Pesan untuk Siswa Nusantara di Mancanegara

Kamu mungkin sedang berjemur menikmati senda gurau musim panas di belahan bumi utara tapi di tanganmu ada setumpuk karya ilmiah yang harus dituntaskan. Aku tahu itu. Atau kamu mungkin sedang melawan gigil musim dingin di dekat Antartika sambil menyantap segelas cokelat panas untuk bertahan tapi di depanmu mungkin berserakan buku-buku yang harus dilahap. Kuliah esok hari tak memberimu waktu senggang karena masuk kelas tanpa membaca ibaratnya meluncur ke medan perang tanpa senjata. Aku tahu apa yang terjadi, percayalah.

Continue reading “Pesan untuk Siswa Nusantara di Mancanegara”

My Inconvenient New York Moment

I had an inconvenient experience at Briarwood Subway Station today. I recorded, the booth number was N337 and it was around 11am.

I arrived in New York from Indonesia for an invitation from the United Nations. I was speaking at one of the event at the UN Building on 7 June 2017. This morning I came to Briarwood station and approached the N337 booth with a question “excuse me Sir, do you have a daily ticket?” for I wanted to spend my last day in New York exploring the city. I needed a ticket that will enable me to move around all day. I came to this city ten years ago for the first time but I don’t remember much about the transportation system. Being a newly arrived visitor, I don’t remember if there is a daily ticket or not. That’s why I asked.

Continue reading “My Inconvenient New York Moment”

Ketika Anak Indonesia Memukau di Gedung PBB New York

Saya menulis ini dari sebuah ruangan konferensi di Gedung PBB di New York, tepatnya Conference Room 11 pada tanggal 7 Juni 2017. Di depan saya, ada dua anak perempuan manis dan cantik. Mereka lahir dan besar di Bali. Mereka orang Indonesia. Melati (16) adalah kakaknya, adiknya bernama Isabel (14). Mereka saudara kandung, mereka sedang berbicara tentaNg apa yang mereka lakukan selama beberapa tahun ini.

Di ruangan itu duduk dengan takzim para petinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), para ilmuwan internasional, pemimpin perguruan tinggi dunia, dan peneliti papan atas planet bumi yang sedang menyimak. Tidak saja menyimak, mereka terkesima. Di antara kumpulan orang-orang itu, ada juga lelaki dan perempuan dari berbagai negara sejumlah lebih dari 70 orang yang dipilih dari negaranya dan ada di ruangan itu karena kecakapannya diakui. Tak berbeda dengan yang lain, mereka pun terpesona. Terngaga.

Continue reading “Ketika Anak Indonesia Memukau di Gedung PBB New York”

Mas Suripto, Wajah Amerika di Jakarta

Pagi-pagi sekali, di Hari Pancasila 2017, saya sudah berada di Ibukota Jakarta. Berjalan menyusuri Jalan Medan Merdeka Selatan, dari jauh saya sudah melihat orang-orang berbaris di depan Kedutaan Besar Amerika. Ingatan saya melayang ke suatu hari satu dekade silam.

Jakarta, 20 Februari 2007
“Jangan berteduh Pak! Baris yang rapi!” saya terkejut mendengar teriakan itu. Seorang lelaki berseragam kecokelatan berteriak dari jauh memberi perintah kepada seorang lelaki usia 50an tahun yang berpakaian rapi. Lelaki dalam antrian itu hendak berteduh sejenak dan keluar dari antrian yang telah mengular. Matahari yang mulai hangat rupanya membuat lelaki yang telah matang itu merasa kepanasan. Tak ayal, teriakan lelaki yang memasang tampang sangar itu mengurungkan niat lelaki malang itu. Sementara saya yang ada tidak jauh dari lelaki itu merasakan ketidaknyamanan. Amerika memang kejam. Satpam di kedutaannya di Jakarta saja kejam sekali.

Continue reading “Mas Suripto, Wajah Amerika di Jakarta”

Lita’s Mission: Writing a Speech!

“Hello Ayah”
“Hey, Lita. It’s you?!”
“Yes, it’s me”
“How do you know that I wanted to talk to you?”
“Hmm… well actually, I don’t know”
“Oh haha. Where are you?”
“I am on the way home.”
“With Ibu?”
“Yes, she is driving”
“Oh that’s why you’re picking up the phone”
“Yeah right”
“Lita, I wanted to talk to you. I need a hand”
“Do you need what?”
“I need a hand! I need your help”
“Oh, a hand. Okay. What is it?”
“You know Bu Luh is an English teacher, right?”
“Yes, I know”
“She is also teaching kids in the village, right?”
“Yes, I know Ayah”
“Good!”
“So?”
“For the coming independence day, the tujuh belas agustus thing, she would like to organise a competition”
“Okay…..”
“Yes, it is an English Speaking Competition”
“Oh Ayah, please….”
“No… Don’t take me wrong. I am not asking you to participate in the competition”
“Oh okay.. that’s good!”
“The competition is for the kids. For Bu Luh’s students”
“Oh okay..”
“But I need you to do me a big favour”
“Hmm… what is it?”
 “Please write me a speech. An English Speech, will you?”
“What for?”
“Okay, the kids in the village, Bu Luh’s students, will participate in the competition. They will have to deliver a speech for that.”
“And…”
“And Bu Luh needs our help to write them a speech. The kids will read it during the competition”
“Oh okay…”
“Can you, please?”
“Hmm.. okay… “
“This is a simple speech only. Maybe less than a page of HVS paper”
“Can I use complicated words?”
“Hmm… it is better not to use too many complicated words”
“Oh, it’s going to be hard”
“Hahahaa.. come on”
“It’s true Ayah”
“Okay, I understand. But please. Use simple language. As simple as possible, Ok.  I know you can do it. Please….”
“Okay, I will do it”
“Great! Thank you so much”
“When do you need it?”
“Hehe this is the problem. I need it tonight”
“What?”
“Yes, tonight!”
“Okay, tonight is long. What time Ayah?”
“Hmm… I will be flying to Jakarta at 8pm and arrive there probably at 9 something pm. I will go directly to my hotel and may arrive at the hotel at around 10pm. If you can send me the file around 10.30pm or 11ish, it will be great!”
“Hmm… okay!”
“Oh really? Do we have a deal?”
“Ok, Ayah.. I will try!”
“Oh thank you so much. You save my life, Lita! I love you so much!”
“I love you too Ayah”
“Okay, I will be waiting for your file tonight, Okay?!”
“Okay..”
“Love you, Lita”
“Love you too, Ayah”
“Okay bye-bye”
“Bye…”

Later that night …
“Hello Ayah…”
“Hey Lita… you sound sleepy”
“Yes…”
“Are you done yet?”
“Does it have to be tonight?”
“Hehe… well, not really”
“Can I finish it tomorrow?”
“Okay… that’s fine! Have a good rest. It’s late already”
“Bye Ayah…”
“Bye Lita..”

The next day… in an email
“Dear ayah,
this is the speech you asked for.

Love,
Me”

Pas dibuka, welah dalah kok temanya tentang Pancasila? Bocah… 😦

Lita’s Mission: Writing a Speech!

“Hello Ayah”

“Hey, Lita. It’s you?!”

“Yes, it’s me”

“How do you know that I wanted to talk to you?”

“Hmm… well actually, I don’t know”

“Oh haha. Where are you?”

“I am on the way home.”

“With Ibu?”

“Yes, she is driving”

“Oh that’s why you’re picking up the phone”

“Yeah right”

“Lita, I wanted to talk to you. I need a hand”

“Do you need what?”

“I need a hand! I need your help”

“Oh, a hand. Okay. What is it?”

“You know Bu Luh is an English teacher, right?”

“Yes, I know”

“She is also teaching kids in the village, right?”

“Yes, I know Ayah”

“Good!”

“So?”

“For the coming independence day, the tujuh belas agustus thing, she would like to organise a competition”

“Okay…..”

“Yes, it is an English Speaking Competition”

“Oh Ayah, please….”

“No… Don’t take me wrong. I am not asking you to participate in the competition”

“Oh okay.. that’s good!”

“The competition is for the kids. For Bu Luh’s students”

“Oh okay..”

“But I need you to do me a big favour”

“Hmm… what is it?”

“Please write me a speech. An English Speech, will you?”

“What for?”

“Okay, the kids in the village, Bu Luh’s students, will participate in the competition. They will have to deliver a speech for that.”

“And…”

“And Bu Luh needs our help to write them a speech. The kids will read it during the competition”

“Oh okay…”

“Can you, please?”

“Hmm.. okay… “

“This is a simple speech only. Maybe less than a page of HVS paper”

“Can I use complicated words?”

“Hmm… it is better not to use too many complicated words”

“Oh, it’s going to be hard”

“Hahahaa.. come on”

“It’s true Ayah”

“Okay, I understand. But please. Use simple language. As simple as possible, Ok. I know you can do it. Please….”

“Okay, I will do it”

“Great! Thank you so much”

“When do you need it?”

“Hehe this is the problem. I need it tonight”

“What?”

“Yes, tonight!”

“Okay, tonight is long. What time Ayah?”

“Hmm… I will be flying to Jakarta at 8pm and arrive there probably at 9 something pm. I will go directly to my hotel and may arrive at the hotel at around 10pm. If you can send me the file around 10.30pm or 11ish, it will be great!”

“Hmm… okay!”

“Oh really? Do we have a deal?”

“Ok, Ayah.. I will try!”

“Oh thank you so much. You save my life, Lita! I love you so much!”

“I love you too Ayah”

“Okay, I will be waiting for your file tonight, Okay?!”

“Okay..”

“Love you, Lita”

“Love you too, Ayah”

“Okay bye-bye”

“Bye…”

Later that night …

“Hello Ayah…”

“Hey Lita… you sound sleepy”

“Yes…”

“Are you done yet?”

“Does it have to be tonight?”

“Hehe… well, not really”

“Can I finish it tomorrow?”

“Okay… that’s fine! Have a good rest. It’s late already”

“Bye Ayah…”

“Bye Lita..”

The next day… in an email

“Dear ayah,

this is the speech you asked for.

Love,

Me”

Pas dibuka, welah dalah kok temanya tentang Pancasila? Bocah hehehe… 

Screen Shot 2017-06-01 at 11.05.56 PM

Mengingat Ibu Rita, Rektor Perempuan Pertama UGM

Di tahun 2010 saya menulis sebuah artikel berjudul Kartono untuk memberikan kritik satir pada dunia tentang marjinalnya peran kepemimpinan perempuan. Pada artikel yang berlatar waktu masa depan itu saya menulis bahwa UGM saja, sebuah universitas terbesar di Indonesia, tidak pernah dipimpin perempuan sampai 100 tahun usianya. Di tahun 2014, kritik saya itu runtuh gugur karena munculnya sebuah kebenaran baru. Prediksi satir saya tidak menjadi nyata. Sejak November 2014, seorang perempuan bernama Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D mendapatkan hak penuh untuk kami panggil sebagai Ibu Rektor UGM.

Continue reading “Mengingat Ibu Rita, Rektor Perempuan Pertama UGM”

Waisak

​Sejak menjadi mahasiswa dulu, saya cukup sering terlibat diskusi lintas iman. Sejujurnya, pada awalnya, motivasinya sangat pragmatis: banyak makan-makannya. Diskusi semacam itu termasuk bagian dari UPGM, yakni Usaha Perbaikan Gizi Mahasiswa yang kere seperti saya dan teman-teman 🙂

Meskipun pada awalnya tidak berniat serius, akhirnya toh saya belajar banyak. Saya ingat suatu ketika ada cerita menarik dari seorang Biksu. Konon, di saat-saat awal tinggal di sebuah kampung, rumah beliau pernah didatangi penduduk dan dituduh telah melakukan praktik pemujaan setan. “Waktu itu kami menggunakan banyak dupa yang harum sehingga rupanya penduduk kampung mencium dan merasa terganggu. Aromanya kan seperti kemenyan” ucapnya berseloroh. Sama sekali tidak melihat kemarahan atau kebencian pada wajah Biksu itu, justru sepertinya beliau terlihat senang dan penuh kelakar saat bercerita. Sekali waktu beliau terkekeh kecil.

“Apa yang Biksu lakukan?” tanya seseorang merasa penasaran dengan respon beliau. “Saya jelaskan dengan baik bahwa ini memang cara kami berdoa. Karena dijelaskan dengan baik, para tetangga bisa memahami. Tapi saya juga mengerti keresahan mereka. Ini kan soal keyakinan dan kepercayaan. Bagi sebagian orang, asap dan aroma kemenyan memang identik dengan sesuatu yang berbau klenik. Saya kemudian berusaha mengurangi penggunaan dupa untuk menghormati para tetangga. Kini kami sudah jadi tetangga yang akrab, biasa bergurau.” Orang-orang yang mendengar cerita ini mengangguk-angguk tanda respek.
“Beberapa waktu yang lalu,” sang Biksu menambahkan, “ada tetangga yang meninggal. Saya turut kumpulan saat malam hari. Memang 90 persen lebih bapak-bapak di kampung kami itu perokok. Kepulan asap rokok memenuhi ruangan. Sebenarnya saya terganggu karena tidak biasa tetapi tidak satupun orang di ruangan itu yang terlihat terganggu, maka saya tahan. Tentu saja karena semuanya memang perokok. Mereka terlihat tenang, duduk bijaksana untuk menghibur keluarga yang baru saja dirundung duka. Kepada Pak RT yang duduk di dekat saya, yang beberapa waktu lalu ke rumah memprotes asap dupa, saya berkata ‘Pak, pantas semua tenang dan damai di kampung ini, bapak-bapak ini rajin berdoa’ dan Pak RT pun tertawa terbahak-bahak.”
Saya tidak pernah membaca Kitab Suci Umat Budhis tetapi cerita sang Biksu itu telah mengisahkan penggalan ajaran yang baik. Selamat Hari Raya Waisak 2017 sahabatku. 

PS. Tulisan ini adalah ingatan akan kejadian sekitar 20 tahun lalu, kutipan ucapan mungkin tidak persis sama.

Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris

Dosakah jika pejabat negara tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik? Tentu saja tidak. Bahasa Inggris bukan bahasa kita. Dia juga bukan bahasa resmi di Indonesia. Bukan juga bahasa pengantar pendidikan dan penyelenggaraan negara. Semua dokumen resmi negara dalam Bahasa Indonesia. Semua siaran TV, buku, lagu dan sebagainya, hadir dalam Bahasa Indonesia juga. Tidak ada alasan mendesak untuk fasih berbahasa Inggris. Benarkah demikian?

Saya kerap menghadiri forum internasional yang mempertemukan perangkat negara dari berbagai bangsa, termasuk Indonesia. Salah satu yang pernah saya ikuti adalah Maritime Security Desktop Exercise (MSDE) yang mempertemukan para penegak hukum di laut dari berbagai negara. Hingga 20an negara turut berpartisipasi dalam sebuah acara MSDE sehingga diskusinya sangat menarik. Yang selalu menggelitik saya adalah minimnya kontribusi orang Indonesia dalam diskusi tersebut meskipun peserta terbanyak selalu dari Indonesia karena diadakan di Indonesia.

Continue reading “Jika Pejabat Negara Tidak Bisa Ngomong Inggris”

Tujuh Rahasia Presentasi yang Lebih dari Sekedar Power Point dan Animasi

Setelah menyelesaiakan presentasi, cukup sering ada pertanyaan tentang tips presentasi dari audiens. Ketika bertanya hal ini, umumnya penanya itu fokus pada tayangan presentasi yang baik, warna-warni dan animatif. Presentasi saya memang menggunakan banyak grafik, gambar dan animasi yang mungkin menjadi daya tarik bagi sebagian audiens.

Pertanyaan ini sederhana tapi jawabannya tidak. Presentasi yang baik sebenarnya adalah akumulasi dari kerja keras dan persiapan yang baik dan mungkin panjang. Satu menit presentasi yang baik adalah akumulasi dari kerja yang bisa berjam-jam lamanya. Presentasi, menurut saya, lebih dari sekedar slide yang berkilauan dan animasi yang energik. Presentasi yang baik dalam waktu semenit bisa jadi layaknya bagian dari gunung es yang muncul tapi yang tidak kelihatan sebenarnya jauh lebih besar. Semenit itu adalah puncak dari kerja keras yang sangat lama sebelumnya. Coba perhatikan video satu menit ini. Ini adalah hasil kerja keras berjam-jam. Semua yang terjadi di video ini direncanakan dengan baik. Yang terlihat seperti kecelakaan atau kebetulan tentu dipikirkan dan direncanakan dengan serius.

Berikut ini tujuh hal penting bagi presentasi yang baik:

  1. Membayangkan Presentasi. Sebelum membuat presentasi, saya selalu membayangkan proses presentasinya. Dari mana saya masuk ruangan presentasi, bentuk panggungnya, jumlah dan kondisi (pendidikan, latar belakang pengetahuan, dll) audiensnya. Semakin lengkap informasi yang saya miliki, semakin banyak dukungan yang saya punya ketika menyiapkan presentasi.
  2. Mengutamakan Visualisasi. Menyiapkan tayangan presentasi yang mengutamakan visualisasi, bukan kumpulan teks. Ini terkait dengan kebiasaan saya sendiri yang lebih mudah memahami gambar dibandingkan teks. Masalahnya, seorang presenter memang harus sangat amat paham bahan presentasinya sehingga penayangan gambar saja cukup untuk membuat dia bisa berbicara panjang lebar.
  3. Menyampaikan cerita utuh. Inti dari presentasi adalah cerita yang utuh. Slide atau tayangan adalah alat bantu untuk membuat cerita itu lebih mudah dipahami, lebih dramatis atau menjadi lebih tegas. Tayangan juga bisa menjadi alat untuk membuat bagian-bagian tertentu dari cerita kita menjadi lebih jelas/tajam. Sebagai contoh, isi slide bisa saja berupa satu kalimat kutipan dari seorang tokoh yang sedang kita ceritakan, bisa juga ‘punch line’ yang akan membuat presentasi kita menyentak atau lucu. Presentasi harus tetap bisa dibawakan tanpa slide. Ini menunjukkan bahwa presentasi sudah berbentuk cerita utuh. Jika kamu batal presentasi atau memberi kuliah hanya gara-gara listrik mati dan tidak bisa menayangkan power point, artinya kamu belum menguasai cerita utuh dari presentasi itu.
  4. Dimulai dengan cerita diikuti tayangan. Presentasi yang baik dimulai dengan merancang cerita lalu dilanjutkan dengan membuat tayangan/ visualisasinya, bukan sebaliknya. Sering sekali kita membuka power point dan menghadapi slide kosong lalu berpikir mau membuat apa. Menurut saya ini langkah yang kurang tepat. Kita harus merancang ceritanya dulu baru membuka power point untuk membuat tayangan yang mendukung cerita yang sudah kita buat sebelumnya. Lebih baik lagi jika rancangan cerita itu sudah berupa naskah yang lengkap dari awal sampai akhir. Berdasarkan cerita utuh itu kita bisa membaginya menjadi beberapa slides dan mengisi slide tersebut dengan visualisasi yang tepat.
  5. Menjadi orang awam. Mencoba menjadi orang awam adalah langkah penting dalam merancang dan membawakan presentasi. Jika kita berhasil menjadi orang awam maka kita bisa menyampaikan perkara dengan sistematika yang sederhana dan mudah dipahami. Hal ini terkait dengan urutan penyampaian informasi, penekanan pada poin tertentu, pemilihan kosakata, dan sebagainya.
  6. Berlatih. Kita perlu berlatih untuk menyingkronkan antara cerita verbal dengan visualisasi. Idealnya, presentasinya muncul dalam bentuk cerita yang mengalir dan tayangan slide berjalan dinamis mengikuti alur cerita. Oleh karena itu seorang presenter sebaiknya tahu betul apa yang mau dikatakannya lalu tahu betul kapan saatnya memindahkan slide atau memunculkan suatu obyek tertentu dalam bentuk animasi atau sekedar kemunculan sebuah penjelasan. Sering kali kita melihat presenter memindahkan slide-nya dulu lalu diam beberapa saat sambil melihat slide itu, bahkan ada yang seperti terkejut seakan-anak slide itu sesuatu yang asing. Jika itu terjadi, artinya dia belum menguasai presentasinya. Jika saya belum sempat memahami presentasi saya atau membawakan presentasi yang dibuatkan oleh orang lain, kadang ini juga saya alami. Oleh kerena itu, berlatih itu penting sekali.
  7. Presentasi adalah acting. Seperti acting, yang bagus adalah yang alami. Meskipun kita telah menghafalkan dan berlatih sekuat tenaga, pada akhirnya kita harus tampil alami. Maka dari itu, salah satu tujuan dari latihan yang keras dan sering adalah agar kita bisa tampil alami. Sangat tidak elok kalau kita terlihat menghafalkan kalimat tertentu, apalagi mengucapkanya seperti membaca. Jika demikian, kamu akan terdengar seperti melakukan dialog Sinetron India yang di-dubbing orang Indonesia.

Saya selalu menganggap presentasi itu penting. Sangat penting. Presentasi yang berdurasi lima menit, jika dipersiapkan dan dibawakan dengan baik, akan menghadirkan kesempatan lain yang lebih besar. Rejeki, kesempatan dan bahkan jodoh, bisa jadi hadir karena sebuah presentasi. Jangan abaikan!