Ketika Lita naik pesawat sendiri


http://superiorpics.com/

Lita, anak saya, mungkin tidak paham betul istilah ‘mandiri’ tapi orang-orang dewasa mungkin ‘menuduhnya’ demikian. Pasalnya, Lita berani pergi sendiri ke Bali dari Jogja naik pesawat saat usianya belum genap 7 tahun. Saat pertama kali melakukan itu, Lita berusia 7 tahun kurang satu bulan, tepatnya tanggal 12 Agustus 2012 dengan Garuda Indonesia. Banyak yang bertanya bagaimana Lita bisa melakukan itu. Saya akan berbagi kisah ini, semata-mata untuk memberi gambaran kepada para orang tua.

Sebenarnya, mengizinkan anak kecil naik pesawat sendirian masih tetap menjadi perdebatan bahkan sampai sekarang. Seorang teman baik saya bahkan tetap gigih mengingatkan saya agar ‘meninjau kembali’ keputusan untuk mengizinkan Lita terbang sendiri semalam sebelum jadwal terbangnya. Saya yakin ketulusannya dan menyadari hal itu dilakukannya semata-mata karena peduli dan menyayangi keluarga kami. Di saat seperti itulah, keberanian (atau kenekatan?) saya dipertanyakan. Jika kepedulian yang tulus dari teman saya itu berkuasa lebih dari kenekatan saya maka mungkin ceritanya akan lain. Entah apa yang membisiki saya ketika itu, saya tetap teguh pada keputusan semula. Ahhasil, Lita terbang untuk pertama kalinya ke Bali dari Jogja. Menariknya, bahkan setelah kejadian itupun masih banyak teman yang memberi komentar pesimis. Meskipun halus, saya merasa tidak sedikit yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan kami mengizinkan Lita terbang sendiri. Kepada mereka semua, saya berterima kasih dan menempatkan kepedulian itu di ubun-ubun, di tempat yang terhormat. Hanya saja, untuk hal ini kita bersepakat untuk berbeda pendapat.

Ada tiga faktor pendorong, mengapa Lita akhirnya terbang sendiri. Faktor itu adalah Lita yang memang berani, kami, orang tuanya yang ‘tega’ dan kakek nenek yang ikhlas mengizinkan. Lita jadi berani, mungkin karena tidak terlalu banyak tahu. Dia tidak dibiasakan untuk mengetahui berbagai bahaya dan risiko sejak kecil. Lita sangat jarang, kalaupun pernah, ditakut-takuti. Akibatnya tentu tidak selalu baik. Lita termasuk yang paling sering melakukan tindakan berbahaya dan merusak barang rumah tangga dibandingkan para sepupunya, misalnya. Akibat baiknya, Lita umumnya berani mencoba hal baru dan mudah sekali diyakinkan. Dia dengan mudah diyakinkan untuk berenang di kolam yang dalamnya tiga kali tubuhnya, misalnya.

Kami berdua, saya dan Asti, isteri saya, adalah orang-orang yang ‘tega’ dan ini adalah faktor kedua. Meskipun rasa sayang kami terhadap anak tidak diragukan, kami rupanya memiliki tingkat ‘ketegaan’ yang tinggi. Lita sudah terbiasa kami biarkan menginap di tempat saudara sejak kecil, misalnya tanpa merasa terlalu khawatir. Pernah di usianya yang belum dua Tahun, Lita sudah menginap di Bali beberapa hari sementara saya di Australia dan Ibunya di Jogja. Apa yang menyebabkan kami bisa demikian? Tidak begitu jelas. Anggap saja kami memang orang tua yang ‘tega’, itu saja. Saya yakin ada banyak orang tua yang tidak setuju dengan kami dan kami hargai itu. Kita bisa membuat satu disertasi doktor untuk membahas perbedaan pandangan ini, maka tidak perlu kita bahasa di sini.

Faktor ketiga adalah kakek nenek yang ikhlas memberi izin. Anda yang sudah punya anak tentu sepakat dengan saya bahwa faktor kakek nenek ini begitu penting dalam perkembangan anak. Tidak jarang, kakek nenek lebih protektif terhadap seorang anak dibandingkan orang tuanya sendiri. Saya bisa bayangkan, ‘proyek’ kami bisa gagal jika sikap ini ada pada orang tua dan mertua saya. Untunglah keempat orang tua kami sangat mendukung. Ketika saya tanya ibu saya secara pribadi, beliau mengatakan bahwa gerak-gerik dan gelagat Lita menumbuhkan kepercayaan pada kakek neneknya. Pertanyaan yang beliau punya adalah apakah hal ini memang umum/wajar dilakukan. Tentu saja itu tugas saya untuk mencari tahu dan meyakinkan beliau. Kakeknya di Jogja adalah insinyur sipil yang paham benar tentang seluk beluk penerbangan. Beliau tahu aturan resmi dan prosedur keberangkatan seorang anak kecil tanpa pengawasan orang dewasa. Artinya, beliau paham bahwa itu legal. Bapak saya tidak begitu banyak berkomentar karena yakin dengan keputusan saya dan Asti. Sementara mbah di Jogja juga tidak punya masalah dengan rencana itu. Beliau yang sangat taktis dan pragmatis justru yakin karena salah satu anak kosnya bekerja di bandara dan berjanji akan membantu segala sesuatunya. Intinya, Lita bisa demikian karena memiliki orang tua yang ‘tega’ dan kakek nenek yang ikhlas memberi kesempatan belajar yang mungkin tidak didapatkan oleh teman-teman sebayanya.

Perlu saya sampaikan bahwa secara hukum, apa yang dilakukan Lita itu sah. Garuda Indonesia, misalnya, memang memiliki aturan tersendiri tentang layanan anak kecil yang terbang tanpa orang tua. Mereka memakai istilah Unaccompanied Minor atau UM. Menurut Garuda Indonesia, layanan ini berlaku untuk anak usia 7-12 tahun. Kami juga melakukan penelitian dan konsultasi sebelum mengambil keputusan. Selain itu, maskapai penerbangan akan menganggap ini hal biasa dan mereka sudah punya prosedur baku sehingga si anak tidak mungkin terlantar. Kalau boleh saya menggunakan bahasa kelakar, Lita mungkin justru lebih nyaman ketika terbang sendiri dibandingkan ketika terbang bersama saya. Mengapa demikian? Lita akan dijemput di tempat chek in, tidak perlu antri dan langsung naik ke pesawat diantar oleh petugas. Saat turunpun demikian, Lita diantar oleh petugas sampai bertemu dengan penjemputnya di bandara tujuan. Singkat kata, jika memang ‘tega’ tidak ada alasan anak akan terlantar saat penerbangan.

Tradisi bepergian sendiri ini sebenarnya bukan hal baru di keluarga kami. Saya dan kakak saya pernah berkunjung ke tempat kakek di Piling, Penebel, Tabanan ketika kami masih SD dengan mengendari transportasi umum dan berjalan kaki cukup jauh. Meskipun sekarang terasa dekat, waktu itu terasa sangat jauh dan tidak sederhana. Rupanya orang tua saya juga termasuk golongan orang-orang yang ‘tega’. Adik saya, Andika, juga pernah pulang dari Jogja ke Bali dengan mengendarai bus malam saat kelas 5 SD. Saat itu orang tua saya percaya dengan ide saya untuk memberinya kesempatan. Semua berjalan baik dan lancar dan kesempatan itu menumbuhkan percaya diri. Lita adalah penerus tradisi itu dan berhasil memecahkan rekor: pergi sendirian antarporivisi dengan pesawat di usia yang belum tujuh tahun.

Sebenarnya ada banyak hal yang unik dan lucu saat Lita terbang sendiri dari Jogja ke Bali dan sebaliknya. Salah satunya adalah interaksi dia dengan orang-orang di pesawat. Saya selalu tekankan, Lita akan duduk sendiri berdekatan dengan orang asing. Saya selalu ajarkan agar dia bersedia bercakap-cakap dengan orang yang duduk di sebelahnya. Saya bisa banyangkan, pasti akan sangat menarik dan mengherankan bagi orang dewasa yang duduk dekat Lita sehingga kemungkinan besar akan banyak bertanya. Ketika terbang pertama kali, Lita duduk di sebelah perempuan bule. Menurut Lita ‘an Australian’ tapi bagi Lita semua bule itu orang Australia, jadi informasi ini mungkin tidak valid. Kata Lita, orang itu senyum-senyum tetapi tidak bicara. Lita berkeinginan mengajaknya bicara tetapi tentu saja anak yang belum genap tujuh tahun umurnya tidak memiliki inisiatif bicara topik tertentu. Lagipula, memulai pembicaraan dengan topik cuaca tentu tidak menarik di Indonesia. Tak kurang akal, Lita mendalang dengan bonekanya. Seperti kebiasaannya, dia pun mendalang dengan Bahasa Inggris agar si bule tahu kalau dia bisa berbahasa Inggris. Dalam sekejap, merekapun sudah bercakap-cakap. Asti tentu akan sepakat bahwa sifat dan sikap suka mencuri perhatian ini nurun dari ayahnya. Begitulah, saat turun di Bandara Ngurah Rai, kantong baju dan celana Lita penuh dengan permen yang rupanya dikasih oleh hampir semua orang dewasa yang duduk di dekatnya. Dia tentu senang dan bangga.

Yang menarik, Lita menceritakan semua proses dengan riang dan bangga. Kata ibunya, bahkan cenderung gaya. Ajum kata orang Bali. Entahlah, dari siapa sifat ini diwarisinya. Yang pasti bukan dari ibunya. Lita menjelaskan dengan penuh gaya, makna kalung bertanda UM yang disandangnya. Dia jelaskan pada ibunya, UM itu artinya Unaccompanied Minor dan artinya, saya kutip dari Lita, “anak kecil yang tidak ada orang tuanya.”

Bagi para orang tua yang tertarik ‘bereksperimen’ seperti kami, ada beberapa hal yang mungkin bermanfaat. Pertama, yakinlah bahwa hal ini legal dan aman. Kedua, pastikan semua pihak keluarga mendukung. Boleh Anda ceritakan kisah Lita ini jika diarasa membantu. Ketiga, pastikan pengantar dan penjemput di bandara paham betul apa yang harus dilakukan dan jangan sampai terlambat tiba di Bandara. Pihak pengantar juga harus menandatangani satu dokumen izin, jangan lupa melakukan ini. Keempat, yakinkan pada anak Anda bahwa semua akan baik-baik saja dan jangan lupa mengajarinya hal-hal mendasar seperti memanggil pramugari, memasang dan membuka sabuk pengaman dan sebagainya. Akan bagus jika Anda mengajarkan semua hal ini ketika terbang bersama Anda sebelum dia mencoba terbang sendiri.

Saya tidak ada dalam posisi menganjurkan para orang tua untuk mengizinkan anaknya bepergian sendiri tetapi meyakini bahwa keputusan kami tidak salah. Ada banyak sekali pelajaran yang diperoleh Lita dengan petualangannya itu. Tentu saja ini tidak serta merta membuat Lita jadi anak hebat dan baik hati tetapi pengalaman ini pasti telah membentuk sebagian karakternya yang saya harapkan akan bermanfaat kelak. Kalau bicara mandiri, mungkin terlalu pagi karena sampai kinipun Lita masih perlu bantuan menghabiskan makanannya, masih belum tuntas kalau mandi sendiri dan masih belum bisa menyapu halaman seperti yang saya lakukan sejak kelas satu SD dulu. Lita juga belum bisa diandalkan cuci piring sendiri kecuali mendapat pengawasan lekat. Meski demikian, saya yakin bahwa pengalamannya terbang sendiri ini tidak akan terlupakan. Dan keberhasilan Lita itu menjadi sesuatu yang membanggakan bagi kami, orang tuanya. Yang jelas, Indonesia kini semakin diperhitungkan perannya di dunia. Anak Indonesia adalah anak dunia. Jika bukan karena biaya, rasanya tidak elok jika seorang anak dunia baru naik pesawat sendiri ketika umur 20 tahun seperti yang terjadi pada saya di masa silam. Setelah beberapa kali terbang sendiri, Lita tetap tidak begitu paham makna kata ‘mandiri’. Atau jangan-jangan ‘mandiri’ memang tidak untuk diceritakan dan dipahami tetapi dilaksanakan saja, dan kadang tanpa sengaja.

Ps. Saya pernah twit cerita ini dengan hashtag #LitaBali dan Asti pernah menulisnya di blog keluarga kami.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

36 thoughts on “Ketika Lita naik pesawat sendiri”

  1. Awesome,Lita !!!!!
    Cerita kali ini lebih lengkap mas…dan pasti saya selalu senang membacanya. Sebuah proses pembelajaran juga utk saya . Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya….teladan, motivasi dan kasih sayang dari keluarga yang begitu luar biasa membuat saya yakin … lita akan menjadi orang yang sangat “sesuatu” dikemudian hari. Saya sangat bangga mendengarnya apalagi Mas Andi dan Mbak Asti sebagai orang tuanya. Terima kasih untuk sharingnya … membuat saya bertambah ilmu untuk menyiapkan generasi hebat masa depan.

      1. Pak andi boleh nanya ni ,, ,,,, gmn klau orang tua apa sama y ,,, ? ,,,, bulan maret nanti adik ku wesuda di jogya ,,, Aku mau papa ku datang juga ,,tp papa ku di NTT ,SUMBA,,, ,,,saya di hongkong ,,,dan suamiku di australi ,,, dan pas tanggl wesuda adik ku ,,itu waktu nya sangt mepet,,,dgn tanggl kepulangan ku ke indonesia ,,,jd kemungkinan besar,,gak ada waktu untuk pergi ambil papa ku Di Kampung Ntt ,,,slain jauh ,,,juga ,,itung2 hemat 3 jutaan ,,

        Mohon saran nya pleaseee ,,thanksss

  2. saya naik pesawat sendiri, umur 5 taun, tapi om saya pilotnya 😀 waktu itu dibolehinn hihihi..

    abis itu mulai deh seringan sendiri. or sama kakak2 doang. jd klk bertiga sm kakak, bocah2 ditempatin di raw ekonomi plg depan. klk saya sendiri or berdua doang sama salah satu kakak, suka ditaro di bisnis sm pramugarinya. sampai detik ini, setua ini gak pernah mikir emak baba or eyang2 saya raja tega tuh…

    tapi memang ya.. jaman kami kecil dulu ibu “nitipin” kami di restoran Aha blokm or tukang soto mayestik gak ketar ketir anak (anaknya) diapai2in. paling ketar ketir makannya banyak aja.

    di canberra karena keterbatasan waktu dapet vacational care buat anak kami liburan winter ini, ya kami titipin tante dan om2nya sesama mahasiswa di sini atau tetangga bule yg punya anak seumuran.

    Lita hebat! orang tuanya juga hebat!

    1. Wah cerita yg seru 🙂 Saya naik pesawat pertama kali umur 20 tahun hehe. Maksih komen dan supportnya ya tante Arie. Sukses di Cbr. Kalau main ke sydney, mampir ya 🙂

  3. Lita, hebatt…Siapa dulu ortunya….Kalo putri saya, UM nya dikoleksi Pak…Katanya itu kan kenang2an Ma..Sekarang dah umur 13 Tahun , besok take off lagi alone tapi dah malu pake UM lagi (emang dah di luar area UM)..,,hehehe…

  4. I bet, sifat Lita ini turunan dari papanya :p
    Tulisan yang bagus bli, bisa saya terapkan nanti kalau sudah punya anak, eh cari calon papanya dulu deng :p

  5. “Lita jadi berani, mungkin karena tidak terlalu banyak tahu. Dia tidak dibiasakan untuk mengetahui berbagai bahaya dan risiko sejak kecil. Lita sangat jarang, kalaupun pernah, ditakut-takuti. ”

    This is the most “deep” part in my opinion, Bli. Parents should not scare their children of something that may not happen. Inspiring Bli, as always.

  6. Memang jadi orang tua itu harus ‘tega’ agar anak lebih mandiri… setuju mas. Meskipun tidak dipungkiri, di belakang si anak, pasti kita juga ada was-wasnya.. tapi kalo tidak ‘tega’, bagaimana anak bisa belajar ya?? Ingat waktu awal SMP di Yogya, saya bangun telat dan tante saya tidak mau mengantar karena niat beliau kasih pelajaran ke saya supaya belajar manajemen waktu… Alhamdulillah setelah itu memang saya jadi lebih bisa memanage waktu…

  7. wah… saya nemu posting ini saat sedang cari info krn anak saya berminat banget terbang sendiri gara2 nonton film Mr. Bean 😀 . Rencananya liburan ini mau saya kirim ke yogya. mudah2an berhasil ya. Makasih ceritanya!

  8. salut sama orang tua lita, saya termasuk yang waktu anak-anak dititipkan ke pramugari. Untuk Garuda Indonesia gimana prosedur UM nya ya ? Saya cek di website Garudanya tidak dijelaskan. Kebetulan saya ada rencana memberangkatkan anak saya sendiri.

  9. Anak sy, Rani, terbang sendiri bln nov 2013 (umur 7.5thn) dr Cgk-Pku (rumah org tua sy). Alhamdulillah dia mampu dan berani.
    Insyaa Allah libur kenaikan kelas besok Rani dan adeknya,Rayyan, jg akan terbang ber2 k Pku. Tp Rayyan masih 5th, sy jg blm nyari info apakah boleh terbang bareng kk nya ato tdk. Anaknya Insyaa Allah berani 🙂
    Semoga Allah selalu melindungi anak2 kita yg terbang sendiri aamiin.

    Salam utk Lita si pemberani 🙂

  10. pak klo anak terbang sendiri dokumen apa yg di bawa dan nanti setelah di bandara si anak lapor kmana ya kalo dia terbang sendiri? coz sy anak sy juga mau terbang sendiri dari jogja-jkt terimakasih

  11. kedua anak saya dari TK sudah sering bepergian menggunakan fasilitas UM. Sayang “kalung” UM tidak bisa dikoleksi (kalo ada yang mengatakan bisa dikoleksi hehehe..) karena bgtu penjemput datang menjemput sang anak, si penjemput harus menandatangani diatas “kalung” UM si anak dan petugas mengambil kembali “kalung UM” si anak, bukti bahwa si anak sudah dijemput keluarganya. demikian pengalaman saya

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s