Menimbang Dudy sebagai Ketua PPIA Pusat

oleh I Made Andi Arsana*

Biasanya saya tidak menyatakan dukungan politik kepada seseorang secara terbuka. Bukannya tidak memiliki pilihan tetapi saya lebih sering menjadikan pilihan itu sebagai keputusan pribadi dan tidak ingin mengganggu pilihan orang lain. Kali ini rupanya berbeda. Saya ingin menulis sepotong ingatan saya tentang seorang anak muda bernama Ahmad Alamaududy Amri (Dudy) yang saya kira layak untuk menjadi Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia periode 2013-2014. Saya tentu saja tidak dibayar untuk menulis ini karena politik PPIA memang tanpa uang dan saya yakin Dudy tidak mampu membayar saya untuk ini :)

dudy1

Saya mencatat, Ketua PPIA Pusat terakhir yang berasal dari NSW adalah Uda Miko Kamal yang sudah menyelesaikan tugasnya tiga tahun lalu. Semenjak itu, NSW bahkan tidak mengirimkan calon untuk berlaga dalam pemilihan Presiden PPIA Pusat. Setelah tiga tahun vakum, rasanya tidak berlebihan jika NSW kembali meramaikan pesta demokrasi ini. Inilah alasan utama mengapa saya ingin ada calon dari NSW. Pencalonan ini adalah bentuk partisipasi aktif mahasiswa NSW dalam memikirkan hal-hal yang sedikit lebih dari sekedar belajar dan penelitian selama menuntut ilmu negeri kangguru ini. Bagi saya, semua calon tentu ingin menang dan semua pendukung akan senang jika calon yang didukungnya menang tetapi dukungan ini lebih dari sekedar kalah menang. Bahwa bisa mewarnai proses demokrasi sehingga membuatnya menjadi sebuah kompetisi bermutu adalah keberhasilan tersendiri. Saya selalu yakin bahwa menjadi Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia di luar negeri adalah sebuah prestasi dan pembuktian kualitas. Maka keterlibatan saya secara aktif mendukung seorang calon adalah dalam rangka membantu terciptanya sebuah proses untuk menegaskan kualitas itu. Siapapun yang terpilih, tentu akan lebih bangga dan terjamin kualitasnya, jika prosesnya diwarnai kompetisi yang sehat dan bermutu. Sekali lagi, dukungan ini lebih dari sekedar politik kalah menang.

Saya mengenal Dudy pertama kali ketika dia mengontak saya sebagai calon mahasiswa di Universitas Wollongong. Saya juga menerima banyak email lainnya sehingga Dudy pada awalnya tidak istimewa. Yang membedakan dia adalah tatacara berkomunikasinya yang berbeda. Saya lihat sudah terlalu banyak anak muda yang bahkan tidak paham bahwa email itu harus dibuka dan ditutup dengan salam. Tidak hanya sekali dalam sehari saya menerima email demikian. Dudy punya kualitas diplomat dalam berkomunikasi. Tak heran karena belakangan saya tahu, Dudy termasuk dalam jajaran terbaik di angkatannya yang masuk Kementerian Luar Negeri. Hal ini ditegaskan saat saya bertemu Dudy pertama kali di Jakarta. Caranya berkomunikasi membuat saya nyaman. Diplomat yang baik memang demikian: berkualitas tetapi kehadirannya tidak mengancam.

Saat bertemu di IALF Jakarta, saya sudah mendengar, Dudy sering dibicarakan banyak orang. Selain karena punya kualitas the most wanted bachelor of the year, Dudy rupanya masih muda sekali untuk ukuran mahasiswa S3. Usianya belum 23 tahun ketika menginjakkan kaki pertama kali di University of Wollongong awal 2013 ini. Inilah yang rupanya menjadi buah bibir di IALF ketika itu. Ada seorang kawan yang nyeletuk “melihat Dudy, saya bertanya-tanya dalam hati, ke mana saja saya selama ini”. Tidak hanya itu, Dudy ternyata masuk Kemlu di usia 19 tahun. Konon banyak orang yang berkelakar “ngapain anak SMP masuk Kemlu”. Tapi Dudy berhasil tunjukkan, usia muda itu tidak membuatnya harus diremehkan. Buktinya dia termasuk jajaran terbaik ketika mengikuti Sekolah Pendidikan Luar Negeri untuk angkatannya. Dengan itu Dudy berkesempatan magang di KBRI Canberra dan mengikuti pendidikan lajutan di Belanda. Australia memang bukan tempat yang asing bagi Dudy.

Prestasi dia di dunia kerja memang memukau saya tapi tentu saja bukan itu alasan saya untuk mendukungnya sebagai calon Presiden PPIA Pusat. Saya berkesampatan bekerja dengan Dudy untuk menggerakkan PPIA Wollongong. Sebagai anak baru, Dudy memiliki energy yang sangat tinggi dan inisiatif yang luar biasa. Selain itu, yang lebih penting, Dudy memiliki kemauan untuk mewujudkan gagasan itu. Dudy paling semangat kalau diajak untuk mempromosikan Indonesia dan PPIA kepada komunitas internasional di University of Wollongong. Karena keaktifannya itu, dia bahkan beberapa kali diminta untuk memberikan workshop kepada pelajar Australia tentang budaya Indonesia. Saya paham, hal ini tidak mudah dilakukan ketika sibuk dengan proposal penelitian dan makalah yang harus diselesaikan. Dudy memang memiliki semangat yang tinggi untuk mewakili Indonesia di Australia. Dudy punya cita-cita, meskipun sedikit, mahasiswa Indonesia di Wollongong harus terdengar kiprah positifnya di Australia. Maka dari itu Dudy semangat sekali mewujudkan Radio PPIA Wollongong yang digawanginya setiap Sabtu malam.

dudy10

Tidak hanya di PPIA, Dudy ternyata aktif juga di kelompok pengajian orang Indonesia di Wollongong. Saya tahu betul, Dudy memiliki pemahaman yang sangat bagus tentang agama. Meski demikian, itu tidak membuatnya menjadi eksklusif. Pendekatan Dudy sangat inklusif dan saya merasakkan itu. Saya yakin Dudy memiliki kualitas pemimpin bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Dia jelas dan tegas soal keyakinannya sendiri tetapi memiliki penghormatan yang tinggi terhadap keyakinan orang lain. Kami berbeda agama tetapi kami nyaman bercerita soal keyakinan tanpa merasa ada yang terancam. Dudy selalu ingat mengundang saya datang ke acara kumpul-kumpul teman-teman muslim, terutama kalau ada makan bersama. Thank you Dudy :)

Di Centre tempat kami belajar, ANCORS, di University of Wollongong, kedatangan Dudy memberi warna tersendiri. Saya tertawa sendiri ketika beberapa kawan saya, terutama yang cewek, dari berbagai negara sempat heboh ketika Dudy baru datang. Elly, seorang kawan dari Taiwan, setengah serius bahkan menyampaikan ke saya, “can you arrange so Dudy can be stationed in level three?” Nampaknya semua senang berada dekat dengan Dudy. Hal ini tidak hanya jadi kelakar karena ternyata di hari-hari berikutnya memang Dudy disenangi semua orang. Dudy yang anak baru sudah dipercaya aktif mengorganisasi kegiatan-kegiatan di luar akademik yang biasa kami lakukan. Dudy selalu semangat untuk menghadiri acara yang memberikan kesempatan interaksi informal dengan mahasiswa dari berbagai negara. Saya yakin keluwesannya dalam bergaul dan kemampuan berbahasa Inggris yang sangat baik menolong dia untuk bisa diterima di komunitas internasional di kampus kami. Ini juga dia tunjukkan dengan membawa PPIA Wollongong bertanding futsal dengan berbagai komunitas internasional di Wollongong.

dudy6

Selain teman, Dudy berhasil mencuri simpati dari supervisornya dalam waktu singkat. Tentu saja karena kerjanya yang baik. Berbeda dengan teman-temannya, Dudy sudah terlibat konferensi dan workshop bahkan sebelum semester pertamanya mendekati ujung. Martin Tsamenyi, seorang ilmuwan terkemuka di bidang Hukum Laut, sepertinya percaya sekali pada Dudy. Beruntung sekali dia bisa dibayari untuk berbagai kegiatan di Indonesia dan bahkan di negara lain. Saya tahu, tidak semua mahasiswa PhD di tempat kami memiliki kemewahan itu. Karena mengetahui kualitas dan cara kerja Dudy, saya sendiri tidak heran mengapa seorang Martin bisa begitu cepat jatuh hati pada Dudy. Martin sering berkelakar, “You watch this guy, he will be someone important in the future.” Diam-diam, saya melihat profil Marty Natalegawa muda pada Dudy. Atau saya bisa saja tertipu karena kacamata mereka memang mirip sekali :) Saya pernah lihat sebuah foto, Dudy menerima tumpeng dari Pak Marty karena dinobatkan sebagai diplomat termuda di angkatannya.

dudy11

Berbeda dengan mahasiswa pintar lainnya, Dudy sepertinya sangat seimbang hidupnya. Dudy aktif main futsal dan ternyata bisa bermain dengan bagus. Ya, kalau dibandingkan dengan saya sih dia jauh di atas. Dia memiliki hobi universal, yaitu olah raga, yang saya yakin akan membantunya dalam melakukan interaksi dengan banyak orang. Saking semangatnya, dia berhasil meracuni salah satu dosen muda potensial di tempat kami untuk main futsal, sesuatu yang tidak pernah dilakukan dosen itu, dan bahkan mungkin tidak pernah mampir dalam kamusnya. Dudy memang punya bakat merayu orang. Saya yakin bakat merayu ini tidak hanya berlaku pada dosen muda laki-laki :)

dudy4

Suatu hari saya terkesima mendengar ceritanya yang konyol dan berujung heroik. Dudy pernah tersesat bersama seorang temannya di Queensland dalam perjalanan wisata karena terjadi masalah pada transportasi. Dudy dan temannya, jika saya tidak salah ingat, ada di Queensland pada malam hari dan tidak mengenal siapapun. Komunikasi juga jadi kendala. Di saat seperti itu dia memberanikan diri mengetuk pintu orang asing. Saya tidak habis pikir bagaimana Dudy berhasil meyakinkan orang itu untuk menolongnya. Saya yakin, diperlukan kemampuan persuasi yang hebat untuk bisa menyakinkan orang asing di tengah malam untuk mengantarnya ke suatu tempat. Saya bisa bayangkan, orang asing yang ternyata berasal dari India itu tentulah penuh curiga ketika di malam gelap mendapatkan orang asing seasing asingnya mengetuk pintunya. Bahasa tubuh yang baik dan kemampuannya untuk meyakinkan orang asing sekalipun rupanya yang menyelamatkan dia malam itu. Kita tentu tidak ingin seorang ketua PPIA yang suka tersesat tetapi cerita ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk berdiplomasi dan meyakinkan orang adalah bakat alami Dudy yang akan bermanfaat di mana saja.

Saya memang suka ngobrol dan Dudy juga suka sekali berbagi. Kami tahan ngobrol berlama-lama untuk berbagai topik. Suatu hari saya tanyakan kegiatan organisasinya ketika kuliah di Universitas Sumatera Utara dulu. Dia aktif di sebuah organisasi mushola yang ketika itu tidak begitu aktif berkegiatan. Dudy punya pandangan bahwa aktivis mushola bisa berkiprah lebih dari sekedar mengaji. Di situlah Dudy berhasil mentransformasi organisasi keagamaan itu menjadi lebih modern dan beragam dalam hal program kegiatan. Dia berhasil menyelesaikan 55 kegiatan dalam masa kepemimpinannya dan membuat berbagai terobosan.

Saya masih ingat ketika dia mengadakan kegiatan bakti sosial di suatu daerah terpencil. Perizinan tidak mudah, dukungan tidak banyak tapi Dudy masih bersikeras. Saya bisa bayangkan, tentu tidak mudah meyakinkan teman-temannya ketika itu. Pendekatan ke pendudukpun tidak mudah karena itu bukan hal yang biasa bagi penduduk. Jika tidak salah ingat, waktu itu dia adakan sunatan masal dan juga penyuluhan hukum . Dia juga berhasil menggandeng teman-temannya dari Fakultas Kedokteran USU untuk terlibat. Keitka saya goda “paling kamu mau cari cewek aja melibatkan mahasiswa kedokteran”, Dudy tertawa lebar. “Nggak lah Mas. Tapi memang seru kalau digabung kaya gitu. Teman-teman jadi lebih bersemangat” kataya menegaskan. Saya menangkap, Dudy menyadari naluri kawan-kawannya sesama anak muda yang punya keinginan kuat berinteraksi dengan teman-teman beda fakultas. Hal itu berhasil dia manfaatkan dengan baik untuk diwujudkan dalam kegiatan positif. Kegiatan itu berlangsung lancar dan berhasil, mungkin termasuk yang pertama dengan keseriusan seperti itu. Mendengar cerita itu, saya jadi ingat Chaerul Tanjung yang melakukan hal serupa ketika masih mahasiswa.

Yang paling menarik menurut saya, Dudy lakukan semua kegiatan bakti sosial itu dengan usahanya sendiri dan teman-temannya. Dia tidak mau mengandalkan aksesnya kepada pejabat yang sebenarnya dia miliki. Dengar-dengar, camat di kawasan tersebut adalah pamannya. “Aku tidak mau dianggap memanfaatkan akses ke pejabat Mas” tandasnya.

Oh ya, mungkin ada yang bertanya mengapa Dudy bisa masuk Kemlu umur 19 tahun? Banyak yang menduga dia ikut akselerasi selama sekolah. Ternyata tidak hanya itu. Pertama, dia memang pernah mengalami akselerasi ketika masuk SD pertama kali. Kedua, Dudy diuntungkan dengan situasi karena melanjutkan pendidikan SD di India yang notabene lebih singkat masa waktunya. Jadi dia tamat SMA memang pada usia yang lebih muda daibandingkan orang Indonesia kebanyakan. Dudy bersekolah di India karena ikut ayahnya yang diplomat. Saya jadi paham, Dudy memang memiliki naluri diplomasi yang kuat karena bergaul dengan diplomat setiap hari. Rupanya ayahnya yang diplomat adalah juga mentornya. Naluri diplomat ini terlihat dari caranya berinteraksi dengan orang lain. Alasan ketiga adalah karena Dudy memang pintar. Dia selesaikan S1-nya di Fakultas Hukum USU dalam waktu 3 tahun 2 bulan saja dan itupun dengan segudang kegiatan. Dudy terplih sebagai juara satu di tingkat FH USU dan juara dua di tingkat USU dalam ajang mahasiswa berprestasi untuk dua tahun berturut-turut. Itu adalah rintisan dari FH karena sebelumnya tidak ada pencapaian demikian dari FH USU.

Dudy pernah bercerita tentang sekolahnya di India. Konon, saat di India, Dudy dipercaya sebagai School Captain yang membawahi semua anak satu sekolahan di bawah Grup Merah. Mendengar kata School Captain, saya jadi ingat Harry Potter. Bagi pelajar asing, dipercaya menjadi School Captain di sekolah India tentu tidaklah mudah. Saya jadi ingat, Bisa jadi ini yang membuat Dudy bisa merayu orang india di Queensland ketika dia tersesat. Jangan-jangan Dudy berbicara dengan logat India sambil bercerita gaya film Bollywood waktu itu :) Oh ya, Dudy memang punya kemampuan meniru aksen India dengan baik. Maka tak heran kalau dia suka Russel Peters, standup comedian Kanada keturunan India itu.

Ada cerita menyentuh saat Dudy sekolah di India. Konon dia pernah ‘dilamar’ oleh suatu grup karena dianggap berbakat. Untuk ini Dudy diminta keluar dari grupnya saat itu karena dia akan sulit berkembang jika berada di grupnya itu. Dudy sempat tergoda karena grup baru ini jauh lebih menjanjikan dan dia pasti akan berkembang di sana. Teman-temannya grupnya tiba-tiba mendatangi dan memohon Dudy tidak pindah. Mereka mengakui mereka tidak bagus tetapi grup bukanlah semata-mata soal prestasi tetapi soal persahabatan dan kesetiaan. Dudy memutuskan untuk tetap menjadi bagian dari grup lamanya dan mereka tetapi bersama walaupun tidak menjadi yang terbaik di sekolahnya. Bagi saya ini sebuah pelajaran kesetiaan yang perlu dimiliki seorang pemimpin.

Saya pernah tanya, apa pencapaian paling membanggakan saat di organisasi di USU dulu. Setelah berhasill mengaktifkan organisasi mushola menjadi sebuah organisasi modern yang peduli pada aktivitas sosial, Dudy sempat jadi ketua umum Majelis Mahasiswa Universitas di USU. Tugas terberatnya ketika itu adalah menghadapi dualisme kepemimpinan eksekutif mahasiswa. Dudy bekerja keras untuk menyelesaikan dulisme itu dengan membenahi tatanan hukum. Dudy mengakui bahwa dia memang tidak berhasil menuntaskan dualism ketika itu tetapi berhasil membuat dasar hukum yang akhirnya dijadikan pijakan untuk solusi di tahap berikutnya. Dudy juga berhasil membenahi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi kemahasiswaan USU dan mendapat penerimaan semua pihak. “Jadi yang dipakai sekarang di USU itu hasil kerjamu Dud?” saya tanya. “Ya dong Mas. Masih dipakai sampai sekarang” katanya tertawa mengenang perjuangannya.

Setelah berinteraksi, saya lihat Dudy memang pintar dan mudah mengingat pasal-pasal hukum laut yang baru dipelajarinya. Setelah saya usut-usut ternyata Dudy memang terbiasa menghafalkan bahan pelajaran hingga puluhan lembar persis titik komanya ketika sekolah di India dulu. Menghafalan pasal-pasal hukum tentu bukan perkara sulit baginya. Saya sering diskusi soal hukum laut dan ternyata Dudy tidak hanya hafal tetapi juga paham. Memiliki daya ingat yang baik, saya yakin selalu bagus bagi seorang pemimpin. Tidak heran juga mengapa Dudy bisa menyelesaikan S2 di UGM dan UI dalam waktu yang tidak lama. Tentu saja di kedua tempat itu dia jadi wisudawan termuda. Bagaimana tidak termuda, dia kan harusnya masih SMP! :) Saya tidak mudah mengakui kehebatan orang lain tetapi Dudy memang luar biasa. Dia kandidat S3 di usia 22 tahun, memperoleh gelar S2 dari dua perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dan masuk Kemlu dalam usia 19 tahun. Sulit untuk membantah pencapaiannya. Maka wajar kalau Dudy berhasil memenangkan Australian Leadership Awards (ALA) untuk studi S3nya. Beasiswa ALA tahun 2013 diberikan hanya kepada 20an orang Indonesia dan 200 orang di seluruh dunia. Sangat kompetitif.

dudy7

Cerita tentang Dudy tidak akan habis dalam 2500 kata tetapi saya harus hentikan di sini. Intinya, saya merasa menemukan sosok yang tepat untuk memimpin PPIA Pusat. Saya tentu saja bias karena pada dasarnya semua orang bias tetapi saya berusaha membuat diri saya bias dengan sebanyak mungkin perspektif. Saya merasa cukup paham PPIA karena pernah menjadi pengurus pusat dan menjalankan tanggaung jawab dengan cukup baik. Saya menjadi pengurus pusat ketika terjadi gonjang ganjing komisi delapan at yahoo dot com terkait ‘plesir’ anggota DPR ke Australia. Saya memahami pergulatan organisasi ini dengan cukup baik dan saya yakin Dudy akan bisa bertumbuh dengan baik di dalamnya. Dudy tidak sempurna tentu saja, dan saya tidak selalu setuju dengan semua gagasannya tetapi saya yakin Dudy bisa diajak berbicara dan punya kemampuan yang baik untuk mendengarkan. Keluwesannya bergaul dengan berbagai generasi dan sikap inklusifnya dalam keragaman adalah modal untuk berkiprah di PPIA yang majemuk ini. Dudy masih single sehingga ruang gerak pergaulannya lebih leluasa di kalangan mahasiswa muda tetapi dia juga mahasiswa S3 yang bisa berinteraksi dengan mahasiswa senior. Dia cukup gaul karena usianya yang masih belia tetapi juga bisa serius dalam memikirkan hal-hal yang besar karena level pendidikannya. Maka saya ajukan sahabat saya, Ahmad Almaududy Amri, alias Dudy, sebagai calon presiden PPIA Pusat 2013-2014. Semoga Tuhan memberkati langkahnya.

Kongres PPIA, Sydney 26-27 Juli 2013.

* I Made Andi Arsana adalah mantan ketua PPIA University of Wollongong (2009-2010), pengurus PPIA Pusat 2010-2011, ALA dan ASA Scholar, PhD Candidate di University of Wollongong | madeandi.com | @madeandi |madeandi@ugm.ac.id

Mengakui Kebaikan, Menandai Kesalahan

kafka-kecilPagi itu saya sedang mengantri di kantor post Kingsford, Sydney untuk mengambil paket kiriman. Rumah sedang kosong ketika paket itu diantar ke rumah sehingga saya mendapat pesan untuk mengambilnya di kantor pos. Tepat ketika saya maju karena tiba giliran untuk dilayani, seorang lelaki berusia senja menepuk bahu saya dan dia meminta dilayani lebih dulu. Hal ini tidak biasa terjadi di Australia karena umumnya orang-orang mengantri dengan tertib. Tidak terbiasa dengan kejadian demikian, saya terperangah bengong. Tidak hanya saya, petugas kantor pos juga terlihat terkejut. Secara spontan perempuan muda, petugas itu, hendak mengingatkan si bapak tua untuk membiarkan saya dilayani terlebih dahulu. Melihat itu, saya memberi isyarat agar lelaki itu dilayani duluan. “It’s okay!” kata saya tersenyum untuk meyakinkan bahwa saya tidak apa-apa. Dari gaya bicaranya, saya duga lelaki tua itu seorang imigran. Dari wajahnya, kemungkinan besar dia berasal dari dari Eropa Timur.

Continue reading “Mengakui Kebaikan, Menandai Kesalahan”

Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa

Foto oleh Jerico Pardosi
Dr. Marty Natalegawa, foto oleh Jerico Pardosi

Tidak biasanya saya mengenakan setelan jas saat berada di Australia. Negeri ini penuh dengan suasana informal dalam hal penampilan, terutama untuk mereka yang berstatus mahasiswa seperti saya. Makanya, mengenakan jas adalah keistimewaan. Jika bukan karena menghadiri acara penting, mungkin jas itu tidak akan menjalankan tugasnya hari ini. Pagi-pagi sekitar jam 10, saya sudah melaju dengan kereta dari Central Station menuju Macquarie University, Sydney. Hari ini istimewa, Macquarie University akan menganugerahkan gelar doktor kehormatan di bidang sastra (Dr Honoris Kausa) kepada Dr. Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri Indonesia. Saya ingin menyaksikan sejarah itu.

Continue reading “Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa”

Diingatkan sopir taxi

http://bkpi.ung.ac.id/

Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah pengalaman yang tidak terlalu baik dengan seorang sopir taxi di Sungapura. Rupanya Tuhan ingin memberi saya pengalaman lengkap selama berada di Singapura beberapa hari terutama yang terkait dengan sopir taxi. Di hari terakhir saya ada di Singapura, saya berangkat dari penginapan ke Bandara Changi dengan taxi. Saat itu hampir jam empat pagi dan hari masih gelap ketika saya menghentikan sebuah taxi di depan penginapan. Dengan sigap saya bilang “airport please” ketika memasuki taxi. Sopir taxi menyapa ramah, “good morning, Sir!” ketika saya mulai duduk. Sayapun membalas sapaan itu dengan baik. “Morning flight Sir?” tanyanya sopan dan saya iyakan. Yang menarik adalah pertanyaan dia selanjutnya, tepat saat mobil mulai bergerak. “Make sure you don’t forget your paspor Sir. Have you got it?” katanya bertanya setengah mengingatkan. Mendengar pertanyaan itu, spontan tangan saya meraba tas dan menemukan paspor ada di tempatnya. “Oh thank you, I got it” kata saya sambil tersenyum dan berterima kasih.

Saya rasa pertanyaan singkat dan sederhana dari sopir taxi ini begitu penting. Dia sesungguhnya tidak punya kepentingan apakah saya sudah membawa paspor atau tidak karena urusan saya dengan dia hanyalah perjalanan dari penginapan ke bandara. Perihal paspor saya ketinggalan atau tidak, itu tidak ada kaitanya dengan keuntungan atau kerugian baginya. Meski tidak terkait dengan dirinya langsung, sopir taxi itu memilih untuk melakukan kebaikan kecil dengan sekedar bertanya atau mengingatkan. Meskipun itu tidak penting bagi dia, bagi saya, pertanyaan itu bisa bernilai ‘satu nyawa’. Dengan melemparkan pertayaan sederhana itu dia telah menyelamatkan calon penumpangnya dari kemungkinan ketinggalan pesawat atau bahkan tidak diperkenankan masuk bandar udara.

Continue reading “Diingatkan sopir taxi”

Ketika Lita naik pesawat sendiri

http://superiorpics.com/

Lita, anak saya, mungkin tidak paham betul istilah ‘mandiri’ tapi orang-orang dewasa mungkin ‘menuduhnya’ demikian. Pasalnya, Lita berani pergi sendiri ke Bali dari Jogja naik pesawat saat usianya belum genap 7 tahun. Saat pertama kali melakukan itu, Lita berusia 7 tahun kurang satu bulan, tepatnya tanggal 12 Agustus 2012 dengan Garuda Indonesia. Banyak yang bertanya bagaimana Lita bisa melakukan itu. Saya akan berbagi kisah ini, semata-mata untuk memberi gambaran kepada para orang tua.

Sebenarnya, mengizinkan anak kecil naik pesawat sendirian masih tetap menjadi perdebatan bahkan sampai sekarang. Seorang teman baik saya bahkan tetap gigih mengingatkan saya agar ‘meninjau kembali’ keputusan untuk mengizinkan Lita terbang sendiri semalam sebelum jadwal terbangnya. Saya yakin ketulusannya dan menyadari hal itu dilakukannya semata-mata karena peduli dan menyayangi keluarga kami. Di saat seperti itulah, keberanian (atau kenekatan?) saya dipertanyakan. Jika kepedulian yang tulus dari teman saya itu berkuasa lebih dari kenekatan saya maka mungkin ceritanya akan lain. Entah apa yang membisiki saya ketika itu, saya tetap teguh pada keputusan semula. Ahhasil, Lita terbang untuk pertama kalinya ke Bali dari Jogja. Menariknya, bahkan setelah kejadian itupun masih banyak teman yang memberi komentar pesimis. Meskipun halus, saya merasa tidak sedikit yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan kami mengizinkan Lita terbang sendiri. Kepada mereka semua, saya berterima kasih dan menempatkan kepedulian itu di ubun-ubun, di tempat yang terhormat. Hanya saja, untuk hal ini kita bersepakat untuk berbeda pendapat.

Continue reading “Ketika Lita naik pesawat sendiri”

Diplomasi Sopir Taxi

Saya memesan taxi untuk berangkat dari Orchard Hotel di Singapura menuju penginapan lain tidak jauh dari Bandara Changi. Sadar tidak paham lingkungan di Singapura, saya menggunakan Google Maps untuk penunjuk arah. Meskipun naik taxi, saya ingin tahu waktu tempuh dan rute perjalanan. Ketika memasuki taxi, saya jelaskan tujuan saya dengan alamat dilengkapi nama dan nomor jalan. Pak sopir lalu menanyakan daerah yang ingin saya tuju. Saya paham, bagi orang lokal, akan lebih baik diberitahu nama daerah atau kawasan, tidak sekedar nama jalan dan nomornya. Dengan Google Maps yang sudah disimpan sebelumnya saya memberitahu sang sopir. Kamipun melaju.

Di tengah jalan beberapa kali pak sopir bertanya rute yang ingin saya lewati. Di satu persimpangan, misalnya, dia bertanya apakah saya ingin lurus atau lewat kiri dengan memberi pertimbangan untung ruginya. Saya kira ini sikap yang baik. Saya pun manut saja, yang penting cepat. Meski demikian, saya tetap melihat peta navigasi di iPad.

Semua berjalan baik-baik saja hingga kami tiba di satu persimpangan. Saya lihat peta di iPad menyarankan belok kiri tetapi rupanya pak sopir hendak lurus. Saya dengan santai bilang “according to the map, we can turn left here”. Dia langsung menjawab, kalau ke kiri akan macet dan justru lebih lama. Mendengar itu, saya paham dan tidak memaksa “Oh okay, no problem” kata saya dengan santai. Dia berusaha menjelaskan situasi lalu lintas di Singapura dan saya tentu paham. Tiba-tiba dengan nada yang tidak seramah tadi, dia tanya “do you want to turn left?” Saya segera jawab “no, I am just saying. Please continue. No problem.” Entah bagaimana ceritanya, dia tidak berhenti di situ dan tetap berbicara yang menurut saya terdengar seperti membela diri secara berlebihan. Saya duga, dia mengira saya memaksa dia lewat kiri sementara dia sudah terlanjur memilih jalur lurus. Lebih jauh lagi, suaranya tiba-tiba agak naik, mengatakan bahwa kalau saya ingin belok kiri, harusnya saya mengatakan dari awal, tidak tiba-tiba di persimpangan. Untuk kalimat yang terakhir ini saya maklum, rupanya dia salah paham dengan pernyataan saya. Sadar akan hal ini saya hanya bilang “oh okay, no worries”. Saya ingin menenangkan suasana dan menghindari perdebatan yang tidak penting.

Di luar dugaan, sopir ini tidak menyudahi di situ, dia tetap berbicara banyak, menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dan tidak ingin saya ketahui. Yang lebih menyedihkan, nada bicaranya tinggi dan cenderung menyalahkan. Ada kesan bahwa dia yang tahu Singapura dan saya tidak begitu paham. Tentu saja itu benar karena dia seorang sopir taxi di Singapura dan saya hanyalah penumpang asing. Saya memilih untuk diam saja, menahan emosi yang mulai naik juga. Tidak elok berdiplomasi dengan seorang sopir taxi untuk hal-hal yang tidak akan membuat perjalanan saya jadi lebih cepat. Kamipun terdiam agak lama.

Saya berusaha mencairkan suasana dengan bertanya hal-hal lain. Saya tanyakan populasi Singapura untuk sekedar berbasa-basi. Saya terkejut bukan kepalang ketika dijawab dengan ketus nada tinggi “six millions”. Dalam hati saya tersenyum geli melihat polah sopir taxi ini tapi saya hanya mengiyakan. Saya tidak paham mengapa hal kecil itu bisa membuat dia sedemikian emosi begitu lama. Lebih parah lagi, dia mulai melaju kencang dan kasar karena sering harus ngerem mendadak di jalanan Singapura yang tidak lengang. Saya mulai tidak nyaman tetapi berusaha menahan diri agar tidak terjadi interaksi yang lebih tegang.

Suatu ketika, saya mendengar ada peringatan dari GPSnya bahwa taxi itu melaju terlalu cepat, melebihi kecepatan yang diizinkan. Saya mulai merasa tidak nyaman dan khawatir dengan keselamatan. Gerakan mobil itu terasa kasar dan grasa grusu. Saya masih diam sambil menyiapkan strategi komunikasi terbaik. Belum sampat saya berkata apa-apa, peringatan yang sama terdengar lagi dari GPS. Dengan spontan saya berkata “I think you are too fast” dan disambut dengan suara tinggi oleh pak sopir “you think 60 is too fast? What do you want? 40? It will be very slow. When will we arrive there?” Jawaban itu terus terang membuat emosi saya naik drastis. “I don’t know the rule here, Man but the GPS said that we are too fast. That’s it!” Tidak mau kalah, dia lalu bilang “there is something wrong with the GPS. The speed is only 60. It is not too fast. What do you want? 40?” lagi-lagi dia mengulang ucapannya. “Sorry I don’t know that your GPS is broken. That is what I heard and I can feel that you are too fast. Slow down a little bit” kata saya masih berusaha tenang meskipun suara saya pastilah mulai bergetar. “No, the GPS is broken” katanya masih dengan nada tinggi.

Belum lagi kami selesai berargumen, GPS mengeluarkan peringatan yang sama bahwa kami melebihi kecepatan yang diizinkan. Di situlah saya mulai kehilangan kendali kesabaran dan saya pun berteriak. “Hey, Man! You are too fast and I know that. I am not stupid. Slow down!” mendengar saya berteriak rupanya dia sedikit terkejut karena tidak menduga saya berani melakukan itu. Tapi karena terlanjur merasa di atas dari tadi, dia tidak berubah sikap. Dia tetap membela diri bahwa itu tidak terlalu cepat. Saya sudah lupa dengan segala sopan santun dan berteriak “Hey, you shut up!” tapi dia masih berucap walaupun kini dengan nada suara yang sudah agak turun. Tanpa ampun saya mengulang lagi, kali ini lebih keras dan kasar “You ******* shut up!” sambil menunjuk wajahnya dari belakang. Seketika dia tercekat dan diam. Saya melanjutkan dengan emosi yang masih menyala “I am a customer here and you are providing me with service. You know that! My concern is my safety. I don’t care your GPS is broken or not, when I say slow down you ******* slow down, OK! Who do you think you are man?! I have been very patient to listen to your lecture along the way. I could feel that you underestimated me, right?! You are wrong, Man! I know I am not from here. I am from Indonesia but I know the law and you don’t play with me, Man!” Saya bicara dengan nada sangat tinggi dan itu membuatnya terkejut luar biasa. Dengan spontan dia bilang “sorry Sir” sambil gemetar, meskipun terdengar tidak ikhlas. “What is your name?” kata saya dengan nada mengancam. Diapun menyebut satu kata dan saya tidak puas dengan itu “tell me your full name!!!” dan diapun menyebutkan nama lengkapnya. Dengan nada khawatir dia bertanya “what for Sir?” Kali ini saya ingin memberinya pelajaran kecil “you know what for. I can call your company and you don’t have to wait until tomorrow, you will lose your job tonight!” Saya bisa melihat wajahnya pucat dan kemudian berkali-kali minta maaf “I am really sorry Sir” katanya berulang-ulang, kali ini dengan nada yang memelas.

Diam-diam saya mulai kasihan pada lelaki malang itu. Meski demikian emosi saya belum reda dalam waktu yang sesingkat itu. Giliran saya memberi kuliah padanya. Saya ungkapkan semua kejadian tadi dan saya sadar betapa angkuhnya dia menanggapi saya. Saya juga tahu dia telah meremehkan saya. Saya tanya “is it because you know that I am a foreigner so you treat me that way? If this is the case and this can be very long because I will not stop it here!” Mendengar itu dia semakin takut “no Sir. I didn’t mean that. I am really sorry Sir. It was my mistake. I apologise, really!” kata-katanya memelas, sirna sudah keangkuhan yang tadi dipamerkannya. Mendengar itu, amarah saya mereda. Pelan-pelan saya menyadari situasi dan berusaha mengusir emosi. “You know what ***?!” kata saya dengan nada lebih tenang. “Yes Sir?” jawabnya santun. “I like this country because you provide friendly environment and respect foreigners like me. And what you just did does not at all reflect that. That is why I was so upset. I hope you understand that.” “Yes Sir, once again I am sorry Sir” katanya dengan nada halus dan santun. Sayapun memilih untuk diam menenangkan diri.

Mendekati tujuan, dia bertanya dengan sopan dan takut-takut karena dia ternyata tidak tahu persis alamat yang kami tuju. Memang tidak mudah menemukan nomor gedung di saat gelap seperti itu. Saya hanya bilang “just go straight, I will tell you.” Saya memang aktifkan Google Maps Navigation sehingga bisa tahu persis tujuan saya. Kamipun sampai di tempat yang saya tuju. Pak sopir kembali minta maaf dengan tulus dan kali ini saya tanggapi dengan tulus juga “that’s Ok, no worries. No problem between us, ***” Tidak berhenti di sana, saya merasa tidak tega membuat hatinya gundah gulana. Dia pasti masih sangat khawatir kalau-kalau saya akan menelpon perusahaannya atau melakukan tindakan hukum. Saya berkata “I know that I was also angry and impolite yelling at you but you know the reason.” “Yes, Sir, I understand” katanya. Saya lanjutkan, “I will not prolong this case, don’t worry. I also apologise for what I have said to you. I realise it was not appropriate”. Mendengar itu dia berkata “no, Sir, that’s fine. I am sorry once again.” Saya menjabat tangannya saat keluar dari taxi.

Saat taxi itu melaju saya dihinggapi rasa lega. Lega karena telah menggagalkan sebuah penindasan oleh satu manusia terhadap manusia lainnya. Terlebih lagi, lega karena saya telah meminta maaf dengan tulus kepada seorang asing yang perasaannya mungkin saya lukai.

PS. Kejadian di atas murni insiden antara sopir taxi dan penumpangnya, tidak terkait hubungan antarnegara, apalagi nasionalisme 🙂 Komentar sebaiknya fokus pada insiden tanpa membawa-bawa nama negara 😉

Perlukah Minta Maaf?

Dato’ Noor Azis Yunan, Direktur Jenderal Maritime Institute of Malaysia (MIMA) membuka acara konferensi MIMA tentang Selat Malaka dengan mengucap kata maaf. Maaf ini disampaikan dengan nada yang begitu tulus kepada para peserta konferensi, khususnya yang berasal dari luar Malaysia. Permohonan maaf ini terkait dengan situasi Kuala Lumpur yang sedang berkabut dan berasap. Pada tanggal 24 Juni lalu, Kuala Lumpur memang tidak seramah semestinya karena kabut yang menyelimuti. Dengan Bahasa Inggris yang santun, Dato’ Yunan memohon agar para peserta memahami situasi ini dan dengan rendah hati mohon maaf jika peserta merasa teraganggu. Dato’ Yunan juga menyampaikan bahwa tahun ini asap muncul agak lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya dan ini di luar antisipasi panitia. Yang menarik perhatian saya, Dato’ Yunan sama sekali tidak meyinggung asal usul asap ini yang sesungguhnya dari Indonesia. Ucapan permohonan maaf yang tulus ini begitu berkesan bagi saya.

Di kesempatan lain, Duta Besar Tommy Koh, presiden United Nations Conference on the Law of the Sea (UNCLOS) III juga menyampaikan maaf dalam acara diskusi meja bundar di Singapura tanggal 28 Juni 2013. Kami memang merasakan ketegangan di ruangan itu sejak sehari sebelumnya. Diskusi meja bundar itu memang membahas sengketa Laut China Selatan yang kian memanas belakangan ini. Meskipun panitia berusaha keras memastikan diskusi berjalan dengan suasana akademik dan netral, ketegangan tetap tidak bisa dihindari karena yang hadir adalah para akademisi dari negara-negara yang bersengketa seperti China, Filipina, Taiwan, Malaysia, Vietnam. Prof. Koh memohon maaf bukan atas kesalahannya tetapi atas kelakar yang dibuat rekannya, Robert Beckman, yang mengatakan “infamous nine-dashed line map”. Kelakar itu memang membuat akademisi China yang hadir di sana sedikit terusik. Berbeda dengan Beckman yang menanggapi respon akademisi China dengan dingin, Prof. Koh mengambil inisiatif untuk memohon maaf dan mengharapkan akademisi China itu tidak memasukkan ke dalam hati. Yang mempelajari hukum laut akan tahu betapa besar nama Prof. Koh. Permohonan maaf untuk perihal kecil yang keluar dari mulutnya terdengar begitu istimewa. Beliau bahkan memohon maaf untuk kelakar kecil yang dibuat oleh temannya. Sungguh menarik.

Di lain kesempatan, saya juga membaca berbagai komentar negatif saat Presiden SBY mohon maaf terkait asap yang menggangu Malaysia dan Singapura. Agak berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Dato’ Yunan dan Prof. Koh, banyak orang di Indonesia yang melihat ucapan maaf yang disampaikan oleh Presiden SBY sebagai tindakan lemah. Benarkah demikian? Saya tidak paham politik luar negeri. Yang saya pahami adalah maaf diucapkan seseorang yang telah mengganggu orang lain dan maaf hanya bisa disampaikan oleh mereka yang besar hatinya. Maaf ini tentu saja berbeda dengan maaf-nya mpok Minah di Bajai Bajuri yang bahkan tidak dihayatinya. Maaf adalah pertanda adab, penciri kebesaran dan kemampuan menangani satu perkara dengan bijaksana.

Dalam percakapan saya dengan teman-teman di Malaysia dan Singapura, semua orang mengagumi sikap Presiden SBY. Di sisi lain, mereka juga sadar sesadar-sadarnya bahwa beberapa perusahaan yang terlibat dalam kebakaran atau pembakaran lahan di Indonesia berasal dari Malaysia dan Singapura. Mereka tahu bahwa kedua negara itu tidak bebas dari ‘dosa’ yang mengakibatkan tragedi lingkungan itu. Setiap kali saya sampaikan “I am sorry that the haze brings you troubles”, mereka dengan cepat menjawab “we know this is our problem and Malaysia [or Singapore] is also involved”. Mungkin mereka tidak mewakili keseluruhan bangsa mereka tetapi cukup melegakan mengetahui kesadaran itu ada pada sebagian orangMalaysia dan Singapura yang saya jumpai.

Perlukah kita mohon maaf? Tidak perlu jika kita tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Tidak perlu jika kita merasa bahwa maaf yang tulus itu akan merendahkan sang peminta maaf. Tidak perlu jika kita tidak paham bahwa maaf itu hanya bisa disampaikan dengan tulus oleh mereka yang tidak tertindas harga dirinya dan sadar bahwa perbaikan harus dilakukan. Lepas dari perlu tidaknya mohon maaf, yang penting adalah memastikan adanya perbaikan. Indonesia adalah bangsa besar yang tidak boleh takut pada bangsa apapun di muka bumi tanpa alasan yang jelas. Meski demikian, Indonesia juga bukan bangsa rendah diri yang melihat permohonan maaf sebagai pertanda kelemahan. Maafkan jika tulisan ini memuat gagasan yang berbeda dengan yang Anda yakini.

Subyektif

Jika Anda menggunakan Gmail, Anda pasti tahu kalau email dengan topik/subyek yang sama akan disusun menjadi percakapan. Topik yang dibicarakan pada suatu mailing list, misalnya, akan dikumpulkan menjadi satu percakapan dengan satu subyek. Positifnya, kita tidak akan kehilangan konteks percakakapan karena bisa melihat urutan komentar dalam satu percakapan panjang. Hal ini berbeda dengan email lain yang punya prinsip satu baris email untuk satu pengirim sehingga akan ada banyak email dengan subyek sama. Maka tidak jarang kita lihat ada orang yang tiba-tiba berkomentar di mailing list tentang suatu isu yang sebenarnya sudah selesai dibicarakan. Pada emailnya, topik pembicaraan tidak muncul sebagai percakapan seperti halnya di Gmail tetapi muncul sebagai email yang terpisah-pisah. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal demikian, terutama di mailing list yang rame.

Fitur Gmail yang seperti ini juga bisa menimbulkan kesalahan. Karena disusun dalam bentuk percakapan, pernah sekali waktu saya membaca komentar dari A lalu diteruskan membaca komentar lain dari B. Karena kurang perhatian, saya masih merasa membaca komentar A ketika membaca komentar B itu. Mengingat A adalah orang yang cenderung saya sukai maka pendapat B yang saya baca juga terasa positif karena secara psikologis saya merasa sedang membaca komentar A. Pada selang waktu berikutnya, saya baru sadar bahwa itu adalah pendapat dari B yang selama ini cenderung tidak saya setujui pemikirannya. Ketika dibaca ulang, tiba-tiba hal positif yang saya rasakan ketika membaca pertama kali tadi, hilang entah ke mana. Gmail itu mengajarkan saya satu hal bawa saya tidak bisa lepas dari sifat subyektif.

Saya duga, semua orang subyektif dalam kadar tertentu, dan setiap orang pasti bias dalam melihat sesuatu. Karena demikian halnya maka yang membedakan orang adalah caranya dalam mengekspresikan kesubyektifan dan kebiasan itu. Yang terbaik tentu saja adalah yang sedapat mungkin tidak merusak. Karena semua orang pasti bias, maka saya ingin memilih untuk dibiaskan oleh banyak perpektif, bukan kebenaran tunggal, apalagi yang dipaksakan.

Gara-gara nyetir

Jika kita membayangkan seseorang berdiri di depan ribuan orang lainnya dan memukau hadirin dengan gagasannya, umumnya kita membayangkan orang itu begitu hebat. Wajar jika kita menduga orang itu telah melakukan sesuatu yang besar dan hebat sehingga layak didengarkan, layak dikagumi bahkan layak dipuji. Jika orang itu kemudian mendapat tepuk tangan yang riuh, kita akan semakin yakin gagasannya pastilah baru, penting dan menggugah. Tapi pernahkan Anda membayangkan kalau seseorang bisa dipuja di atas sebuah pentas bergengsi, diakui kecemerlangannya hanya gara-gara dia nyetir mobil di tahun 2013? Lihatlah video ini, mungkin Anda akan setuju mengapa orang tersebut hebat sekali.

Manal Al-Sharif adalah perempuan Arab Saudi. Dia melakukan sebuah revolusi sosial di negaranya. Bukan dengan cara menurunkan penguasa yang tiran atau mengungkap korupsi yang parah. Manal melakukan revolusi dengan nekat nyetir mobil. Mengapa nyetir mobil bisa menjadi sebuah revolusi hebat? Karena di Arab Saudi, perempuan memang tidak boleh nyetir. Di luar segala hal-hal hebat terkait transformasi sosial yang begitu berharga dari cerita ini, saya menarik satu pelajaran penting. Untuk menjadi seorang pahlawan kita tidak harus melakukan hal-hal besar menurut orang lain atau pihak luar. Kepahlawanan bisa saja ditandai oleh sebuah tindakan yang kecil atau biasa menurut orang lain tetapi penting jika dilihat dari kacamata sendiri dan lingkungan terdekat. Yang terpenting ternyata bukanlah apa yang dilakukan tetapi seberapa besar dampak tidakan itu bagi lingkungan. Di negara tertentu, belum bisa nyetir di usia 18 tahun adalah keanenan, sementara di belahan dunia lainnya, berani nyetir bisa jadi tanda revolusi. Pada prinsipnya, sesuatu yang baik itu tidak harus terlihat rumit. Something good does not have to look difficult.

Sekelumit Ilmu untuk Papua

Vivi, seorang kawan yang sedang kuliah di Russia dan penggiat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), mengirimkan pesan pada saya lewat Facebook. Pada pesan itu dia mengenalkan saya dengan seorang akademisi di Sorong, Papua Barat bernama Dr. Kadarusman. Vivi menawarkan apakah saya bersedia memberi kuliah umum secara online untuk mahasiswa dan kolega Dr. Kadarusman di Akademi Perikanan Sorong (Apsor). Urusannya tentu tentang laut dan sekitarnya. Tanpa menunggu lama, saya menyampaikan kesediaan.

Continue reading “Sekelumit Ilmu untuk Papua”