Anak-anak Bola


Evan Dimas, kapten tim nasional U-19 Indonesia menjadi pembicaraan orang. Setelah 22 tahun laksana kemarau, akhirnya Evan bersama kawan-kawan menjadi pelepas dahaga dengan membawa kemenangan bagi Indonesia di ajang AFF untuk kategori usia di bawah 19 tahun. Saya bukan penggemar sepak bola tetapi rasanya tidak rela melewatkan begitu saja gegap gempita Bangsa Indonesia yang seperti dipersatukan kembali dengan sepak bola. Tanggal 12 Oktober 2013 lalu, Evan dan kawan-kawan kembali membawa berita bahagia. Bitang-bintang muda Garuda berhasil menundukkan tim Gangnam Style (atau sebut saja K-Pop) dari Korea Selatan. Evan lagi-lagi menjadi pahlawan dengan mencetak ketiga gol bagi Indonesia.

Penasaran, tadi saya sempat mencari-cari siapa Evan Dimas dan kawan-kawan sesungguhnya. Pencarian saya bermuara pada acara Hitam Putih yang dipandu Deddy Corbuzier. Di acara itu diundang tiga orang yaitu Evan (kapten), Ravi (penjaga gawang) dan Mukhlis (penyerang). Yang membuat saya tertegun adalah segmen saat terjadi pembahasan soal keluarga. Evan ternyata adalah putra seorang satpam dan ibunya pernah bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Ravi tidak jauh berbeda. Ayahnya adalah seorang sopir di PLN dan ibunya bekerja di rumah. Ayah Mukhlis adalah seorang pelatih sepakbola untuk anak-anak, “itupun tidak tentu”, katanya.

Konon Evan kecil pernah minta dibelikan sepatu dan Ibunya hanya sanggup membelikan yang seharga Rp 30.000,- Saya bisa membayangkan, bagi Ibu Evan yang pembantu rumah tangga, uang bukan perkara mudah. Seperti kata Iwan Fals, sepak bola akhirnya menjadi barang yang mahal bagi keluarga mereka. Melihat cara bicara dan penampilan Evan yang begitu sederhana, saya bisa membayangkan kehidupannya di masa kecil. Ketika ditelpon oleh Deddy, Ibunda Evan menjawab terbata dan tidak kuasa menahan tangis kebahagiaan. Tangis itu mungkin sudah beliau pendam begitu lama. Himpitan kesulitan ekonomi yang begitu rupa dan keinginan keras untuk mendukung anaknya menjadi pemain bola telah menghadirkan beban tersendiri. Meski begitu, keberhasilan Evan mengharumkan nama Indonesia adalah satu bukti perjuangan sang Ibu yang berbuah gemilang. Maka himpitan kesulitan dan perasaan yang terhina karena profesi itu menjadi sebuah kisah yang berakhir dengan kemenangan dramatis. Dengan terbata Evan berpesan pada ibunya, biarlah Evan yang bekerja dan suatu saat nanti ibu hanya tinggal di rumah. Tidak mudah melukiskan keharuan yang muncul dari seorang anak sederhana yang kini menjadi pahlawan Indonesia itu.

Evan, Ravi dan Mukhlis adalah cermin bagi wajah anak-anak muda Indonesia. Bangsa besar ini, yang terdiri dari seperempat miliar manusia, kini tersenyum bukan karena orang-orang yang telah menikmati fasilitas kemewahan dari tanah air. Bukan dari para punggawa negeri yang memegang lancana kehormatan yang dipercayakan rakyat. Tapi dari anak-anak muda seperti Evan, yang bahkan sempat tersisih dan terlupakan, terlindas oleh roda pembangunan. Orang-orang seperti Evan mungkin punya segudang alasan untuk pesimis, untuk tidak berterima kasih pada tanah airnya karena tidak merasakan manisnya kue ekonomi yang katanya nomor 16 di dunia. Dia sesungguhnya punya alasan untuk berhenti ketika membeli sepatu seharga Rp 30.000 saja tersengal-sengal sementara kawan-kawannya membeli sepatu jutaan rupiah lalu menggantinya setengah tahun sekali. Namun Evan memilih untuk tidak berhenti. Dia memang bukanlah orang yang fasih berujar kalimat-kalimat motivasi tetapi inspirasi terpancar dari lakunya. Ketika Bangsa kita tidak memiliki banyak alasan untuk bangga dan bergandengan tangan, maka anak-anak bola seperti Evan dan kawan-kawannya adalah satu titik terang.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Anak-anak Bola”

  1. lho, sudah pada masuk acara tipi tho? wah, celaka…sebentar lagi mesti pacaran sama bangsanya nikita willy, terus habis itu masuk bui.

    ah, semoga saja kecurigaan saya meleset semua… :mrgreen:

  2. suka sama quote ini “Orang-orang seperti Evan mungkin punya segudang alasan untuk pesimis, untuk tidak berterima kasih pada tanah airnya…”

    Evan yg dulu mungkin kurang beruntung secara ekonomi dibandingkan saya, masih bisa memberikan sesuatu yg besar untuk negara ini. dengan usahanya, dengan kerja kerasnya.
    Sedangkan, saya yg mendapatkan kemudahan dari negara ini, hanya bisa mengumpat, mencaci, dan pesimis akan kemajuan negara ini. Sungguh malu saya dengan anak muda seperti mereka.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s