Berlin 2013: Sepuluh hal yang ‘merusak’ presentasi

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

andiERSelain belajar ilmunya, saya selalu mengamati gaya presentasi orang-orang di setiap forum yang saya ikuti. Di Berlin, saya juga sempatkan mengamati setiap presenter, berharap bisa belajar dari mereka semua. Tidak disangkal, yang hadir di sana adalah orang-orang terpilih sehingga tidak sulit mencari hal yang bisa dijadikan pelajaran. Secara umum presentasi mereka sangat bagus, dengan bahan yang berkualitas baik dan penyampaian yang menarik. Meski demikian, pelajaran tidak saja bisa diambil dari kebaikan tapi juga dari kelemahan. Saya mencatat sepuluh hal yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang presenter saat memaparkan gagasannya. Hal ini juga masih terjadi saat presentasi di Berlin.

  1. Ngobrol dengan layar. Banyak presenter yang terjebak lebih sering melihat layar daripada hadirin. Di Berlin, tata panggung memaksa presenter untuk melihat ke layar lebih sering karena memang tidak ada komputer di depan presenter yang bisa dijadikan media monitor. Saya sebenarnya berharap presenter menghadapi laptopnya sendiri di depannya sehingga tidak perlu sering melihat ke belakang dan ngobrol bersama layar besar dan ‘melupakan’ hadirin. Setelah mengamati video saya, ternyata saya juga cukup sering melakukan ini. Ini harus dikoreksi.
    Continue reading “Berlin 2013: Sepuluh hal yang ‘merusak’ presentasi”

Berlin 2013: Menganimasikan Ancaman atas Kedaulatan

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Saya menjadi pembicara pertama pada symposium “Earth Resilience” yang berlangsung di KBRI Berlin. Sebelum itu tentu saja ada sambutan-sambutan dari Bapak Duta Besar Dr. Eddy Pratomo dan Bapak Atase Pendidikan, Prof. Dr. Agus Rubiyanto. Saya sudah mendengar nama dan kiprah Pak Dubes selaku anggota tim perunding batas maritim Indonesia namun belum pernah bertemu sebelumnya. Sesungguhnya ada rasa gentar berbicara soal hukum laut di depan seorang penyandang gelar doktor di bidang hukum dan merupakan anggota tim delegasi Indonesia untuk Batas Maritim. Meski begitu, saya tidak ada pilihan lain kecuali terus maju.

Continue reading “Berlin 2013: Menganimasikan Ancaman atas Kedaulatan”

Berlin 2013: Sebuah perjalanan panjang

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Saya memesan tiket pesawat dari Our World Travel, langganan saya di Wollongong. Meskipun sudah menggunakannya sejak empat tahun lalu, saya belum tahu di mana lokasi kantornya dan tidak pernah bertemu sekalipun dengan orang-orang di sana. Saya hanya berkomunikasi lewat email dan telepon. Semua beres dengan telekomunikasi. Sayapun meminta informasi tiket Sydney – Berlin – Jakarta – Sydney. Saya memang berencana mampir ke Jogja untuk nengok Lita dan mbahnya. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Artinya? Sakti mandraguna. Saya mendapat tawaran tiket seharga AUD 2200, tidak jauh beda dibandingkan penerbangan langsung ke Sydney tanpa mampir Indonesia. Sayapun memutuskan untuk mengambil tawaran itu. Begitu visa dinyatakan disetujui, saya membayar tiket tersebut dengan kartu kredit saya karena belum ada satu pihakpun yang memberikan uangnya ke saya meskipun komitmennya sudah jelas. Di saat seperti inilah kartu kredit itu diperlukan.

Continue reading “Berlin 2013: Sebuah perjalanan panjang”

Berlin 2013: Mencari dana perjalanan

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Seperti halnya konferensi dan symposium lainnya, partisipasi di Earth Resilience ini tidak didanai panitia. Peserta yang diundang berbicara wajib mengusahakan dana sendiri untuk partisipasinya. Banyak kawan yang kadang bertanya mengapa tidak didanai panitia padahal diundang. Harus dibedakan antara symposium atau konferensi dengan seminar. Dalam seminar, biasanya pembicaranya hanya sedikit 2-4 orang dengan topik khusus. Untuk seminar, panitia biasanya membayar segala kebutuhan pemb icara karena punya kepentingan menjual satu topik tertentu. Sementara konferensi atau symposium pada dasarnya adalah sebuah forum yang memberi kesempatan pada para peneliti untuk menyampaikan/menjual/menguji gagasannya di depan para ahli lainnya yang diharapkan akan memberi masukan. Dengan katan lain, dalam konferensi dan symposium, penelitilah yang memiliki kepentingan lebih besar. Wajar jika mereka harus membayar sendiri ongkos partisipasinya.

Continue reading “Berlin 2013: Mencari dana perjalanan”

Berlin 2013: The Visa

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Visa selalu menjadi urusan penting bagi orang Indonesia jika harus bepergian lintas negara. Kunjungan ke Berlin inipun tidak berbeda. Saya harus mendapatkan visa schengen yaitu visa yang memungkinkan saya memasuki Jerman dan beberapa negara lain yang tergabung dalam penjanjian Schengen dan Uni Eropa. Dengan mendapatkan Visa Schengen ini saya akan bebas berkeliaran di beberapa negara di Eropa tanpa perlu secara khusus mendapatkan visa dari masing-masing negara. Oleh karena itu juga, persetujuan Visa Schengen memerlukan waktu cukup lama karena tidak hanya berasal dari satu negara. Karena sedang di Australia, saya harus mendapatkan visa schengen dari perwakilan yang tepat di Australia.

Continue reading “Berlin 2013: The Visa”

Berlin 2013: The Invitation

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

undanganberlin

Kedatangan saya ke Berlin tahun 2013 ini berawal dari sebuah undangan untuk berpatisipasi dalam symposium ketahanan bumi atau Earth Resilience yang kedua. Intinya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin berniat mengumpulkan pemikiran dan gagasan dari orang-orang Indonesia yang tersebar di seluruh dunia terkait dengan ketahanan bumi. Maka diadakanlah sebuah forum yang memungkinkan para ilmuwan Indonesia untuk betemu dan bercurah gagasan. Simposium Ketahanan Bumi ini berfungsi demikian.

Continue reading “Berlin 2013: The Invitation”

Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke

@SabangMeraukeID
@SabangMeraukeID

Ada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab dengan baik “bagaimana mewakili Indonesia di pentas dunia?” Jika harus mewakili Indonesia dengan sepotong baju, baju apa yang paling layak mencirikan Indonesia? Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dengan ratusan suku bangsa dan sekian banyak pakaian daerah di Indonesia. Ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, saya selalu mengalami kesulitan ketika harus mengikuti pameran budaya antarbangsa. Kesulitan pertama adalah ketika ingin menampilkan PPIA agar tampil khas diantara organisasi pelajar dari berbagai negara. Memang tidak mudah menyajikan atribut yang menarik, khas dan gampang diingat karena keindahannya. Bendera Merah Putih tentu saja khas tetapi rasanya tidak cukup untuk meghadirkan semarak pesta antarbangsa yang menuntut kemeriahan lebih dari kibaran Sang Saka Merah Putih. Akhirnya, pilihan lebih sering jatuh pada atribut Bali yang memang sudah dikenal di Australia. Namun Bali bukanlah Indonesia. Bali, dengan segala keunikan dan keindahannya sesungguhnya tidak pernah bisa mewakili Indonesia secara utuh. Tidak heran jika seorang petugas bank Commonwealth di Wollongong bertanya polos tanpa dosa kepada kawan saya yang dari Bali ketika membuat rekening “are you actually from Bali or Indonesia?

Continue reading “Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke”

Ketika Ahok ber-Hangout!

Adalah Radio PPI Dunia yang punya ide cerdas, mewawancarai Ahok, Wakil Gubernur DKI Jakarta secara langsung terkait penanganan banjir Jakarta. Yang membuatnya istimewa ada dua. Pertama, wawancara ini bersifat interaktif sehingga memungkinkan partisipasi dari siapa saja di seluruh dunia. Kedua, wawancara ini tidak saja disiarkan dalam bentuk audio tetapi juga video menggunakan Google Hangout. Jika saya tidak salah amati, Ahok adalah wakil kepala daerah pertama di Indonesia yang menyampaikan gagasannya lewat Google Hangout sehingga bisa disimak secara langsung oleh siapa saja di seluruh dunia yang memiliki internet yang cukup. Google Hangout sudah digunakan oleh Obama dan Julia Gillard untuk berkomunikasi dengan rakyatnya. Radio PPIA Dunia melakukan sebuah terobosan yang luar biasa.

Video yang Anda saksikan berikut adalah hasil rekaman dari proses dialog ini. Ketika ini berlangsung live, video ini disiarkan di youtube. Sambil disiarkan, video ini direkam Youtube dan kini bisa Anda nikmati sebagai arsip seperti halnya video lainnya. Dari video di bawah kita bisa lihat bahwa ini benar-benar natural tanpa editing dan kini bisa dinikmati sebagai arsip apa adanya. Yang belum pernah menggunakan Google Hangout, silakan baca tulisan saya yang pernah terbit di Suara Merdeka.

Continue reading “Ketika Ahok ber-Hangout!”

Pindah Partai

http://blogs.bet.com/

Pemilu masih sangat jauh, tapi desas-desus soal partai mulai terdengar. Made Kondang yang sebenarnya apolitis tidak terhindar dari deru politik yang mulai menggeliat. Meski tidak begitu paham akan ideologi, Kondang memiliki pilihan politik sendiri. Dipilihnya sebuah partai bukan karena telah dipahami segala ideology, visi, misi dan programnya tetapi semata-mata karena nenek moyangnya telah menunjukkan kesetiaan pada partai yang sama sejak waktu yang tidak bisa diingat lagi. Singkat kata, Kondang berpartai karena keturunan. Kondang tidak pernah mempertanyakan pilihan partainya hingga suatu hari:

Continue reading “Pindah Partai”

Bagaimana Menjadi Pembicara Publik

taiwan
Presentasi di Taiwan

Seorang sahabat karib bertanya pada saya tentang tips menjadi pembicara publik. Saya yakin ada berjuta tips di luar sana yang bisa dimanfaatkan. Presentation Zen adalah salah satu situs yang memuat tips presentasi yang sangat komprehensif dan banyak orang merasa mendapatkan manfaat dari situs itu. Meski demikian, toh tidak semua pembacanya tiba-tiba menjadi seorang presenter ulung. Saya percaya bahwa sang pembelajar tetap memegang peranan paling penting dalam proses belajar. Bahan ajar dan guru bisa sama tetapi hasilnya bisa berbeda-beda pada murid yang berbeda. Oleh karena itu, saya yakin Anda tidak akan berharap tiba-tiba menjadi presenter ulung setelah membaca tulisan ini.

Continue reading “Bagaimana Menjadi Pembicara Publik”