Tragedi di Bandara


Puluhan mobil tidak bergerak di depan kami. Sejauh mata memandang, deretan kendaraan terjebak dalam kemacetan yang parah. Ring Road Utara, Jogja, yang seharusnya membawa kami ke Bandara Adi Sucipto benar-benar padat. Sementara waktu bergerak cepat, seakan lebih cepat dari seharusnya. Saya yang nyetir menjadi gelisah dan tidak sabar. Berkali-kali saya lihat jam tangan dan waktu boarding kian dekat. Kurang dari satu jam waktu boarding, kami masih terjebak di tengah kemacetan yang parah luar biasa. Asti, isteri saya, yang duduk di sebelah kiri saya berusaha tenang meskipun tentu gelisah. Beberapa menit lagi, kami pasti ketinggalan pesawat ke Surabaya.

“Bu, salah satu dari kita harus ada yang sampai bandara duluan. Paling tidak check in dulu aja. Gimana?” saya menawarkan satu solusi, meskipun solusi itu sepertinya kurang masuk akal. Pertama, bagaimana caranya salah satu dari kami bisa sampai bandara duluan sementara macetnya minta ampun. Kedua, kalaupun berhasil check in, kalau salah satu dari kami masih terjebak kemacetan saat pesawat sudah harus take off, tentu saja urusannya tetap runyam karena tidak mungkin ada yang ditinggal. Dalam kekalutan seperti itu, ide-ide tidak masuk akal pun kadang harus dikemukakan. Setidaknya untuk mengusir rasa khawatir yang teramat sangat.

“Ibu cari ojek aja ya?” Asti punya ide cemerlang. Tanpa menunggu lama, Asti turun dari mobil untuk mencoba mencari ojek di pangkalan ojek terdekat di sepanjang Ring Road Utara, Jogja. Ketika Asti turun, tiba-tiba kemacetan agak berkurang dan saya harus bergerak maju sementara Asti ‘tertinggal’ di belakang tanpa kepastian. Urusan jadi makin runyam tapi ‘untunglah’ jalanan macet lagi. Dalam kemacetan itu Asti datang membuka pintu dan masuk lagi. “Tukang ojeknya habis, semua mengantar penumpang ke Bandara”. Rupanya ide cemerlang itu bukan hanya milik kami semata. Artinya kami harus memikirkan jalan keluar yang lain.

from cdn.collider.com

“Ayah akan lari ke bandara. Ibu nyetir ya?” saya mengeluarkan ide yang tidak kalah anehnya. Meski agak ragu, Asti menanggapi positif. Di tengah kemacetan itu, saya turun dari mobil dan Asti segera ambil alih sebagai sopir. Tanpa menunggu lama saya melesat berlari di sela-sela mobil dan bergerak menuju bandara. Posisi kami masih cukup jauh dari Bandara Adi Sucipto dan baru terasa, berlari ke bandara ternyata melelahkan. Sayangnya, sudah tidak ada cara lain. Saya harus tiba di bandara sebelum waktu check in habis. Saya berlari sekencang-kencangnya, berkelebat di sela-sela mobil yang terjebak tidak bergerak. Saking macetnya, saya sampai sulit menemukan celah untuk melewati kumpulan mobil dan motor itu.

Setelah melewati bagian paling padat, saya berlari kencang. Rasanya begitu heroik. Blazer saya berkibar-kibar diterpa angin dan tiba-tiba rasanya seperti sedang memerankan tokoh protagonis di film-film Hollywood. Saya seolah melihat diri saya seperti Will Smith di Bad Boys pertama yang berlari di sela-sela mobil di jalan raya mengejar penjahat. Blazer yang berkibar-kibar seperti menghadirkan suasana dramatis karena saya bayangkan itu dalam gerak lambat yang intensif. Bedanya, tentu saja saya tidak bertelanjang dada dan tidak semacho Will Smith. Tidak juga ditambah adegan melompati mobil-mobil di sepanjang Ring Road yang macet total. Okay, saatnya fokus berlari dan mengendalikan imajinasi yang kian liar.

Anehnya, adegan Bad Boys kali ini seperti ber-sound track Mission: Impossible karena memang misinya seperti tidak mungkin. Saya terus berlari, tidak peduli akan ketidaksingkronan adegan dengan sound track yang berkecamuk dalam imajinasi saya. Saya juga sudah tidak peduli apakah wajah saya lebih mirip Will Smith atau Tom Cruise , atau malah Tom Cruise yang berkulit hitam. Sudahlah, itu tidak penting.

Berlari kencang dengan keringat bercucuran, saya keluar dari Ring Road, berbelok ke kiri menuju Jalan Solo dan bergerak mendekati bandara. Saya mengambil jalan pintas melewati perumahan Angkatan Udara seperti yang saya lakukan biasanya jika ke bandara jalan kaki atau naik motor dari rumah ibu mertua. Bedanya, kali ini dengan kepanikan luar biasa karena sebentar lagi pesawat akan take off dan saya bahkan belum check in.

Saya ingat, kami berencana ke Surabaya bertiga: Saya, Asti dan Lita. Lita sendiri tidak bersama kami naik mobil tetapi diantar Mbah Putri ke bandara karena malam sebelumnya dia menginap di tempat mbahnya. Kami janjian untuk bertemu di bandara. Saat saya telepon terakhir, Lita sudah tiba di bandara bersama Mbah Putri. Saya punya ide cemerlang. Saya telepon Mbah Putri untuk menjemput saya karena mereka ada di bandara dengan motor. Saya bayangkan, kalau mereka bisa bergerak ke arah saya maka kami bisa bertemu di jalan dan saya bisa lebih cepat sampai bandara dengan menggunakan motor.

Mbah putri menyanggupi menjemput saya sementara saya terus berlari. Tubuh kian lelah dan keringat sudah bercucuran. Saat kelelahan seperti itu saya berharap bisa bertemu segera dengan Mbah Putri dan Lita. Sayangnya penantian itu sia-sia. Saya makin dekat bandara tetapi tidak ada tanda-tanda Mbah Putri segera tiba dengan motornya. Saya tetap berlari kencang meskipun kini dengan kecepatan yang menurun drastis karena kelahan. Balzer bersimbah keringat dan saya tetap berlari dengan tampang kucel sekucel-kucelnya. Saya mandi keringat.

Di tengah kekacauan itu, saya punya kekhawatiran lain. Bagaimana kalau Mbah Putri dan Lita benar-benar berusaha menjemput saya tetapi kami tidak bertemu di jalan. Suasana akan lebih runyam ketika misalnya nanti saya sampai bandara, lalu check in dan Asti menyusul tetapi Lita sendiri tidak ketahuan rimbanya. Benar-benar runyam. Sayapun menelepon mbah sekali lagi sambil berlari di lokasi yang semakin dekat dengan bandara. “Wah maaf, mbah tidak bisa ke mana-mana, macet banget tidak bisa keluar”. Ternyata beliau bahkan tidak bisa keluar dari bandara karena macet yang luar biasa. Saya meminta mbah untuk tetap di bandara dan saya yang akan berlari kencang menemui mereka.

Saya berlari terus dan kini sudah mulai memasuki bandara. Terminal yang digunakan adalah terminal B yang merupakan terminal baru dan lebih jauh letaknya. Saya merasa tidak kuat lagi berlari dan nafas sudah hampir habis. Saya lirik jam tangan, sudah sangat dekat dengan waktu boarding. Saya gelisah dan tidak mau menyerah. Akhirnya ada ojek yang menawarkan jasa membawa saya ke terminal B. Saya harus segera sampai dan setidaknya bisa check ini. Sementara itu, Asti tentu masih terjebak kemacetan entah di mana. Terminal B semakin dekat dan saya merasa jadi pahlawan. Pahlawan yang blazernya berkibar, keringat bercucuran dan nafas perjuangan yang memburu. Dramatis sekali.

Ketika saya sampai, ada beberapa missed calls di HP saya dari Asti. Pastilah dia sangat panik dan masih terjebak di kemacetan entah di mana. Untung saya sudah sampai di bandara dan siap check in. Pahlawan memang diperlukan di saat-saat genting seperti itu. “Halo Bu.” Saya menelpon Asti. “Ya, Yah, Ayah di mana?” “tenang saja, Ayah baru saja sampai bandara. Siap untuk chek in. Ibu di mana?” saya bertanya untuk menenangkannya “lho, kok baru sampai? Ibu sudah dari tadi di parkiran bandara nih nungguin Ayah!” Tiba-tiba dunia seperti berputar lebih cepat sehingga saya bisa merasakan putarannya yang membuat mual. Belum sempat saya menyadari apa yang terjadi, di depan saya sudah ada Mbah Putri dan Lita di atas motor. “Ngga usah lari-lari Yah, pesawatnya delay” kata Mbah Putri. Belum berhasil saya menguasai diri dan belum sempat saya bertanya lebih jauh, beliau melanjutkan “delay-nya tiga jam”. Duarrr!

Yogyakarta, 22 Desember 2015.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

21 thoughts on “Tragedi di Bandara”

  1. Saya punya pengalaman yg sama. Tapi ceritanya tidak seheroik Pak Andi. Saat itu saya hanya mengikuti arus lalu lintas yang macet padahal tinggal setengah jam lg dr waktu take off dan jarak ke bandara dengan kondisi normal dapat ditempuh dlm waktu 20menit. Kenapa saya bisa tenang? Karena saya naik li*nair. Dan benar saja saat sampai ternyata delay 3 jam. Saya kagum dengan tulisan Pak Andi yg bisa membawa saya masuk ke dalamnya.

  2. wkwkwkkwkw…duerrrrrrr…saya pernah seperti itu d jakarta..hahahahah…bedanya saya lari bli, cuma ngebut naek motor krn dr sebelah selatan bandara…delaynya cuma 4 jam aja, yaa beda tipis yaa..hahahaha

  3. If there is a Will,there is a smith pak hhhe. Terima kasih atas tulisan yg begitu detail dan selalu menarik untuk dibaca. Setelah membaca buku “berguru ke negri kangguru dan Anak dusun keliling dunia,Sy membayangkan dalam waktu dekat sy sudah bisa membaca buku bpk lainya,mungkin judulnya “Catatan harian seorang Andi arsana”,dan tulisan diatas bisa masuk didalam buku tersebut :-).

    1. Indonesia tidak hanya diwakili Jakarta, Jogja dan kota besar lainnya. Ada 34 provinsi 508 kabupaten, 7 ribu desa dan seperempat miliar manusia. Dari Sabang sampai Merauke lebih panjang dibandingkan Kalifornia-New York. Jangan abaikan 😀

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s