Silakan ikuti acaranya tanggal 19 Maret 2016 ya 🙂

Silakan ikuti acaranya tanggal 19 Maret 2016 ya 🙂

Wajahnya sederhana dengan jaket yang sepertinya sudah bebal dengan tikaman sinar matahari. Dia seorang pemuda bermotor yang ada dalam jangkauan saya ketika tragedi itu terjadi. Mobil saya mogok karena alasan kebodohan yang teramat memalukan: bensinnya habis. Tentu bukan lantaran tidak punya uang untuk membeli bensin. Prahara itu terjadi semata-mata karena teledor dan ceroboh tidak segera membeli bensin meskipun indikator bensin sudah memberi peringatan sejak kemarinnya. Inilah buah kemalasan dan ‘salah fokus’ yang akut dan berlebihan.

Malam kemarin, saya pulang agak malam dari kantor. Di jalan menuju tempat parkir ada sekelompok mahasiswa duduk diskusi sebanyak 20 orang atau mungkin lebih. Dari jauh saya amati, diskusinya akrab dan seru. Saking serunya, mereka seperti tidak memperhatikan sekitar. Yang lebih menarik, mereka duduk di jalan, sebuah koridor sempit di Gedung Pusat UGM. Kian mendekat, saya berharap para mahasiswa ini menyadari bahwa mereka menghalangi jalan. Ternyata tidak. Mereka masih asyik berdiskusi dan tidak peduli dengan orang yang akan melewati jalan yang sedang mereka kuasai.
Pada tanggal 15 Februari lalu saya diundang oleh Monash University bekerjasama dengan Swinburne University di Australia untuk memaparkan pandangan saya terkait batas maritim di Laut Timor. Sebuah kehormatan diundang untuk memberikan pidato kunci bersama tiga orang hebat: Prof. D Rothwell (ANU), Prof. D. Anton (Griffith) dan Ambassador Guterres (Timor Leste).
Presentasi ini divideokan oleh Monash University dan bisa dinikmati di Vimeo. Sialakan menikmati sajian berikut.
Ini adalah acara tanya jawab:
Saya masih duduk di atas motor selepas menurunkan Lita di sekolahnya pagi itu. Setelah salim, Lita segera melesat, hilang di tengah kerumunan teman-temanya. Di depan saya, ada seorang lelaki bermotor baru saja menurunkan dua anak kecil yang juga sekolah di sana. Lelaki itu nampak keren dan sangat lelaki. Jaketnya sporty dengan perawakan tinggi besar. Beliau tidak turun dari motor tetapi dengan tertib memastikan dua anak kecil itu turun dan siap melesat menuju kelas mereka.
Lega, akhirnya bisa bertemu Ibu Rektor untuk minta tanda tangan beliau. Beberapa hari ini saya dikejar-kejar mitra UGM dari luar negeri perihal dokumen yang harus saya siapkan dalam rangka sebuah kerjasama. Pasalnya, Ibu Rektor bertugas ke Eropa beberapa hari ini sehingga semua proses terhenti untuk menunggu tanda tangan beliau. Meskipun Senin ini libur Imlek, Bu Rektor berkenan ditemui untuk dimintai tanda tangan. Menariknya, saya menemui beliau saat sedang berlatih pentas Kethoprak. Okay, ini cerita lain.
Wahai gelap gulita, berdoalah bersamaku. Cakupkan tanganmu di atas ubun-ubun atau lakukanlah seperti yang diajarkan leluhur kepadamu. Kita bertumbuh dari akar yang sama tetapi ritualmu mungkin berbeda. Berdoalah bersamaku dengan caramu karena yang kupentingkan bukan tata cara tetapi makna.
Puluhan mobil tidak bergerak di depan kami. Sejauh mata memandang, deretan kendaraan terjebak dalam kemacetan yang parah. Ring Road Utara, Jogja, yang seharusnya membawa kami ke Bandara Adi Sucipto benar-benar padat. Sementara waktu bergerak cepat, seakan lebih cepat dari seharusnya. Saya yang nyetir menjadi gelisah dan tidak sabar. Berkali-kali saya lihat jam tangan dan waktu boarding kian dekat. Kurang dari satu jam waktu boarding, kami masih terjebak di tengah kemacetan yang parah luar biasa. Asti, isteri saya, yang duduk di sebelah kiri saya berusaha tenang meskipun tentu gelisah. Beberapa menit lagi, kami pasti ketinggalan pesawat ke Surabaya.