Jika terpaksa harus kuliah online

Kuliah MG di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM

Jika Anda dosen, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa tugas selain mengajar kadang jauh lebih banyak jumlahnya. Selain urusan administrasi seperti BKD, SIPKD, SKP, dan singkatan-singkatan lain yang kadang membingungkan, ada juga tugas lain untuk memikirkan negara. Tidak jarang, seorang dosen diundang satu kementerian untuk dimintai pendapat. Bagi dosen yang berdomisili di luar Jakarta, panggilan-panggilan dan tugas non akademik ini kadang menyita lebih banyak waktu. Perjalanan pulang pergi ke Jakarta dari Jogja, misalnya, akan memakan waktu setidaknya sehari. Akibatnya, tugas mengajar di kampus bisa terabaikan.

Sebenarnya pilihannya bisa sederha yaitu dosen menolak undangan kementerian atau instansi tertentu dan fokus saja mengajar atau meneliti di kampus. Saya yakin ada dosen yang melakukan ini. Tidak demikian dengan saya karena berbagai pertimbangan. Sedapat mungkin undangan itu saya penuhi, terutama yang terkait erat dengan aktivitas berpikir dan melaksanakan kajian. Alasannya sederhana. Saya percaya data, informasi dan pengetahuan itu harus berujung pada kebijakan agar dia memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Terdengar sok idealis? Tentu saja. Seorang yang berani menyebut dirinya guru memang harus idealis. Adakah alasan pragmatis dari kegiatan itu? Tentu saja ada. Dosen mendapat honor dari aktivitas itu. Mungkin ini bukan alasan utama tetapi tidak benar jika tidak saya akui.

Jika terpaksa harus meninggalkan perkuliahan, apa yang bisa dilakukan seorang dosen? Pilihan yang paling mudah adalah mengosongkan kuliah dan menggantinya di hari lain. Saya akui, ini tidak bisa dihindari jika terlalu banyak undangan atau panggilan ke luar kota. Meski demikian, ada pilihan lain yang bisa dicoba yaitu memberikan kuliah secara online. Teknologi informasi dan komunikasi yang sudah sedemikian canggih bisa dimanfaatkan untuk memberi kuliah online ini. Saya baru saja mencobanya.

Saya harus berada di Jakarta dan Bali karena suatu tugas pada tanggal 24-28 Februari 2014. Dalam seminggu itu ada dua kuliah wajib yang harus saya isi yaitu Matematika Geodesi (ya, betul! Anda tidak salah baca) untuk S1 Teknik Geodesi dan Geomatika UGM dan Praktek Basis Data untuk D3 Teknik Geomatika Sekolah Vokasi UGM. Tadinya saya mau mengosongkan saja dan menggantinya di hari lain tapi saya berubah pikiran. Saya memutuskan melakukan kuliah online dengan Skype dibantu oleh Team Viewer. Sebenarnya ini sudah sering saya lakukan dulu ketika masih ada di Australia sehingga secara teknis saya bisa melakukannya tanpa banyak kendala. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah saya akan memiliki akses internet yang memadai ketika ada di Jakarta atau Bali nanti. Jika saya ada di hotel tentu saja tidak masalah tetapi jika saya berada di luar hotel atau benar-benar dalam perjalanan, maka kendala akan muncul.

Kalau ada niat, pasti ada jalan dan kalau tidak ada niat pasti banyak alasan. Saya selalu percaya hal itu. Maka saya mulai mencari cara. Saya kontak asisten saya di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM, Sapta Hadi, yang selama ini membantu banyak. Saya ajari dia menggunakan Skype dan Team Viewer untuk kuliah online dan dia antusias. Satu titik terang sudah ada. Tidak ada yang lebih baik dari bekerja dengan orang yang antusias. Singkat cerita saya sudah merasa siap untuk bereksperimen.

Pinjam tempat di IDP/IALF Bali
Kuliah Matematika Geodesi dijadwalkan hari Jumat jam 13.00 WIB dan ketika itu saya berada di Bali dan artinya itu jam 14.00 WITA. Saya harus temukan suatu tempat yang tepat untuk mengajar. Saya kenal dengan Pak Ketut di IDP/IALF Bali dan segera menelpon beliau untuk meminta izin menggunakan salah satu ruangan di IDP/IALF untuk mengajar. Yang saya butuhkan tentu saja sebuah kursi, satu meja dan akses internet. Jika kemudian saya dapat ruang kelas ber-AC, tentu saja itu bonus belaka. Pak Ketut dengan baik hati mengizinkan. Ini terjadi karena sebelumnya saya sudah berinteraksi baik dengan beliau saat saya menjadi perwakilan Universitas Wollongong dalam acara pameran pendidikan yang dikelola IDP. Pertemanan adalah kuncinya.

Ketika selesai kuliah Matematika Geodesi, waktu sudah menunjukkan pukul empat di Bali dan ternyata ruang kuliah yang saya pakai itu akan digunakan. Saya harus mengungsi ke tempat lain untuk memberi kuliah Praktek Basis Data. Akhirnya saya pindah ke ruang dapur/pantry di atas dan mengatakan kepada security bahwa saya adalah tamu dari Pak Ketut. Mereka baik hati mengizinkan saya. Saya menempatkan laptop dan iPad di dekat tempat cuci piring agar bisa di dekat jendela dan pencahayaan jadi lebih bagus. Saat kuliah, sempat juga saya tunjukkan suasana ‘dapur’ itu kepada mahasiswa di Jogja dan mereka tertawa geli menyaksikan dosennya mengajar di dekat tempat cuci piring. Pilihan saya tidak banyak, tempat itupun harus disyukuri.

Belum maksimal tapi awal yang baik
Harus saya akui, perkuliahan oline itu tidak berjalan sempurna. Saat kuliah Matematika Geodesi, ada kendala teknis dengan laptop di Jogja yang microphone-nya tidak berfungsi dengan baik. Ini di luar dugaan karena sebelumnya kami sudah coba dan berhasil baik. Ini satu pelajaran bahwa saya harus mencoba lagi di detik-detik terakhir sebelum kuliah agar hal ini tidak terjadi. Kendala kedua adalah audio yang tidak kami siapkan dengan matang sehingga katanya suara saya kadang turun. Saya duga ini terkait dengan kualitas laptop di Jogja dan juga koneksi internet. Saat itu masih jam 13.00 WIB di Jogja dan pengguna internet masih cukup banyak. Selain itu, koneksi menggunakan WIFI sehingga tidak sebagus jika menggunakan kabel. Lain kali, ini harus kami perhatikan hal ini lebih baik.

Praktek Basis Data di D3 Teknik Geomatika SV UGM

Kendala yang terjadi di Kuliah Matematika Geodesi akhirnya kami jadikan pelajaran dan perbaiki di Kuliah Praktek Basis Data. Hasilnya cemerlang. Hampir tidak ada kendala koneksi dan audio saat kuliah Basis Data itu. Suara jernih, tayangan berjalan baik dan bahkan interaksi bisa dilakukan dengan sangat baik. Mahasiswa bisa memberikan komentar dengan leluasa. Saya bisa mendengar mereka tertawa dan antusias merespon kuliah itu. Saya juga meminta mahasiswa mengirimkan email dan memberi kesan serta masukan. Hasilnya bagus. Secara umum mahasiswa merasa ini pengalaman yang menarik karena ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar dari mereka. Tentu saja bukan soal materi tetapi kuliah online ini memberikan pengalaman baru yang segar kepada mahasiswa.

Satu yang mahasiswa dan saya sepakati adalah kuliah online tidak pernah bisa menggantikan kuliah tatap muka secara utuh, setidaknya sampai hari ini. Saya tegaskan kepada mereka, kuliah online ini dilakukan jika dan hanya jika terpaksa. Saya mohon mahasiswa memahami bahwa tugas dosen tidak hanya mengajar meskipun tetap harus mengutamakan itu sebagai tugas pertama. Intinya, dosen dan mahasiswa perlu bekerjasama dengan baik agar semua tugas itu berjalan dengan baik dan tidak ada pihak yang benar-benar dirugikan. Komunikasi yang baik adalah kuncinya.

Saya pribadi merasa senang bisa melakukan kuliah secara online Jumat kemarin. Saya tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa dengan kuliah online itu karena semuanya menggunakan teknologi yang begitu sederhana. Tidak ada investasi tambahan, hanya menggunakan apa yang sudah biasa kita pakai sehari-hari. Kuliah ini berbiaya rendah karena tidak ada biaya tambahan dibandingkan kuliah yang biasa dilakukan. Memang tidak sempurna tetapi ini bisa jadi solusi yang mengatasi keterpisahan jarak. Saya berharap pihak lain akan memberikan tanggapan konstruktif karena yang saya tawarkan adalah sebuah niat baik. Itu saja.

Turun Tangan Menjadi Guru SD

Mengajar

Handy Bunawan namanya. Dia kawan baik saya ketika bekerja di Astra lebih dari sepuluh tahun silam. Kami bercakap-cakap di ruang makan kantor di suatu siang. Dia mengatakan kepada saya “De, kalau memang niat jadi pendidik, sekalian ikuti gaya Romo Mangun aja.” Dia sedang mengomentari rencana saya keluar dari Astra untuk menjadi dosen di UGM. Pilihan ini tentu tidak begitu lazim bagi teman-teman saya ketika itu. Memutuskan pindah dari Astra untuk jadi guru di kampus tentu bukan pilihan yang mudah diterima akal konvensional. Tentu saja alasan finansial yang menjadikan pilihan itu tidak menarik.

“Cobalah sekali-sekali mengajar anak SD di sela-sela memberi kuliah De” kata Handy memberi sumbangan ide. Ketika mendengar gagasan itu, saya tidak banyak menanggapi. Ide untuk pindah ke UGM dari Astra sudah terasa cukup aneh ketika itu karena gaji yang ditawarkan sepersekiannya. Keanehan itu kini ditambahi gagasan yang juga tidak lazim. Handy menyarankan saya untuk menjadi guru SD selain menjadi dosen di UGM. Lebih parah lagi, Handy menyarankan saya jadi guru bagi anak-anak tidak mampu sebagai bentuk pengabdian saya pada pendidkan. Saya tidak mengiyakan, sekaligus tidak membantah. Saya mengerti, Handy tentu tidak melihat alasan finansial/materi yang melatarbelakangi kepindahan saya dari Astra ke UGM. Rupanya dia melihat ada idealisme di balik keputusan itu sehingga dia kemudian dengan tanpa beban mengusulkan gagasan idealis dengan menjadi guru SD pada saya.

Continue reading “Turun Tangan Menjadi Guru SD”

Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia

G. Washington, the surveyor!

Di tanah Afrika, saya bertemu lelaki ini. Dia seorang surveyor seperti saya. Dia kelahiran Somalia, seorang lelaki berkulit hitam layaknya orang Afrika yang saya pahami. Perawakannya tinggi langsing, lelaki ini sudah matang dalam usia. Dia adalah satu dari hanya dua orang sarjana geodesi di negeri itu. Dua surveyor itu menamatkan pendidikan sarjana geodesi di Polandia hingga jenjang magister. Bertemu Salihi, demikian namanya, adalah bertemu dengan makhluk langka di negeri Somalia.

Somalia telah lama menderita, porak poranda dilanda perang saudara. Kini negeri ini bangkit perlahan, geliat kehidupan mulai nampak di Kota Mogadishu ketika saya berkunjung ke sana. Pembangunan nampak berjalan meski tidak cepat, reruntuhan akibat perang mulai berganti rumah-rumah yang bermunculan. Di sela-sela puing kendaraan atau bangunan yang runtuh dibinasakan kejamnya perang saudara, kini mulai muncul gedung-gedung yang akan mengakomodasi geliat bisnis. Investasi mulai datang, para penanam modal melirik Somalia penuh gairah.

Di negeri yang mulai bangkit itu, ada persoalan kedaulatan dan wilayah yang rumit dan pelik. Tak jelas hingga di mana kedaulatannya. Territori dan yurisdiksi menjadi misteri. Di tengah ketidakpastian itulah sang presiden memerlukan panduan. Presiden perlu garis yang tegas untuk menerjemahkan rasa nasionalisme yang diperiharanya sejak lama. Tuan presiden adalah pemimpin konsititusional pertama sejak lebih dari dua dekade. Dia merupakan presiden yang diakui dunia termasuk Amerika Serikat dan rakyat menaruh harapan padanya.

Continue reading “Salihi, Surveyor Penjaga Kedaulatan Somalia”

Email juga ada etikanya, percayalah :)

dipinjam dari http://ignatius-eko-b.blog.ugm.ac.id
  1. berkirim email memang perihal yang tidak terkait hidup mati tapi tetap penting. Kirim email ada etikanya. Mari kita simak #EtikaEmail
  2. Email itu semestinya ada salam sapa, isi dan penutup. Email bukan chatting. Kecuali sudah bebalas2an dalam satu topik. #EtikaEmail
  3. Kirim email pertama kali sebaiknya tdk terlalu panjang, apalagi kepada orang yg sibuk/terkenal. Jadikan pembuka #EtikaEmail
  4. Pada email pertama, jangan sibuk bicara diri sendiri. Pastikan Anda juga menunjukkan simpati/ketertarikan pada penerima email #EtikaEmail
  5. Pada email pertama, pastikan Anda menjelaskan bagaimana Anda menemukan email penerima agar jelas perkara dan ke mana arahnya. #EtikaEmail
  6. Penting bagi Anda untuk membaca tentang si penerima email (karya, pemikirannya) apalagi maksud email itu adalah konsultasi #EtikaEmail
  7. Bayangkan, Anda tiba2 tanya perihal yang umum dan sudah sering dibahas oleh penerima emial di blog/web. Anda terlihat kurang perhatian #EtikaEmail
  8. Hindari tiba-tiba kirim email dan tanya hanya satu baris tanpa salam tanpa perkenalan di email pertama. #EtikaEmail
  9. Gaul boleh, tapi bahasa email pertama sebaiknya standar/baku. Ini strategi biar aman. Kalau ternyata dia mau gaul, silakan di email berikutnya #EtikaEmail
    Continue reading “Email juga ada etikanya, percayalah :)”

Ada Malaikat Terekam Google Street View?

Belakangan ini beredar satu berita bahwa ada malaikat (atau setan) yang terekam oleh Google Street View. Saya bukan pencinta Urban Legend atau gosip-gosip murahan tetapi kadang tertarik menyimak fenomena tidak lazim. Jika Anda perhatikan peta Google Street View berikut ini, mungkin Anda punya satu pendapat. Apakah gambar ini memang malaikat atau setan atau makhluk halus lainnya? Saya tidak tahu bersis. Sangat bisa jadi gambar ini adalah hasil ilusi optis atau kesalahan teknis lainnya. Kita sering melihat gambar orang di Google Street View yang tidak utuh karena proses pengabungan gambar yang tidak sempurna, misalnya. Google Street View itu diambil dengan kamera sembilan arah yang mencakup 360° arah pandang. Gambar yang kita lihat adalah hasil penggabungan semua gambar yang dihasilkan oleh kamera tersebut sehingga sangat mungkin terjadi kesalahan atau ketidaksempurnaan obyek, terutama saat ada transisi. Coba Anda klik gambar berikut dan gerakkan/seret sesuka hati. Jika tidak bisa akses peta, coba lihat gambarnya di sini.

Continue reading “Ada Malaikat Terekam Google Street View?”

Apa kabar mobil terbang?

Imajinasilah yang merangsang penemuan teknologi di dunia nyata. Kita sudah melihat mobil terbang sejak dulu di film-film tetapi belum melihat yang begitu rupa di dunia nyata, bahkan berpuluh tahun kemudian. Sementara itu, imajinasi terus bergerak dan semakin liar. Komputer tablet yang baru populer di tahun 2000an sesungguhnya sudah menjadi barang basi di film-film yang dibuat dengan imajinasi liar berpuluh tahun sebelumnya. Google Glass yang kini bahkan belum bisa dinikmati publik sesunguhnya sesuatu yang sudah amat biasa di film-film dan novel puluhan tahun lalu. Teknolgi dan penciptaan praktis memang berjalan terseok-seok di belakang imajinasi.

Bagaimana dengan mobil terbang? Akankah kita segera memilikinya? Anna Mracek Dietrich melihat dari sisi lain. Pilot swasta ini mengusulkan membuat pesawat yang bisa dikemudikan di jalan, bukan mobil yang bisa terbang. Sederhananya, dia merancang sebuah pesawat yang bisa berfungsi sebagai mobil, bukan mobil yang bisa berfungsi sebagai pesawat. Bedanya? Bedanya cukup banyak dan ini yang menentukan teknis pembuatannya. Silakan simak salah satu presentasi hasil karya Anna di TED tahun 2011 silam. Mengapa hingga hari ini kita belum melihat sebuah kendaraan yang bisa kita simpan di garasi dan bisa menerbangkan kita dari satu tempat ke tempat lain? Mungkin karena dari dulu kita berharap “mobil terbang”, bukan “pesawat yang bisa jadi mobil”.

Sekelumit Ilmu untuk Papua

Vivi, seorang kawan yang sedang kuliah di Russia dan penggiat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), mengirimkan pesan pada saya lewat Facebook. Pada pesan itu dia mengenalkan saya dengan seorang akademisi di Sorong, Papua Barat bernama Dr. Kadarusman. Vivi menawarkan apakah saya bersedia memberi kuliah umum secara online untuk mahasiswa dan kolega Dr. Kadarusman di Akademi Perikanan Sorong (Apsor). Urusannya tentu tentang laut dan sekitarnya. Tanpa menunggu lama, saya menyampaikan kesediaan.

Continue reading “Sekelumit Ilmu untuk Papua”

Menganimasikan Aspek Teknis Hukum Laut

Saya pernah menulis keterlibatan saya dalam revisi manual aspek teknis hukum laut (TALOS) di blog ini. Keterlibatan saya itu dalam hal membuat animasi untuk mengilustrasikan aspek teknis tersebut. Setelah kerja karas, kini animasi itu sudah ditampilkan di website International Hydrographic Organization (IHO). Berikut saya sampaikan tautan ke animasi tersebut dan bisa diunduh untuk pembelajaran hukum laut dan persoalan lain terkait kelautan.

TALOS edisi 5 sudah bisa diunduh dalam bentuk draft di sini dan animasi saya melengkapi ilustrasi masing-masing bab (chapter) seperti yang ada di bawah ini.

Continue reading “Menganimasikan Aspek Teknis Hukum Laut”

Mengajar di UNSW: Tentang Meraih Kesempatan

Bahan kuliah dalam bentuk animasi Flash
Bahan kuliah dalam bentuk animasi Flash. Klik untuk melihat.

Salah satu kemewahan sekolah S3 di negara maju adalah kesempatan untuk menjalankan peran-peran professor/pembimbing. Salah satu kesempatan itu adalah mengajar. Tidak jarang mahasiswa S3 diberi kesempatan mengajar S1 atau bahkan S2 oleh supervisornya. Ini kesempatan baik dan bisa mendatangkan uang. Saya punya beberapa pengalaman serupa tetapi yang saya ceritakan kali ini agak berbeda.

Continue reading “Mengajar di UNSW: Tentang Meraih Kesempatan”

Membuat Radio online itu Mudah dan Gratis

Ingin punya radio dan bisa didengarkan di seluruh dunia? Gampang. Luangkan waktu satu jam maka Anda sudah akan punya radio online dan siap siaran dari mana saja sepanjang ada koneksi internet. Saya sudah membuat beberapa radio online dalam waktu sebulan terakhir. Berikut langkahnya.

Continue reading “Membuat Radio online itu Mudah dan Gratis”