Saat reuni dan Syawalan alumni Teknik Geodesi dan Geomatika Universitas Gadjah Mada tanggal 8 Agustus lalu, saya melakukan Stand Up Comedy pertama kali. Bagi saya, ini pengalaman penting dan saya ingin berbagi.
Posted by I Made Andi Arsana on Saturday, 8 August 2015
- Berawal dari telepon dari seorang alumni, ketua panitia reuni/syawalan. Saya diminta standup atau cari orang yang bisa stand up comedy.
- Permintaan ini seperti membangkitkan impian lama. Sudah lama saya ingin melakukan hal-hal mengejutukan untuk alumni!
- Saya pernah cerita kepada teman soal impian ini. Waktu itu sih tidak mendapat sambutan seperti yang saya harapkan. Ide hebat memang kadang disepelekan π
- Waktu ditelpon, saya ada di Singapura. Tanpa pikir panjang, saya mantapkan hati. Saya harus terima tantangan ini!
- Saya punya waktu sekitar 10 hari sejak ditelpon. Saya harus cari bahan, siapkan skrip, latih delivery. Semoga cukup!
- Mengikuti nasihat @pandji dan @ernestprakasa, stand up katanya 90% skrip dan 10% improvisasi! Saya ikuti!
- Lima hari pertama kumpulkan bahan. Saya mencatat sebanyak mungkin hal terkait alumni @geodesiugm dan hal-hal umum yang mungkin lucu.
- Saya kumpulkan sebanyak mungkin kejadian atau cerita atau teori yang punya potensi kelucuan dan terkait alumni @geodesiugm
- Selain terkait @geodesiugm, saya juga kumpulkan bahan terkait profesi saya dan hobi. Sedikit-sedikit juga tentang politik π
- Dirasa cukup, saya mulai membuat naskah. Cukup cepat, semalam jadi meski kasar. Akhirnya disempurnakan terus selama empat hari.
- Untuk penampilan 10-15 menit saya siapkan 3000 lebih kata, 6 halaman π Lumayan setara tugas kuliah membuat essay :))
- Karena kesibukan, saya harus bolak balik Singapura Jogja, Jogja Jakarta dan seterusnya. Saya belum sempat latih dengan baik hingga H-1 π¦
- Akhirnya malam terakhir tanggal 7 saya memaksa diri. Asti, isteri saya, mendorong untuk latihan. Asti dan Lita yang mengevaluasi.
- Percayalah, tidak mudah latihan standup comedy dinilai isteri dan anak sendiri. Saya perlu energi besar. Perlu terobosan!
- Akhirnya saya harus mau. Saya punya prinsip: berlatihlah untuk mencapai kebaikan! Asti dan Lita mendukung penuh.
- Dari jam 10-12 malam latihan, banyak feedback dari Asti. Dia cukup kooperatif dan sangat supportif. Dia tahu, saya bukan seorang pro.
- Lita, terus terang, tidak terlalu supportif dan banyak komen “ga lucu Yah” atau “Lita ga ngerti”. Begitulah :))
- Apapun itu, the show must go on! Saya percaya pada Asti yang sudah memberi lampu hijau meski masih ragu π
- Akhirnya Asti dan Lita tidur. Saya merenung sendiri. Mencoba lagi beberapa kali. Ada yang kurang rasanya. Saya punya ide, bahan diperkuat dengan slide show. Maklum dosen π
- Selama 1,5 jam saya bikin slide dan memilih bagian-bagian yang tepat masuk slide. Ada foto orang, ada jargon, ada punch line juga.
- Akhirnya selesai dengan keterbatasan waktu dan bahan. Setengah jam berikutnya saya latih lagi sampai jam dua pagi. Sayapun tidur dengan perasaan sedikit galau.
- Pesawat ke Jakarta Jam 6 pagi, tetap harus istirahat meski kurang dari 3 jam. Sejujurnya tidak nyenyak :)) Grogi. Gelisah. Tegang.
- Saya anggap persiapan cukup dengan segala keterbatasan. Berangkatlah saya ke Jakarta menuju tempat reuni di sekitar Halim.
- Di bandara dan pesawat saya berkomat kamit berlatih tiada henti. Teman-teman dosen mungkin tak paham π Menegangkan!
- Di Jakarta saya sempatkan sounding beberapa materi ke teman-teman dosen agar nanti tidak terlalu kaget. Sebelumnya tidak ada yang tahu saya akan stand up.
- Beberapa senior saya beritahu bahwa saya akan menjadikan nama mereka sebagai bahan dalam stand up nanti. So far so good, tidak ada yang keberatan.
- Beberapa alumni yang nantinya akan saya ‘hina’ saya kontak juga untuk permakluman π Tidak semua saya kontak. Yang khusus saja.
- Selama reuni berlangsung saya tegang melihat perkembangan. Situasi tidak kondusif karena seringkali alumni ngobrol sendiri-sendiri. Ini hal biasa dalam reuni.
- Tegang, bagaimana nanti saya harus merebut perhatian mereka. Padahal Standup perlu perhatian full dari penonton π¦
- Di puncak kekritisan, saya hampir membatalkan pada panitia. Tapi urung. Ingat, toh saya bukan comic. Nggak lucu ya wis!
- Tapi memang berisiko. Kalau garing dan nggak lucu, saya telah menggali kubur sendiri. Tapi kalau lucu, tentu jadi Sejarah!
- A Point of no return! Saya dengar nama disebut. Saya harus bergerak. Pantang mundur, tak bisa berpaling! Move on! Nekat!
- Saya lihat banyak dosen yang bahkan kaget. Sejak kapan Andi jadi komedian :(( Saya lihat banyak wajah ragu.
- Belakangan saya tahu. Panitia pun masih berdebat sampai tadi malam, belum yakin bahwa saya yang akan standup.
- Maka terjadilah sejarah itu. Entah dari mana datangnya energi. Saya bisa melakukan sesuai latihan. Setidaknya penonton konsentrasi menyimak!
- Dengan kombinasi dari kalimat, intonasi, gerakan tubuh, slide animasi, hadirlah suguhan itu. Baik atau buruk silakan mereka yang menilai.
- Situasi di reuni tidak 100% cocok dengan naskah yang saya siapkan. Misalnya orang yang saya akan libatkan/βhinaβ tidak datang.
- Di sinilah perlu improvisasi. Ada pemotongan, penambahan, penggantian. Syaratnya: terlihat smooth dan natural π
- Saat bit tertentu tidak lucu π¦ saya ingat nasihat @pandji, langsung pindah bit atau paksa mereka ketawa, misal dengan mengatakan “ga lucu ya?!”
- Ternyata interaksi dan pelibatan penonton begitu penting. Menyebut nama-nama orang menjadi kunci agar konsentrasi penonton terjaga.
- Yang istimewa, teman-teman dosen yang saya jadikan ‘sasaran’ memberi respon positif dan mau ‘terlibat’ ini kunci kelucuan yang alami.
- Yang saya ‘hina’ juga mau ‘pura-pura marah’ atau ‘tertawa lepas’. Sebagian malah acungkan jempol. Sungguh membantu π
- Sebagian lain mau keluarkan celetukan sebagai respon atas bit saya. Ini membuat suasana hidup. Kuncinya adalah bantuan penonton.
- Sampai kemudian waktunya harus berakhir. Prinsip saya, boleh mulai agak gamang tapi akhirnya harus sharp, tegas, jelas. Maka saya siapkan dengan baik.
- Saya akhiri dengan sebuah punch line yang disiapkan matang. Kalimat terakhir merupakan punch line yang tegas dan ‘pecah’. Saya lega!
- Mengikuti gaya @ernestprakasa, saya menjura hormat di akhir sambil mengatakan “nama saya Andi Arsana, saya angkatan ’96”.
- Masih Cukup lama dampaknya terdengar. Penonton Masih tertawa ketika saya diberi penghargaan oleh alumni π
- Saya lega, bukan Karena hasil yang sempurna tapi karena keberhasilan melakukan hal baru, mengalahkan ketakutan sendiri π
- Harapan saya, Stand up Itu bisa memberi sentuhan berbeda dan ‘mendefiniskan ulang’ hub almamater-alumni.
- Saya pulang dengan catatan khusus. Terutama dari mereka yang dengan tulus memberi apresiasi. Dosen juga boleh gaul. Kenapa tidak π




