuah berita yang dikirim kawannya, Yan Koplar lewat hape. “Ini benar benar diskriminiasi”, guman Made Kondang menahan amarah. Dia tidak sabar bertemu Jero Mangku untuk menumpahkan segala amarah dan kesal yang memuncak. Made Kondang berharap, Jero Mangku akan membenarkannya dan terutama akan membenarkan gagasannya yang anti diskriminasi.

Continue reading “Pak Polisi, Jangan Diskriminasi Umat Islam di Bali!”

Galungan di Tegaljadi

image1Kisanak, mampirlah ke Tegaljadi tepat saat Rabu Kliwon Dungulan dan saksikanlah geliat Galungan yang disambut suka cita kerabat kami. Kisanak akan tahu, kami punya seniman tak terbilang jumlahnya. Tak hanya sanggah kemulan dan candi bentar, jalanpun mereka ukir rupa-rupanya. Atau ini hanya pertanda tiada peduli Ibu Bupati, kisanak mungkin bisa meneliti.

Laluilah jalanan desa kami yang bersahabat dan tak merelakan para mengendari kuda besi bergerak cepat. Dan rasakanlah sapaan penjor yang berhias meriah. Lengkungannya menjuntai dengan pernak pernik yang melambai. Lontar itu, yang mendekap sebatang bambu, telah menggeser ambu, daun enau putih yang aromanya memikat kalbu. Aku masih mengingatnya, persis seperti yang kusimak dua dasawarsa silam. Kini berbeda. Penjor lebih genit, sumringah dan bertingkah menggoda. Penjor kini mentereng, hebat dan mungkin juga mahal. Nang Kocong tak lagi merangkai bakang-bakang dengan tangannya sendiri. Bakang-bakang penghias penjor kini gampang datang karena ditukar uang.

Continue reading “Galungan di Tegaljadi”