Pahlawan


Kisanak, jujur saja padaku. Coba Kisanak menjawab pertanyaan ini dengan cara membayang-bayangkan menggunakan akal sehat yang wajar. Apakah semua orang di Indonesia berhati baik dan mulia ketika bangsa ini berjuang di tahun 1940an? Apakah semua orang di saat itu berkarakter emas seperti yang kita baca di buku-buku sejarah saat ini? Betulkah ketika bangsa ini mengusir penjajah semua orang bersatu padu rela berkorban demi bangsa dan negara? Kita semua tabu jawabannya. TIDAK! Tidak semua orang ketika itu berjiwa pahlawan seperti yang mungkin dibayangkan kebanyakan dari kita. Tidak semua orang layak mendapat doa dalam hening cipta kita tiap hari Senin.

Kita yang hidup puluhan tahun kemudian tidak bertemu dengan semua orang di tahun-tahun perjuangan Indonesia. Kita tahu mereka dari buku sejarah. Kita tahu situasi itu dari tulisan-tulisan yang berhasil dicatat oleh beberapa gelintir manusia. Di kala itu tidak ada Twitter yang abadi atau Facebook yang menjadi saksi bisu sejarah peradaban manusia seperti saat ini. Jika saja saat itu ada Path, tentu tidak semua orang menulis kebaikan dan memposting segala sesuatu yang positif. Di peradaban manapun ada orang nyinyir dan mengundang kesal. Di peradaban manapun ada orang yang hanya punya komentar negatif untuk mengisi hari-hari mereka.

Kita menilai sebuah bangsa dari buku sejarah yang ditulis seseorang. Kita tidak ada di depan Bung Karno ketika beliau bercakap-cakap dengan Syahrir atau Hatta. Kita tidak tahu kalimat verbatim para pemuda yang mendesak Sukarno untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kita tidak tahu apa sejatinya kalimat-kalimat Bung Tomo saat dia rapat tertutup dengan teman-temannya di Surabaya ketika itu. Kita tidak tahu. Yang kita baca adalah sebuah rekaman dan catatan. Apakah itu obyektif? Tidak ada satupun tulisan yang obyektif? Semua hal pasti menderita bias, sedikit atau banyak. Yang kita baca adalah apa yang dipersepsi penulis tentang suatu peristiwa atau kejadian. Renungkanlah, tidak ada satupun tulisan yang kita baca bisa menyajikan karakter utuh seorang pahlawan yang kita kenal.

Buku sejarah kita merekam kebaikan dengan tujuan mulia yaitu meneruskan kebaikan dan karakter perjuangan kepada kita. Namun itu sama sekali tidak berarti bahwa di masa lalu, hidup bangsa ini hanya dipenuhi oleh sifat heroik kepahlawanan. Ingat, orang culas dan nyinyir ada di setiap peradaban.

Mengapa hal ini penting untuk saya kisahkan pada Kisanak? Agar kita tidak terjebak dalam dikotomi. Agar kita tidak mudah menuduh bahwa generasi masa lalu begitu hebat dan heroik sambil dengan mudah menuduh generasi kini lembek dan tak berkarakter. Kita tahu persis ada jutaan pemuda Indonesia kini yang hebat dan tak kalah hebat dibandingkan pemuda Indonesia di tahun 1940an. Kita juga tahu di tahun-tahun perjuangan Indonesia pasti juga ada pemuda yang nyinyir dan pesimistis. Syukurnya mereka tidak masuk dalam buku-buku sejarah. Hanya karena tidak ada dalam buku sejarah, itu tidak berarti mereka absen dari pertiwi Indonesia. Mereka jelas ada, pasti ada.

Hari Pahlawan itu tidak untuk membuat kita mudah mengagumi generasi dulu hanya karena mereka menegakkan bambu runcing menurut buku sejarah yang kita baca sambil menghina generasi kini hanya gara-gara mereka terlalu sibuk bermain hashtag di sosial media. Jika fokus menemukan kebaikan, kita tentu menemukan banyak cahaya di generasi kini yang mungkin sesungguhnya membanggakan, sama membanggakannya dengan generasi dulu. Kita guyon dengan ucapan Bung Karno bahwa dulu beliau mengumpulkan sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia, sementara kini kita kumpulkan sepuluh pemuda untuk membuat boyband. Boyband adalah keniscayaan tapi Indonesia tentu bukan hanya tentang itu. Terlalu banyak pahlawan muda yang hebat dan lebih dari sekedar boyband.

Kita kadang tak hirau bahwa pahlawan itu ada dan tersebar di segala penjuru. Kita juga sering lupa bahwa pahlawan itu adalah mereka yang dicatat dalam buku sejarah dan itu kerap terjadi dalam waktu lama setelah sebuah generasi tak lagi ada. Kita mudah mengagumi orang yang sudah tidak bernyawa tetapi lupa melihat cahaya dalam diri mereka yang masih hidup. Kita juga lupa bahwa pahlawan itu tak selalu sempurna dan enggan mengakui kepahlawanan pada diri mereka yang penuh cacat. Kita lupa kata-kata Dewi Lestari bahwa malaikat bisa saja tak bersayap dan tak rupawan. Bahwa bisa saja pahlawan itu kadang membuat kita kesal dan tidak selalu menebar kekaguman.

Selamat Hari Pahlawan. Pahlawan Masa kini yang berjuang dengan cara-cara yang mungkin belum kita sadari sebagai tindak kepahlawanan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

3 thoughts on “Pahlawan”

  1. Ya, terkadang kita terjebak dgn romantisme kepahlawanan masa lampau yg identik dgn telah mengorbankan jiwa dan raga mengusir penjajah walau hanya bermodal bambu runcing.

    Dalam konteks saat ini. mbok-mbok bakul di pasar rakyat yg setiap dini hari sudah kulakan demi membiayai anak-anaknya agar bisa sekolah hingga perguruan tinggi juga layak disebut pahlawan.

    Tulisan yang mencerahkan mas Andi

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s