Diplomasi Sopir Taxi

Saya memesan taxi untuk berangkat dari Orchard Hotel di Singapura menuju penginapan lain tidak jauh dari Bandara Changi. Sadar tidak paham lingkungan di Singapura, saya menggunakan Google Maps untuk penunjuk arah. Meskipun naik taxi, saya ingin tahu waktu tempuh dan rute perjalanan. Ketika memasuki taxi, saya jelaskan tujuan saya dengan alamat dilengkapi nama dan nomor jalan. Pak sopir lalu menanyakan daerah yang ingin saya tuju. Saya paham, bagi orang lokal, akan lebih baik diberitahu nama daerah atau kawasan, tidak sekedar nama jalan dan nomornya. Dengan Google Maps yang sudah disimpan sebelumnya saya memberitahu sang sopir. Kamipun melaju.

Di tengah jalan beberapa kali pak sopir bertanya rute yang ingin saya lewati. Di satu persimpangan, misalnya, dia bertanya apakah saya ingin lurus atau lewat kiri dengan memberi pertimbangan untung ruginya. Saya kira ini sikap yang baik. Saya pun manut saja, yang penting cepat. Meski demikian, saya tetap melihat peta navigasi di iPad.

Semua berjalan baik-baik saja hingga kami tiba di satu persimpangan. Saya lihat peta di iPad menyarankan belok kiri tetapi rupanya pak sopir hendak lurus. Saya dengan santai bilang “according to the map, we can turn left here”. Dia langsung menjawab, kalau ke kiri akan macet dan justru lebih lama. Mendengar itu, saya paham dan tidak memaksa “Oh okay, no problem” kata saya dengan santai. Dia berusaha menjelaskan situasi lalu lintas di Singapura dan saya tentu paham. Tiba-tiba dengan nada yang tidak seramah tadi, dia tanya “do you want to turn left?” Saya segera jawab “no, I am just saying. Please continue. No problem.” Entah bagaimana ceritanya, dia tidak berhenti di situ dan tetap berbicara yang menurut saya terdengar seperti membela diri secara berlebihan. Saya duga, dia mengira saya memaksa dia lewat kiri sementara dia sudah terlanjur memilih jalur lurus. Lebih jauh lagi, suaranya tiba-tiba agak naik, mengatakan bahwa kalau saya ingin belok kiri, harusnya saya mengatakan dari awal, tidak tiba-tiba di persimpangan. Untuk kalimat yang terakhir ini saya maklum, rupanya dia salah paham dengan pernyataan saya. Sadar akan hal ini saya hanya bilang “oh okay, no worries”. Saya ingin menenangkan suasana dan menghindari perdebatan yang tidak penting.

Di luar dugaan, sopir ini tidak menyudahi di situ, dia tetap berbicara banyak, menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dan tidak ingin saya ketahui. Yang lebih menyedihkan, nada bicaranya tinggi dan cenderung menyalahkan. Ada kesan bahwa dia yang tahu Singapura dan saya tidak begitu paham. Tentu saja itu benar karena dia seorang sopir taxi di Singapura dan saya hanyalah penumpang asing. Saya memilih untuk diam saja, menahan emosi yang mulai naik juga. Tidak elok berdiplomasi dengan seorang sopir taxi untuk hal-hal yang tidak akan membuat perjalanan saya jadi lebih cepat. Kamipun terdiam agak lama.

Saya berusaha mencairkan suasana dengan bertanya hal-hal lain. Saya tanyakan populasi Singapura untuk sekedar berbasa-basi. Saya terkejut bukan kepalang ketika dijawab dengan ketus nada tinggi “six millions”. Dalam hati saya tersenyum geli melihat polah sopir taxi ini tapi saya hanya mengiyakan. Saya tidak paham mengapa hal kecil itu bisa membuat dia sedemikian emosi begitu lama. Lebih parah lagi, dia mulai melaju kencang dan kasar karena sering harus ngerem mendadak di jalanan Singapura yang tidak lengang. Saya mulai tidak nyaman tetapi berusaha menahan diri agar tidak terjadi interaksi yang lebih tegang.

Suatu ketika, saya mendengar ada peringatan dari GPSnya bahwa taxi itu melaju terlalu cepat, melebihi kecepatan yang diizinkan. Saya mulai merasa tidak nyaman dan khawatir dengan keselamatan. Gerakan mobil itu terasa kasar dan grasa grusu. Saya masih diam sambil menyiapkan strategi komunikasi terbaik. Belum sampat saya berkata apa-apa, peringatan yang sama terdengar lagi dari GPS. Dengan spontan saya berkata “I think you are too fast” dan disambut dengan suara tinggi oleh pak sopir “you think 60 is too fast? What do you want? 40? It will be very slow. When will we arrive there?” Jawaban itu terus terang membuat emosi saya naik drastis. “I don’t know the rule here, Man but the GPS said that we are too fast. That’s it!” Tidak mau kalah, dia lalu bilang “there is something wrong with the GPS. The speed is only 60. It is not too fast. What do you want? 40?” lagi-lagi dia mengulang ucapannya. “Sorry I don’t know that your GPS is broken. That is what I heard and I can feel that you are too fast. Slow down a little bit” kata saya masih berusaha tenang meskipun suara saya pastilah mulai bergetar. “No, the GPS is broken” katanya masih dengan nada tinggi.

Belum lagi kami selesai berargumen, GPS mengeluarkan peringatan yang sama bahwa kami melebihi kecepatan yang diizinkan. Di situlah saya mulai kehilangan kendali kesabaran dan saya pun berteriak. “Hey, Man! You are too fast and I know that. I am not stupid. Slow down!” mendengar saya berteriak rupanya dia sedikit terkejut karena tidak menduga saya berani melakukan itu. Tapi karena terlanjur merasa di atas dari tadi, dia tidak berubah sikap. Dia tetap membela diri bahwa itu tidak terlalu cepat. Saya sudah lupa dengan segala sopan santun dan berteriak “Hey, you shut up!” tapi dia masih berucap walaupun kini dengan nada suara yang sudah agak turun. Tanpa ampun saya mengulang lagi, kali ini lebih keras dan kasar “You ******* shut up!” sambil menunjuk wajahnya dari belakang. Seketika dia tercekat dan diam. Saya melanjutkan dengan emosi yang masih menyala “I am a customer here and you are providing me with service. You know that! My concern is my safety. I don’t care your GPS is broken or not, when I say slow down you ******* slow down, OK! Who do you think you are man?! I have been very patient to listen to your lecture along the way. I could feel that you underestimated me, right?! You are wrong, Man! I know I am not from here. I am from Indonesia but I know the law and you don’t play with me, Man!” Saya bicara dengan nada sangat tinggi dan itu membuatnya terkejut luar biasa. Dengan spontan dia bilang “sorry Sir” sambil gemetar, meskipun terdengar tidak ikhlas. “What is your name?” kata saya dengan nada mengancam. Diapun menyebut satu kata dan saya tidak puas dengan itu “tell me your full name!!!” dan diapun menyebutkan nama lengkapnya. Dengan nada khawatir dia bertanya “what for Sir?” Kali ini saya ingin memberinya pelajaran kecil “you know what for. I can call your company and you don’t have to wait until tomorrow, you will lose your job tonight!” Saya bisa melihat wajahnya pucat dan kemudian berkali-kali minta maaf “I am really sorry Sir” katanya berulang-ulang, kali ini dengan nada yang memelas.

Diam-diam saya mulai kasihan pada lelaki malang itu. Meski demikian emosi saya belum reda dalam waktu yang sesingkat itu. Giliran saya memberi kuliah padanya. Saya ungkapkan semua kejadian tadi dan saya sadar betapa angkuhnya dia menanggapi saya. Saya juga tahu dia telah meremehkan saya. Saya tanya “is it because you know that I am a foreigner so you treat me that way? If this is the case and this can be very long because I will not stop it here!” Mendengar itu dia semakin takut “no Sir. I didn’t mean that. I am really sorry Sir. It was my mistake. I apologise, really!” kata-katanya memelas, sirna sudah keangkuhan yang tadi dipamerkannya. Mendengar itu, amarah saya mereda. Pelan-pelan saya menyadari situasi dan berusaha mengusir emosi. “You know what ***?!” kata saya dengan nada lebih tenang. “Yes Sir?” jawabnya santun. “I like this country because you provide friendly environment and respect foreigners like me. And what you just did does not at all reflect that. That is why I was so upset. I hope you understand that.” “Yes Sir, once again I am sorry Sir” katanya dengan nada halus dan santun. Sayapun memilih untuk diam menenangkan diri.

Mendekati tujuan, dia bertanya dengan sopan dan takut-takut karena dia ternyata tidak tahu persis alamat yang kami tuju. Memang tidak mudah menemukan nomor gedung di saat gelap seperti itu. Saya hanya bilang “just go straight, I will tell you.” Saya memang aktifkan Google Maps Navigation sehingga bisa tahu persis tujuan saya. Kamipun sampai di tempat yang saya tuju. Pak sopir kembali minta maaf dengan tulus dan kali ini saya tanggapi dengan tulus juga “that’s Ok, no worries. No problem between us, ***” Tidak berhenti di sana, saya merasa tidak tega membuat hatinya gundah gulana. Dia pasti masih sangat khawatir kalau-kalau saya akan menelpon perusahaannya atau melakukan tindakan hukum. Saya berkata “I know that I was also angry and impolite yelling at you but you know the reason.” “Yes, Sir, I understand” katanya. Saya lanjutkan, “I will not prolong this case, don’t worry. I also apologise for what I have said to you. I realise it was not appropriate”. Mendengar itu dia berkata “no, Sir, that’s fine. I am sorry once again.” Saya menjabat tangannya saat keluar dari taxi.

Saat taxi itu melaju saya dihinggapi rasa lega. Lega karena telah menggagalkan sebuah penindasan oleh satu manusia terhadap manusia lainnya. Terlebih lagi, lega karena saya telah meminta maaf dengan tulus kepada seorang asing yang perasaannya mungkin saya lukai.

PS. Kejadian di atas murni insiden antara sopir taxi dan penumpangnya, tidak terkait hubungan antarnegara, apalagi nasionalisme 🙂 Komentar sebaiknya fokus pada insiden tanpa membawa-bawa nama negara 😉

Gara-gara nyetir

Jika kita membayangkan seseorang berdiri di depan ribuan orang lainnya dan memukau hadirin dengan gagasannya, umumnya kita membayangkan orang itu begitu hebat. Wajar jika kita menduga orang itu telah melakukan sesuatu yang besar dan hebat sehingga layak didengarkan, layak dikagumi bahkan layak dipuji. Jika orang itu kemudian mendapat tepuk tangan yang riuh, kita akan semakin yakin gagasannya pastilah baru, penting dan menggugah. Tapi pernahkan Anda membayangkan kalau seseorang bisa dipuja di atas sebuah pentas bergengsi, diakui kecemerlangannya hanya gara-gara dia nyetir mobil di tahun 2013? Lihatlah video ini, mungkin Anda akan setuju mengapa orang tersebut hebat sekali.

Manal Al-Sharif adalah perempuan Arab Saudi. Dia melakukan sebuah revolusi sosial di negaranya. Bukan dengan cara menurunkan penguasa yang tiran atau mengungkap korupsi yang parah. Manal melakukan revolusi dengan nekat nyetir mobil. Mengapa nyetir mobil bisa menjadi sebuah revolusi hebat? Karena di Arab Saudi, perempuan memang tidak boleh nyetir. Di luar segala hal-hal hebat terkait transformasi sosial yang begitu berharga dari cerita ini, saya menarik satu pelajaran penting. Untuk menjadi seorang pahlawan kita tidak harus melakukan hal-hal besar menurut orang lain atau pihak luar. Kepahlawanan bisa saja ditandai oleh sebuah tindakan yang kecil atau biasa menurut orang lain tetapi penting jika dilihat dari kacamata sendiri dan lingkungan terdekat. Yang terpenting ternyata bukanlah apa yang dilakukan tetapi seberapa besar dampak tidakan itu bagi lingkungan. Di negara tertentu, belum bisa nyetir di usia 18 tahun adalah keanenan, sementara di belahan dunia lainnya, berani nyetir bisa jadi tanda revolusi. Pada prinsipnya, sesuatu yang baik itu tidak harus terlihat rumit. Something good does not have to look difficult.

Birahi

http://desamenyali.blogspot.com.

Made Kondang diam saja ketika Klian Banjar memberi perintah. Ada pertanyaan dalam hatinya tetapi tidak diungkapkannya karena alasan etika. Tidak elok mempertanyakan, apalagi membantah perintah Klian Banjar.

“Pastikan semua petani yang membajak sawah, mulai hari ini, tidak menggunakan sapi betina.” Klian Banjar mengulangi sekali lagi perintah yang sebenarnya sudah cukup jelas bagi Kondang.
“Ya, Pak Klian” jawab Kondang lirih.
“Saya tidak mau lagi melihat ada yang menggunakan sapi betina seperti yang sudah-sudah. Sangat tidak elok!” sambung Pak Klian seperti gusar.

Continue reading “Birahi”

Air

http://lashaunahinton.wordpress.com/

Belakangan ini saya sering belajar di sebuah ruangan di UNSW sejak tinggal di Sydney. Di ruangan itu ada dapur tempat para mahasiswa makan siang atau sekedar istirahat menikmati teh. Di dapur itu ada lap/tisu kertas gulung yang menempel di tembok. Tisu itu kadang saya ambil untuk membersihkan meja dari tetesan air, melapisi tangan saat memegang gelas berisi kopi panas atau untuk membersihkan piring dari remah-remah makanan. Setiap kali selesai mencuci perabotan, saya juga memanfaatkan tisu itu untuk membersihkan tangan.

Berbeda dengan tisu toilet yang mudah dipotong karena sudah ditentukan penggalan-penggalan untuk memotong, tisu gulung itu harus dipotong dengan pemotong bergerigi yang sudah ada pada wadahnya.  Tisu itu juga kuat, jauh lebih kuat dari tisu toilet sehingga harus ditarik dengan tenaga secukupnya agar terpotong. Singkat kata, memotong tisu gulung itu perlu sedikit keterampilan dan juga tenaga.

Continue reading “Air”

Daftar Universitas di Australia yang Bisa Dipilih untuk Beasiswa AAS/ADS

Berikut ini daftar universitas di Australia yang bisa dipilih oleh pelamar Beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) tahun 2013/2014. Jika Anda melamar AAS, sangat dianjurkan untuk menghubungi salah satu dari universitas di bawah ini. Yang melamar Master by Research atau PhD, wajib menghubungi calon pembimbing dari salah satu universitas berikut. Silakan lihat juga website CRICOS: http://cricos.deewr.gov.au untuk informasi lebih lanjut.

Continue reading “Daftar Universitas di Australia yang Bisa Dipilih untuk Beasiswa AAS/ADS”

Sentuhan Pribadi

ultah

Di tangah malam itu, tiba-tiba Asti, isteri saya, keluar dari kamar, menemui saya yang masih di depan komputer. Di tangannya ada iPad yang pada layarnya ada Lita yang sedang bicara lewat Skype. Menyusul di belakangnya ada Mbak Dyah dan Sita, dua teman serumah, sesama pejuang Indonesia di Australia. Ada kue cantik dan tiga lilin yang menyala. Terharu sekali, kejutan kecil itu begitu menyentuh. Memang bukan pesta mewah atau kue mahal dan hingar bingar perayaan. Malam itu istimewa karena penuh dengan sentuhan pribadi.

Lita turut menyanyi lewat Skype dan membantu saya meniup lilin ketika lagu ulang tahun selesai dikumandangkan. Saya masih ternyanyut dalam haru. Adalah perayaan kecil sederhana yang dibalut dengan sentuhan pribadi ini yang membuat ulang tahun saya yang ke-35 jadi istimewa. Semua mengulurkan tangan. Sita dengan sigap mengabadikan gambar dan seperti biasa mengupload foto lebih cepat dari saya memotong kue. Sementara itu Mbak Dyah sibuk di dapur membuat cocktail yang istimewa. Di tengah malam itu kami membuat satu pesta kecil yang begitu berkesan.

Continue reading “Sentuhan Pribadi”

Mengajar di UNSW: Tentang Meraih Kesempatan

Bahan kuliah dalam bentuk animasi Flash
Bahan kuliah dalam bentuk animasi Flash. Klik untuk melihat.

Salah satu kemewahan sekolah S3 di negara maju adalah kesempatan untuk menjalankan peran-peran professor/pembimbing. Salah satu kesempatan itu adalah mengajar. Tidak jarang mahasiswa S3 diberi kesempatan mengajar S1 atau bahkan S2 oleh supervisornya. Ini kesempatan baik dan bisa mendatangkan uang. Saya punya beberapa pengalaman serupa tetapi yang saya ceritakan kali ini agak berbeda.

Continue reading “Mengajar di UNSW: Tentang Meraih Kesempatan”

Tersandera Pesona Praha

Tidak biasanya, aku kesulitan memulai sebuah ujar-ujar tentang keindahan. Aku ditikam kecantikan yang beku dan misterius. Kota Praha, dinginnya menawan dan menyandera hati yang terkejut penuh seluruh. Aku akan ceritakan sebuah perjalanan. Perjalanan yang tiba-tiba dan sekedar mengekor naluri yang terpengaruh oleh hingar bingar perdebatan di suatu senja yang bernas. Aku berjalan menuju satu kota, mengharap bisa menyingkap misteri yang tak pernah kugantungkan terlalu tinggi.

Praha mengejutkanku, Kawan! Aku mencoba-coba merangkai kata, menggambarkan pesona yang tertumpah lewat dingin yang menggigit atau semburat sinar yang ragu-ragu di balik kolom-kolom gedung tua. Pesona yang berpendar lewat batu-batu yang menjulang tinggi, tersusun rapi merenda ukiran-ukiran berwibawa. Pesona yang memancar dari pucuk-pucuk menara di kastil-kastil tua yang bijaksana atau sungai yang membelah kota dengan tenang dan percaya diri. Tapi aku tak kuasa. Keindahan ini di luar kuasa kata-kata maka aku ingin mengajakmu menikmatinya.

Kita akan susuri pagi musim dingin yang menggigil, menanjak dari rumah tinggal kita menuju stasiun kereta di sebelah rumah. Maka nikmatilah kepulan asap dari mulutku dan tertawalah melihatku bersidekap merintih-rintih menahan dingin. Atau ketika aku menenggelamkan kedua telapak tangan di saku celana dan bersikeras menarik kepala ke dalam dada. Maklumilah, aku putera katulistiwa yang bermewah-mewah dengan hangatnya matahari sepanjang tahun. Maka dingin ini memberi nuansa baru, gigil yang mengundang gelisah.

praha

Di dalam kereta listrik itu kita menikmati perjalanan. Ular besi ini melintas tenang pada alur-alur baja yang menjaga lintasannya. Nikmatilah gerit roda yang mendesing-desing membawa kita ke sebuah tempat yang kita tak tahu. Tengoklah ke belakang dari kaca jendela, alur baja itu membentang jauh kita tinggalkan tetapi seperti tak habis dan ujungnya tak kunjung kita temui. Lihatlah aku yang bersandar di belakang, mencoba merayu seorang gadis cantik yang malu-malu ketika disapa. Anak dara itu tersenyum simpul ketika kupuji perihal tutur bahasa asingnya yang memukau. Dia memerah wajahnya kawan, sambil dipatut-patutkannya sikapnya untuk mengembalikan pujiannya padaku. Aku tergelak dalam hati. Tak usah kau curiga karena aku tak tertawan senyumnya tapi pada ubin-ubin batu yang berbaris rapi menopang alur-alur baja yang dilintasi ular besi ini. Aku terpesona pada misteri peradaban tua yang mengkilat bercahaya dalam wibawa yang rentanya.

Mari kita turun. Lalu berlari sambill bersenda gurau menuju lorong bawah tanah. Kita tunggangi naga besi lainnya yang rupanya tak suka matahari dan mendekam sehari-hari di lorong-lorong yang dalam. Rasakanlah tangga yang melaju deras membawa kita menuju sarangnya di bawah sana. Dia akan membawa kita pada satu istana. Di sepanjang jalan, mari kita kisahkan tentang negeri ini. Tentang perpisahannya dengan kerabat dekatnya dan tentang pergantian namanya dari Cekoslovakia menjadi Ceko karena harus membiarkan kerabat dekatnya, Slovakia, berjalan sendiri. Konon mereka berpisah tanpa perang, kawan! Orang-orang bijak menyebutnya disolusi damai yang akhirnya membagi kecantikan alam menjadi dua. Aku duga, senyum gadis di Slovakia tak kalah berseri dengan wajah yang tadi kurayu di dalam kereta.

tram-kecil

Mari kita takjub, membiarkan mulut kita terngaga dan hati berdecak kagum menyaksikan kesempurnaan. Sama sepertimu, aku tak pernah menduga kota ini menyimpan pesona begitu cemerlang. Aku menuduhnya renta dan tak berwibawa karena kemelaratan yang menghimpitnya. Aku salah kawan. Aku salah, seperti kamu juga yang pasti salah. Praha menyimpan rapi keelokan paras kota dan rumitnya peradaban panjang yang menyejarah. Rasakanlah pesona itu terpancar dari gedung-gedung tua berwibawa atau dari ukiran-ukiran kastil yang menjulang. Dengarkanlah mereka bercerita tidak saja tentang raja-raja Eropa dan sejarah panjangnya tetapi juga tentang sepak bola yang mereka menangkan. Maka Slovakia tak akan pernah bisa dipisakan dari Ceko karena nama keduanya pernah bersanding menjadi satu tatkala tropi Piala Eropa disematkan pada para pahlawan sepakbola di tahun 1976. Tapi kita bukan pemuja bola kawan. Kita adalah pemuja desiran angin yang dingin, pemuja hembusan kabut yang mengepul dari mulut-mulut para pejalan kaki yang berseteru dengan gigil musim dingin. Kita adala pemuja lorong-lorong sempit diantara gedung-gedung tua yang dibangun dengan segala kebanggaan berabad silam.

Lalu kita akan berhenti di sebuah jembatan tua. Jembatan ini memastikan kehagatan dari dua sisi kota tetap terjaga atau beku musim salju tidak hanya menyengsarakan satu ujung belaka. Jembatan ni adalah cerita tentang ikhtiar mengatasi keterpisahan. Mari kita berhenti sejenak, lalu saksikanlah sebuah museum di kejauhan yang nampak mungil namun berwibawa. Di pinggir sungai itu, dia mempertontonkan sebuah kebanggaan yang kiranya memang layak disombongkan. Pada sebuah papan batu di kejauhan itu, tertulis Kafka Museum. Dialah kebanggaan bangsa Ceko, Kawan! Dialah penulis ternama yang namanya dicatat dengan tinta emas dalam daftar yang mewarnai wajah dunia lewat tradisi berpikirnya.

kafka-kecil

Mari kita duduk sejenak di taman kota setelah seharian menikmati keindahan yang dibalut sejarah panjang. Berkelakarlah kita tentang Nusantara di belahan bumi utara. Dulu Sang Proklamator kita, konon, melihat Cekoslovakia sebagai sahabat. Lihatlah sepatu Batta yang sejatinya berasal dari sini dan dijadikan tradisi alas kaki di negeri kita. Dan jika kamu masih tidak paham mengapa leluhur kita menyebut odol untuk pasta gigi, di kota ini kita temukan jawabannya. Mereka bahkan masih menggunakannya hingga hari ini. Di sudut-sudut toko yang berjejal di Praha, kita bahkan temukan petunjuk-petunjuk jitu tentang rasa penasaran kecil kita tentang Nusantara. Dan nikmatilah salam sapa seorang pemuda tampan yang berdiri angkuh bersandar di sebuah kereta besi masa silam yang berkilat-kilat. Terkejutlah kamu karena dari mulutnya tercurah bahasa ibu kita yang tak asing di telinga. Pemuda itu adalah ceceran tanda persahabatan satu bangsa di garis katulistiwa dan satu peradaban di belahan bumi utara.

http://www.cg-eu.com/

Lelahkah kamu mengikutiku? Aku tahu, sejarah panjang ini tak kan habis dinikmati sehari. Tapi hari telah senja, Kawan. Mari kita beranjak pulang. Perjalanan kita masih jauh dan kita harus melintasi bangsa-bangsa menuju peradaban lain. Tubuh-tubuh kita harus melesat pergi meski hati berat untuk beranjak. Hati kita tersandera, Kawan. Tersandera pesona Praha.

Praha, 5-6 Maret 2013

Indonesia Designating Archipelagic Sea Lanes

This video is part of my lecture at RSIS, NTU, Singapore on 14 March 2013. I was invited to Singapore to gave a lecture to students and government official regarding maritime boundaries.

Celana Kartini

kartinilitaPak Wayan Karna seorang guru di sebuah desa di Bali. Di pertengahan tahun 80an, Pak Wayan sering menjadi bahan pergunjingan. Pasalnya, Pak Wayan ditindas istrinya. Bagi orang-orang desa di masa itu, sangat tidak elok jika seorang lelaki ditindas istri. Urusannya sangat serius, Pak wayan sering terlihat mencuci pakaian di depan mess, tempat tinggal beliau bersama keluarganya di dekat sekolah. Yang mengundang cibir, ada celana dalam istrinya dalam tumpukan cucian itu. Sungguh memalukan.

Pan Koplar, Nang Kompyang, Men Cubling, Men Gading, semua sepakat kalau Pak Wayan tengah ditindas istri. Tidak sedikit yang yakin kalau Pak Wayan kena guna-guna istrinya sehingga tunduk dan takut, rela melakukan apa saja yang diperintah istrinya termasuk mencuci celana dalamnya. Sungguh keterlaluan.

Sydney, 2013
Saya sedang tergesa memunguti jemuran, berlomba dengan hujan yang sepertinya tidak sabar akan turun. Setiap helai pakaian saya ambil, berharap bisa selesai sebelum gerimis pertama menyiram bumi. Pada tali jemuran itu, ada semua jenis pakaian. Ada pakaian saya dan Asti, isteri saya, berbagai jenis tanpa kecuali. Di saat begitu saya teringat Pak Wayan Karna. Ada satu pertanyaan yang menggelitik. Adakah saya mengalami kemunduran dan menjadi seorang Pak Wayan Karna di tahun 80an? Atau mungkinkah Pak Wayan Karna yang telah mendahului zamannya, meninggalkan para tetangganya yang sibuk bergunjing, mencibir dan menuduhnya telah tertindas istri?

Continue reading “Celana Kartini”