Pahlawan

Kisanak, jujur saja padaku. CobaΒ Kisanak menjawab pertanyaan ini dengan cara membayang-bayangkan menggunakan akal sehat yang wajar. Apakah semua orang di Indonesia berhati baik dan mulia ketika bangsa ini berjuang di tahun 1940an? Apakah semua orang di saat itu berkarakter emas seperti yang kita baca di buku-buku sejarah saat ini? Betulkah ketika bangsa ini mengusir penjajah semua orang bersatu padu rela berkorban demi bangsa dan negara? Kita semua tabu jawabannya. TIDAK! Tidak semua orang ketika itu berjiwa pahlawan seperti yang mungkin dibayangkan kebanyakan dari kita. Tidak semua orang layak mendapat doa dalam hening cipta kita tiap hari Senin.

Continue reading “Pahlawan”

Ketika Dosen Stand Up Comedy

Saat reuni dan Syawalan alumni Teknik Geodesi dan Geomatika Universitas Gadjah Mada tanggal 8 Agustus lalu, saya melakukan Stand Up Comedy pertama kali. Bagi saya, ini pengalaman penting dan saya ingin berbagi.

  1. Berawal dari telepon dari seorang alumni, ketua panitia reuni/syawalan. Saya diminta standup atau cari orang yang bisa stand up comedy.
  2. Permintaan ini seperti membangkitkan impian lama. Sudah lama saya ingin melakukan hal-hal mengejutukan untuk alumni!
  3. Saya pernah cerita kepada teman soal impian ini. Waktu itu sih tidak mendapat sambutan seperti yang saya harapkan. Ide hebat memang kadang disepelekan πŸ™‚
  4. Waktu ditelpon, saya ada di Singapura. Tanpa pikir panjang, saya mantapkan hati. Saya harus terima tantangan ini!
  5. Saya punya waktu sekitar 10 hari sejak ditelpon. Saya harus cari bahan, siapkan skrip, latih delivery. Semoga cukup!
  6. Mengikuti nasihat @pandji dan @ernestprakasa, stand up katanya 90% skrip dan 10% improvisasi! Saya ikuti!
  7. Lima hari pertama kumpulkan bahan. Saya mencatat sebanyak mungkin hal terkait alumni @geodesiugm dan hal-hal umum yang mungkin lucu.
  8. Saya kumpulkan sebanyak mungkin kejadian atau cerita atau teori yang punya potensi kelucuan dan terkait alumni @geodesiugm
  9. Selain terkait @geodesiugm, saya juga kumpulkan bahan terkait profesi saya dan hobi. Sedikit-sedikit juga tentang politik πŸ™‚
  10. Dirasa cukup, saya mulai membuat naskah. Cukup cepat, semalam jadi meski kasar. Akhirnya disempurnakan terus selama empat hari.
  11. Untuk penampilan 10-15 menit saya siapkan 3000 lebih kata, 6 halaman πŸ™‚ Lumayan setara tugas kuliah membuat essay :))
  12. Karena kesibukan, saya harus bolak balik Singapura Jogja, Jogja Jakarta dan seterusnya. Saya belum sempat latih dengan baik hingga H-1 😦
  13. Akhirnya malam terakhir tanggal 7 saya memaksa diri. Asti, isteri saya, mendorong untuk latihan. Asti dan Lita yang mengevaluasi.
  14. Percayalah, tidak mudah latihan standup comedy dinilai isteri dan anak sendiri. Saya perlu energi besar. Perlu terobosan!
  15. Akhirnya saya harus mau. Saya punya prinsip: berlatihlah untuk mencapai kebaikan! Asti dan Lita mendukung penuh.
  16. Dari jam 10-12 malam latihan, banyak feedback dari Asti. Dia cukup kooperatif dan sangat supportif. Dia tahu, saya bukan seorang pro.
  17. Lita, terus terang, tidak terlalu supportif dan banyak komen “ga lucu Yah” atau “Lita ga ngerti”. Begitulah :))
  18. Apapun itu, the show must go on! Saya percaya pada Asti yang sudah memberi lampu hijau meski masih ragu πŸ™‚
  19. Akhirnya Asti dan Lita tidur. Saya merenung sendiri. Mencoba lagi beberapa kali. Ada yang kurang rasanya. Saya punya ide, bahan diperkuat dengan slide show. Maklum dosen πŸ˜€
  20. Selama 1,5 jam saya bikin slide dan memilih bagian-bagian yang tepat masuk slide. Ada foto orang, ada jargon, ada punch line juga.
  21. Akhirnya selesai dengan keterbatasan waktu dan bahan. Setengah jam berikutnya saya latih lagi sampai jam dua pagi. Sayapun tidur dengan perasaan sedikit galau.
  22. Pesawat ke Jakarta Jam 6 pagi, tetap harus istirahat meski kurang dari 3 jam. Sejujurnya tidak nyenyak :)) Grogi. Gelisah. Tegang.
  23. Saya anggap persiapan cukup dengan segala keterbatasan. Berangkatlah saya ke Jakarta menuju tempat reuni di sekitar Halim.
  24. Di bandara dan pesawat saya berkomat kamit berlatih tiada henti. Teman-teman dosen mungkin tak paham πŸ™‚ Menegangkan!
  25. Di Jakarta saya sempatkan sounding beberapa materi ke teman-teman dosen agar nanti tidak terlalu kaget. Sebelumnya tidak ada yang tahu saya akan stand up.
  26. Beberapa senior saya beritahu bahwa saya akan menjadikan nama mereka sebagai bahan dalam stand up nanti. So far so good, tidak ada yang keberatan.
  27. Beberapa alumni yang nantinya akan saya ‘hina’ saya kontak juga untuk permakluman πŸ™‚ Tidak semua saya kontak. Yang khusus saja.
  28. Selama reuni berlangsung saya tegang melihat perkembangan. Situasi tidak kondusif karena seringkali alumni ngobrol sendiri-sendiri. Ini hal biasa dalam reuni.
  29. Tegang, bagaimana nanti saya harus merebut perhatian mereka. Padahal Standup perlu perhatian full dari penonton 😦
  30. Di puncak kekritisan, saya hampir membatalkan pada panitia. Tapi urung. Ingat, toh saya bukan comic. Nggak lucu ya wis!
  31. Tapi memang berisiko. Kalau garing dan nggak lucu, saya telah menggali kubur sendiri. Tapi kalau lucu, tentu jadi Sejarah!
  32. A Point of no return! Saya dengar nama disebut. Saya harus bergerak. Pantang mundur, tak bisa berpaling! Move on! Nekat!
  33. Saya lihat banyak dosen yang bahkan kaget. Sejak kapan Andi jadi komedian :(( Saya lihat banyak wajah ragu.
  34. Belakangan saya tahu. Panitia pun masih berdebat sampai tadi malam, belum yakin bahwa saya yang akan standup.
  35. Maka terjadilah sejarah itu. Entah dari mana datangnya energi. Saya bisa melakukan sesuai latihan. Setidaknya penonton konsentrasi menyimak!
  36. Dengan kombinasi dari kalimat, intonasi, gerakan tubuh, slide animasi, hadirlah suguhan itu. Baik atau buruk silakan mereka yang menilai.
  37. Situasi di reuni tidak 100% cocok dengan naskah yang saya siapkan. Misalnya orang yang saya akan libatkan/’hina’ tidak datang.
  38. Di sinilah perlu improvisasi. Ada pemotongan, penambahan, penggantian. Syaratnya: terlihat smooth dan natural πŸ™‚
  39. Saat bit tertentu tidak lucu 😦 saya ingat nasihat @pandji, langsung pindah bit atau paksa mereka ketawa, misal dengan mengatakan “ga lucu ya?!”
  40. Ternyata interaksi dan pelibatan penonton begitu penting. Menyebut nama-nama orang menjadi kunci agar konsentrasi penonton terjaga.
  41. Yang istimewa, teman-teman dosen yang saya jadikan ‘sasaran’ memberi respon positif dan mau ‘terlibat’ ini kunci kelucuan yang alami.
  42. Yang saya ‘hina’ juga mau ‘pura-pura marah’ atau ‘tertawa lepas’. Sebagian malah acungkan jempol. Sungguh membantu πŸ™‚
  43. Sebagian lain mau keluarkan celetukan sebagai respon atas bit saya. Ini membuat suasana hidup. Kuncinya adalah bantuan penonton.
  44. Sampai kemudian waktunya harus berakhir. Prinsip saya, boleh mulai agak gamang tapi akhirnya harus sharp, tegas, jelas. Maka saya siapkan dengan baik.
  45. Saya akhiri dengan sebuah punch line yang disiapkan matang. Kalimat terakhir merupakan punch line yang tegas dan ‘pecah’. Saya lega!
  46. Mengikuti gaya @ernestprakasa, saya menjura hormat di akhir sambil mengatakan “nama saya Andi Arsana, saya angkatan ’96”.
  47. Masih Cukup lama dampaknya terdengar. Penonton Masih tertawa ketika saya diberi penghargaan oleh alumni πŸ™‚
  48. Saya lega, bukan Karena hasil yang sempurna tapi karena keberhasilan melakukan hal baru, mengalahkan ketakutan sendiri πŸ™‚
  49. Harapan saya, Stand up Itu bisa memberi sentuhan berbeda dan ‘mendefiniskan ulang’ hub almamater-alumni.
  50. Saya pulang dengan catatan khusus. Terutama dari mereka yang dengan tulus memberi apresiasi. Dosen juga boleh gaul. Kenapa tidak πŸ™‚

Menjadi ayah yang lebai

Saya dibesarkan di sebuah desa yang perilaku warganya tidak penuh drama. Hari pertama sekolah tak ubahnya hari lain, tak ada yang istimewa. Para ayah tidak merasa wajib menemani anaknya untuk datang ke sekolah, tak juga menganggap kehadirannya akan berkesan dan berpengaruh pada masa depan anaknya. Mereka tidak gemar mendramatisir bahwa kehadiran orang tua di sekolah di hari pertama masuk sekolah adalah dukungan moral yang hebat untuk memberi energi kepada anak anak mereka.

Mereka juga tidak menggunakan istilah-istilah yang lebai seperti β€œanak SD adalah calon pemimpin bangsa” atau β€œanak adalah pewaris peradaban yang harus disiapkan untuk bertahta pada saatnya nanti”. Huh, pemimpin bangsa. Pemimpin bangsa apa? Anak anak itu tak lebih dari gerombolan bromocorah yang gemar mencuri rumput Pan Koplar untuk sapi sapi mereka. Sebagian lain tak lebih dari sekumpulan anak nakal yang membuat pohon nangka di belakang rumah Nang Kocong, rusak binasa karena getahnya dipanen tanpa izin. Pewaris peradaban apa!?

Continue reading “Menjadi ayah yang lebai”

Mahasiswa Senior VS Mahasiswa Baru

Kini masanya Mahasiswa Baru masuk kampus. Bagaimana dengan Mahasiswa Senior? Ayo kita simak bagaimana sebaiknya agar sama2 baik πŸ™‚

  1. Mahasiswa Senior jangan galak berlebihan sama Mahasiswa Baru, tujuh tahun lagi, mereka bisa jadi bos kamu. Yang wajar2 saja ya πŸ™‚
  2. Mahasiswa Senior yang paling galak saat orientasi, jangan sampai jadi yang paling gagap saat ditanya Mahasiswa baru soal mata kuliah nantinya πŸ™‚
  3. Mahasiswa Senior kadang perlakukan Mahasiswa Baru seakan mereka bod*h, lupa kalau diantara mereka ada pemenang Olimpiade dan mungkin akan lulus duluan.
  4. Tips hadapi Mahasiswa Senior, hubungi dengann amat sopan penuh hormat, Mahasiswa baru bisa tanya PR yang super sulit. Kadang aktivis lupa belajar πŸ™‚
  5. Mahasiswa Senior, kalian pernah jd Mahasiswa Baru. Senior seperti apa yang jadi idola? Bukan yang galak, sok kuasa, serem, tapi nggak pinter kan!?
  6. Kalau Mahasiswa Senior merasa perlu ditakuti Mahasiswa Baru, mungkin kalian tidak punya kebanggaan lain dalam hidup. Coba renungkan πŸ™‚
  7. Mahasiswa Senior jangan bangga bisa bikin keder Mahasiswa Baru. Tugas kalian tampil dengan PD menghadapi mahasiswa ASEAN di forum/kompetisi regional πŸ™‚
  8. Mahasiswa Senior tidak perlu berlebihan pada Mahasiswa Baru. Yang wajar2 saja agar tidak kikuk saat pinjam catatan waktu ngulang kuliah nanti πŸ˜‰
  9. Mahasiswa Senior mau galak sama Mahasiswa Baru? Pikir lagi. Tujuh tahun lagi kamu bisa saja diwawancarai sama salah satunya saat mau pindah kerja πŸ™‚
  10. Mahasiswa Senior, kenapa kamu galak sama Mahasiswa Baru? Jangan-jangan karena kamu takut ditanya bahan kuliah yang kamu nggak ngerti πŸ™‚
  11. Mahasiswa Senior kenapa galak sama Mahasiswa Baru? Jangan2 karena memang tidak ada hal baik yang bisa kamu tawarkan untuk membantu mereka πŸ™‚
  12. Mahasiswa Senior, apa pendapat Mahasiswa Baru tentang kamu? A] Baik, pinter, suka membantu, sabar, cakep atau b] galak, sengak, ga pinter, sok tahu? πŸ™‚
  13. Mahasiswa Baru sadarilah psikologi Mahasiswa Senior. Kehadiranmu bisa ‘mengancam’. Pahami kalau mereka ingin kamu sopan dan hormat. Saling dukung.
  14. Mahasiswa Senior kadang lupa kalau Mahasiswa baru yang mereka hadapi bisa saja lebih pintar, lebih dewasa dan mungkin akan lebih cepat lulus πŸ™‚
  15. Waktu 4 tahun ini sangat cepat. Mahasiswa Baru yang diplonco Mahasiswa Senior hari ini akan mengevaluasi kinerja Mahasiswa Senior itu di dunia kerja nanti.
  16. Mahasiswa Senior, jika kamu benci dan kesel melihat Mahasiswa Baru, hati-hati, bisa jadi hanya karena dia lebih cantik dan lebih populer.
  17. Mahasiswa baru yang dibully Mahasiswa Senior dalam sebuah ospek hari ini, bisa jadi presiden Indonesia tahun 2049 nanti. Tunggu undangan inagurasinya.
  18. Jika Mahasiswa Senior menghadapi Mahasiswa Baru hari ini dan berniat membully, ingatlah, 12 tahun lagi kamu juga menghadap dia di kantornya, nunggu lama dan hanya ditemani satpam. Itupun tanpa suguhan.
  19. Mahasiswa Senior pengen jadi dosen? Hati-hati, bisa jadi Mahasiswa Baru yang kamu bully hari ini jadi pembimbing S3mu nanti.
  20. Mahasiswa Senior yang membully Mahasiswa Baru hari ini mungkin lupa apa yang sudah diperbuatnya tetapi percayalah, Mahasiswa Baru tidak akan lupa πŸ˜€

Kenapa Mahasiswa Senior yang banyak β€˜ditekan’ dalam posting ini dan bukan Mahasiswa baru? Karena yang hebat dan punya kuasa adalah yang senior. Dengan kekuatan yang lebih besar maka lahir tanggung jawab yang lebih besar pula. Thanks πŸ™‚

Pak Polisi, Jangan Diskriminasi Umat Islam di Bali!

Dipinjam dari Berita Bali, hanya untuk ilustrasi

Made Kondang bergegas menuju rumah Jero Mangku Utama, tokoh masyarakat yang dituakan dan diindahkan nasihatnya karena konon bijaksana. Panas luar biasa hatinya menerima sebuah berita yang dikirim kawannya, Yan Koplar lewat hape. β€œIni benar benar diskriminiasi”, guman Made Kondang menahan amarah. Dia tidak sabar bertemu Jero Mangku untuk menumpahkan segala amarah dan kesal yang memuncak. Made Kondang berharap, Jero Mangku akan membenarkannya dan terutama akan membenarkan gagasannya yang anti diskriminasi.

Continue reading “Pak Polisi, Jangan Diskriminasi Umat Islam di Bali!”

Sekali-sekali dosen juga perlu digampar!

Tahun 2013 saya pernah menulis kritik terhadap mahasiswa. Saya sebut kritik itu sebagai gamparan. Saya sengaja menggunakan bahasa sarkastik ketika itu agar lebih mudah dipahami. Dalam perjalanan saya mengajar yang belum seberapa lama, saya menyadari bahwa peran dosen sangat penting dalam membuat mahasiswa layak digampar atau tidak perlu digampar. Dengan kata lain, sebagai dosen saya sering merasa bahwa kesalahan ada pada saya juga. Untuk itu saya merasa perlu dikritik. Akhirnya saya memancing para mahasiswa untuk memberi masukan bagi kami, para dosen, agar bisa lebih baik. Bahasa mereka kadang kocak, kadang tidak sopan juga dan kadang kasar. Saya tidak melakukan sensor terlalu banyak. Sebagian besar, jika tidak semua, kritikan ini benar meskipun belum tentu berlaku pada semua dosen. Saya memahami bahwa kritik ini disampaikan berdasarkan pengalaman masing-masing. Mahasiswa yang memberi kritik ini berasal dari banyak universitas dan di berbagai daerah di Indonesia.

Saran mereka itu saya tuliskan di post ini dengan judul yang agak nyeleneh. Jika teman-teman saya sesama dosen merasa terusik, maafkan. Kali ini saya mengajak kawan-kawan semua mengabaikan ekspresi tetapi fokus pada isi. Jika kita baik, tentu tidak ada alasan untuk tersinggung atau tergampar. Yang pasti, saya sudah tergampar bolak-balik dengan butir-butir usulan mahasiswa ini. Berharap bisa berbenah. Hasil pendidikan tanggung jawab kita, bukan cuma dosen, bukan hanya mahasiswa. Tanpa kerjasama dan komunikasi yang baik, tidak akan ada hasil yang baik. Semoga kita tidak betah dalam suasana saling menuduh dan berburuk sangka. Meminjam istilah paman Malcolm Forbes, tujuan utama pendidikan adalah mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Jadi, tujuan pendidikan bukan memintarkan tetapi membuat orang terbuka dengan berbagai gagasan. Mari menjadi terbuka, dengan gamparan kiri kanan πŸ˜€

Continue reading “Sekali-sekali dosen juga perlu digampar!”

Sakit

Tahun 1999 saya pernah dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Kala itu masih mahasiswa dan demam berdarah telah menundukkan saya. Ketika ditanya oleh Ibu saya, Asti, yang ketika itu masih jadi pacar, berkata setengah berkelakar β€œBli Andi cuma perlu istirahat, Me’. Kalau tidak sakit, dia tidak akan istirahat”. Kata-kata itu saya ingat terus. Candaan itu sederhana tetapi rupanya benar berlaku pada saya. Sakit membuat saya berhenti. Tidak saja istirahat tetapi juga berpikir dan terutama merenung.

Continue reading “Sakit”

Ambalat Lagi

I MADE ANDI ARSANA

Kompas | 4 Juli 2015

Pada 2005 silam hubungan Indonesia dan Malaysia sempat memanas karena sengketa Blok Ambalat di Laut Sulawesi. Satu dekade berlalu, ternyata Ambalat mencuat lagi dan menimbulkan keresahan yang hampir sama. Perihal perbatasan memang tidak sederhana. Indonesia berbagi daratan dengan Malaysia di Borneo sebagai konsekuensi dari kolonialisasi Inggris dan Belanda. Prinsip bahwa wilayah dan batas wilayah suatu negara mengikuti penjajahnya dianut berbagai negara di dunia dewasa ini.

Meski garis batas darat sudah jelas, garis batas lautnya belum ditetapkan. Garis batas darat antara Indonesia dan Malaysia berakhir di sisi timur daratan Borneo, memotong Pulau Sebatik. Idealnya, garis batas yang memotong Pulau Sebatik inilah yang diteruskan ke arah Laut Sulawesi sehingga menjadi pembagi kawasan laut bagi kedua negara. Sayangnya, garis ini belum kunjung terwujud sehingga pembagian laut di Laut Sulawesi belum tuntas hingga kini.

Pelanggaran?

Jika demikian, mengapa ada berita pelanggaran? Mengapa kita bisa yakin menuduh Malaysia memasuki wilayah Indonesia di Ambalat? Perlu dipahami bahwa meskipun Indonesia dan Malaysia belum bersepakat tentang pembagian kawasan laut, kedua negara sudah mencoba mengklaim secara sepihak. Tidak saja mengklaim, sejak 1960-an Indonesia bahkan sudah menetapkan kawasan konsesi dengan membuat kavling/blok dasar laut yang mengandung minyak atau hidrokarbon lainnya. Blok konsesi ini dieksplorasi perusahaan profesional yang mendapat izin. Salah satu kavling tersebut bernama Ambalat (1999) dan satu lagi bernama East Ambalat (2004).

Malaysia tidak protes secara eksplisit, seakan-akan menyetujui. Meski demikian, pada 1979 Malaysia mengajukan klaim sepihaknya melalui sebuah peta yang tumpang tindih dengan klaim Indonesia. Indonesia menganggap Malaysia salah karena mengklaim apa yang sudah diklaim Indonesia. Namun, perlu diingat, di Laut Sulawesi belum ada garis batas maritim yang disepakati sehingga belum jelas secara hukum internasional kawasan laut milik Indonesia maupun Malaysia. Keadaan memburuk ketika pada 2005 Malaysia memberikan konsesi atas blok yang sebelumnya sudah dikonsesikan Indonesia. Pecahlah kasus Ambalat jilid 1.

Perlu diingat lagi, Ambalat adalah blok dasar laut, bukan pulau, bukan daratan. Nama Ambalat ini diberikan Indonesia, sedangkan Malaysia menyebutnya ND6 dan ND7. Milik siapa blok tersebut? Indonesia mengklaimnya, Malaysia juga. Keduanya belum bersepakat karena pembagian kawasan laut di Laut Sulawesi belum tuntas. Sampai kini Indonesia dan Malaysia masih merundingkannya secara intensif.

Maju, tetapi belum tuntas

Sejak 2005 sekitar 30 perundingan sudah dilakukan. Ada kemajuan, tetapi belum tuntas. Memang tidak mudah menetapkan batas maritim. Indonesia dan Vietnam perlu 25 tahun, dengan Singapura bahkan hingga 41 tahun untuk batas maritim yang relatif pendek. Jika melihat peta NKRI tahun 2015, tampak bahwa Indonesia menganggap Blok Ambalat adalah bagian dari NKRI. Sementara itu, menurut peta Malaysia 1979, Blok Ambalat dianggap bagian dari Malaysia. Tumpang susun peta Indonesia dan Malaysia memperlihatkan klaim tumpang tindih. Itulah yang saat ini dirundingkan.

Indonesia tentu punya argumen kuat akan klaimnya. Malaysia mungkin punya keyakinan yang sama. Mengapa tidak dibagi dua saja dengan garis tengah? Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) sebagai dasar hukum tidak mengatur secara eksplisit metode yang harus digunakan. UNCLOS mewajibkan dua negara bersengketa untuk mencapai “solusi yang adil”, yang artinya “terserah” kepada kedua negara. Maka, peran negosiator sangat penting. Jika tidak selesai dalam negosiasi, kasus ini bisa dibawa ke lembaga peradilan, seperti Mahkamah Internasional atau International Tribunal for the Law of the Sea meski tanda-tandanya belum ada.

Untuk menyelesaikan kasus perbatasan dengan Malaysia, Indonesia menunjuk utusan khusus, yaitu Duta Besar Eddy Pratomo. Tugasnya tidak hanya menyelesaikan kasus Ambalat di Laut Sulawesi, tetapi juga kawasan lain yang belum tuntas: Selat Malaka, Selat Singapura, dan Laut Tiongkok Selatan. Kini kedua negara harus mempercepat penyelesaian batas maritim dan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan provokatif di kawasan yang masih dalam sengketa. Media juga bertanggung jawab menyajikan berita obyektif agar masyarakat tidak mudah tersulut.

Membela bangsa itu wajib, tetapi tidak dengan menebar kebencian kepada bangsa lain. Membela bangsa harus dengan nasionalisme yang cerdas dan terhormat.

DOSEN TEKNIK GEODESI UGM, PENELITI ISU PERBATASAN INTERNASIONAL

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Juli 2015, di halaman 7 dengan judul “Ambalat Lagi”.

Memberi Jalan

Saat turun dari pesawat, saya sering mengamati penumpang lain. Umumnya -sekali lagi umumnya dan artinya tidak semua dan tidak selalu- penumpang tidak sabar untuk segera turun. Biasanya mereka berdiri di gang atau di kursi mereka dan menunggu dengan wajah tidak sabar. Faktanya, entah apa penyebabnya, waktu tunggu sampai akhirnya pintu pesawat dibuka memang selalu terasa lebih lama dibandingkan yang dibayangkan. Maka wajah-wajah tidak sabar dan cenderung gelisah mudah dijumpai pada pesawat yang baru saja mendarat.

Continue reading “Memberi Jalan”

Spaghetti tahun 1995

Kuta Bali, tahun 1995
β€œIni to Ketua OSISnya? Kok Kecil?” kata lelaki usia empat puluhan tahun itu berkelakar. Dua kawanku tersenyum saja. Aku tidak menjawab, hanya menyalami dengan senyum sopan. Lelaki itu, kalau tidak salah, adalah seorang manajer di hotel ini. Hotel besar yang terkenal di Bali. Aku hanya bisa kagum. Betapa hebatnya lelaki ini, menjadi orang penting di sebuah hotel berbintang. Penampilannya nampak perlente, professional dan elegan. Sementara itu aku gugup luar biasa, tak terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Aku Ketua OSIS, terbiasa memimpin pasukan di lapangan atau memimpin rapat dengan sesama pengurus OSIS tetap tidak pernah dilatih berinteraksi dengan seorang professional sekelas manajer hotel dalam suasana yang mewah dan mentereng. Nyaliku ciut.

Continue reading “Spaghetti tahun 1995”