Banyak kasus mengindikasikan bahwa pembaca blog ini tidak memerlukan tips cara menulis di koran. Kebingungan mereka bisa jadi hanya satu: ke mana tulisan harus dikirim? Kalau Anda ingin mengirim ke Kompas, kirim tulisan Anda sekitar 700 kata ke opini@kompas.com. Kalau mau terbit di The Jakarta Post, kirim artikel maksimal 1000 kata ke opinion@thejakartapost.com. Tulisan untuk media lain bisa dikirim ke email redaksi atau opini masing-masing yang bisa diperoleh dengan mudah di websitenya.
Jika informasi di atas sudah cukup, Anda tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Tidak banyak hal teknis yang akan Anda dapatkan. Percayalah!
Jika ada pengguna internet yang mengaku tidak tahu Google, hanya ada dua kemungkinan: orang itu berbohong atau dia mengenal internet kurang dari seminggu. Seperti itulah seorang kawan mengilustrasikan keterkenalan Google. Mungkin penyataan ini tidak bisa diartikan secara harafiah tetapi setidaknya saya sendiri setuju bahwa Google memang sangat terkenal. Google bahkan sejak lama sudah menjadi kata kerja. Pengguna internet sudah terbiasa dengan istilah googling, sedang google, digoogle saja, dan sebagainya.
Perjalanan saya dengan kereta api Gajayana dari Malang ke Jogja beberapa waktu lalu terasa menyenangkan. Meskipun akhirnya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta jam 11 malam, perjalanan itu terasa cepat. Pasalnya di sepanjang perjalanan saya membaca buku yang sangat menarik. Malang, telusuri dengan hati, begitu judul buku tersebut. Buku bertebal 200 halaman ini sebenarnya adalah buku tentang sejarah Malang. Berbeda dengan buku sejarah pada umumnya yang dipenuhi huruf berjejal membosankan, buku ini memikat dengan foto dan gambar warna-warni yang memenuhi hampir setiap halaman. Meski demikian, kekuatan deskripsinya nampak jelas dengan keseriusan penelusuran sumber sejarah yang bisa dirasakan.
Awalnya, hari ini saya ingin menulis sesuatu tentang pendidikan nasional karena memang diperingati di tanah air. Saya urungkan karena pastilah sudah ratusan orang membahasnya dari berbagai segi. Saya dan Anda bisa dengan mudah mendapatkan tulisan tentang pendidikan nasional Indonesia yang kono katanya kian memprihatinkan. Sebagai seorang guru, saya juga pasti ikut bertanggung jawab atas “dosa” ini.
Sekitar tiga tahun yang lalu, saya menulis sebuah renungan dengan judul “