Katakan dengan Bunga

Saya sering mengandalkan bunga untuk menyatakan sesuatu. Ketika pacaran sama Asti dulu, paling sering membeli bunga di dekat RRI di Jogja. Kala itu, setangkai tidak sampai Rp 5000. Pasti bisa menebak, berapa usia saya sekarang ini. Sebagian orang menganggap bunga itu lebai, berlebihan atau picisan. Yang demikian, mungkin memili menyatakan cinta dengan tas kulit buaya, atau boot kulit domba dari New Zealand, atau ikat pinggang merek Paris atau kaca mata dari New York.

Sejak berpisah, saya di Australia Asti dan Lita di Jogja, kebutuhan membeli bunga lebih tinggi. Akhirnya saya menemukan solusi pesan antar bunga di Jogja. Nama toko online ini adalah Jogja Florist dan saya harus berterima kasih kepadanya. Prosesnya juga sangat mudah. Saya kunjungi websitenya, pilih paket dari katalog lalu email untuk memesan. Beberapa menit kemudian ada konfirmasi bahwa stoknya ada lalu saya lakukan pembayaran dengan internet banking Mandiri. Beberapa menit kemudian muncul konfirmasi dan nanti sorenya sudah ada pesan dari Jogja “terima kasih bunganya”. Singkat mudah dan terutama, maaf, affordable (istilah lebih canggih dari “murah”)

Continue reading “Katakan dengan Bunga”

Mari Kita Ganyang Malaysia

Perselisihan dua bangsa serumpun ini sepertinya tidak habis-habis. Inilah sepuluh alasan mengganyang Malaysia:

http://duniadongeng.wordpress.com/

Continue reading “Mari Kita Ganyang Malaysia”

Trikaya Parisudha

ikmbali.wordpress.com

Suatu sore saya mendapat sms dari ibu mertua “Yah, Lita mau belajar Agama sama ayah jam 7 ya!” Dari semua sms yang ada, ini termasuk salah satu yang menegangkan. Segaul-gaulnya seorang Bapak, ketika tiba saatnya, maka dia harus mengajarkan agama kepada anaknya. Di titik inilah dia akan bertanya pada dirinya, seberapa paham dia tentang agama yang dianutnya.

Continue reading “Trikaya Parisudha”

Rok Mini

dari http://baltyra.com/

Suatu siang di bulan September, di belahan bumi utara.

“Eh sorry banget gue telat” Sarah datang beringsut, wajahnya agak tegang.
“Ya nih, nggak biasanya lu telat. Dari mana?” Rina yang sudah menunggu menyambut dengan pertanyaan.
“Ya, tadi gue nemenin si Rama tuh ke mall. Keliling nyari bahan bubur buat anaknya.”
“Lo, kenapa lu yang nyari, si Astrid ke mana?”
“Justru itu, tadi tiba-tiba si Astrid telpon gue buat bantuin si Rama beli bubur. Dianya lagi ada tugas ke Washington katanya.”

Continue reading “Rok Mini”

Happy Mother’s Day

Ibu dan kaum perempuan adalah tiang peradaban yang kepadanya kita berharap. Selamat hari ibu untuk istri saya, Asti, dan semua ibu di seluruh dunia. Video dari Obama ini mungkin bisa mengingatkan kita lagi. Happy Mother’s Day!

Memetakan Perilaku Manusia – Mapping our behaviour

Peta sangat digdaya. Peta bisa menyajikan banyak hal secara menarik dan efektif sehingga penerima informasi bisa memahami lebih baik. Salah satu peta menarik yang disajikan oleh Guardian, UK adalah tentang perilaku masyarakat London dalam mengumpat lewat media sosial Twitter. Dengan merekam kata-kata umpatan yang diucapkan orang lewat Twitter yang berlokasi di London bisa dibuat sebuah peta menarik. Inti dari pemetaan perilaku ini adalah menyajikan data yang memiliki komponen lokasi. Berikut adalah peta yang dimaksud.

http://www.guardian.co.uk/news/datablog/2012/may/04/twitter-swearing-london

Sesungguhnya ada banyak sekali hal yang bisa disajikan lewat peta. Sebagai pemantik gagasan, coba pikirkan hal-hal berikut:

  1. Distribusi dan intensitas korupsi di Indonesia per kabupaten
  2. Peta moralitas dengan menampilkan kasus beredarnya video porno oleh pejabat negara atau masyarakat
  3. Tingkat kesabaran pemakai jalan dengan menyajikan jumlah kecelakaan di berbagai lokasi
  4. dan banyak lagi…

Jika orang mengatakan “the sky is the limits” maka penggunaan peta atau informasi geospasial sesungguhnya hanya dibatasi oleh satu hal: imajinasi. Selamat melamun dan kemudian berkarya dengan peta.

Prosa Sembilan tahun

Family in the 21st century

Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.

Continue reading “Prosa Sembilan tahun”

Orang Sakti

Saya masih sering tercenung terpana mendengar cerita dari ibu mertua soal kakek beliau yang konon sakti. Kakek buyut, begitu semestinya saya memanggil beliau, adalah seorang dalang yang kata ibu, bisa mendalang di dua tempat sekaligus. Di satu malam beliau disaksikan oleh warga sebuah kampung di Jawa Timur, konon pada saat yang sama beliau tengah memukau kerumunan lainnya di kampung yang jauh jaraknya. Kakek buyut, kata ibu saya, memang sakti mandraguna.

Continue reading “Orang Sakti”

Membaca [tentang] Indonesia

Suatu pagi saat di Jogja, seorang kawan masuk sebuah ruangan tempat kami biasa duduk santai di sela-sela pekerjaan. Kawan ini dengan sigap mengambil koran dan membacanya. Menariknya, yang dibaca adalah Koran kemarin. Katanya beliau tidak sempat membaca kemarin karena harus berada di rumah sakit. “Buta rasanya kalau tidak sempat membaca berita” kata beliau. Saya merenungkan ucapan itu. Ini tentu bukan hal aneh, banyak sekali orang merasa buta dan gelisah jika tidak mengetahui apa yang terjadi.

Continue reading “Membaca [tentang] Indonesia”

Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif

KulOn: Kulian Online 🙂

Saat terjadi gonjag-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada tahun 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama biayanya sangat mahal dan kedua ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal dan kini lebih setuju lagi.

Tanggal 5 Maret 2012 saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri ITS, Surabaya. Sementara saya sendiri berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan nyaris tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi bisa berlangung sangat baik sehingga saya dan peserta lupa bahwa jarak yang memisahkan kami sesungguhnya sekitar 5000 kilometer dengan empat jam perbedaan waktu. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apapun. Kalaupun ada, investasi ini bernama waktu. Sara rasa ini adalah salah satu bentuk kontribusi kecil yang bisa diberikan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.

Continue reading “Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif”