Herlina, malaikat [tak] bersayap

Lina dan Lita
Lina dan Lita

Dewi Lestari bisa jadi benar, terkadang malaikat tidak selalu hadir bersayap. Saya melihat sosok malaikat pada Putri Herlina yang belakangan sempat membuat sebagian penduduk dunia maya tertegun terpesona penuh haru. Putri Herlina, yang saya panggil Lina, adalah seorang perempuan cantik tanpa tangan yang baru saja menikah dengan seorang lelaki baik hati bernama Reza. Yang membuat haru, Reza adalah seorang pemuda tampan yang normal secara fisik dan berasal dari keluarga berada dan terhormat sementara Lina adalah seorang gadis yang tinggal di panti asuhan. Bukan. Ini bukan sebuah dongeng dari negeri antah berantah. Ini adalah sebuah kisah nyata yang mengingatkan kita bahwa keajaiban itu masih terjadi.

8 Juli 2000
Teriakan anak-anak panti asuhan cacat ganda Sayap Ibu membahana menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Wajah-wajah mereka sumringah. Nampak keceriaan dan rasa senang karena sebentar lagi mereka akan menikmati kue. Sementara itu di dekat lilin yang masih menyala tersenyum simpul seorang gadis dua puluhan tahun, menunggu saatnya meniup Lilin. Gadis itu adalah Asti, pacar saya, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-22. Setelah sekitar dua tahun melakukan kunjungan rutin ke Panti Asuhan Sayap Ibu, Asti ingin merayakan ulang tahunnya bersama anak-anak penghuni sayap ibu. Memang tidak begitu lazim. Teman-teman saya waktu itu bahkan kadang berkelakar mengejek “pacaran kok di panti asuhan”.

Continue reading “Herlina, malaikat [tak] bersayap”

Anak-anak Bola

Evan Dimas, kapten tim nasional U-19 Indonesia menjadi pembicaraan orang. Setelah 22 tahun laksana kemarau, akhirnya Evan bersama kawan-kawan menjadi pelepas dahaga dengan membawa kemenangan bagi Indonesia di ajang AFF untuk kategori usia di bawah 19 tahun. Saya bukan penggemar sepak bola tetapi rasanya tidak rela melewatkan begitu saja gegap gempita Bangsa Indonesia yang seperti dipersatukan kembali dengan sepak bola. Tanggal 12 Oktober 2013 lalu, Evan dan kawan-kawan kembali membawa berita bahagia. Bitang-bintang muda Garuda berhasil menundukkan tim Gangnam Style (atau sebut saja K-Pop) dari Korea Selatan. Evan lagi-lagi menjadi pahlawan dengan mencetak ketiga gol bagi Indonesia.

Continue reading “Anak-anak Bola”

Mengistimewakan para pembenci

baik
diambil dari twitternya @TrinityTraveler

Saya kadang mengamati perilaku teman-teman di Facebook. Mereka yang mendapat banyak respon sering kali tidak bisa menjawab semua komentar. Menariknya, hampir selalu ada respon jika ada yang berkomentar buruk. Tidak jarang, seorang pemilik akun Facebook khusus membalas komentar negatif tentang foto yang dipajangnya padahal tidak pernah membalas komentar positif yang diberikan teman-temannya. Saya pun pernah begitu. Foto yang saya pasang di dinding Facebook bisa disukai oleh lebih dari 100 orang dalam dua atau tiga hari. Rasanya hampir tidak pernah saya membalas mereka yang menyukai (like) foto saya.

Komentar terhadap gambar atau status juga kadang tidak sempat dibalas jika terlalu banyak. Komentar singkat yang positif seperti “bagus banget” atau “keren” bisa terlewatkan tanpa balasan, terutama jika jumlahnya puluhan. Akan tetapi, begitu ada komentar negatif, rasanya tidak rela kalau tidak membalas dan ‘membela diri’. Saya kira banyak yang mengalami hal ini. Akibatnya, seringkali mereka yang berperilaku negatif itu mendapat perlakuan dan perhatian istimewa. Sebaliknya mereka yang positif dan penuh dukungan malah tidak mendapat perhatian. Teman baik yang memencet tombol “like” dan membubuhkan komentar “keren” bahkan seringkali tenggelam dan terlupakan.

Continue reading “Mengistimewakan para pembenci”

Dapat Apa Bali dari APEC?

oleh Nyoman Sukma Arida*

http://asiasociety.org/

Pelaksanaan KTT APEC di Bali jelas menjadi pertaruhan Bangsa Indonesia di mata dunia. Khususnya pertaruhan wajah pemerintahan SBY baik internal maupun eksternal. Inilah KTT yang konon mengusung dua agenda besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik. Inilah konferensi dengan tema “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth” yang akan dihadiri para pemimpin negara anggota termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, 6.000 delegasi pemimpin ekonomi, 1.200 pemimpin bisnis dunia, 3.000 wartawan dari dalam maupun luar negeri serta ribuan tamu dari organisasi internasional, perwakilan asing dan akademisi (Kompas, 16/09/2013). Obama sendiri batal hadir karena persoalan besar yang menghantam APBN-nya.

Continue reading “Dapat Apa Bali dari APEC?”

Sugianto

Gambar dari http://djinar.wordpress.com

“Bupati Tabanan, Sugianto, …” demikianlah kumandang berita radio hampir setiap sore di tahun 1980an. Saya sampai menghafalnya dan bahkan rasa-rasanya kata Sugianto yang paling tepat diucapkan setelah frase “Bupati Tabanan”. Rekaman seorang anak kecil memang kuat. Sugianto adalah Bupati Tabanan pertama yang saya kenal sejak mengerti Bahasa Indonesia.

Tidak ada yang aneh ketika Tabanan dengan masyarakat mayoritas pemeluk Hindu memiliki Bupati orang Jawa yang Islam. Saya bahkan tidak ingat ada orang yang membicarakan agama atau suku ketika itu. Paruman di banjar, kelakar di warung-warung atau kumpulan lelaki dewasa menyabung ayam di pempatan jalan saban sore tidak pernah dihiasi pembicaraan tentang agama. Pak Sugianto tidak dipertanyakan keimanannya, tidak digugat keberpihakannya pada masyarakat Tabanan yang mayoritas Hindu. Di Banjar Pengembungan tempat kelahiran saya, yang 100% penduduknya Hindu, tidak pernah sekalipun terdengar bisik-bisik soal agama Pak Bupati yang berbeda.

Continue reading “Sugianto”

Pengalaman LDR – Long Distance Relationship

Memadukan Skype dan kartu pos :)
Memadukan Skype dan kartu pos 🙂

Saya tidak akan membicarakan hubungan pacaran jarak jauh tetapi hubungan antaranggota keluarga yang terpisah Jarak jauh. Tidak semua orang beruntung bisa selalu bersama-sama keluarga ketika harus menempuh studi atau bekerja dan kami adalah salah satu yang kurang beruntung itu. Karena berbagai alasan, kami hidup terpisah. Saya dan Asti, isteri, di Sydney, Lita, anak kami di Jogja. Ini bukan model keluarga ideal dan tidak direkomendasikan untuk siapapun. Namun, jika harus mengalaminya, toh kita harus tetap bertahan. Saya ingin berbagi pengalaman sederhana bagi yang sedang atau akan mengalami hal yang sama.

  1. Selamatkan komunikasi dengan teknologi.
    Dewasa ini, cara pandang kita terhadap jarak dan waktu jauh berbeda dengan dua dekade lalu. Saya masih ingat, pernah berdebar-debar menunggu surat dari sahabat pena selama sebulan lebih di awal tahun 1990an. Sekarang, whatsapp yang tidak dibalas lebih dari dua menit sudah terasa lama dan bisa menjadi alasan untuk marah. Teknologi membuat jarak menjadi pendek dan ini yang sebaiknya dimanfaatkan. Lita, anak saya, sudah kami ajari cara berkomunikasi dengan email dan Skype ketika berumur lima tahun. Waktu itu dia belum lancar menulis tetapi sudah mulai memahami cara berkomunikasi. Saya kadang mengirimkan gambar lewat email ketika kami bercakap-cakap dengan Skype sehingga saya bisa mengajari dia cara membuka gambar dari email. Ini adalah komunikasi multimedia dalam satu waktu.
  2. Menggunakan teknologi untuk pemantauan.
    Kita tahu, teknologi tidak selalu bagus untuk kita. Untuk meminimalisir efek buruk teknolgi, kami memasang alat pemantau di komputer Lita di Jogja agar kami tahu jika dia sedang online. Hal paling sederhana adalah dengan memastikan Skype akan online otomatis jika komputer dinyalakan sehingga kami akan tahu dia sedang di depan komputer. Hal lain adalah memasang alat pemantau seperti Team Viewer sehingga saya bisa melihat layar komputer di Jogja dari Sydney. Ini tentu tidak akan menghilangkan semua dampak buruk tetapi tentu bisa meminimalkannya.
    Continue reading “Pengalaman LDR – Long Distance Relationship”

Ketika Anies Baswedan Turun Tangan

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya merasa mengenal Anies Baswedan tetapi yakin bahwa Mas Anies tidak kenal saya. Saya menggunakan istilah Mas semata-mata karena usia kami tidak terpaut jauh dan merasa bahwa beliau mewakili kaum muda. Meskipun pernah beberapa kali berkirim email dan bertegur sapa lewat twitter, saya adalah satu dari sekian ratus ribu orang. Tentu tidak istimewa. Namun bagi saya, seorang Anies Baswedan adalah keistimewaan. Itulah alasan saya menuliskan ini.

Saya mendengar nama Anies Baswedan pertama kali pada tahun 2008 ketika dia dinobatkan oleh Majalah Foreign Policy sebagai satu dari 100 tokoh intelektual dunia. Sebagai anak muda, saya bangga ada orang Indonesia muda yang menyandang predikat bergengsi itu. Sejak itulah, saya mulai mempelajari sepak terjangnya lewat dunia maya. Karena predikat bergengsi itu, tidak sulit mendapatkan informasi tentang Anies dari media massa. Saya mulai menyimak pemberitaannya dan menonton videonya di Youtube. Fakta bahwa Mas Anies telah menjadi rektor di usia 38 tahun adalah keistimewaan tersendiri, lepas dari segala kontroversi yang menyertai perhelatan itu. Banyak tulisan yang telah membahas ini.

Kini Mas Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Wacana Anies Baswedan menjadi calon presiden untuk pertama kali saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh BBC tahun 2010. Dengan agak nakal tapi cerdas pewawancara yang cantik dari BBC bertanya apakah Anies adalah kandidat presiden Indonesia. Anies dengan tegas menjawab bahwa dia bukan kandidat presiden dan ingin memfokuskan diri di dunia pendidikan. Di akhir acara, pewawancara kembali bertanya setengah ‘memojokkan’ dan Anies dengan cerdas menjawab “kita lihat saja nanti”.

Continue reading “Ketika Anies Baswedan Turun Tangan”

Belajar presentasi dari standup comedy

Tidak semua orang bisa lucu seperti seorang standup comedian, maka kita tidak akan belajar menjadi lucu tetapi belajar presentasi. Satu ilmu standup comedy yang bisa diterapkan oleh seorang presenter adalah kerseriusan dalam menghafalkan materi. Anda pernah melihat standup comedian tampil begitu lucu dan terkesan alami penuh improvisasi? Jangan “tertipu”, 90% dari standup comedy adalah hasil skenario dan hanya 10 persen hasil improvisasi. Hal ini ditegaskan comic Indonesia seperti Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono, dua comic favorit saya. Jika Anda melihat penampilan seorang comic sekali saja, mungkin sulit untuk melihat bahwa leluconnya adalah hasil menghafalkan naskah karena nampak begitu alami. Namun jika Anda melihat lebih dari satu video mereka, Anda akan setuju dengan saya bahwa standup comedy adalah hasil belajar keras, hasil menghafalkan sebuah naskah seperti naskah film yang lengkap dengan titik, koma, intonasi, dan gerak tubuh.

Continue reading “Belajar presentasi dari standup comedy”

Kalau saja Indonesia punya akun Twitter

TwitterIndonesia

  1. Tweeps, terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya. Maaf tidak bisa mention semua, banyak banget soalnya.
  2. @MahasiswaINA thanks bro! Jgn lupa ASEAN Community nunggu. Selain sibuk demo SPP, km harus leading gerakan mahasiswa ASEAN ya 🙂
  3. @MhsINAdiLN ok sob, aku gak takut kok sama Malaysia asalkan kamu bisa adu argumentasi menyakinkan di depan para bule temen sekelasmu
  4. @DosenINA tentu aku akan kalahkan Singapura kl kamu sudah bisa bikin publikasi ilmiah lebih banyak/bagus dari dosen mereka
  5. Aku bangga kok sama kamu, biarpun tulisanmu sulit dibaca RT @RemajaALAY: nGg4 B4n66a jd 0rG iNd0n351a !!!
  6. @PengusahaINA makasih ya, pajaknya sudah aku terima. Keren, tanpa rekayasa!
  7. @MahasiswaINA aku sih nggak takut sama Amerika. Yang penting kamunya gak takut bersaing lomba karya ilmiah sama mahasiswa @Harvard
  8. @PencintaBeritaBuruk jangan lupa, GDPku nomor 16 di dunia, nomor 5 di Asia dan nomor 1 di Asia tenggara. Itu fakta!
  9. @MahasiswaINA ya setuju aku harus berantas korupsi dan kamu jangan titip absen lagi untuk demo menentang korupsi ya.
  10. @PremanOnline sorry sob, urusanku bukan sekedar takut/tidak takut sama bangsa lain tapi turut menjaga ketertiban dunia 🙂
  11. @LSMVokal ya aku pasti peduli sama Mesir tapi anak tetanngga yang putus sekolah saat ini sangat penting untuk kamu urusin jg
  12. @SopirAngkot ok, aku minta bos kamu naikin gaji tapi nyetirnya jangan ugal-ugalan lagi ya.
  13. @TukangBecak aku nggak akan nipu asalkan kamu gak nipu wisatawan asing yg tumben naik becak. Janji ya sob 🙂
  14. @PetaniINA aku stabilkan harga hasil panen tapi kamu harus nurut apa kata PPL soal urutan tanam padi-padi-palawija.
  15. @DosenINA aku akan lunasi janji kemerdekaan, seperti kamu yang selalu datang tepat waktu dan tidak ninggalkan mahasiswa karena proyek.
  16. @MusisiINA jangan Cuma minta aku ga takut sama Amerika Bro. Kamu berani bersaing sama musisi Amerika nggak?
  17. @BoyBand dulu Bung Karno bilang, dia perlu 10 pemuda untuk mengguncang dunia. Aku yakin, pemuda seperti kamu maksudnya 🙂
  18. @OrangTua terima kasih telah mengajarkan anak-anak untuk bergaul tanpa membedakan suku dan daerah
  19. @PemukaAgama terima kasih karena telah mengajarkan umatmu untuk tidak membenci umat agama lain
  20. @Rakyat terima kasih tlh mengerjakan kewajibanmu dan paham bahwa tdk semua urusanmu adalah tanggung jawabku. Merdeka!

Membela Indonesia dalam Lima Menit

Saya sedang bersama Asti ketika bertemu seseorang di lift UNSW, Sydney. Perilaku lift yang sedikit aneh membuat kami ngobrol ‘menertawakan’ situasi. Memang agak aneh, seringkali manusia jadi akrab dengan orang asing jika ada kejadian yang tidak lazim. Kelar dari lift, kami bercakap-cakap. Perempuan itu imigran keturunan India dan sudah 20an tahun di Australia. Logatnya sudah begitu Australia. Kami bercerita tentang studi dan keluarga.

http://tribunnews.com/

Continue reading “Membela Indonesia dalam Lima Menit”