
Untuk pertama kalinya saya merasakan ketegangan adalah saat kenaikan kelas tahun 1985. Waktu itu saya akan naik ke kelas 2. Saya terduduk tegang di deretan bangku depan mendengarkan pembacaan nama-nama siswa yang memperoleh juara 1. Saya berharap amat sangat, nama saya dipanggil, bukan saja sekedar dipanggil tetapi dipanggil pertama kali.
Saya mulai membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya tidak mendapat juara 1. Bapak akan melubangi kepala saya dan mengganti otak saya dengan gelas. Begitulah beliau selalu berucap kalau kami sedang bercakap-cakap di dapur atau di kamar. Saya yang baru berumur 7 tahun tentu saja menganggap serius ucapan itu. Tidak terbayang rasanya kepala saya dibor dan otak diganti dengan gelas. Mungkin beliau tidak ingat peristiwa ini karena sepertinya ini hanya kelakar belaka. Tetapi tidak demikian dengan saya. Saya akan mengingatnya sampai kapanpun.







