Perlukah Minta Maaf?


Dato’ Noor Azis Yunan, Direktur Jenderal Maritime Institute of Malaysia (MIMA) membuka acara konferensi MIMA tentang Selat Malaka dengan mengucap kata maaf. Maaf ini disampaikan dengan nada yang begitu tulus kepada para peserta konferensi, khususnya yang berasal dari luar Malaysia. Permohonan maaf ini terkait dengan situasi Kuala Lumpur yang sedang berkabut dan berasap. Pada tanggal 24 Juni lalu, Kuala Lumpur memang tidak seramah semestinya karena kabut yang menyelimuti. Dengan Bahasa Inggris yang santun, Dato’ Yunan memohon agar para peserta memahami situasi ini dan dengan rendah hati mohon maaf jika peserta merasa teraganggu. Dato’ Yunan juga menyampaikan bahwa tahun ini asap muncul agak lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya dan ini di luar antisipasi panitia. Yang menarik perhatian saya, Dato’ Yunan sama sekali tidak meyinggung asal usul asap ini yang sesungguhnya dari Indonesia. Ucapan permohonan maaf yang tulus ini begitu berkesan bagi saya.

Di kesempatan lain, Duta Besar Tommy Koh, presiden United Nations Conference on the Law of the Sea (UNCLOS) III juga menyampaikan maaf dalam acara diskusi meja bundar di Singapura tanggal 28 Juni 2013. Kami memang merasakan ketegangan di ruangan itu sejak sehari sebelumnya. Diskusi meja bundar itu memang membahas sengketa Laut China Selatan yang kian memanas belakangan ini. Meskipun panitia berusaha keras memastikan diskusi berjalan dengan suasana akademik dan netral, ketegangan tetap tidak bisa dihindari karena yang hadir adalah para akademisi dari negara-negara yang bersengketa seperti China, Filipina, Taiwan, Malaysia, Vietnam. Prof. Koh memohon maaf bukan atas kesalahannya tetapi atas kelakar yang dibuat rekannya, Robert Beckman, yang mengatakan “infamous nine-dashed line map”. Kelakar itu memang membuat akademisi China yang hadir di sana sedikit terusik. Berbeda dengan Beckman yang menanggapi respon akademisi China dengan dingin, Prof. Koh mengambil inisiatif untuk memohon maaf dan mengharapkan akademisi China itu tidak memasukkan ke dalam hati. Yang mempelajari hukum laut akan tahu betapa besar nama Prof. Koh. Permohonan maaf untuk perihal kecil yang keluar dari mulutnya terdengar begitu istimewa. Beliau bahkan memohon maaf untuk kelakar kecil yang dibuat oleh temannya. Sungguh menarik.

Di lain kesempatan, saya juga membaca berbagai komentar negatif saat Presiden SBY mohon maaf terkait asap yang menggangu Malaysia dan Singapura. Agak berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Dato’ Yunan dan Prof. Koh, banyak orang di Indonesia yang melihat ucapan maaf yang disampaikan oleh Presiden SBY sebagai tindakan lemah. Benarkah demikian? Saya tidak paham politik luar negeri. Yang saya pahami adalah maaf diucapkan seseorang yang telah mengganggu orang lain dan maaf hanya bisa disampaikan oleh mereka yang besar hatinya. Maaf ini tentu saja berbeda dengan maaf-nya mpok Minah di Bajai Bajuri yang bahkan tidak dihayatinya. Maaf adalah pertanda adab, penciri kebesaran dan kemampuan menangani satu perkara dengan bijaksana.

Dalam percakapan saya dengan teman-teman di Malaysia dan Singapura, semua orang mengagumi sikap Presiden SBY. Di sisi lain, mereka juga sadar sesadar-sadarnya bahwa beberapa perusahaan yang terlibat dalam kebakaran atau pembakaran lahan di Indonesia berasal dari Malaysia dan Singapura. Mereka tahu bahwa kedua negara itu tidak bebas dari ‘dosa’ yang mengakibatkan tragedi lingkungan itu. Setiap kali saya sampaikan “I am sorry that the haze brings you troubles”, mereka dengan cepat menjawab “we know this is our problem and Malaysia [or Singapore] is also involved”. Mungkin mereka tidak mewakili keseluruhan bangsa mereka tetapi cukup melegakan mengetahui kesadaran itu ada pada sebagian orangMalaysia dan Singapura yang saya jumpai.

Perlukah kita mohon maaf? Tidak perlu jika kita tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup. Tidak perlu jika kita merasa bahwa maaf yang tulus itu akan merendahkan sang peminta maaf. Tidak perlu jika kita tidak paham bahwa maaf itu hanya bisa disampaikan dengan tulus oleh mereka yang tidak tertindas harga dirinya dan sadar bahwa perbaikan harus dilakukan. Lepas dari perlu tidaknya mohon maaf, yang penting adalah memastikan adanya perbaikan. Indonesia adalah bangsa besar yang tidak boleh takut pada bangsa apapun di muka bumi tanpa alasan yang jelas. Meski demikian, Indonesia juga bukan bangsa rendah diri yang melihat permohonan maaf sebagai pertanda kelemahan. Maafkan jika tulisan ini memuat gagasan yang berbeda dengan yang Anda yakini.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Perlukah Minta Maaf?”

  1. Sometimes great problems can be solved by a simple sorry, so why not Bli? Yang penting ikhlas 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s