Pahami Ambalat

Untuk merespon gonjang ganjing terkait kasus Ambalat belakangan ini, tadi saya melakukan kultwit. Untuk mendokumentasikan lebih baik, twit itu saya posting kembali di blog ini. Semoga bermanfaat.

  1. Masyarakat umumnya memahami bahwa Ambalat adalah semua kawasan laut di sebelah timur Borneo dan jadi sengketa Indonesia-Malaysia.
  2. Bayangkan peta, borneo dibagi dua: selatan (Kalimantan) untuk Indonesia, utara (Sabah, Sarawak) untuk Malaysia. Batas daratnya sudah ada.
  3. Garis batas ini hanya membagi daratan saja. Garisnya berhenti di bagian timur membagi dua sebuah pulau bernama Sebatik.
  4. Dari pantai timur Sebatik, garisnya harus dilanjuntukan untuk membagi laut. Sampai kini belum ada kesepakatan garis.
  5. Meskipun belum ada kesepakatan garis, Indonesia dan Malaysia sama-sama mengklaim sendiri kawasan laut di sana.
  6. Indonesia mengklaim dengan cara membuat kavling atau blok konsesi dasar laut yang dikelola pihak ketiga sejak tahun 1966.
  7. Dua dari kavling atau blok itu dinamai Ambalat dan Ambalat Timur. Jadi Ambalat adalah blok dasar laut untuk konsesi migas.
  8. Ambalat bukan pulau, bukan daratan seperti yang banyak orang sangka. Maka kalau mau ke Ambalat berarti harus menyelam :))
  9. Banyak yang salah sangka, dikiranya Ambalat itu pulau atau daratan. Kalau pulau kita direbut orang memang wajar kita bela dengan bambu runcing 😀
  10. Malaysia mengklaim dengan cara membuat peta tahun 1979. Menariknya, Malaysia mengklaim kawasan yang sudah diklaim Indonesia. Lihat gambar di twit 17 dengan label “Malaysia claim line”.
  11. Salahkah Malaysia? Bagi Indonesia, salah tapi pada dasarnya kedua negara melakukan klaim sepihak 🙂
  12. Indonesia menolak peta 1979 yang dikeluarkan Malaysia. Tidak hanya Indonesia, negara lain juga menolak. Malaysia santai saja 🙂
  13. Indonesia tetap melakukan klaim sepihak dengan membuat beberapa kavling/blok dasar laut. Masalah muncul tahun 2005. Kasus Ambalat I.
  14. Saat itu Malaysia mengkonsesikan apa yang sudah dikonsesikan oleh Indonesia. Dengan kata lain, Malaysia klaim apa yang sudah diklaim Indonesia.
  15. Di mata Indonesia, Malaysia salah tapi sekali lagi, keduanya melakukan klaim sepihak. Hanya memang ada yang duluan ada yang belakangan.
  16. Secara keseluruhan kawasan laut sebelah Timur Borneo disebut dengan Laut Sulawesi. Ini nama yang disepakati dunia. Bukan Ambalat.
  17. Inilah klaim sepihak Indonesia dan Malaysia di Laut Sulawesi. Perhatikan berbagai blok yang ada di sana.
  18. Dari gambar di twit 17 bisa dilihat Indonesia punya banyak klaim, Malaysia juga punya dan ada yang tumpang tindih.
  19. Bagian yang diarsir tebal itu saja yang merupakan kawasan tumpang tindih, jadi bukan di semua Laut Sulawesi.
  20. Dari sekian yang tumpang tindih, hanya sebagian yang bernama Ambalat. Jadi yang disengketakan bukan hanya Ambalat 🙂
  21. Mungkin Anda segera ingin tahu, jadi Ambalat punya siapa? Itu klaim Indonesia tapi klaim sepihak. Malaysia blm tentu setuju.
  22. Lalu solusinya? Tetapkan pembagian laut dulu dengan delimitasi batas maritim baru bisa tahu yang mana milik siapa.
  23. Kita akan bela tanah air sampai titik darah penghabisan! Betul, tapi yang kita bela adalah yang sudah pasti jadi milik kita dong.
  24. Perbedaan klaim Indonesia dan Malaysia saat ini. Perhatikan tumpang tindihnya. Ini yang harus dirundingkan.
  25. Kalau Malaysia datang ke kawasan tumpang tindih ini, kita bilang dia melanggar. Sebaliknya juga gitu 🙂
  26. Apakah pemerintah kita tinggal diam? Tentu tidak. Perundingan sudah 30an kali sejak 2005. Memang ga’ gampang.
  27. Apakah Malaysia kurang ajar? Menurut kita mungkin begitu. Tapi menurut mereka ga tahu ya. Jangan-jangan kita yang dianggap kurang ajar 😀
  28. Apapun itu, yang pasti kita harus siap berunding dengan terhormat. Kalau kita yakin benar, ga’ usah emosi.
  29. Melengkapi diri dengan alutsista juga penting. Bangsa yang mau damai harus siap perang, katanya. Tapi ga’ main ganyang sembarangan juga 😀
  30. Twit ini tak akan membuat Anda jadi ahli jadi jangan pura-pura jadi ahli seperti ahli dadakan di TV itu. Paling tidak ada perspektif lain agar tidak lekas emosi 🙂

PS. Gambar dan pandangan yang ditayangkan di blog ini adalah bagian dari Disertasi S3 saya. Kalau tertarik untuk belajar lebih jauh silakan kontak saya.

Pulang ke Tegaljadi

Ibu aku pulang menemuimu. Seperti yang kaurafalkan dalam mantra sederhanamu saat mengantarku menemui Hyang Widhi dalam ritual otonanku, aku pulang menyangkil menyuwun. Memikul di pundakku sebentuk tanggung jawab dan menjunjung di kepalaku selapis pengetahuan yang semoga tidak bereinkarnasi menjadi kesombongan.

Temani aku untuk berbicara dengan sebatang pohon kamboja merah darah yang kini berdiri sabar di samping rumah. Aku ingin bertanya perasaanya saat kita cincang dia menjadi terpotong tiga dan tercerai berai. Adakah pohon kemboja memarahiku, Ibu Jika dia marah, ingatkanlah padanya, akulah yang mengumpulkan bunga bunganya yang berguguran dan terserak setiap pagi. Ingatkanlah dia, aku yang memeluknya setiap sore sambil bergelantungan di dahannya yang kokoh dan sabar. Aku yang membantu kawannya, tanduk menjangan, untuk melepaskan hahaga dengan segayung air kali yang aku pikul dari sungai sebelah rumah. Ingatkanlah dia.

Continue reading “Pulang ke Tegaljadi”

Sebuah hari biasa

Sore masih muda, jalanan Jogja mulai memadat. Jika Kisanak ke Jogja di pertengahan tahun 90an dan datang lagi di tahun-tahun sekarang, Kisanak akan tahu bedanya. Kemacetan sudah bukan hanya milik Jakarta saja. Kami melaju mengendarai motor. Seperti banyak hari lainnya, Asti menjemput saya di kantor dan kami berkendara meliuk-liuk di antara mobil yang berderet dan bergerak lambat. Ini adalah hari biasa sepulag kerja. Hari yang tidak istimewa.

Continue reading “Sebuah hari biasa”

Ilmuwan Penari

Ada janji bertemu dengan seorang kawan di Jakarta. Ana, namanya. sebenarnya sudah cukup lama direncanakan tetapi selalu ada alasan untuk membuat rencana tinggal rencana. Suatu hari saya menghubunginya, mengatakan saya ada di Jakarta dan kami bersepakat bertemu. “Aku latihan nari dulu” katanya membalas pesan di Whatsapp. Kawan saya ini seorang ilmuwan handal. Dia satu dari sangat sedikit manusia Indonesia yang pernah hidup beberapa lama di Antartika untuk penelitian. Beberapa hari terakhir dia menjadi artis top karena diliput hidup kesehariannya oleh sebuah stasiun TV di China karena dianggap sebagai orang Indonesia lulusan China yang kiprahnya penting dalam ilmu pengetahuan dan menjaga hubungan baik kedua negara. Singkat kata, dia orang hebat. Mengetahui bahwa dia juga menari, adalah sebuah kejutan yang menggelitik.

Continue reading “Ilmuwan Penari”

Memberi Jalan

Saat turun dari pesawat, saya sering mengamati penumpang lain. Umumnya -sekali lagi umumnya dan artinya tidak semua dan tidak selalu- penumpang tidak sabar untuk segera turun. Biasanya mereka berdiri di gang atau di kursi mereka dan menunggu dengan wajah tidak sabar. Faktanya, entah apa penyebabnya, waktu tunggu sampai akhirnya pintu pesawat dibuka memang selalu terasa lebih lama dibandingkan yang dibayangkan. Maka wajah-wajah tidak sabar dan cenderung gelisah mudah dijumpai pada pesawat yang baru saja mendarat.

Continue reading “Memberi Jalan”

Rusak Semua

Transit di Doha, Qatar selama lebih dari tujuh jam membuat saya harus bersiasat. Pasalnya, airline tidak menyediakan hotel transit untuk istirahat. Alasannya memiriskan hati: tiket saya kategori promo. Sebenarnya perjalanan ini didanai sponsor dan saya tidak harus memesan tiket promo karena memang tidak ada plafon. Tapi sudahlah, memang sudah kebiasaan memilih tiket murah. Murah bukan berarti murahan. Meski murah itu sama dengan kenyamanan yang berkurang. Saya tidak bisa tidur nyenyak di Bandara Doha.

Continue reading “Rusak Semua”

Spaghetti tahun 1995

Kuta Bali, tahun 1995
“Ini to Ketua OSISnya? Kok Kecil?” kata lelaki usia empat puluhan tahun itu berkelakar. Dua kawanku tersenyum saja. Aku tidak menjawab, hanya menyalami dengan senyum sopan. Lelaki itu, kalau tidak salah, adalah seorang manajer di hotel ini. Hotel besar yang terkenal di Bali. Aku hanya bisa kagum. Betapa hebatnya lelaki ini, menjadi orang penting di sebuah hotel berbintang. Penampilannya nampak perlente, professional dan elegan. Sementara itu aku gugup luar biasa, tak terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Aku Ketua OSIS, terbiasa memimpin pasukan di lapangan atau memimpin rapat dengan sesama pengurus OSIS tetap tidak pernah dilatih berinteraksi dengan seorang professional sekelas manajer hotel dalam suasana yang mewah dan mentereng. Nyaliku ciut.

Continue reading “Spaghetti tahun 1995”

Takut

Di negeri Belanda, di misim gugur yang mulai menggigil, seorang kawan Indonesia bertanya perihal Amerika. Kawan ini ingin sekali berkunjung ke Amerika dan bahkan tertarik untuk melanjutkan pendidikan. “Di Amerika serem ya Bro?” tanyanya penuh selidik. Aku hanya melihatnya tanpa menjawab. Menyadari kebingunganku, dia menambahkan “Ya, di sana sepertinya serem banget ya. Hidup tidak aman, banyak kejahatan. Penembakan di mana-mana dan mahasiswa tidak aman di kampusnya sendiri. Ngeri sekali membayangkan Amerika”. Aku yang baru saja menyelesaikan tugas di New York, hanya bisa tersenyum tertahan. Dalam jawaban setengah berkelakar, aku berkata “kamu terlalu banyak nonton film Hollywood”. Dia tidak paham, menatapku dengan sorot mata yang bingung.

Continue reading “Takut”

Harvard

harvard
Harvard

Mejanya terlihat biasa saja. Di atas meja itu tergeletak sebuah piring kertas yang padanya terkapar pisau dan sendok plastik berlumuran saos. Kotor, tidak rapi dan mengenaskan. Di sebelahnya terhampar selembar kertas tisu, melambai-lambai terpapar desiran angin yang halus. Aku memandanginya dengan tatapan penuh selidit. Barang-barang itu tentu tidak istimewa.

Mataku menerawang, melihat lelaki dan perempuan muda yang bergerak cekatan, lincah dan trengginas. Beberapa dari mereka nampak berjingkat bergegas, sementara yang lainnya memegang segepok makanan dan menggigitnya sambil berlalu tergesa. Aku menyaksikannya saja. Di pojok yang agak jauh, ada sekelompok lelaki dan perempuan, membuka kotak pizza dengan antusias dan menyantapnya dengan penuh semangat. Di sebelahnya, duduk seorang lelaki yang tubuhnya ada di sana tetapi jiwanya entah ke mana. Sepotong sandwich yang digenggamnya, lenyap potong demi potong menyelinap ke dalam mulutnya bahkan mungkin tanpa dia sadari. Jiwanya sedang tenggelam bersama bacaannya yang memendarkan cahaya redup dari sebuah tablet yang nangkring di atas meja. Mungkin pikirannya telah tersandera kisah misteri cerdas sekelas karya John Grisham, atau melayang-layang bersama percikan rumus-rumus Kimia atau Fisika yang seakan beterbangan di sekitar kepalanya, atau hanyut bersama kasus-kasus hukum internasional yang diputuskan di gedung mentereng Mahkamah Internasional di The Hague. Entahlah, apa isi bacaan lelaki itu. Dia tenggelam sempurna dan tidak terusik oleh apa yang terjadi di sekitarnya.

Continue reading “Harvard”

Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?

Sore kemarin ada SMS masuk ke HP saya. Pengrimnya tak asing, beliau adalah kepala sekolah SMA 3 Denpasar, almamater saya sekitar dua puluh tahun silam. Nomornya masih sama dan sudah saya simpan dalam waktu sekitar lima tahun terakhir. Tanpa menunggu, SMS itu saya balas sambil bertanya. Beliau sedang ada di Jogja untuk suatu tugas dan dan saya segera menemui beliau di sebuah hotel lalu mengajaknya jalan-jalan menikmati Jogja di malam hari.

Continue reading “Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?”