Bodoh, Baru dan Pemula

Kami sekeluarga datang ke sebuah studio foto di Tabanan. Tidak sering dalam hidup keluarga besar kami bisa berkumpul secara lengkap. Meski tidak merayakan Idul Fitri, libur lebaran menjadi alasan keberasamaan ini. Kami mengunjugi sebuah studi sederhana dengan tujuan membuat foto keluarga yang professional.

Lepas mencoba berbagai gaya, proses administrasipun berjalan. Di saat itulah kami merasa tidak mendapat pelayanan yang baik. Seoang ibu, yang mungkin adalah pemilik studio itu, memasang wajah tidak bersahabat bahkan sejak kami masuk studio. Semua pertanyaan yang saya ajukan dijawabnya dengan nada yang datar bahkan cenderung agak ketus. Pandangan matanya tidak bersahabat sejak awal. Semangat melayangi tidak ada. Kesannya, perempuan itu tidak membutuhkan kehadiran kami sebagai konsumen. Dia tidak bersikap sebagai penyedia jasa tetapi seakan akan pemberi sedekah kepada kami yang membutuhkan bantuan. Saya bahkan sempat berbicara dengan nada agak tinggi karena satu perkara. Ibu, kakak, dan adik saya melihat itu dan mereka merasakan kekecewaan yang sama.

Continue reading “Bodoh, Baru dan Pemula”

Tukang Parkir

Suatu malam kami buka puasa bersama di Restoran Sederhana di Jalan Kaliurang, Jogja. Selepas makan, saya menuju parkir untuk segera pulang. Di depan restoran, ada seorang peminta minta yang mengenaskan wajah dan tubuhnya. Sambil berlalu, saya memberikan satu satunya lembar dua ribuan yang ada di dompet. Selepas itu saya beranjak ke dalam mobil. Begitu mulai bergerak, tukang parkir dengan sigap melaksanakan tugasnya. Teriakan khas “terus terus terus” terdengar nyaring.

Teringat sesuatu, saya segera berhenti dan memeriksa dompet. Benar saja, tidak ada dua ribuan yang tersisa. Saya panggil Mas Tukang Parkir dan berkata “Mas, maaf saya tidak ada recehan. Ada kembalian untuk lima puluh ribuan nggak”. Saya lakukan itu agar terjadi pemahaman dan transaksi di awal sebelum dia selesai melakukan tugasnya. Di luar dugaan, lelaki muda itu pergi begitu saja tanpa menjawab dan diapun tidak meneruskan apa yang sudah dimulainya dengan baik. Dia lenyap, di sela mobil mobil yang banyak itu. Dia menetapkan sebuah pilihan yang mungkin dia yakini benar. Itu adalah sikap hidupnya dalam bekerja. Jika harus jadi tukang parkir, semoga saya tidak memilih hal yang sama.

Rahasia di Balik Gelar Doktor

image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! 🙂
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi ‘tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand 🙂 Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya ‘banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga 🙂 Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama 🙂
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum 🙂 kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok 🙂
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan 🙂 Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya 🙂 Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif 🙂
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya “Philosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea 🙂
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih 🙂

Thank You, Terima Kasih …

While writing the thesis as a whole was challenging, this acknowledgement part is the one I wrote nervously for there are too many parties I owe thanks to in the completion of this journey. First and foremost I sincerely thank my wife, Asti, for her enduring support that I can never describe in words. I understand that Asti’s decision to support my academic journey and put her career second is one of the toughest decisions she has ever made. I also thank my daughter, Lita, for her amazing support for behaving well during my absence due to the study. For both Asti and Lita, I dedicate this work. They are the reason I am.

Clive Schofield is the one who introduced me to this fascinating world of maritime boundaries. Clive, you are more than a good supervisor to me. Thank you for unlocking so many doors of opportunities by introducing me to many great scholars in this field. I felt welcome and it makes this journey enjoyable. I have enjoyed making maps for you and thank you for providing space for me to further develop my professional cartographic career to introduce the power of maps to a global audience. I also acknowledge Prof. Martin Tsamenyi for his support along the way. Martin, you have directly and indirectly taught me the way to communicate complicated issues such as maritime boundaries in a manner that is understandable by a non-expert audience.

Continue reading “Thank You, Terima Kasih …”

Jas dan angkot

Genjo turun dari Damri yang mengantarnya dari Bandara Soekarno Hatta ke Bogor. Di terminal Damri Bogor dia mencoba mencari tahu lokasi hotel tempatnya menginap nanti. Alternatif transportasinya banyak. Pertama, Genjo bisa jalan kaki tetapi sepertinya cukup jauh dan memerlukan waktu lama. Bogor tak sedingin yang diduganya sehingga berjalan kaki begitu jauh bisa melelahkan juga. Kedua, Genjo bisa naik taxi. Tentu tidak ada masalah karena ada cukup uang untuk membayar taxi dan itu sudah dianggarkan. Alternatif ketiga, Genjo bisa naik angkot 06 yang turun tepat di depan hotel. Saat itu Genjo mengenakan jas rapi karena akan menghadiri sebuah pertemuan dengan kementerian tertentu. Genjo hadir mewakili pejabat tinggi di universitasnya. Ada pertanyaan kecil terbersit di pikiran Genjo “wajarkah saya, dengan penampilan seperti ini saat mewakili sebuah universitas besar di negeri ini untuk bertemu dengan pejabat di sebuah kementerian mentereng di Republik Indonesia, datang dengan naik angkot?”

Continue reading “Jas dan angkot”

Menjelaskan Quick Count, Exit Poll dan Margin of Error kepada Ibu Saya

http://amazon.com/

Sudah jadi tradisi, kami bercerita tentang apa saja. Jangankan untuk hal hal penting, kisah serial MacGyver di tahun 1990an saja saya ceritakan setiap hari Jumat malam pada Ibu saya, meskipun mungkin beliau tidak tertarik. Setiap selesai nonton serial itu dari TV tetangga, saya akan bangunkan ibu untuk menceritakan kisahnya. Tradisi itu yang melekat dan berjalan terus hingga sekarang.

“Sebenarnya apa yang terjadi” demikian Ibu saya bertanya ketika menyimak kedua calon presiden menyatakan kemenangannya. Tentu saja beliau tidak sendiri. Sebagian masyarakat yang tidak memahami politik secara mendalam tentu akan bingung dengan perilaku calon presiden kita. Saya kemudian mengatur strategi untuk menjawab pertanyaan Ibu saya. Hal pertama yang mengkhawatirkan adalah pengetahuan formal saya terhadap pemilu yang mungkin tidak mumpuni karena saya memag tidak mempelajarinya secara resmi. Kedua, Ibu saya hanya lulus SD di tahun 1960an dan bukan pembaca buku atau koran. Perlu penggunaan bahasa yang sederhana agar beliau paham dengan gamblang.

Continue reading “Menjelaskan Quick Count, Exit Poll dan Margin of Error kepada Ibu Saya”

[Bukan] Moderator Debat Capres

Orang yang saya moderatori dalam acara ini bukan capres tetapi pernah berinisiatif untuk menjadi Calon Presiden Republik Indonesia melalui proses Konvensi Partai Demokrat. Menjadi moderator bagi Mas Anies Baswedan adalah kebanggan bagi saya sekaligus sebuah proses pembelajaran yang tidak biasa. Entahlah apakah pembaca bisa merasakannya tetapi apa yang Anda lihat adalah hasil berlatih dan bersiap yang begitu lama dan serius. Saya tidak akan membahas tips-tips menjadi mederator dalam tulisan ini tetapi jika saya harus menjelaskan bagaimana menjadi moderator yang baik maka apa yang saya lakukan di video ini adalah jawabannya. Apakah ini bagus? Pembaca yang punya kewenangan untuk memutuskan. Selamat menyaksikan.

Anies Baswedan: Kenapa Saya Memilih Untuk Tidak Netral?

Teman-teman TurunTangan yang saya hormati,

Kebhinekaan itu fakta bukan masalah. Saya pernah tulis itu beberapa waktu yang lalu; dan izinkan saya menulis sebuah email sore ini untuk berbagi rasa dan pandangan dengan temani-teman semua. Semoga email ini menemui anda dalam keadaan baik, sehat dan makin bersemangat.

Beberapa hari ini saya menyaksikan ungkapan atas perbedaan itu seakan sedang menghadapi musuh. Beda pilihan figur itu normal, wajar dan manusiawi. Santai saja, tidak perlu kecewa dan marah pada orang lain yang pilihannya berbeda.

Bagi teman-teman yang bergerak di TurunTangan ini kesempatan untuk membuktikan bahwa kita telah dewasa. Kita telah matang untuk menerima perbedaan sebagai fakta; bukan sebagai masalah karenanya tidak harus dijadikan sama.

Saya banyak menerima pertanyaan, kenapa tidak ambil posisi netral saja? Memang kalau mau nyaman dan aman, pilih netral saja. Tapi coba kita renungkan sebentar anjuran netral itu. Bukankah selama ini kita selalu mengatakan, jangan hanya urun angan, jangan diam dan mendiamkan; kita harus siap untuk terlibat dan membantu. Haruskah saya diam agar aman? Saya pribadi tidak mau pilih diam dan mendiamkan. Pilihan saya bisa jadi berbeda dengan orang lain, tapi saya tidak akan pernah memaksanakan pilihan dan tetap akan menghargai orang lain.

Saya pribadi memilih terlibat dan membantu. Artinya saya juga harus meneruskan prinsip yang selama ini kita pegang: kerja karena suka dan rela. Membantu proses politik ini sebagai relawan bukan bayaran, ini prinsip yang akan terus saya pegang saat membantu pasangan calon presiden dan wakil presiden yang saya pilih.

Dan ada juga yang bertanya, kenapa bersedia untuk jadi juru bicara? Saya selalu katakan, bukan posisi dan nama jabatan yang penting, tapi makna apa yang diberikan di setiap peran yang kita lakukan. Peran bisa berganti, tapi di peran apapun kita harus memberikan makna yang positif dan harus bisa menjalankannya dengan cara yang terhormat.

Mari kita saling jaga agar semangat kita adalah semangat membuat Indonesia yang lebih baik. Artinya semua yang telibat dalam proses ini adalah Indonesia juga, baik yang mendukung Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Artinya, jangan terbersit pikiran untuk menjatuhkan apalagi merendahkan. Jangan merendahkan calon dan jangan pula merendahkan pendukungnya. Mereka semua adalah saudara sebangsa. Perbedaan pilihan ini akan selesai pada hari Rabu 9 Juli jam 13 siang. Sesudah itu apapun pilihannya, kita harus taat pada keputusan seluruh rakyat. Kita harus terus kerja bersama, kerja untuk memajukan manusia Indonesia.

Continue reading “Anies Baswedan: Kenapa Saya Memilih Untuk Tidak Netral?”

Menolak Lupa 1998

http://ismaielcreativity.blogspot.com

Beberapa kawan menjemput saya di kos di Blunyah Gede. Sore masih belia, hari belum gelap ketika kami berdiskusi serius di kamar sederhana itu. Tak lama berselang, kami sudah berada di kampus dan bersiap merencanakan aksi esok hari. Hari telah gelap, kami berkumpul di sebuah ruang yang biasa digunakan oleh BEM Teknik UGM untuk rapat dan berkegiatan. Saya memegang kuas, memandang penuh gelisah kain putih di depan kami. Semua nampak tegang, belum sepenuhnya yakin dengan keputusan kami. “Tulis saja, Ndi, masa’ kita nggak berani?!” kata seorang kawan memberi semangat.

Saya celupkan ujung kuas pada kaleng cat yang sudah terbuka sejak tadi. Dengan tangan yang agak bergetar, saya sentuhkan ujung kuas yang berlumur cat itu ke kain yang putih bersih. Teman-teman saya seperti bersorak dalam hati tetapi tidak satupun berani bicara. Satu persatu huruf tertulis di atas kain itu sampai akhirnya terangkai satu frase “TURUNKAN SOEHARTO”. Saya merasa telah melewati satu lorong sempit yang gelap dan bernafas lega. Menuliskan frase itu seperti dihimpit batu besar dan sulit bernafas. Maka tak heran, kami lega setelah frase itu tertulis dan tak mungkin dihapus lagi. Saya tersenyum, teman-teman merasa lega dan saling menyemangati. Itu adalah kali pertama kami menuliskan frase yang ketika itu terasa bergitu menakutkan dan mengancam hidup.

Continue reading “Menolak Lupa 1998”

Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar

Mendiskusikn buku
Mendiskusikan buku dengan Pak Marty

Seorang anak SMA di Banyumas menghubungi saya lewat komentar di blog. Fajri, demikian namanya, bukan orang pertama yang berkomentar di blog tetapi dia termasuk yang istimewa. Fajri adalah satu dari sedikit yang mengemukakan keinginannya secara langsung untuk bertemu saya. Berawal dari membaca buku saya, menelusuri blog dan akhirnya berujung pada ketertarikan Fajri pada gagasan-gagasan saya. Singkat kata, dia merasa perlu bertemu. Tujuannya sederhana saja, ingin bertemu dan meminta tandan tangan. Saya respon positif keinginan itu dan kami akhirnya bertemu di kantin Fakultas Teknik UGM.

Gedung PBB di New York, penghujung tahun 2007

Saya melihat lelaki berwibawa itu berdiri di samping saya, hanya sekitar dua meter. Saya tahu orang itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Marty Natalegawa. Saya diam, tercekat tidak bisa bicara dan dirundung ragu yang teramat sangat. Satu sisi diri saya mengatakan “ayo, sapa dia. Kapan lagi bisa menyapa Duta Besar Indonesia untuk PBB kalau tidak sekarang. Ini kesempatanmu.” Sementara itu, sisi lain dari diri saya berbisik “eh, kamu itu siapa?! Sadar diri dong! Kamu anak desa, orang tua tidak rampung pendidikan dasar, dan tidak kaya. Kamu tidak selevel dengan Marty Natalegawa. Paling-paling kamu dicuekin kalau menyapa. Malu kan?! Sudahlah, tidak usah menyapa. Lebih baik diam, cari aman. Kamu terhindar dari ancaman rasa malu dan tengsin.” Dua imajinasi ekstrim itu menguasai saya, muncul silih bergandi dan adu kuat.

Continue reading “Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar”