Cerita ini bagian dari Berlin 2013
Selain belajar ilmunya, saya selalu mengamati gaya presentasi orang-orang di setiap forum yang saya ikuti. Di Berlin, saya juga sempatkan mengamati setiap presenter, berharap bisa belajar dari mereka semua. Tidak disangkal, yang hadir di sana adalah orang-orang terpilih sehingga tidak sulit mencari hal yang bisa dijadikan pelajaran. Secara umum presentasi mereka sangat bagus, dengan bahan yang berkualitas baik dan penyampaian yang menarik. Meski demikian, pelajaran tidak saja bisa diambil dari kebaikan tapi juga dari kelemahan. Saya mencatat sepuluh hal yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang presenter saat memaparkan gagasannya. Hal ini juga masih terjadi saat presentasi di Berlin.
- Ngobrol dengan layar. Banyak presenter yang terjebak lebih sering melihat layar daripada hadirin. Di Berlin, tata panggung memaksa presenter untuk melihat ke layar lebih sering karena memang tidak ada komputer di depan presenter yang bisa dijadikan media monitor. Saya sebenarnya berharap presenter menghadapi laptopnya sendiri di depannya sehingga tidak perlu sering melihat ke belakang dan ngobrol bersama layar besar dan ‘melupakan’ hadirin. Setelah mengamati video saya, ternyata saya juga cukup sering melakukan ini. Ini harus dikoreksi.
Continue reading “Berlin 2013: Sepuluh hal yang ‘merusak’ presentasi”



