Diterima beasiswa ADS: DIJAMIN!

Apakah Anda salah satu dari 5-6000an orang hebat Indonesia yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS)? Mudah-mudahan Anda tidak tergoda membaca tulisan ini gara-gara judulnya demikian. Silakan kecewa karena tidak ada yang bisa menjamin Anda diterima beasiswa luar negeri.

Saya sering mendapatkan pertanyaan atau curhat terkait beasiswa luar negeri, terutama ADS. Ada yang bertanya “seberapa besar peluangnya?” Ada yang ingin tahu “layakkah saya?” Tidak sedikit yang bahkan pesimis, merasa tidak mungkin diterima. Membayangkan ada 5000an orang yang mendaftar untuk kuota yang hanya 400, kita mudah sekali tergoda untuk merasa tidak mampu bersaing. Mudah sekali untuk berpikir “saya pastilah bukan salah satu dari 400 orang terbaik dari 5-6000an orang itu. Saya bukan siapa-siapa.”

Tulisan ini bukan motivasi yang membuat Anda tiba-tiba berubah jadi semangat lalu berdiri tegak siap menghadapi air bah dan menjadi tidak realistis. Bukan! Saya tidak punya kapasitas itu dan saya memang tidak bisa menjamin seseorang bisa diterima beasiswa. Saya hanya ingin ingatkan bahwa syarat beasiswa ADS itu adalah TOEFL 500 dan IP di atas 2,9. Jika tidak ada yang bisa bisa menjamin seseorang lolos beasiswa maka tidak boleh ada satu orang pun di muka bumi ini yang berhak mendikte “kamu pasti tidak lolos” jika memang Anda memenuhi syarat.

Kita adalah para pejuang. Tugas kita hanya satu: berusaha dengan segenap upaya. Tugas kita bukan menghakimi, apalagi menghakimi diri sendiri. Bahwa IMPOSSIBLE bisa jadi adalah I’M POSSIBLE yang kita baca secara salah. Selamat berjuang, kawan!

Melaporkan untuk Ocean TV

Suatu hari saya diminta membantu professor untuk menyiapkan bahan kuliah bagi aparat keamanan laut dari 21 negara. Dia diminta mengajar berbagai skenario insiden (pembajakan, perampokan) di laut dan terutama bagaimana reaksi aparat keamanan laut dari berbagai negara. Misalnya, ada kapal bergerak dari sebuah teluk di negara A menuju negara B dan melewati kawasan perairan negara C. Jika di kawasan laut C terjadi perampokan oleh segerombolan perampok yang bermarkas di negara D dan perampok itu lari ke negara E, apa yang terjadi? Siapa yang bertanggung jawab, apa dasar hukumnya, apa yang bisa dilakukan oleh siapa dan seterusnya.

Saya diminta memvisualisasi skenario itu. Tidak hanya itu, saya harus membuat peta dunia tiruan agar tidak menggambarkan negara-negara yang ada di dunia. Sang professor juga meminta saya mengisi efek suara (deru mesin kapal, ledakan, teriakan). Animasi, audio dan visual effect ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan topik S3 saya. Selain karena diminta oleh professor, saya merasa tertantang dan mengiyakan permintaan itu. Akibatnya memang bisa parah: riset tertunda.

Continue reading “Melaporkan untuk Ocean TV”

Demi iMac, antri dari jam 5 pagi

This is the new iMac – Chatting sama Lita

Saat tinggal di New York tahun 2007 silam, saya sering melihat antrian panjang di toko produk Apple alias Apple store. Sulit memahami mengapa ada orang yang rela melakukan hal itu hingga berjam-jam. Saya bukan penggemar Apple ketika itu. Bahkan tidak kenal iPod yang waktu itu dinobatkan sebagai sebuah fenomena baru mendengarkan musik. Singkatnya, saya tidak melihat pentingnya harus antri hingga berjam-jam untuk mendapatkan sebuah produk IT.

Keyakinan itu tumbang beberapa hari lalu. Saya menghabiskan waktu lebih dari 5 jam demi sebuah produk Apple bekas: iMac produksi 2008. Sulit dipercaya tapi demikianlah kenyataannya. Tulisan ini sangat panjang, semata-mata untuk merekam pengalaman saya secara utuh.

Suatu saat ada kawan yang mengirimkan berita ke milis PPIA Wollongong bahwa akan ada penjualan iMac inventaris laboratorium yang akan diremajakan. Spesifikasinya, menurut teman yang tahu, cukup bagus dan yang penting harganya hanya AUD 300. Beberapa kawan lain yang sempat melakukan riset mengatakan harga produk serupa di pasaran masih sekitar AUD 700-800. Artinya, itu barang murah. Saya tidak maniak apple tetapi harga yang murah memang godaan luar biasa.

Adalah hal biasa universitas di Australia melakukan penjualan dengan cara ini untuk barang-barang yang akan diremajakan. Informasi dibuka untuk umum dan mereka yang datang pertama yang akan mendapatkannya. First come first served, istilah pare bule itu. Ini akan jadi pengalaman saya yang pertama setelah melewatkan cukup banyak kesempatan sebelumnya karena memang kurang tertarik.

Continue reading “Demi iMac, antri dari jam 5 pagi”

Pengembara Geospasial

Saya penah dihubungi seseorang dari Jakarta. Beliau memerlukan bantuan karena putranya akan bersekolah di Wollongong. Seperti biasa, sayapun membantu sebisanya dengan informasi yang saya punya. Yang cukup mengejutkan adalah ketika beliau tiba di Wollongong. Sepertinya hafal dengan semua jalan dan lingkungan, padahal baru pertama kali ke Wollongong. Ketika saya tanya, ternyata beliau sudah melakukan kunjungan virtual dengan Google Maps sebelum kunjungan sebenarnya. Saya menyebut orang-orang seperti ini sebagai “pengembara geospasial”, mereka yang melakukan perjalanan dengan persiapan geospasial yang matang. Peta adalah andalan mereka.

Continue reading “Pengembara Geospasial”

Do you see what I see?

Konferensi dan studi banding

This is a seminar, not a conference 🙂

Teman saya pernah bilang “hebat ya, sudah konferensi ke mana-mana. Banyak duit dong!” He just had no idea. Konferensi itu tidak membuat seorang peneliti banyak duit, percayalah. Salah-salah bisa jadi miskin.

Konferensi itu, dalam bahasa sederhana, adalah sebuah forum yang mempertemukan para peneliti untuk bisa menyampaikan temuan terbarunya. Konferensi itu diselenggarakan oleh asosiasi profesi/ilmiah sebagai wadah terjadi pertukaran gagasan. Misalnya, Anda sedang melakukan penelitian dan ingin agar kemajuan penelitian itu diketahui peneliti lain sekaligus untuk mendapat masukan, maka Anda datang ke konferensi. Partisipasi di sebuah konferensi biasanya ditandai dengan menyerahkan paper, presentasi oral atau presentasi poster. Yang lebih penting, partisipasi konferensi adalah keinginan sendiri dengan usaha sendiri dan terutama dengan biaya sendiri. Memang ada kemungkinan beberapa peserta konferensi terpilih dan didanai partisipasinya oleh penyelenggara tetapi ini sangat jarang. Jadi, umumnya konferensi itu terkait erat dengan menghabiskan uang, bukan mendapatkan uang.

Continue reading “Konferensi dan studi banding”

Kecantikan di Taman Keraton

Keraton, sudah kutegaskan kepadamu, tidak selalu kejam. Bahwa dia kadang angkuh dan dingin, semata-mata karena harus menjaga wibawa. Itu saja. Aku bertemu dengan orang-orang termasyur itu siang tadi, mereka menyapaku dengan ragu-ragu seakan tak hendak mengenal. Atau karena dinginnya taman kerajaan yang merambat menjalar pada serpihan-serpihan hati yang bersembunyi di dada mereka, entahlah. Mungkin juga, karena orang-orang keraton harus tampil berwibawa mempesona.

Tapi itu hanya sesaat. Setelah kuperagakan sinar-sinar yang berkelebat itu, mereka tak kuasa menahan kehangatan yang menyeruak mengemuka. Di dalam dada mereka, api bara yang terkungkung itu menyala dan membakar. Mengejawantah menjadi senyum lalu bermanifestasi menjadi puja dan puji. Sinar-sinar yang berkelebat itu adalah warisanmu, aku mengandalkannya untuk menghangatkan taman kota yang menggigil nyaris beku.

Seperti rencanaku aku bertemu kecantikan itu di sela-sela dingin yang menghukum. Kehangatan itu disembunyikannya seakan ingin dikuasainya sendiri. Maka dari itu dia menjadi pesona. Keraton ternyata menyembunyikannya rapi. Aku hanya pejalan kaki yang merasa cukup dengan memandang. Seperti yang kamu kabarkan, kecantikan itu tumbuh di ladang-ladang yang tidak boleh dijamah, tepat di taman keraton.

 

 

 

Kartu Nama Pak Dino

Bandingkanlah

Sore tadi saya menyimak sebuah suguhan inspiratif: pemaparan Bapak Dino Patti Djalal, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, soal Diaspora Indonesia. Diaspora Indonesia, dalam bahasa sederhana, adalah orang yang memiliki keterikatan Indonesia namun tinggal di luar Indonesia. Pemaparannya terkait hasil pelaksanaan sebuah kongres bersejarah di Los Angeles beberapa hari lalu yang bertajuk Congress of Indonesian Diaspora (CID). Dalam lawatannya ke Australia kali ini, beliau menyempatkan diri bertemu masyarakat Indonesia di Sydney dan menyampaikan apa yang terjadi di LA beberapa waktu lalu. Hasil pertemuan Diaspora Indonesia itu disajikan kepada Diaspora Indonesia di Sydney.

Continue reading “Kartu Nama Pak Dino”

Panduan Menulis Proposal Penelitian

Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D. (biasa saya panggil Katirn), kawan saya di Unpar Bandung, berbaik hati mengompilasi berbagai bahan menjadi sebuah panduan menulis proposal penelitian (research proposal). Sebagian bahannya saya sumbangkan dari tulisan sebelumnya. Di tangan Katirn, tulisan ini jadi sangat cantik. Saya sarankan untuk membaca panduan ini bagi mereka yang akan membuat proposal penelitian, terutama bagi pejuang beasiswa luar negeri. Selain teori, ada juga contoh yang diambil dari sumber-sumber terpercaya. Meskipun beberapa contoh diambil dari Australia dan strukturnya menyesuaikan dengan proposal Beasiswa ADS, saya yakin Panduan Menulis Proposal Penelitian (pdf) bisa digunakan untuk kepentingan studi di manapun. Selamat membaca 🙂

Katakan dengan Bunga

Saya sering mengandalkan bunga untuk menyatakan sesuatu. Ketika pacaran sama Asti dulu, paling sering membeli bunga di dekat RRI di Jogja. Kala itu, setangkai tidak sampai Rp 5000. Pasti bisa menebak, berapa usia saya sekarang ini. Sebagian orang menganggap bunga itu lebai, berlebihan atau picisan. Yang demikian, mungkin memili menyatakan cinta dengan tas kulit buaya, atau boot kulit domba dari New Zealand, atau ikat pinggang merek Paris atau kaca mata dari New York.

Sejak berpisah, saya di Australia Asti dan Lita di Jogja, kebutuhan membeli bunga lebih tinggi. Akhirnya saya menemukan solusi pesan antar bunga di Jogja. Nama toko online ini adalah Jogja Florist dan saya harus berterima kasih kepadanya. Prosesnya juga sangat mudah. Saya kunjungi websitenya, pilih paket dari katalog lalu email untuk memesan. Beberapa menit kemudian ada konfirmasi bahwa stoknya ada lalu saya lakukan pembayaran dengan internet banking Mandiri. Beberapa menit kemudian muncul konfirmasi dan nanti sorenya sudah ada pesan dari Jogja “terima kasih bunganya”. Singkat mudah dan terutama, maaf, affordable (istilah lebih canggih dari “murah”)

Continue reading “Katakan dengan Bunga”