Belajar Menulis Panjang


Saya paling semangat mengatakan bahwa menulis itu penting. Dampaknya bisa begitu hebat, nyata dan kadang instan. Cepat sekali. Oleh karena itulah saya selalu menyarankan mahasiswa saya untuk menulis. Tidak saja menyarankan, saya juga mewajibkan mereka. Agak berbeda dengan teman teman dosen lain, saya mewajibkan mahasiswa saya membuat blog dan menulis satu post setiap minggu setelah mengikuti kuliah. Saya yakin ada banyak yang tidak suka dengan tugas itu dan berkeluh kesah. Ada yang mungkin benci pada saya karena dianggap berlebihan. Saya menyadari itu tetapi keyakinan saya akan prinsip di atas tidak pudar. Saya berketetaapan hati bahwa mahasiswa saya harus tetap menulis blog. Pada prinsipnya, saya ingin mahasiswa belajar menulis panjang.

Mampu menulis panjang itu penting karena karya ilmiah dan karya penting lainnya memang berupa tulisan panjang. Panjang yang saya maksud adalah lebih panjang dari sebuah pesan lewat Whatsapp, lebip panjang dari sebuah kicauan di Twitter yang hanya 140 karakter. Lebih paniang juga dari status Facebook yang kadang isinya hanya menggalau atau mengGeJe. Jika Anda tidak tahu apa itu mengGeJe, kemungkinan Anda sudah tua. Bukan soal umur tetapi soal pergaulan. Cobalah untuk menjadi lebih muda di dalam hati *ga nyambung.

Menulis panjang itu perlu skill. Seorang penulis harus mampu menyusun pemikirannya dalam sebuah sistematika yang baik dan rapi terstruktur lalu mengembangkan setiap butir gagasan menjadi narasi yang cukup panjang. Narasi yang cukup panjang ini tentu saja harus padu, mengalir dengan halus tanpa lompatan gagasan yang berarti, cukup menyenangkan dibaca karena ditulis dengan gaya bahasa yang menarik, serta, yang paling penting, tidak menimbulkan kesan dipanjang-panjangkan hanya untuk memenuhi kuota atau syarat.

Seorang mahasiswa yang hanya menghabiskan waktunya mencericit dengan 140 karakter atau status galau di Facebook, bisa stres menghadapi kenyataan bahwa mereka harus membuat sebuah buku alias skripsi dengan tebal 100 halaman. Yang lebih menegangkan, tulisan dalam skripsi itu harus membentuk rangkaian cerita yang utuh. Jadi, skripsi bukanlah kumpulan halaman halaman yang berisi pembahasan yang tidak nyambung satu sama lain. Untuk menyiapkan diri menulis skripsi, tesis, disertasi inilah maka belajar menulis panjang menjadi penting setengah mati.

Bagi saya, ada banyak cara belajar menulis panjang. Ngeblog adalah satunya. Dengan membuat posting blog, kita dipaksa untuk membuat sebuah cerita yang nyambung dan agak panjang. Inilah bedanya blog dan microblog. Jika di blog tetap menulis 140 karakter tentu saja terjadi pemanfaatan ruang secara tidak tepat. Ini sama dengan penyia-nyiaan ruang yang luas karena diisi sesuatu yang kecil dan sederhana. Microblog seperti Twtitter bagus bagi kita untuk mendapatkan atau berbagi sebuah gagasan utama atau headlines tetapi untuk informasi detail atau petunjuk lengkap, tulisan panjang tetap diperlukan. Di sinilah blog berperan nyata.

Selain memotivasi atau memberi instruksi kepada mahasiswa, saya memotivasi anak saya, Lita, untuk ngeblog. Di situlah saya merasakan langsung sulitnya memikat perasaan seseorang untuk melakukan hal yang serius seperti ngeblog. Lita sebenarnya lumayan mudah diajak bekerjasama tetapi masih sangat sering kehilangan motivasi. Membuat anak umur 8 atau 9 tahun untuk menulis panjang, sementara di sampingnya ada Minecraft, video kesukaannya, film kesayangannya dll, tentu tidak mudah. Selalu ada drama dan Lita punya banyak sekali alasan untuk mengatakan tidak atau “nanti” atau “ntar dulu”. Saya dibantu oleh suatu fakta bahwa saya bisa menjadi teladan dalam ngeblog karena saya masih tetap ngeblog betapapun kacaunya jadwal pekerjaan saya. Menulis, seperti yang pernah saya tulis, bagi saya adalah candu. Meski begitu, tetap saja tidak mudah mempengaruhi Lita untuk menulis.

Sampai post ini saya tulis, masih ada saja alasan untuk tidak menulis blog bagi Lita. Sebagai ayah, cukup mudah sebenarnya untuk tidak ambil pusing, Toh blog tidak mempengaruhi raportnya. Toh blog tidak terkait dengan gaji saya untuk membelikannya susu, toh keterampilan blog tidak pernah dinilai di sekolahnya, toh blog tidak menjamin dia menjadi dokter hewan atau marine bilogist seperti yang dia impikan. Ada terlalu banyak alasan untuk tidak ngeblog. Meski demikian saya tetap punya alasan untuk ‘memaksa’ anak saya untuk menulis. Meski masih sering bolong dan lupa, usaha ini harus tetap saya lakukan. Bagi saya, semua orang bisa membuat sejarah dan semua orang bisa menjadi bagian dari sejarah. Namun kita tidak pernah belajar dari pelaku sejarah. Kita belajar tentang pelaku sejarah dari penulis sejarah.

Simak wawancara saya dengan Lita tentang pengalamannya ngeblog.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

27 thoughts on “Belajar Menulis Panjang”

  1. Mas Andi, secara kebetulan, saya akan posting sebuah “tulisan panjang” dengan tema mirip seperti ini. Dan saya juga “mensitir” tulisan Mas Andi tentang “Menulis itu candu”. Sebuah kebetulan yang menarik. Salam dan semoga sehat selalu πŸ™‚

  2. semoga Lita nantinya senang ngeblog ya Pak Andi…

    Dan salah satu yang saya suka dari tulisan Pak Andi adalah, walau postingannya panjang-panjang tetapi tetap enak dan menarik dibaca dari awal sampai akhir…

    Ya iya lah… pak dosen yang emang hobi nulis… πŸ™‚

  3. Saya suka diprotes pembaca blog karna postingan sering kepanjangan, terlalu banyak yg pengin dibahas gitu di kepala, ga abis2. Mungkin krn sejak sd saya sering ikut lomba mengarang karena minat saya di situ? Saya setuju kalo mewajibkan mhsw ngeblog akan melatih mereka menulis panjang, tp bagi yg ga ada minat dan bakat gimana ya Bli bikin mereka termotivasi? Apalagi bagi mereka yg cuma pengin lulus pas pasan saja, pasti jauh lebih sulit hehe. Semoga program blogging nya sukses, nanti bisa jadi program percontohan πŸ™‚

  4. Bener pak, meskipun keliatannya sepele tapi nulis blog itu perlu effort yg cukup lumayan lohh apalagi kalo bikin tulisan yg panjang tapi gak bosenin. Dan semua itu bisa dilakukan kalo kita terus nulis alias konsisten πŸ™‚

  5. setuju pak made, saya dulu juga mahasiswa ugm pak cuman kampus agro cluster, tp jg kuliah manajemen di uii, tapi karena ingin tahu sebagai orang awam ttg maritim dapatlah blog pak made, makasih pak sudah berbagi ilmu

  6. i wonder how you teach your daughter. Can you later post some tips or advices in educating children? Thank you sir. I am wantook and i really enjoy read your blog πŸ™‚

  7. Salam Mas Made Andi, ada yang ingin saya tanyakan terkait studi di Australia

    Untuk studi di Canberra (tepatnya di ANU) apakah dengan monthly allowance AUD 2000/bulan dan Settlement Allowance AUD 4000 sudah lebih dari cukup untuk hidup di Canberra (sesuai standar) atau justru sangat mepet sehingga harus bekerja part-time ?

    Terima kasih πŸ™‚

  8. Salam Mas Made Andi, ada yang ingin saya tanyakan terkait studi di Australia

    Apakah bisa menabung untuk seorang single yang berkuliah master di ANU dengan biaya monthly allowance 2000 AUD/bulan ?

    atau jika ingin menabung, justru harus part time ?

    Terima kasih πŸ™‚

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s