Segelas Teh yang Mendamaikan


Kita, para orang tua ini, tidak selalu bisa menemukan cara bijaksana untuk menyelesaikan persoalan. Pertengkaran kerap hadir menjadi jalan keluar, meskipun tidak diharapkan dan bukan jalan keluar yang ideal. Kami tidak istimewa, maka pertengkaran kadang jadi jalan keluar, seperti halnya suami istri lainnya.

Suatu malam, ada problema yang dengan terpaksa harus bermuara pada pertengkaran. Ini tentu bukan cerita yang saya banggakan karena ini adalah sebuah sisi gelap. Saya berbagi dengan satu tujuan, sahabat saya bisa memetik pelajaran dan tidak terjerumus di lubang yang sama.

Proses pertengkaran kami serius dan mendalam sehingga kami usahakan agar Lita tidak menyaksikannya. Semoga Tuhan menjaga kami agar bisa melanjutkan tradisi ini untuk tidak bertengkar di depan anak. Beberapa kali Lita masuk kamar dan harus ‘terusir’ karena kami ingin menyelamatkannya. Tentu saja Lita gelisah, saya bisa merasakan kegalauan dan terutama kesedihan hatinya.

Kami berproses lama sekali, mendalam dan sangat emosional sehingga lupa waktu. Syukurlah, kami berhasil menjalaninya dengan baik dan bisa melewatinya meskipun menyisakan ‘luka’. Ketika keluar kamar, kami sudah bisa tersenyum dan berbicara dengan nada biasa. Saat itulah Lita sedang ada di dapur dan sibuk melakukan sesuatu. “Ibu jangan ke sini dulu” kira-kira demikian ucapnya yang terdengar dari jauh. Asti tidak boleh masuk dapur, sayapun demikian.

Beberapa menit kemudian Lita meyilakan kami ke dapur dan di sana sudah ada teh panas. “Surprise untuk Ayah dan Ibu” katanya. Itu tidak dilakukannya setiap hari dan tentu saja mengharukan, terutama di saat perasaan saya sedang perlu ditata. Saya tahu, Lita tidak membuat teh itu tanpa alasan. Pertengkaran yang baru saja disaksikannya adalah alasan itu, saya tahu. Teh panas itu kami minum. Saya dan Asti pasti merasakan hal yang sama. Teh panas itu mendamaikan. Tidak saja mendamaikan, teh panas itu ternyata menyembuhkan. Kesembuhan itu, yang kadang kita cari di tempat tempat yang jauh, kadang tersembunyi sangat dekat, pada segelas teh yang manis karena senyum seseorang yang kita cintai.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Segelas Teh yang Mendamaikan”

  1. Luar biasa mas Andi. Anda sangat konsisten, saya perhatikan sejak dulu. Mas Andi selalu berbagi dengan segala ke-humble-annya. Sisi nora, sisi gelap, semua dibagikannya untuk sebuah pelajaran baik dari segi konten maupun dari segi hidden massege (paling tidak yang saya tangkap) bahwa Mas Andi adalah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Thanks Mas Andi, jika segelas teh yang dibuatkan Lita adalah teh yang mendamaikan, maka begitupun juga blog mas Andi, tempat aku berlari dari kejenuhan, kebuntuan dan mencari inspirasi. Thanks.

    Cheers,

    Idham B

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s