Mari Keliling Dunia

Dapatkan di toko buku terdekat
Dapatkan di toko buku terdekat | @madeandi

Tembuslah kabut yang membuatmu menggigil di jalanan Antwepen dan masuklah ke stasiun kereta itu. Kita melaju menembus lansekap Eropa yang seperti perawan menuju warna-warni Luxembourg yang berhias pepohonan di musim gugur. Kita akan duduk sejenak membiarkan ujung jari kaki menyentuh air di sungai kecil di tengah belantara yang bersahabat lalu beranjak duduk di sebuah kursi untuk menikmati perbekalan. Di sekeliling kita warna warni dunia yang terpantul lewat daun-daun yang ikhlas bergururan. Terpejamlah dan menyatu dengan keberadaan.

Esok hari kita jelajahi Brussels yang mentereng, menapaki sebuah jalanan sempit yang selalu penuh sesak dengan umat manusia. Mereka terpesona dengan patung bayi yang menyemburkan urinnya di tepi sebuah perempatan. Dan heranlah, mengapa patug kecil nan sederhana itu menggetarkan orang-orang meski dia tidak ada apa-apanya dengan Garuda Wisnu Kencana yang megah di Selatan Bali. Tapi kawan, di situlah kamu akan mengerti bahwa ukuran itu bukan segalanya. Patung kecil itu telah menyerap sejarah berabad lamanya dan kini memancarkannya dalam bentuk wibawa yang memukau orang-orang seperti kita.

Kita akan masuki sebuah kasino megah Monte Carlo, di Monaco bukan untuk berjudi tetapi untuk menikmati imajinasi yg dituangkan dalam peradaban kota. Kita menyusuri jalan-jalan yang sekali waktu digunakan untuk Formula Satu lalu menikmati kapal-kapal mewah yang berbaris rapi di pelabuhan itu. Pemiliknya adalah kaum borjuis yang kekurangan tempat menyimpan uangnya maka mereka simpan di kapal-kapal itu, yang harganya lebih mahal dari rumah yang mereka tinggali. Jika lapar dan rindu santapan tanah air, berjalanlah selama tujuh menit maka kita akan tiba di sebuah rumah makan Asia di Perancis. Garis batas antarnegara tidak terasa, tidak ada ada yang pusing memeriksa visa dan passport kita. Atau naiklah kereta dan bercengkramalah dengan seorang gadis yang tinggal di Prancis dan bekerja di Monaco lalu 17 menit kemudian kita sudah minum kopi di sebuah kafe di Italia. Lihatlah pemuda tampan itu, terampil membuat kopi dan gadis cantik itu akan menghidangkannya untuk kita. Adakah yang lebih berkesan dari secangkir kopi Italia yang dinikmati di sebuah kafe di Ventimiglia?

Continue reading “Mari Keliling Dunia”

Advertisement

Menerbitkan buku itu [ternyata] mudah

Banyak yang akan penasaran atau bahkan mencibir membaca judul tulisan ini. Masa’ sih menerbitkan buku itu mudah? Saya tidak berbohong. Menerbitkan buku di era teknologi informasi dan komunikasi ini memang mudah. Setidaknya, tidak sesulit melakukan hal yang sama sepuluh atau 20 tahun lalu. Dulu, penulis buku seperti bangsawan golongan khusus karena menjadi dominasi sekelompok orang saja. Dia ekslusif dan istimewa. Kini tidak lagi. Siapapun bisa menerbitkan buku. Siapapun? Ya, siapapun yang bisa menulis. Silakan baca tulisan saya di blog Tempo soal ini.

buku
Some of my books … and counting …

Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa

Foto oleh Jerico Pardosi
Dr. Marty Natalegawa, foto oleh Jerico Pardosi

Tidak biasanya saya mengenakan setelan jas saat berada di Australia. Negeri ini penuh dengan suasana informal dalam hal penampilan, terutama untuk mereka yang berstatus mahasiswa seperti saya. Makanya, mengenakan jas adalah keistimewaan. Jika bukan karena menghadiri acara penting, mungkin jas itu tidak akan menjalankan tugasnya hari ini. Pagi-pagi sekitar jam 10, saya sudah melaju dengan kereta dari Central Station menuju Macquarie University, Sydney. Hari ini istimewa, Macquarie University akan menganugerahkan gelar doktor kehormatan di bidang sastra (Dr Honoris Kausa) kepada Dr. Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri Indonesia. Saya ingin menyaksikan sejarah itu.

Continue reading “Gelar Kehormatan untuk Marty Natalegawa”

Not to be raped or not to rape?

By Nur Hasyim

http://preetysocial.wordpress.com/

Once again, the news on a brutal rape case in Tasikmalaya, West Java has been shaking the nation. An eight-year-old girl was sexually abused by her boy friend and experienced serious injury on her reproductive organ. The news also reported that the Manonjaya resident found her around rail way track in a very critical condition in which her entire body was covered by blood. Luckily, she was rescued and taken to local hospital for a medical intervention (detiknews 21/5/2013).

Whenever rape case happens, the immediate question coming across our mind is why does it happen? Is it merely about inability of perpetrators, who are mostly men, to control their sexual desire? Or are there any other factors on which the criminal act is based? It also naturally begs a question: why is the sexual violence so prevalent in Indonesia, which is considered as a religious nation, and more likely to become everlasting tragedy for girls and women in the country? We also start questioning our legal system, does it effectively protect the rights of women as a human being? More importantly, do we belong to the nation where people perceive rape as normal?

Continue reading “Not to be raped or not to rape?”

Sewindu Menulis untuk The Jakarta Post

Tulisan ke-56
Tulisan ke-56

Delapan tahun yang lalu saya gembira sekali mendapati tulisan pertama saya terbit di The Jakarta Post. Saat itu saya masih mahasiswa S2 akhir tahun pertama di UNSW, Sydney. Itulah kali pertama saya merasakan bahwa topik yang saya teliti tidak saja penting tetapi juga menarik untuk dikisahkan. Ambalat menjadi debut saya dalam penulisan di media massa.

Saya teringat kisah Anand Krishna yang konon melakukan hal yang mirip. Jika ditanya tulisan mana yang paling membanggakan dari ratusan tulisannya maka jawabannya adalah yang ditulisnya pertama kali ketika dia bersekolah di luar negeri. Kalau ingat reaksi saya ketika itu, ada perasaan risih dan malu. Apa perlu sebuah tulisan yang muncul di The Jakarta Post dibanggakan begitu rupa? Waktu itu, rasanya reaksi itu tidak berlebihan. Entahlah bagaimana kawan saya melihatnya.

Continue reading “Sewindu Menulis untuk The Jakarta Post”

Mengingat 2012

2012

Ada satu kegagalan utama saya di tahun 2012 yaitu belum menyelesaikan sekolah S3 saya, tidak sesuai dengan yang seharusnya saya lakukan. Kata orang bijaksana, kalau ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak ada kemauan biasanya banyak alasan. Maka saya bisa menyampaikan 1001 alasan untuk membenarkan mengapa saya harus menunda penyelesaian studi S3 saya hingga tahun 2013 nanti. Meski demikian, di balik semua itu ada satu kebenaran yang tidak bisa dibantah: semua itu terjadi karena kelemahan saya sendiri. Maka resolusi paling utama saya untuk tahun 2013 adalah menyelesaikan S3. Semoga alam semesta bersekongkol membantu saya mewujudkan resolusi ini.

Dengan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan motivasi, saya ingin mengenang sejenak apa yang terjadi tahun 2012 lalu. Dari berbagai kegagalan, ada juga keberhasilan. Dari sekian banyak hal yang tidak membanggakan, ada hal-hal yang menumbuhkan semangat. Tahun 2012 saya lewati dengan suka dan duka, seperti halnya tahun-tahun lainnya.

Continue reading “Mengingat 2012”

Mengapa harus jualan buku?

Artikel di Maritime Mag

Setiap kali mengiklankan buku, saya merasa risih karena merasa berjualan ilmu pengetahuan. Kadang ada yang bergurau, saya beralih profesi jadi salesman. Idealnya, menurut saya, ilmu pengetahuan harus disebarkan tanpa berbayar untuk kemajuan peradaban. Sayang sekali kita tidak hidup di dunia ideal seperti itu. Ada kertas yang harus dibeli untuk membuat buku dan ada tinta yang harus dibayar. Mesin untuk mencetak juga tidak gratis serta orang-orang yang bekerja di industri penerbitan dan percetakan memiliki anak yang harus membayar SPP. Singkat kata, penerbitan buku sudah menjadi industri mapan yang harus menghidupi banyak manusia.

Continue reading “Mengapa harus jualan buku?”

The Winner – Sang Pemenang

A nice surprise on the Independence Day 🙂

Warm greeting from Canberra (in the midst of cold winter),
Alhamdulillah. The English Writing Competition for the commemoration of the 2012 National Education Day has eventually reached its final stage.

Board of judges, consisting of Prof Aris Junaidi (Educational and Cultural Attaché of the Indonesian Embassy in Canberra) and A’an Suryana (PhD Candidate/former journalist at the Jakarta Post), have decided three winners as follows:

 

Continue reading “The Winner – Sang Pemenang”

Saya mengaku kalah

darii http://6.mshcdn.com/

Saya mengikuti sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Telkom Solution terkait penggunaan teknologi informasi (TI) untuk mendukung kinerja perusahaan. Ketika mendapatkan informasi ini dari milis Bali Blogger, saya tidak berniat mengikutinya. Namun begitu, diskusi tidak serius di milis tersebut akhirnya membuat saya mengubah pikiran. Atas ‘desakan’ setengah guyon dari Cahya Legawa, saya akhirnya menulis dan mengirimkannya pada panitia. Ditulis suatu malam yang dingin di Innovation Campus University of Wollongong, saya mengirimkan langsung pada malam itu juga. Tulisan saya hanya 1.192 kata dari 1.200 syarat maksimum yang ditetapkan panitia.

Tulisan saya terkait penggunaan IT untuk kuliah jarak jauh yang memang saya senangi belakangan ini. Rasanya topik ini menarik untuk dibahas dan sangat mungkin untuk diterapkan dengan situasi infrastruktur TI yang dimiliki Indonesia saat ini. Tulisan itu berjudul Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani.

Continue reading “Saya mengaku kalah”

Sukailah saya!

Lomba Karya Tulis

UPDATE: Saya tidak berhasil jadi juara dalam lomba ini 🙂 Terima kasih atas dukungan teman-teman semua.

Rasanya memang maksa banget kalau saya harus katakan “sukailah saya!” Namun memang demikianlah kompetisi dewasa ini. Pemenang ditentukan oleh seberapa banyak yang menyukai sesuatu. Dalam bahasa Facebook: “like”.

Saya ikut lomba menulis Telkom Solution dan ternyata tulisan saya masuk final. Pemenang akan ditentukan berdasarkan jumlah “likes” yang diperoleh oleh masing-masing tulisan. Jika teman-teman merasa tulisan saya layak untuk jadi pemenang, silakan klik “like” di link ini: https://www.facebook.com/TelkomSolutionID. Saya adalah finalis #4 dengan judul tulisan “Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani”. Kalaupun bukan untuk menyukainya, silakan membaca tulisan tersebut, semoga berguna.

Jadi, istilahnya mungkin bukan “sukailah saya” tetapi, “berikanlah apresiasi teman-teman jika memang tulisan saya layak disukai”. Terima kasih 🙂

%d bloggers like this: